Pengepungan Tha'if

Pengepungan Tha'if[1] terjadi pada tahun 8 H / 630 M, saat kaum Muslimin yang dipimpinan Rasulullah mengasingkan dan mengepung kota Tha'if, yang dikuasai oleh suku Hawazin dan Tsaqif, yang dikalahkan dalam pertempuran Hunain. Penduduk Tha'if berhasil bertahan dari pengepungan ini, setelah Rasulullah memutuskan untuk mundur. Suku Tsaqif baru masuk Islam menyatakan kesetiaannya pada Muhammad setelah Ekspedisi Tabuk (630 M).[2] Salah seorang kepala suku Tha'if Urwah bin Mas'ud tidak ada pada saat pengepungan ini, dan nantinya ia-lah yang memimpin kaumnya masuk Islam.
Muhammad berangkat melalui jalur Nakhlah Al-Yamaniyah, Qarn, Al-Mulaih, dan Bahrah Ar-Rugha' dari Liyyah. Di sana, Muhammad membangun sebuah masjid dan mendirikan shalat. Saat Muhammad singgah di Bahrah Ar-Rugha ia melaksanakan hukuman qishas atas kasus pembunuhan dan itulah qishas pembunuhan pertama kali terjadi dalam Islam. Ini terjadi karena seorang warga Bani Laits membunuh seorang warga Hudzail. Maka orang Bani Laits itu dibunuh sebagai qishas atasnya. Muhammad lalu memerintahkan penghancuran benteng Malik bin Auf di Liyyah, maka benteng tersebut pun dihancurkan.[3]
Pertempuran
[sunting | sunting sumber]Muhammad awalnya memposisikan pasukan dekat benteng Thaif, namun karena dihujani panah sehingga pasukan muslimin memindahkan lokasi pada wilayah yang lebih tinggi dan berjarak aman selama 20 hari. Muhammad ditemani istrinya Ummu Salamah.[3]
Dalam pengepungan ini diketahui bahwa Abu Sufyan, yang bertempur di pihak muslim, kehilangan salah satu matanya. Ketika Muhammad bertanya kepadanya "Yang manakah yang engkau lebih inginkan, sebuah mata di surga, atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?" Abu Sufyan menjawab ia lebih memilih sebuah mata di surga. Nantinya, ia kehilangan matanya yang lain pada Pertempuran Yarmuk (636 M).
Pasukan muslimin untuk pertama kalinya menggunakan pelontar batu Manjanik dalam pengepungan ini. Hingga pada pertempuran Syadkhah di samping tembok Thaif, beberapa sahabat Muhammad masuk ke bawah dabbabah (tank kayu), kemudian dengan dabbabah tersebut, mereka mendekat ke benteng Thaif agar melubanginya. Pada saat itulah orang-orang Tsaqif melepaskan besi panas ke arah kaum Muslimin. Dan kaum muslimin menyelamatkan diri darinya. Pada saat yang sama, mereka juga menghujani kaum Muslimin dengan anak panah, sehingga kaum muslimin banyak yang gugur.[3]
Hasil
[sunting | sunting sumber]Sekalipun pengepungan ini berakhir dengan kegagalan, tak berapa lama setelah pengepungan ini para penduduk Tha'if (Bani Tsaqif) akhirnya masuk Islam, tepatnya setelah ekspedisi Tabuk.[2] Atas perintah Nabi Muhammad, maka berhala Al-Laata kemudian dihancurkan oleh utusan kaum Muslimin, yaitu Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu'bah.[4]
Dalam pengislaman Bani Tsaqif setelah ekspedisi Tabuk pada 9 H, Nabi mengutus pasukan yang dipimpin Khalid bin Al-Walid. Setibanya di sana, Al-Mughirah bin Syu'bah mengambil cangkul dan berkata kepada rekan-rekannya, "Demi Allah, aku benar-benar akan membuat kalian tertawa karena perbuatan orang-orang Tsaqif." Kemudian dia merobohkan berhala Lata dengan dua buah cangkul hingga roboh. Penduduk Tha'if yang menonton serasa bergetar hatinya. Mereka berkata,"Semoga Allah mengutuk Al-Mughirah. Dia tentu akan dicekik penjaga berhala." Al-Mughirah melompat ke arah mereka seraya berkata, "Semoga Allah memburukan rupa kalian. Berhala ini hanyalah tumpukan batu dan lumpur yang hina." Kemudian dia menghancurkan pintu tempat penyimpanan barang, naik ke atas pagamya, yang diikuti rekan-rekannya, lalu mereka merobohkan pagar-pagar itu hingga semuanya rata dengan tanah. Bahkan mereka juga menggali semua bangunan yang ada hingga ke fondasinya dan mengeluarkan perhiasan kain-kain yang disimpan di tempat penyimpanannya. Orang-orang Bani Tsaqif diam terpaku. Kemudian Khalid binAl-Walid dan rekan-rekannya kembali ke Madinah dan menyerahkan semua barang yang diambil dari berhala Lata dan menyerahkannya kepada Nabi.[5]
Daftar Sahabat yang Gugur
[sunting | sunting sumber]Daftar Sahabat yang Gugur terbunuh dalam Pengepungan benteng Thaif 12 orang, Tujuh diantaranya berasal dari Quraisy sementara empat orang lainnya dari kaum Anshar, dan satu orang dari Bani Laits, yaitu[3] :
- Dari Quraisy, yaitu Ibnu Hubab.
- Dari Bani Taym bin Murrah: Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. la terkena panah dan karenanya ia meninggal dunia di Madinah setelah Muhammad wafat.
- Dari Bani Makhzum: Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah yang gugur karena terkena lemparan panah.
- Dari Bani Adi bin Ka'ab: Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, sekutu mereka.
- Dari Bani Sahm bin Amr: As-Saib bin Al-Harits bin Qais bin Adi dan saudaranya bernama Abdullah bin Al-Harits.
- Dari Bani Sa'ad bin Laits: Julaihah bin Abdullah.
- Dari Bani Salamah: Tsabit bin Al-Jidz'i.
- Dari Bani Mazin bin An-Najjar: Al-Harits bin Sahl bin Abu Sha'sha'ah.
- Dari Bani Saidah: Al-Mundzir bin Abdullah.
- Dari Al-Aus: Ruqaim bin Tsabit bin Tsa'labah bin Zaid bin Laudzan bin Muawiyah.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Mengenang Pengepungan Thaif yang Sulit". Republika Online. 2020-06-23. Diakses tanggal 2021-05-01.
- 1 2 The Year of Deputations and Abu Bakr's Leadership of the Pilgrimage
- 1 2 3 4 Hisyam, Ibnu (205). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Penerbit Qisthi Press. ISBN 978-979-1303-91-0
- ↑ Moenawar Chalil, K.H. Kelengkapan Tarikh (Edisi Lux Jilid 3). Gema Insani. hlm. 139-149. ISBN 9789795617129, 9795617125.
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1