Pelarian Fisherian


Pelarian Fisherian adalah sebuah mekanisme genetika evolusioner yang menjelaskan evolusi ciri-ciri hiasan yang berlebihan pada salah satu jenis kelamin (biasanya jantan) melalui pilihan pasangan oleh jenis kelamin lainnya (biasanya betina). Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Ronald Fisher pada awal abad ke-20 untuk menjelaskan mengapa pemilihan seksual dapat menghasilkan ciri fisik yang tampaknya merugikan kelangsungan hidup individu tersebut.[1]
Mekanisme
[sunting | sunting sumber]Proses ini dimulai ketika betina mengembangkan preferensi terhadap ciri jantan tertentu yang awalnya mungkin merupakan indikator kesehatan atau kekuatan. Seiring waktu, preferensi betina dan ciri jantan tersebut menjadi terkait secara genetika. Jantan dengan ciri tersebut akan lebih sering kawin, dan betina yang memilih mereka akan melahirkan putra yang memiliki ciri mencolok tersebut serta putri yang membawa gen "preferensi" terhadap ciri tersebut.[2]
Hal ini menciptakan umpan balik positif yang kuat; ciri jantan menjadi semakin ekstrem hanya karena ciri tersebut dianggap "menarik", bukan lagi karena manfaat fungsionalnya untuk bertahan hidup. Fenomena ini dapat terus berlanjut hingga biaya kelangsungan hidup (seperti risiko dimangsa karena ekor yang terlalu berat) mencapai titik keseimbangan dengan keuntungan reproduksi.[3]
Model Genetika dan Evolusi
[sunting | sunting sumber]Secara matematis, pelarian ini bergantung pada korelasi genetik antara sifat yang dipilih dan preferensi pemilihan itu sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa tanpa adanya tekanan seleksi alam yang menyeimbangkan, proses ini dapat menyebabkan kepunahan lokal jika ciri tersebut menjadi terlalu membebani spesies tersebut.[4] Beberapa studi modern menggunakan simulasi komputer untuk memodelkan bagaimana variasi genetik tetap terjaga meskipun ada tekanan seleksi seksual yang sangat kuat.[5] Selain itu, integrasi antara seleksi seksual dan seleksi alam tetap menjadi perdebatan kunci dalam memahami kompleksitas evolusi ornamen pada hewan.[6]
Contoh Ekor Burung Merak
[sunting | sunting sumber]Contoh paling klasik dari pelarian Fisherian adalah ekor burung merak. Meskipun ekor yang panjang dan berwarna-warni memudahkan predator untuk menangkap mereka dan menghabiskan banyak energi untuk tumbuh, burung merak jantan tetap mempertahankannya karena tanpa ekor tersebut, mereka hampir tidak memiliki peluang untuk dipilih oleh betina.[7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Andersson, Malte; Simmons, Leigh W. (2006-06-01). "Sexual selection and mate choice". Trends in Ecology & Evolution (dalam bahasa English). 21 (6): 296–302. doi:10.1016/j.tree.2006.03.015. ISSN 0169-5347. PMID 16769428. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Pomiankowski, Andrew; Iwasa, Yoh (1998-04-28). "Runaway ornament diversity caused by Fisherian sexual selection". Proceedings of the National Academy of Sciences. 95 (9): 5106–5111. doi:10.1073/pnas.95.9.5106. PMC 20221. PMID 9560236.
- ↑ "CiteSeerX". CiteSeerX (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-07.
- ↑ Gayon, Jean (2010-02-01). "Sexual selection: Another Darwinian process". Comptes Rendus. Biologies (dalam bahasa Inggris). 333 (2): 134–144. doi:10.1016/j.crvi.2009.12.001. ISSN 1768-3238. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-01-19. Diakses tanggal 2026-05-07.
- ↑ Kirkpatrick, Mark (1982). "Sexual Selection and the Evolution of Female Choice". Evolution. 36 (1): 1–12. doi:10.2307/2407961. ISSN 0014-3820.
- ↑ Henshaw, Jonathan M.; Jones, Adam G. (2020-02). "Fisher's lost model of runaway sexual selection". Evolution; International Journal of Organic Evolution. 74 (2): 487–494. doi:10.1111/evo.13910. ISSN 1558-5646. PMID 31886520.
- ↑ Fisher, R. A. (1915-10). "The evolution of sexual preference". The Eugenics Review. 7 (3): 184–192. PMC 2987134. PMID 21259607.