Lompat ke isi

Pengetahuan deklaratif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Foto Totius Latinitatis Lexicon karya Egidio Forcellini, sebuah kamus Latin beraneka jilid
Pengetahuan deklaratif dapat diekspresikan melalui kalimat deklaratif yang tersimpan dalam buku.

Pengetahuan deklaratif adalah suatu bentuk kesadaran atas fakta-fakta yang dapat diungkapkan melalui kalimat deklaratif. Ia juga dikenal dengan sebutan pengetahuan teoretis, pengetahuan deskriptif, pengetahuan proposisional, atau pengetahuan-bahwa (knowledge-that). Pengetahuan ini tidak terbatas pada satu kegunaan atau tujuan semata, melainkan dapat disimpan dalam buku maupun komputer.

Cabang utama yang menelaah pengetahuan deklaratif adalah epistemologi. Disiplin ini membahas unsur-unsur hakiki yang membentuk pengetahuan tersebut. Menurut pandangan tradisional yang berpengaruh, pengetahuan deklaratif terdiri atas tiga unsur: ia adalah sebuah kepercayaan yang benar dan terjustifikasi. Sebagai kepercayaan, ia merupakan komitmen subjektif terhadap kebenaran klaim yang diyakini; sedangkan kebenaran itu sendiri bersifat objektif. Agar terjustifikasi, sebuah kepercayaan mesti rasional, yakni bersandar pada alasan yang memadai. Dengan demikian, tebakan semata tidak dapat disebut pengetahuan, bahkan jika kebetulan benar. Dalam epistemologi kontemporer, diajukan pula unsur-unsur tambahan atau alternatif: misalnya, bahwa tidak ada bukti yang meniadakan; atau bahwa kepercayaan itu timbul dari proses kognitif yang dapat diandalkan; atau bahkan bahwa ia bersifat tak mungkin keliru.

Jenis-jenis pengetahuan deklaratif dapat dibedakan menurut sumber pengetahuan, jenis klaim yang diketahui, serta derajat kepastiannya. Salah satu pembedaan pokok adalah antara pengetahuan a posteriori, yang berakar pada pengalaman, dengan pengetahuan a priori, yang bertumpu pada refleksi rasional murni. Klasifikasi lain mencakup pengetahuan domain-spesifik dan pengetahuan umum, pengetahuan tentang fakta, konsep, maupun prinsip; serta pengetahuan eksplisit dan pengetahuan implisit.

Pengetahuan deklaratif kerap dipertentangkan dengan pengetahuan praktis dan pengetahuan melalui perkenalan langsung. Pengetahuan praktis mewujud dalam keterampilan, misalnya mengetahui cara menunggang kuda—suatu bentuk pengetahuan non-intelektual karena tidak mesti melibatkan kepercayaan yang benar. Adapun pengetahuan melalui perkenalan langsung berakar pada pengalaman pribadi, seperti mengetahui rasa cokelat. Bentuk kedekatan ini tetap ada meski seseorang tidak memiliki informasi faktual tentang objeknya. Beberapa teoretikus juga membedakan pengetahuan deklaratif dari pengetahuan kondisional, preskriptif, struktural, kasus, maupun strategis.

Pengetahuan deklaratif diperlukan dalam berbagai kegiatan, mulai dari memberi label pada fenomena hingga menggambarkan dan menjelaskannya. Ia dapat menuntun proses pemecahan masalah maupun pengambilan keputusan. Dalam banyak hal, nilainya ditentukan oleh kegunaannya dalam mencapai tujuan. Namun, kegunaan itu tidak selalu nyata, dan tidak semua bentuk pengetahuan deklaratif bernilai. Sebagian besar pengetahuan yang diajarkan di sekolah adalah pengetahuan deklaratif. Ia tersimpan dalam bentuk memori eksplisit dan dapat dipelajari melalui hafalan atas fakta-fakta terpisah. Kendati demikian, kerap lebih bermanfaat menumbuhkan suatu pemahaman yang lebih mendalam—yang mengaitkan informasi baru dengan struktur yang lebih luas serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah ada. Sumber-sumber pengetahuan deklaratif mencakup persepsi, introspeksi, ingatan, penalaran, dan kesaksian.

Definisi dan ranah semantik

[sunting | sunting sumber]

Pengetahuan deklaratif adalah suatu bentuk kesadaran atau pengertian atas fakta. Ia dapat diekspresikan melalui bahasa lisan maupun tulisan dalam bentuk kalimat deklaratif, dan karenanya dapat diperoleh lewat komunikasi verbal.[1] Contoh pengetahuan deklaratif antara lain: mengetahui "bahwa Putri Diana wafat pada tahun 1997" atau "bahwa Goethe berusia 83 tahun ketika ia menuntaskan penulisan Faust".[2] Pengetahuan deklaratif melibatkan representasi mental berupa konsep, gagasan, teori, maupun kaidah umum. Melalui representasi itu, seseorang menjalin relasi dengan suatu aspek realitas dengan cara menggambarkan bagaimana hakikatnya. Pengetahuan deklaratif cenderung bebas konteks: ia tidak terikat pada satu penggunaan tertentu dan dapat diterapkan dalam berbagai tugas.[3][4][5] Ia mencakup rentang luas fenomena, baik berupa pengetahuan atas fakta tunggal maupun hukum umum. Contoh pengetahuan fakta tunggal ialah mengetahui bahwa massa atom emas adalah 196,97 u; sedangkan mengetahui bahwa daun pohon tertentu berubah warna pada musim gugur merupakan pengetahuan atas hukum umum.[6] Berkat sifatnya yang verbal, pengetahuan deklaratif dapat disimpan dalam media seperti buku dan harddisk. Ia juga dapat diproses dengan komputer dan memainkan peranan penting dalam berbagai bentuk kecerdasan buatan, misalnya dalam basis pengetahuan pada sistem pakar.[7]

Istilah-istilah seperti pengetahuan teoretis, pengetahuan deskriptif, pengetahuan proposisional, dan pengetahuan-bahwa dipakai sebagai sinonim pengetahuan deklaratif, yang masing-masing menyoroti sisi berbeda darinya. Pengetahuan teoretis adalah pengetahuan tentang apa yang ada—di masa lalu, kini, maupun masa depan—tanpa mengaitkannya dengan cara meraih suatu tujuan praktis. Pengetahuan deskriptif adalah pengetahuan yang memuat deskripsi tentang objek, peristiwa, atau konsep, baik nyata maupun hipotetis. Pengetahuan proposisional menyatakan bahwa suatu proposisi atau klaim tentang dunia adalah benar, biasanya dengan ungkapan klausa bahwa—seperti "mengetahui bahwa kanguru melompat" atau "mengetahui bahwa 2 + 2 = 4". Karena alasan inilah ia kerap disebut pula pengetahuan-bahwa.[8] Pengetahuan deklaratif dipertentangkan dengan pengetahuan non-deklaratif, yang tidak menyangkut pemahaman eksplisit atas informasi faktual tentang dunia. Dalam hal ini, pengetahuan praktis berupa keterampilan dan pengetahuan melalui perkenalan langsung sebagai bentuk kedekatan pengalaman bukanlah pengetahuan deklaratif.[9][10][11] Disiplin utama yang menyelidiki pengetahuan deklaratif adalah epistemologi, yang berusaha menentukan hakikatnya, bagaimana ia muncul, apa nilainya, dan apa batas-batasnya.[12][13][14]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑
  2. ↑ Colman 2009a, declarative knowledge.
  3. ↑ Morrison 2005, hlm. 371.
  4. ↑ Reif 2008.
  5. ↑ Zagzebski 1999, hlm. 93.
  6. ↑ Woolfolk & Margetts 2012, hlm. 251.
  7. ↑
  8. ↑
  9. ↑ Colman 2009b, non-declarative knowledge.
  10. ↑ Pavese 2022, introduction.
  11. ↑ Klauer et al. 2016, hlm. 105–106.
  12. ↑ Truncellito.
  13. ↑ Moser 2005, hlm. 3.
  14. ↑ Steup & Neta 2020, 2.3 Knowing Facts.