Lompat ke isi

Teknologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Foto para teknisi yang sedang mengerjakan sebuah turbin uap
Sebuah turbin uap dengan selubung terbuka, contoh dari teknologi energi

Teknologi adalah penerapan pengetahuan konseptual untuk mencapai tujuan praktis, terutama dengan cara yang dapat direproduksi.[1] Kata teknologi juga dapat bermakna produk yang dihasilkan dari usaha tersebut,[2][3] mencakup baik alat yang berwujud seperti perkakas atau mesin, maupun yang tidak berwujud seperti perangkat lunak. Teknologi memainkan peran krusial dalam sains, rekayasa, dan kehidupan sehari-hari.[4]

Kemajuan teknologi telah memicu perubahan signifikan dalam masyarakat. Teknologi paling awal yang diketahui adalah alat batu, yang digunakan selama masa prasejarah, diikuti oleh pengendalian api—yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan otak manusia dan perkembangan bahasa selama Zaman Es, menurut hipotesis memasak.[5] Penemuan roda pada Zaman Perunggu memungkinkan perjalanan yang lebih jauh dan penciptaan mesin yang lebih kompleks. Penemuan teknologi yang lebih baru, termasuk mesin cetak, telepon, dan Internet, telah menurunkan hambatan komunikasi dan mengantarkan kita pada ekonomi pengetahuan.

Meskipun teknologi berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan meningkatkan kemakmuran manusia, teknologi juga dapat menimbulkan dampak negatif seperti polusi dan penipisan sumber daya, serta dapat menyebabkan kerugian sosial seperti pengangguran teknologi akibat otomatisasi. Akibatnya, perdebatan filosofis dan politik mengenai peran dan penggunaan teknologi, etika teknologi, serta cara-cara untuk memitigasi dampak buruknya terus berlangsung.[6]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Teknologi adalah istilah yang berasal dari awal abad ke-17 yang bermakna 'perlakuan sistematis' (dari bahasa Yunani Τεχνολογία, dari Yunani: τέχνη, romanized: tékhnē, har.'kerajinan, seni' dan -λογία (-logíā), 'studi, pengetahuan').[7][8] Istilah ini didahului penggunaannya oleh kata Yunani Kuno τέχνη (tékhnē), yang digunakan untuk mengartikan 'pengetahuan tentang cara membuat sesuatu', yang mencakup aktivitas seperti arsitektur.[9]

Bermula pada abad ke-19, orang Eropa kontinental mulai menggunakan istilah Technik (bahasa Jerman) atau technique (bahasa Prancis) untuk merujuk pada 'cara melakukan', yang mencakup semua seni teknis, seperti menari, navigasi, atau percetakan, terlepas dari apakah hal itu memerlukan alat atau instrumen.[10] Pada saat itu, Technologie (bahasa Jerman dan Prancis) merujuk pada disiplin akademis yang mempelajari "metode seni dan kriya", atau pada disiplin politik yang "dimaksudkan untuk membuat undang-undang tentang fungsi seni dan kriya."[11] Perbedaan antara Technik dan Technologie tidak terdapat dalam bahasa Inggris, sehingga keduanya diterjemahkan sebagai technology. Istilah tersebut sebelumnya tidak umum dalam bahasa Inggris dan sebagian besar merujuk pada disiplin akademis, seperti dalam Institut Teknologi Massachusetts.[12]

Pada abad ke-20, sebagai hasil dari kemajuan ilmiah dan Revolusi Industri Kedua, teknologi berhenti dianggap sebagai disiplin akademis yang terpisah dan mengambil makna: penggunaan pengetahuan secara sistemik untuk tujuan praktis.[13]

Prasejarah

[sunting | sunting sumber]
lihat keterangan
Seseorang yang sedang memegang sebuah kapak genggam

Perkakas pada mulanya dikembangkan oleh hominid melalui pengamatan serta metode coba-coba.[14] Sekitar 2 jtl (juta tahun lalu), mereka belajar menciptakan perkakas batu perdana dengan cara memecah serpihan dari batu kerakal, sehingga membentuk kapak genggam yang tajam.[15] Praktik ini disempurnakan pada 75 rtl (ribu tahun lalu) menjadi pemangkasan tekan, yang memungkinkan pengerjaan yang jauh lebih halus.[16]

Penemuan api dideskripsikan oleh Charles Darwin sebagai "mungkin [penemuan] terhebat yang pernah dilakukan oleh manusia".[17] Bukti arkeologis, pola makan, dan sosial menunjukkan adanya "penggunaan api [oleh manusia] secara berkelanjutan" setidaknya sejak 1,5 jtl.[18] Api, yang dinyalakan dengan kayu dan arang, memungkinkan manusia purba memasak makanan mereka guna meningkatkan ketercernaannya, memperbaiki nilai gizinya, serta memperbanyak jenis bahan pangan yang dapat dikonsumsi.[19] Hipotesis memasak mengajukan gagasan bahwa kemampuan memasak mendorong peningkatan ukuran otak hominid, meskipun beberapa peneliti menganggap buktinya belum konklusif.[20] Bukti arkeologis mengenai tungku diperkirakan berasal dari 790 rtl; para peneliti meyakini hal ini kemungkinan besar telah mengintensifkan sosialisasi manusia dan mungkin berkontribusi pada kemunculan bahasa.[21][22]

Kemajuan teknologi lain yang dicapai selama era Paleolitikum meliputi pakaian dan tempat bernaung.[23] Tidak ada konsensus mengenai perkiraan waktu diadopsinya kedua teknologi tersebut, namun para arkeolog telah menemukan bukti arkeologis adanya pakaian sejak 90-120 rtl[24] dan tempat bernaung sejak 450 rtl.[23] Seiring berjalannya era Paleolitikum, hunian menjadi makin canggih dan rumit; seawal 380 rtl, manusia telah membangun gubuk kayu sementara.[25][26] Pakaian, yang diadaptasi dari rambut dan kulit hewan buruan, membantu umat manusia berekspansi ke wilayah-wilayah yang lebih dingin; manusia mulai bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 200 rtl, yang pada awalnya bergerak menuju Eurasia.[27][28][29]

Neolitikum

[sunting | sunting sumber]
Foto peralatan Neolitikum yang dipamerkan
Deretan artefak Neolitikum, termasuk gelang, kepala kapak, pahat, dan alat pemoles

Revolusi Neolitikum (atau Revolusi Pertanian Pertama) memicu percepatan inovasi teknologi, dan sebagai konsekuensinya, meningkatkan kompleksitas sosial.[30] Penemuan kapak batu yang dipoles merupakan kemajuan besar yang memungkinkan pembukaan hutan dan pertanian berskala besar.[31] Penggunaan kapak batu yang dipoles ini meningkat pesat pada zaman Neolitikum, namun pada awalnya telah digunakan pada zaman Mesolitikum sebelumnya di beberapa wilayah seperti Irlandia.[32] Pertanian menghidupi populasi yang lebih besar, dan transisi menuju sedentisme memungkinkan pembesaran lebih banyak anak secara bersamaan, karena bayi tidak lagi perlu digendong kesana kemari oleh para nomaden. Selain itu, anak-anak dapat berkontribusi tenaga dalam budidaya tanaman dengan lebih mudah dibandingkan berpartisipasi dalam aktivitas pemburu-pengumpul.[33][34]

Seiring dengan peningkatan populasi dan ketersediaan tenaga kerja ini, muncul pula peningkatan dalam spesialisasi tenaga kerja.[35] Apa yang memicu perkembangan dari desa-desa Neolitikum awal menuju kota-kota pertama, seperti Uruk, dan peradaban pertama, seperti Sumer, tidak diketahui secara pasti; namun, kemunculan struktur sosial yang kian hierarkis dan tenaga kerja terspesialisasi, perdagangan dan peperangan antarbudaya yang bertetangga, serta kebutuhan akan tindakan kolektif untuk mengatasi tantangan lingkungan seperti irigasi, semuanya diperkirakan turut berperan.[36]

Penemuan tulisan memicu penyebaran pengetahuan budaya dan menjadi dasar bagi sejarah, perpustakaan, sekolah, dan penelitian ilmiah.[37]

Penyempurnaan yang berkelanjutan berujung pada terciptanya tungku dan alat hembus, serta menyediakan kemampuan—untuk pertama kalinya—guna melebur dan menempa emas, tembaga, perak, dan timbal  logam asli yang ditemukan dalam bentuk yang relatif murni di alam.[38] Keunggulan perkakas tembaga dibandingkan perkakas batu, tulang, dan kayu dengan cepat disadari oleh manusia purba, dan tembaga murni kemungkinan telah digunakan sejak permulaan zaman Neolitikum (sekitar 10 rtl).[39] Tembaga murni tidak tersedia secara alami dalam jumlah besar, namun bijih tembaga cukup umum ditemukan dan beberapa di antaranya menghasilkan logam dengan mudah ketika dibakar dalam api kayu atau arang. Pada akhirnya, pengerjaan logam berujung pada penemuan paduan seperti perunggu dan kuningan (sekitar 4.000 SM). Penggunaan pertama paduan besi seperti baja bermula sekitar tahun 1.800 SM.[40][41]

Zaman Kuno

[sunting | sunting sumber]

Templat:Teknologi kuno

Foto roda kayu awal
Roda ditemukan ca4.000 SM.
Foto Roda Kayu dengan gandar (roda kayu tertua yang pernah ditemukan)
Roda Rawa Ljubljana dengan gandar (roda kayu tertua yang pernah ditemukan per tahun 2024)

Setelah mengendalikan api, manusia menemukan bentuk-bentuk energi lainnya. Pemanfaatan tenaga angin paling awal yang diketahui adalah pada kapal layar; catatan paling awal tentang kapal yang berlayar adalah perahu Nil yang berasal dari sekitar tahun 7.000 SM.[42] Sejak zaman prasejarah, orang Mesir kemungkinan besar memanfaatkan kekuatan banjir tahunan Sungai Nil untuk mengairi lahan mereka, secara bertahap belajar untuk mengatur sebagian besar air tersebut melalui saluran irigasi dan cekungan "penampung" yang dibangun secara khusus. [43] Bangsa Sumeria kuno di Mesopotamia menggunakan sistem kanal dan tanggul yang rumit untuk membelokkan air dari sungai Tigris dan Efrat guna keperluan irigasi.[44]

Para arkeolog memperkirakan bahwa roda ditemukan secara independen dan bersamaan di Mesopotamia (di Irak masa kini), Kaukasus Utara (kebudayaan Maykop), dan Eropa Tengah.[45] Estimasi waktu berkisar antara 5.500 hingga 3.000 SM, dengan sebagian besar ahli menempatkannya mendekati tahun 4.000 SM.[46] Artefak tertua dengan gambar yang melukiskan kereta beroda berasal dari sekitar tahun 3.500 SM.[47] Baru-baru ini, roda kayu tertua di dunia yang diketahui per tahun 2024 ditemukan di Rawa Ljubljana di Slovenia; para ahli Austria telah menetapkan bahwa usia roda tersebut antara 5.100 hingga 5.350 tahun.[48]

Penemuan roda merevolusi perdagangan dan peperangan. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kereta beroda dapat digunakan untuk mengangkut beban berat. Bangsa Sumeria kuno menggunakan roda tembikar dan mungkin merekalah yang menemukannya.[49] Sebuah roda tembikar batu yang ditemukan di negara-kota Ur bertarikh sekitar 3.429 SM,[50] dan pecahan tembikar yang dibuat dengan roda putar yang lebih tua bahkan telah ditemukan di area yang sama.[50] Roda tembikar (putar) cepat memungkinkan produksi massal tembikar di masa awal, namun penggunaan roda sebagai pengubah energi (melalui kincir air, kincir angin, dan bahkan treadmill) yang merevolusi penerapan sumber tenaga nonmanusia. Kereta roda dua pertama dikembangkan dari travois [51] dan pertama kali digunakan di Mesopotamia dan Iran sekitar tahun 3.000 SM.[51]

Jalan raya konstruksi tertua yang diketahui adalah jalan-jalan berkerakal batu di negara-kota Ur, yang bertarikh ca4.000 SM,[52] dan jalan kayu yang melintasi rawa-rawa Glastonbury, Inggris, yang berasal dari periode yang kurang lebih sama.[52] Jalan jarak jauh pertama, yang mulai digunakan sekitar tahun 3.500 SM,[52] membentang sejauh 2.400 km dari Teluk Persia hingga Laut Tengah,[52] namun tidak diaspal dan hanya dirawat sebagian.[52] Sekitar tahun 2.000 SM, bangsa Minoa di pulau Kreta, Yunani, membangun jalan sepanjang 50 km yang membentang dari istana Gortyn di sisi selatan pulau, melewati pegunungan, menuju istana Knossos di sisi utara pulau.[52] Berbeda dengan jalan sebelumnya, jalan bangsa Minoa ini sepenuhnya berlapis batu.[52]

lihat keterangan
Foto Pont du Gard di Prancis, salah satu akuaduk Romawi kuno yang paling terkenal[53]

Rumah-rumah pribadi bangsa Minoa kuno memiliki air mengalir.[54] Sebuah bak mandi yang hampir identik dengan bak mandi modern ditemukan di Istana Knossos.[54][55] Beberapa rumah pribadi Minoa juga memiliki toilet, yang dapat disiram dengan menuangkan air ke saluran pembuangan.[54] Bangsa Romawi kuno memiliki banyak toilet siram umum,[55] yang bermuara ke sistem limbah yang luas.[55] Saluran pembuangan utama di Roma adalah Cloaca Maxima;[55] pembangunannya dimulai pada abad ke-6 SM dan masih digunakan hingga saat ini.[55]

Bangsa Romawi kuno juga memiliki sistem akuaduk yang rumit,[53] yang digunakan untuk mengangkut air melintasi jarak yang jauh.[53] Akuaduk Romawi pertama dibangun pada tahun 312 SM.[53] Akuaduk Romawi kuno kesebelas dan terakhir dibangun pada tahun 226 M.[53] Jika digabungkan, akuaduk Romawi membentang lebih dari 450 km,[53] namun kurang dari 70 km di antaranya berada di atas tanah dan ditopang oleh lengkungan.[53]

Pra-modern

[sunting | sunting sumber]

Inovasi berlanjut sepanjang Abad Pertengahan dengan pengenalan produksi sutra (di Asia dan kemudian Eropa), kerah kuda, dan sepatu kuda. Pesawat sederhana (seperti tuas, sekrup, dan katrol) digabungkan menjadi alat yang lebih rumit, seperti gerobak dorong, kincir angin, dan jam.[56] Sebuah sistem universitas berkembang dan menyebarkan gagasan serta praktik ilmiah, termasuk Oxford dan Cambridge.[57]

Era Renaisans menghasilkan banyak inovasi, termasuk pengenalan mesin cetak tipe bergerak ke Eropa, yang memfasilitasi komunikasi pengetahuan. Teknologi menjadi kian dipengaruhi oleh sains, yang memulai siklus kemajuan timbal balik.[58]

Image
Mobil, di sini terlihat Benz Patent-Motorwagen yang asli, merevolusi transportasi pribadi.

Bermula di Britania Raya pada abad ke-18, penemuan tenaga uap memicu Revolusi Industri, yang menyaksikan berbagai penemuan teknologi secara luas, khususnya di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, metalurgi, dan transportasi, serta penerapan sistem pabrik yang meluas.[59] Hal ini diikuti satu abad kemudian oleh Revolusi Industri Kedua yang berujung pada penemuan ilmiah yang pesat, standardisasi, dan produksi massal. Teknologi baru dikembangkan, termasuk sistem pembuangan limbah, listrik, bola lampu, motor listrik, jalan kereta api, mobil, dan pesawat terbang. Kemajuan teknologi ini memicu perkembangan signifikan dalam kedokteran, kimia, fisika, dan rekayasa.[60] Kemajuan tersebut disertai dengan perubahan sosial yang konsekuensial, dengan diperkenalkannya gedung pencakar langit yang diiringi oleh urbanisasi yang pesat.[61] Komunikasi membaik dengan ditemukannya telegraf, telepon, radio, dan televisi.[62]

Abad ke-20 menghadirkan sejumlah inovasi. Dalam fisika, penemuan fisi nuklir di Zaman Atom berujung pada senjata nuklir dan tenaga nuklir. Komputer analog ditemukan dan menegaskan dominasinya dalam memproses data yang kompleks. Meskipun penemuan tabung vakum memungkinkan komputasi digital dengan komputer seperti ENIAC, ukurannya yang sangat besar menghalangi penggunaan secara luas hingga inovasi dalam fisika kuantum memungkinkan penemuan transistor pada tahun 1947, yang secara signifikan memadatkan ukuran komputer dan memimpin transisi digital. Teknologi informasi, khususnya serat optik dan penguat optik, memungkinkan komunikasi jarak jauh yang sederhana dan cepat, yang mengantarkan kita pada Zaman Informasi dan kelahiran Internet. Zaman Angkasa dimulai dengan peluncuran Sputnik 1 pada tahun 1957, dan kemudian peluncuran misi berawak ke bulan pada tahun 1960-an. Upaya terorganisasi untuk pencarian kecerdasan ekstraterestrial telah menggunakan teleskop radio untuk mendeteksi tanda-tanda penggunaan teknologi, atau tanda teknologi, yang dipancarkan oleh peradaban asing. Dalam kedokteran, teknologi baru dikembangkan untuk diagnosis (pemindaian CT, PET, dan MRI), pengobatan (seperti mesin dialisis, defibrilator, alat pacu jantung, dan beragam obat farmasi baru), serta penelitian (seperti kloning interferon dan mikroarray DNA).[63]

Teknik dan organisasi manufaktur serta konstruksi yang kompleks diperlukan untuk membuat dan memelihara teknologi yang lebih modern, dan seluruh industri telah bangkit untuk mengembangkan generasi penerus alat-alat yang kian kompleks. Teknologi modern makin bergantung pada pelatihan dan pendidikan – para perancang, pembuat, pemelihara, dan penggunanya sering kali memerlukan pelatihan umum dan khusus yang canggih.[64] Terlebih lagi, teknologi ini telah menjadi begitu kompleks sehingga seluruh bidang ilmu telah berkembang untuk mendukungnya, termasuk rekayasa, kedokteran, dan ilmu komputer; serta bidang lainnya telah menjadi lebih kompleks, seperti konstruksi, transportasi, dan arsitektur.

Perubahan teknologi merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.[65][66] Sepanjang sejarah umat manusia, produksi energi menjadi kendala utama dalam pembangunan ekonomi, dan teknologi baru memungkinkan manusia untuk meningkatkan jumlah energi yang tersedia secara signifikan. Pertama adalah api, yang memungkinkan konsumsi berbagai jenis makanan yang lebih luas serta meringankan beban fisik dalam proses pencernaannya. Api juga memungkinkan proses peleburan, serta penggunaan perkakas dari timah, tembaga, dan besi, yang digunakan untuk berburu atau kegiatan perdagangan. Kemudian tibalah revolusi pertanian: manusia tidak lagi harus berburu atau meramu untuk bertahan hidup, dan mulai menetap di kota-kota, membentuk tatanan masyarakat yang lebih kompleks, lengkap dengan militer dan bentuk agama yang lebih terorganisir.[67]

Teknologi telah berkontribusi pada kesejahteraan manusia melalui peningkatan kemakmuran, perbaikan kenyamanan dan kualitas hidup, serta kemajuan medis, namun teknologi juga dapat mendisrupsi hierarki sosial yang ada, menyebabkan polusi, serta membahayakan individu maupun kelompok.

Beberapa tahun terakhir telah memunculkan peningkatan prominensi budaya media sosial, yang membawa potensi dampak terhadap demokrasi, serta kehidupan ekonomi dan sosial. Pada awalnya, internet dipandang sebagai "teknologi pembebasan" yang akan mendemokratisasi pengetahuan, meningkatkan akses terhadap pendidikan, dan mempromosikan demokrasi. Penelitian modern telah beralih untuk menyelidiki sisi negatif internet, termasuk disinformasi, polarisasi, ujaran kebencian, dan propaganda.[68]

Sejak tahun 1970-an, dampak teknologi terhadap lingkungan telah menuai kritik, yang memicu lonjakan investasi dalam tenaga surya, angin, dan bentuk energi bersih lainnya.

Pekerjaan

[sunting | sunting sumber]

Sejak penemuan roda, teknologi telah membantu meningkatkan keluaran ekonomi manusia. Otomatisasi masa lalu telah menggantikan sekaligus melengkapi tenaga kerja; mesin menggantikan manusia pada beberapa pekerjaan berupah rendah (misalnya di bidang pertanian), namun hal ini dikompensasi dengan terciptanya lapangan kerja baru yang berupah lebih tinggi.[69] Berbagai studi menemukan bahwa komputer tidak menciptakan pengangguran teknologi bersih yang signifikan.[70] Mengingat kecerdasan buatan jauh lebih cakap daripada komputer, dan masih dalam tahap awal perkembangannya, belum diketahui apakah teknologi ini akan mengikuti tren yang sama; pertanyaan ini telah diperdebatkan secara panjang lebar di kalangan ekonom dan pembuat kebijakan. Sebuah survei tahun 2017 tidak menemukan konsensus yang jelas di antara para ekonom mengenai apakah AI akan meningkatkan pengangguran jangka panjang.[71] Menurut "Laporan Masa Depan Pekerjaan 2020" dari Forum Ekonomi Dunia, AI diprediksi akan menggantikan 85 juta pekerjaan di seluruh dunia, dan menciptakan 97 juta pekerjaan baru pada tahun 2025.[72][73] Dari tahun 1990 hingga 2007, sebuah studi di AS oleh ekonom MIT Daron Acemoglu menunjukkan bahwa penambahan satu robot untuk setiap 1.000 pekerja menurunkan rasio pekerjaan-terhadap-populasi sebesar 0,2%, atau sekitar 3,3 pekerja, dan menurunkan upah sebesar 0,42%.[74][75] Namun, kekhawatiran mengenai teknologi yang menggantikan tenaga kerja manusia sudah ada sejak lama. Seperti yang dikatakan presiden AS Lyndon Johnson pada tahun 1964, "Teknologi menciptakan peluang baru sekaligus kewajiban baru bagi kita, peluang untuk produktivitas dan kemajuan yang lebih besar; kewajiban untuk memastikan bahwa tidak ada pekerja, tidak ada keluarga yang harus membayar harga yang tidak adil demi kemajuan tersebut," saat menandatangani rancangan undang-undang Komisi Nasional Teknologi, Otomatisasi, dan Kemajuan Ekonomi.[76][77][78][79][80]

Seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi, kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi turut menyertainya. Miliaran orang menggunakan beragam metode pembayaran daring, seperti WeChat Pay, PayPal, Alipay, dan banyak lagi untuk membantu mentransfer uang. Meskipun langkah-langkah keamanan telah diterapkan, sejumlah penjahat mampu memintasnya.[81] Pada Maret 2022, Korea Utara menggunakan Blender.io, sebuah pencampur (mixer) yang membantu mereka menyembunyikan pertukaran mata uang kripto, untuk mencuci lebih dari $20,5 juta dalam bentuk mata uang kripto, dari Axie Infinity, dan mencuri mata uang kripto senilai lebih dari $600 juta dari pemilik permainan tersebut. Karena hal ini, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Blender.io, yang menandai pertama kalinya tindakan diambil terhadap sebuah pencampur, sebagai upaya untuk menindak peretas Korea Utara.[82][83] Privasi mata uang kripto telah diperdebatkan. Meskipun banyak pelanggan menyukai privasi mata uang kripto, banyak pula yang berpendapat bahwa mata uang ini memerlukan transparansi dan stabilitas yang lebih besar.[81]

Lingkungan

[sunting | sunting sumber]

Teknologi dapat memiliki dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan. Teknologi lingkungan mendeskripsikan serangkaian teknologi yang berupaya untuk membalikkan, memitigasi, atau menghentikan kerusakan lingkungan. Hal ini dapat mencakup langkah-langkah untuk menghentikan polusi melalui regulasi lingkungan, penangkapan dan penyimpanan polusi, atau penggunaan produk sampingan polutan dalam industri lain.[84] Contoh lain dari teknologi lingkungan meliputi deforestasi dan pembalikan deforestasi.[85] Teknologi baru di bidang rekayasa iklim mungkin mampu menghentikan atau membalikkan pemanasan global dan dampak lingkungannya,[86] meskipun hal ini masih sangat kontroversial.[87] Seiring kemajuan teknologi, dampak negatif terhadap lingkungan juga meningkat, dengan bertambahnya pelepasan gas rumah kaca, termasuk metana, dinitrogen oksida, dan karbon dioksida, ke atmosfer, yang menyebabkan efek rumah kaca. Hal ini terus memanaskan bumi secara bertahap, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Ukuran inovasi teknologi berkorelasi dengan peningkatan emisi gas rumah kaca.[88]

Polusi, yakni keberadaan kontaminan dalam suatu lingkungan yang menyebabkan dampak buruk, mungkin sudah ada sejak zaman Kekaisaran Inka. Mereka menggunakan fluks timbal sulfida dalam peleburan bijih, bersama dengan penggunaan tanur tanah liat bertenaga angin, yang melepaskan timbal ke atmosfer dan sedimen sungai.[89]

Filsafat teknologi adalah cabang filsafat yang mempelajari "praktik merancang dan menciptakan artefak", serta "sifat dasar dari hal-hal yang diciptakan tersebut."[90] Disiplin ini muncul selama dua abad terakhir, dan telah berkembang "secara signifikan" sejak tahun 1970-an.[91] Filsafat teknologi humaniora berfokus pada "makna teknologi bagi, dan dampaknya terhadap, masyarakat dan budaya".[90]

Pada awalnya, teknologi dipandang sebagai perpanjangan dari organisme manusia yang mereplikasi atau memperkuat kemampuan tubuh dan mental.[92] Marx membingkainya sebagai alat yang digunakan oleh kapitalis untuk menindas proletariat, namun meyakini bahwa teknologi akan menjadi kekuatan yang membebaskan secara fundamental begitu "dibebaskan dari deformasi kemasyarakatan". Para filsuf gelombang kedua seperti Ortega kemudian mengalihkan fokus mereka dari ekonomi dan politik ke "kehidupan sehari-hari dan hidup dalam budaya tekno-material", dengan alasan bahwa teknologi dapat menindas "bahkan anggota borjuasi yang merupakan tuan dan pemilik semunya." Para filsuf tahap ketiga seperti Don Ihde dan Albert Borgmann merepresentasikan peralihan menuju de-generalisasi dan empirisme, serta mempertimbangkan bagaimana manusia dapat belajar untuk hidup berdampingan dengan teknologi.[91][halaman dibutuhkan]

Kesarjanaan awal mengenai teknologi terpecah menjadi dua argumen: determinisme teknologi, dan konstruksi sosial. Determinisme teknologi adalah gagasan bahwa teknologi menyebabkan perubahan sosial yang tak terelakkan.[93]:95 Hal ini biasanya mencakup argumen terkait, otonomi teknologi, yang menegaskan bahwa kemajuan teknologi mengikuti perkembangan alami dan tidak dapat dicegah.[94] Penganut konstruktivisme sosial berpendapat bahwa teknologi tidak mengikuti perkembangan alami, dan dibentuk oleh nilai-nilai budaya, hukum, politik, dan insentif ekonomi. Kesarjanaan modern telah beralih ke analisis sistem sosioteknis, "kumpulan benda, orang, praktik, dan makna", yang melihat pada penilaian nilai yang membentuk teknologi.[93][halaman dibutuhkan]

Kritikus budaya Neil Postman membedakan antara masyarakat pengguna-alat dengan masyarakat teknologi dan dari apa yang disebutnya "teknopoli", masyarakat yang didominasi oleh ideologi kemajuan teknologi dan ilmiah yang merugikan praktik budaya, nilai, dan pandangan dunia lainnya.[95] Herbert Marcuse dan John Zerzan berpendapat bahwa masyarakat teknologi pasti akan merampas kebebasan dan kesehatan psikologis kita.[96]

Etika teknologi adalah subbidang etika interdisipliner yang menganalisis implikasi etis dari teknologi dan mengeksplorasi cara-cara untuk memitigasi potensi dampak negatif dari teknologi baru. Terdapat cakupan luas masalah etika yang berkisar seputar teknologi, mulai dari area fokus spesifik yang memengaruhi para profesional yang bekerja dengan teknologi hingga masalah sosial, etika, dan hukum yang lebih luas mengenai peran teknologi dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari.[97]

Perdebatan yang menonjol meliputi organisme termodifikasi secara genetika, penggunaan robot militer, bias algoritme, dan masalah menyelaraskan perilaku AI dengan nilai-nilai manusia.[98]

Etika teknologi mencakup beberapa bidang utama: Bioetika menyoroti masalah etika seputar bioteknologi dan kedokteran modern, termasuk kloning, rekayasa genetika manusia, dan penelitian sel punca. Etika komputer berfokus pada masalah yang berkaitan dengan komputasi. Siberetika mengeksplorasi masalah terkait internet seperti hak kekayaan intelektual, privasi, dan penyensoran. Nanoetika menelaah masalah seputar pengubahan materi pada tingkat atom dan molekul dalam berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu komputer, rekayasa, dan biologi. Serta etika rekayasa berkaitan dengan standar profesional para insinyur, termasuk insinyur perangkat lunak dan tanggung jawab moral mereka terhadap publik.[99]

Cabang luas dari etika teknologi berkaitan dengan etika kecerdasan buatan: ini mencakup etika robot, yang menangani masalah etika yang terlibat dalam desain, konstruksi, penggunaan, dan perlakuan terhadap robot,[100] serta etika mesin, yang berkaitan dengan pemastian perilaku etis dari agen cerdas buatan.[101] Dalam bidang etika AI, masalah penelitian signifikan yang belum terpecahkan meliputi penyelarasan AI (memastikan bahwa perilaku AI selaras dengan tujuan dan kepentingan yang dimaksudkan penciptanya) dan pengurangan bias algoritme. Beberapa peneliti telah memperingatkan tentang risiko hipotetis dari pengambilalihan oleh AI, dan telah mengadvokasi penggunaan pengendalian kemampuan AI di samping metode penyelarasan AI.

Bidang etika lainnya harus berhadapan dengan masalah terkait teknologi, termasuk etika militer, etika media, dan etika pendidikan.

Studi masa depan

[sunting | sunting sumber]

Studi masa depan adalah studi mengenai kemajuan sosial dan teknologi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi rentang masa depan yang masuk akal dan memadukan nilai-nilai manusia dalam pengembangan teknologi baru.[102]:54 Secara lebih umum, para peneliti masa depan tertarik untuk meningkatkan "kebebasan dan kesejahteraan umat manusia".[102]:73 Bidang ini bergantung pada analisis kuantitatif dan kualitatif menyeluruh terhadap tren teknologi masa lalu dan masa kini, serta berupaya untuk mengekstrapolasinya secara cermat ke masa depan.[102] Fiksi ilmiah sering digunakan sebagai sumber gagasan.[102]:173 Metodologi penelitian masa depan meliputi penelitian survei, pemodelan, analisis statistik, dan simulasi komputer.[102]:187

Risiko eksistensial

[sunting | sunting sumber]

Peneliti risiko eksistensial menganalisis risiko yang dapat menyebabkan kepunahan manusia atau keruntuhan peradaban, dan mencari cara untuk membangun ketahanan terhadapnya.[103][104] Pusat penelitian yang relevan meliputi Pusat Studi Risiko Eksistensial Cambridge, dan Inisiatif Risiko Eksistensial Stanford.[105] Teknologi masa depan dapat berkontribusi pada risiko kecerdasan umum buatan, perang biologis, perang nuklir, nanoteknologi, perubahan iklim antropogenik, pemanasan global, atau totalitarianisme global yang stabil, meskipun teknologi juga dapat membantu kita memitigasi tumbukan asteroid dan semburan sinar gama.[106] Pada tahun 2019, filsuf Nick Bostrom memperkenalkan gagasan tentang dunia yang rentan, "dunia di mana terdapat tingkat perkembangan teknologi tertentu yang membuat peradaban hampir pasti hancur secara mendasar", mengutip risiko pandemi yang disebabkan oleh bioteroris, atau perlombaan senjata yang dipicu oleh pengembangan persenjataan baru dan hilangnya kehancuran yang dijamin bersama.[107] Ia mengajak para pembuat kebijakan untuk mempertanyakan asumsi bahwa kemajuan teknologi selalu bermanfaat, bahwa keterbukaan ilmiah selalu lebih baik, atau bahwa mereka mampu menunggu sampai teknologi berbahaya ditemukan sebelum mempersiapkan mitigasi.[107]

Teknologi yang sedang dikembangkan

[sunting | sunting sumber]
Foto seorang ilmuwan yang sedang melihat mikroskop yang diarahkan ke cawan petri
Pencetakan 3D eksperimental jaringan otot

Teknologi yang sedang dikembangkan adalah teknologi baru yang pengembangan atau aplikasi praktisnya sebagian besar masih belum terealisasi. Teknologi ini meliputi nanoteknologi, bioteknologi, robotika, pencetakan 3D, dan blockchain.

Pada tahun 2005, futuris Ray Kurzweil mengklaim bahwa revolusi teknologi berikutnya akan bertumpu pada kemajuan dalam genetika, nanoteknologi, dan robotika, dengan robotika sebagai yang paling berdampak dari ketiga teknologi tersebut.[108] Rekayasa genetika akan memungkinkan kontrol yang jauh lebih besar atas sifat biologis manusia melalui proses yang disebut evolusi terarah. Beberapa pemikir percaya bahwa hal ini dapat menghancurkan rasa jati diri kita, dan mendesak adanya debat publik baru untuk mengeksplorasi masalah ini secara lebih menyeluruh;[109] yang lain khawatir bahwa evolusi terarah dapat mengarah pada eugenika atau ketimpangan sosial yang ekstrem. Nanoteknologi akan memberi kita kemampuan untuk memanipulasi materi "pada skala molekuler dan atom",[110] yang dapat memungkinkan kita untuk membentuk kembali diri kita dan lingkungan kita dengan cara-cara yang mendasar.[111] Nanobot dapat digunakan di dalam tubuh manusia untuk menghancurkan sel kanker atau membentuk bagian tubuh baru, mengaburkan batas antara biologi dan teknologi.[112] Robot otonom telah mengalami kemajuan pesat, dan diharapkan dapat menggantikan manusia dalam banyak tugas berbahaya, termasuk pencarian dan penyelamatan, penjinakan bom, pemadaman kebakaran, dan perang.[113]

Estimasi mengenai munculnya kecerdasan umum buatan bervariasi, namun setengah dari ahli pembelajaran mesin yang disurvei pada tahun 2018 meyakini bahwa AI akan "menyelesaikan setiap tugas dengan lebih baik dan lebih murah" daripada manusia pada tahun 2063, dan mengotomatisasi semua pekerjaan manusia pada tahun 2140.[114] Pengangguran teknologi yang diprediksi ini telah memicu seruan untuk peningkatan penekanan pada pendidikan ilmu komputer dan perdebatan tentang pendapatan dasar universal. Para ahli ilmu politik memprediksi bahwa hal ini dapat menyebabkan peningkatan ekstremisme, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang untuk mengantarkan kita pada ekonomi pasca-kelangkaan.

Teknologi tepat guna

[sunting | sunting sumber]

Beberapa segmen dari kontrabudaya hippie tahun 1960-an mulai tidak menyukai kehidupan perkotaan dan mengembangkan preferensi terhadap teknologi yang otonom secara lokal, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, yang diistilahkan sebagai teknologi tepat guna. Hal ini di kemudian hari memengaruhi budaya peretas dan teknopaganisme.

Utopianisme teknologi

[sunting | sunting sumber]

Utopianisme teknologi merujuk pada keyakinan bahwa perkembangan teknologi adalah kebaikan moral, yang dapat dan harus mewujudkan sebuah utopia, yaitu, sebuah masyarakat di mana hukum, pemerintahan, dan kondisi sosial melayani kebutuhan semua warganya.[115] Contoh tujuan tekno-utopis meliputi ekonomi pasca-kelangkaan, perpanjangan hidup, pengunggahan pikiran, krionik, dan penciptaan superinteligensi buatan. Gerakan tekno-utopis utama meliputi transhumanisme dan singularitarianisme.

Gerakan transhumanisme didirikan di atas "evolusi kehidupan manusia yang berkelanjutan melampaui bentuk manusianya saat ini" melalui sains dan teknologi, yang berlandaskan pada "prinsip dan nilai yang mempromosikan kehidupan."[116] Gerakan ini meraih popularitas yang lebih luas pada awal abad ke-21.[117]

Para Singularitarian meyakini bahwa superinteligensi mesin akan "mempercepat kemajuan teknologi" berkali-kali lipat dan "menciptakan entitas yang bahkan lebih cerdas dengan lebih cepat", yang dapat mengarah pada laju perubahan masyarakat dan teknologi yang "sulit dipahami" oleh kita. Cakrawala peristiwa ini dikenal sebagai singularitas teknologi.[118]

Tokoh-tokoh utama utopianisme teknologi antara lain Ray Kurzweil dan Nick Bostrom. Utopianisme teknologi telah menuai pujian sekaligus kritik dari para pemikir progresif, religius, dan konservatif.[119]

Reaksi penentangan terhadap teknologi

[sunting | sunting sumber]

Peran sentral teknologi dalam kehidupan kita telah memicu kekhawatiran dan reaksi penentangan. Reaksi penentangan terhadap teknologi bukanlah gerakan yang seragam dan mencakup banyak ideologi yang heterogen.[120]

Pemberontakan paling awal yang diketahui terhadap teknologi adalah Luddisme, sebuah perlawanan terhadap otomatisasi awal dalam produksi tekstil. Otomatisasi telah mengakibatkan berkurangnya kebutuhan akan pekerja, sebuah proses yang dikenal sebagai pengangguran teknologi.

Antara tahun 1970-an dan 1990-an, teroris Amerika Ted Kaczynski melakukan serangkaian pengeboman di seluruh Amerika dan menerbitkan Manifesto Unabomber yang mengecam dampak negatif teknologi terhadap alam dan kebebasan manusia. Esai tersebut beresonansi dengan sebagian besar publik Amerika.[121] Hal itu sebagian terinspirasi oleh karya Jacques Ellul, The Technological Society.[122]

Beberapa subkultur, seperti gerakan keluar dari jaringan (off-the-grid), menganjurkan penarikan diri dari teknologi dan kembali ke alam. Gerakan ekodesa berupaya untuk membangun kembali harmoni antara teknologi dan alam.[123]

Hubungan dengan sains dan rekayasa

[sunting | sunting sumber]
Lukisan Lavoisier sedang melakukan eksperimen di depan para penonton
Antoine Lavoisier sedang bereksperimen dengan pembakaran yang dihasilkan oleh cahaya matahari yang diperkuat

Rekayasa adalah proses tempat teknologi dikembangkan. Proses ini sering kali menuntut pemecahan masalah di bawah batasan yang ketat.[124] Pengembangan teknologi berorientasi pada "tindakan", sementara pengetahuan ilmiah pada dasarnya bersifat eksplanatoris.[125] Filsuf Polandia Henryk Skolimowski membingkainya seperti ini: "sains memusatkan perhatian pada apa yang ada, teknologi pada apa yang akan ada."[126]:375

Arah kausalitas antara penemuan ilmiah dan inovasi teknologi telah diperdebatkan oleh para ilmuwan, filsuf, dan pembuat kebijakan.[127] Karena inovasi sering kali dilakukan di tepian pengetahuan ilmiah, sebagian besar teknologi tidak diturunkan dari pengetahuan ilmiah, melainkan dari rekayasa, utak-atik, dan kebetulan.[128]:217–240 Sebagai contoh, pada tahun 1940-an dan 1950-an, ketika pengetahuan tentang turbulensi pembakaran atau dinamika fluida masih kasar, mesin jet ditemukan melalui proses "menjalankan perangkat hingga hancur, menganalisis apa yang rusak [...] dan mengulangi proses tersebut".[124] Penjelasan ilmiah sering kali menyusul perkembangan teknologi alih-alih mendahuluinya.[128]:217–240 Banyak penemuan juga muncul dari kebetulan murni, seperti penemuan penisilin sebagai akibat dari kontaminasi laboratorium yang tidak disengaja.[129] Sejak tahun 1960-an, asumsi bahwa pendanaan pemerintah untuk penelitian dasar akan berujung pada penemuan teknologi yang dapat dipasarkan telah kehilangan kredibilitas.[130][131] Probabilis Nassim Taleb berpendapat bahwa program penelitian nasional yang menerapkan gagasan serendipitas dan konveksitas melalui metode coba-coba yang sering, lebih mungkin menghasilkan inovasi yang berguna daripada penelitian yang bertujuan untuk mencapai hasil spesifik.[128][132]

Meskipun demikian, teknologi modern kian bergantung pada pengetahuan ilmiah spesifik-domain yang mendalam. Pada tahun 1975, rata-rata terdapat satu sitasi literatur ilmiah dalam setiap tiga paten yang diberikan di AS; pada tahun 1989, angka ini meningkat menjadi rata-rata satu sitasi per paten. Rata-rata tersebut condong ke atas akibat paten yang berkaitan dengan industri farmasi, kimia, dan elektronik.[133] Sebuah analisis tahun 2021 menunjukkan bahwa paten yang didasarkan pada penemuan ilmiah rata-rata 26% lebih bernilai daripada paten setara yang tidak berbasis sains.[134]

Spesies hewan lain

[sunting | sunting sumber]
Foto seekor gorila yang berjalan setinggi pinggang di sebuah kolam, memegang sebuah tongkat
Gorila dewasa ini menggunakan dahan sebagai tongkat jalan untuk mengukur kedalaman air.

Penggunaan teknologi dasar juga merupakan fitur dari spesies hewan nonmanusia. Penggunaan alat pernah dianggap sebagai karakteristik penentu genus Homo.[135] Pandangan ini tergantikan setelah ditemukannya bukti penggunaan alat di antara simpanse dan primata lainnya,[136] lumba-lumba,[137] dan gagak.[138][139] Sebagai contoh, para peneliti telah mengamati simpanse liar menggunakan alat mencari makan dasar, alu, tuas, menggunakan daun sebagai spons, serta kulit kayu atau tanaman rambat sebagai alat penduga untuk memancing rayap.[140] Simpanse Afrika Barat menggunakan palu batu dan landasan untuk memecahkan kacang,[141] begitu pula monyet capuchin di Boa Vista, Brasil.[142] Penggunaan alat bukanlah satu-satunya bentuk penggunaan teknologi oleh hewan; misalnya, bendungan berang-berang, yang dibangun dengan ranting kayu atau batu besar, merupakan teknologi dengan dampak "dramatis" pada habitat sungai dan ekosistem.[143]

Dalam budaya populer

[sunting | sunting sumber]

Hubungan manusia dengan teknologi telah dieksplorasi dalam literatur fiksi ilmiah, misalnya dalam Brave New World, A Clockwork Orange, Nineteen Eighty-Four, esai-esai Isaac Asimov, dan film-film seperti Minority Report, Total Recall, Gattaca, dan Inception. Hal ini telah melahirkan genre cyberpunk distopia dan futuristik, yang menyandingkan teknologi futuristik dengan keruntuhan masyarakat, distopia, atau pembusukan.[144] Karya-karya cyberpunk yang terkenal meliputi novel Neuromancer karya William Gibson, serta film seperti Blade Runner, dan The Matrix.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Skolnikoff, Eugene B. (1993). "The Setting". The Elusive Transformation: Science, Technology, and the Evolution of International Politics. Princeton University Press. hlm. 13. ISBN 0-691-08631-1. JSTOR j.ctt7rpm1. Saya menemukan definisi konseptual yang paling berguna untuk studi ini adalah yang diberikan oleh Harvey Brooks, yang mendefinisikan teknologi ...sebagai 'pengetahuan tentang cara memenuhi tujuan manusia tertentu dengan cara yang dapat ditentukan dan direproduksi.'
  2. Salomon 1984, hlm. 117–118: "Kutub pertama, yaitu naturalisasi disiplin baru dalam kurikulum universitas, dipresentasikan oleh Christian Wolff pada tahun 1728, dalam Bab III "Wacana Pendahuluan" untuk karyanya Philosophia rationalisis sive Logica: 'Teknologi adalah ilmu tentang keterampilan dan karya keterampilan, atau, jika lebih disukai, ilmu tentang hal-hal yang dibuat oleh tenaga manusia, terutama melalui penggunaan tangannya.'"
  3. Mitcham, Carl (1994). Thinking Through Technology: The Path Between Engineering and Philosophy. University of Chicago Press. ISBN 0-226-53196-1.
  4. "The roles of science and technology in national development" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-03-20.
  5. "Technological advancements have led to significant changes in society. | Thiru Murugan". www.linkedin.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-30.
  6. Braunack-Mayer, A.J.; Street, J.M.; Palmer, N. (2012). "Technology, Ethics of". Encyclopedia of Applied Ethics. hlm. 321–327. doi:10.1016/B978-0-12-373932-2.00027-2. ISBN 978-0-12-373932-2.
  7. Liddell, Henry George; Scott, Robert (1996) [1891]. Greek-English Lexicon (Edisi Abridged). Oxford University Press. ISBN 0-19-910205-8. OCLC 38307662.
  8. Simpson, J.; Weiner, Edmund, ed. (1989). "technology". The Oxford English Dictionary. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-861186-8.
  9. Aristotle (2009). Brown, Lesley (ed.). The Nicomachean Ethics. Oxford World's Classics. Diterjemahkan oleh Ross, David. Oxford University Press. hlm. 105. ISBN 978-0-19-921361-0. LCCN 2009005379. OCLC 246896490.
  10. Salomon 1984, hlm. 114–115.
  11. Salomon 1984, hlm. 117.
  12. Schatzberg, Eric (2006). ""Technik" Comes to America: Changing Meanings of "Technology" before 1930". Technology and Culture. 47 (3): 486–512. doi:10.1353/tech.2006.0201. ISSN 0040-165X. JSTOR 40061169. S2CID 143784033.
  13. Salomon 1984, hlm. 119: "Dengan adanya revolusi industri dan peran penting Inggris di dalamnya, kata teknologi kehilangan maknanya sebagai subjek atau inti dari suatu cabang pendidikan, karena awalnya dalam bahasa Inggris dan kemudian dalam bahasa lain, kata ini merangkum semua aktivitas teknis yang didasarkan pada penerapan sains untuk tujuan praktis."
  14. Schiffer, M. B. (2013). "Discovery Processes: Trial Models". The Archaeology of Science. Manuals in Archaeological Method, Theory and Technique. Vol. 9. Heidelberg: Springer International Publishing. hlm. 185–198. doi:10.1007/978-3-319-00077-0_13. ISBN 978-3-319-00077-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  15. The British Museum. "Our earliest technology?". smarthistory.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 September 2022. Diakses tanggal 2 September 2022.
  16. Minogue, K. (28 October 2010). "Stone Age Toolmakers Surprisingly Sophisticated". science.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2022. Diakses tanggal 10 September 2022.
  17. Crump, Thomas (2001). A Brief History of Science. Constable & Robinson. hlm. 9. ISBN 978-1-84119-235-2.
  18. Gowlett, J. A. J.; Wrangham, R. W. (1 March 2013). "Earliest fire in Africa: towards the convergence of archaeological evidence and the cooking hypothesis". Azania: Archaeological Research in Africa. 48 (1): 5–30. doi:10.1080/0067270X.2012.756754. ISSN 0067-270X. S2CID 163033909.
  19. Stahl, Ann B. (1984). "Hominid dietary selection before fire". Current Anthropology. 25 (2): 151–68. doi:10.1086/203106. JSTOR 2742818. S2CID 84337150.
  20. Wrangham, R. (1 August 2017). "Control of Fire in the Paleolithic: Evaluating the Cooking Hypothesis". Current Anthropology. 58 (S16): S303 – S313. doi:10.1086/692113. ISSN 0011-3204. S2CID 148798286. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2022. Diakses tanggal 10 September 2022.
  21. Dunbar, R. I. M.; Gamble, C.; Gowlett, J. A. J., ed. (2014). Lucy to Language: the Benchmark Papers. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-965259-4. OCLC 1124046527.
  22. Wade, Nicholas (15 July 2003). "Early Voices: The Leap to Language". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 March 2017. Diakses tanggal 7 November 2016.
  23. 1 2 Shaar, Ron; Matmon, Ari; Horwitz, Liora K.; Ebert, Yael; Chazan, Michael; Arnold, M.; Aumaître, G.; Bourlès, D.; Keddadouche, K. (May 2021). "Magnetostratigraphy and cosmogenic dating of Wonderwerk Cave: New constraints for the chronology of the South African Earlier Stone Age". Quaternary Science Reviews. 259 106907. Bibcode:2021QSRv..25906907S. doi:10.1016/j.quascirev.2021.106907.
  24. Hallett, Emily Y.; Marean, Curtis W.; Steele, Teresa E.; Álvarez-Fernández, Esteban; Jacobs, Zenobia; Cerasoni, Jacopo Niccolò; Aldeias, Vera; Scerri, Eleanor M. L.; Olszewski, Deborah I.; Hajraoui, Mohamed Abdeljalil El; Dibble, Harold L. (24 September 2021). "A worked bone assemblage from 120,000–90,000 year old deposits at Contrebandiers Cave, Atlantic Coast, Morocco". iScience . 24 (9) 102988. Bibcode:2021iSci...24j2988H. doi:10.1016/j.isci.2021.102988. ISSN 2589-0042. PMC 8478944. PMID 34622180.
  25. O'Neil, Dennis. "Evolution of Modern Humans: Archaic Homo sapiens Culture". Palomar College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 April 2007. Diakses tanggal 31 March 2007.
  26. Villa, Paola (1983). Terra Amata and the Middle Pleistocene archaeological record of southern France. Berkeley: University of California Press. hlm. 303. ISBN 978-0-520-09662-2.
  27. Cordaux, Richard; Stoneking, Mark (2003). "South Asia, the Andamanese, and the Genetic Evidence for an 'Early' Human Dispersal out of Africa" (PDF). American Journal of Human Genetics. 72 (6): 1586–1590, author reply 1590–93. doi:10.1086/375407. PMC 1180321. PMID 12817589. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 October 2009. Diakses tanggal 22 May 2007.
  28. "'Oldest remains' outside Africa reset human migration clock". phys.org . Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 July 2019. Diakses tanggal 10 September 2022.
  29. Harvati, Katerina; Röding, Carolin; Bosman, Abel M.; Karakostis, Fotios A.; Grün, Rainer; Stringer, Chris; Karkanas, Panagiotis; Thompson, Nicholas C.; Koutoulidis, Vassilis; Moulopoulos, Lia A.; Gorgoulis, Vassilis G.; Kouloukoussa, Mirsini (2019). "Apidima Cave fossils provide earliest evidence of Homo sapiens in Eurasia". Nature. 571 (7766). Springer Science and Business Media LLC: 500–504. Bibcode:2019Natur.571..500H. doi:10.1038/s41586-019-1376-z. hdl:10072/397334. ISSN 0028-0836. PMID 31292546. S2CID 195873640. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2022. Diakses tanggal 17 September 2022.
  30. Kuijt, i., ed. (2002). Life in Neolithic Farming Communities: Social Organization, Identity, and Differentiation. Fundamental Issues in Archaeology. Springer New York. ISBN 978-0-306-47166-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 13 September 2022.
  31. Coghlan, H. H. (1943). "The Evolution of the Axe from Prehistoric to Roman Times". The Journal of the Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 73 (1/2): 27–56. doi:10.2307/2844356. ISSN 0307-3114. JSTOR 2844356.
  32. Driscoll, Killian (2006). The early prehistory in the west of Ireland: Investigations into the social archaeology of the Mesolithic, west of the Shannon, Ireland. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2017. Diakses tanggal 11 July 2017.
  33. "The First Baby Boom: Skeletal Evidence Shows Abrupt Worldwide Increase In Birth Rate During Neolithic Period". ScienceDaily (Press release). University of Chicago Press Journals. 4 January 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 November 2016. Diakses tanggal 7 November 2016.
  34. Sussman, Robert W.; Hall, Roberta L. (April 1972). "Child Transport, Family Size, and Increase in Human Population During the Neolithic". Current Anthropology. 13 (2): 258–267. doi:10.1086/201274. JSTOR 2740977. S2CID 143449170.
  35. Ferraro, Gary P. (2006). Cultural Anthropology: An Applied Perspective. The Thomson Corporation. ISBN 978-0-495-03039-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2021. Diakses tanggal 17 May 2008.
  36. Patterson, Gordon M. (1992). The Essentials of Ancient History. Research & Education Association. ISBN 978-0-87891-704-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2021. Diakses tanggal 17 May 2008.
  37. Goody, J. (1986). The Logic of Writing and the Organization of Society. Cambridge University Press.
  38. Cramb, Alan W (1964). "A Short History of Metals". Nature. 203 (4943): 337. Bibcode:1964Natur.203Q.337T. doi:10.1038/203337a0. S2CID 382712.
  39. Image Hall, Harry Reginald Holland (1911). "Ceramics" . Dalam Chisholm, Hugh (ed.). Encyclopædia Britannica. Vol. 05 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 703–760, see page 708. The art of making a pottery consisting of a siliceous sandy body coated with a vitreous copper glaze seems to have been known unexpectedly early, possibly even as early as the period immediately preceding the Ist Dynasty (4000 B.C.).
  40. Akanuma, Hideo. "The significance of the composition of excavated iron fragments taken from Stratum III at the site of Kaman-Kalehöyük, Turkey". Anatolian Archaeological Studies. 14. Tokyo: Japanese Institute of Anatolian Archaeology.
  41. "Ironware piece unearthed from Turkey found to be oldest steel". The Hindu. 26 March 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2009. Diakses tanggal 8 November 2016.
  42. Usai, Donatella; Salvatori, Sandro. "The oldest representation of a Nile boat". Antiquity. 81.
  43. Postel, Sandra (1999). "Egypt's Nile Valley Basin Irrigation". Pillar of Sand: Can the Irrigation Miracle Last?. W.W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-31937-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 November 2020. Diakses tanggal 25 September 2022.
  44. Crawford, Harriet (2013). The Sumerian World. New York & London: Routledge. hlm. 34–43. ISBN 978-0-203-09660-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2020. Diakses tanggal 12 November 2020.
  45. Potts, D.T. (2012). A Companion to the Archaeology of the Ancient Near East. hlm. 285.
  46. Childe, V. Gordon (1928). New Light on the Most Ancient East. hlm. 110.
  47. Anthony, David A. (2007). The Horse, the Wheel, and Language: How Bronze-Age Riders from the Eurasian Steppes Shaped the Modern World. Princeton: Princeton University Press. hlm. 67. ISBN 978-0-691-05887-0.
  48. Gasser, Aleksander (March 2003). "World's Oldest Wheel Found in Slovenia". Republic of Slovenia Government Communication Office. Diarsipkan dari asli tanggal 26 August 2016. Diakses tanggal 8 November 2016.
  49. Kramer, Samuel Noah (1971) [1963]. The Sumerians: Their History, Culture, and Character. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 290. ISBN 978-0-226-45238-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 August 2014. Diakses tanggal 26 October 2017.
  50. 1 2 Moorey, Peter Roger Stuart (1999) [1994]. Ancient Mesopotamian Materials and Industries: The Archaeological Evidence. Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns. hlm. 146. ISBN 978-1-57506-042-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 October 2017. Diakses tanggal 26 October 2017.
  51. 1 2 Lay, M G (1992). Ways of the World. Sydney: Primavera Press. hlm. 28. ISBN 978-1-875368-05-1.
  52. 1 2 3 4 5 6 7 Gregersen, Erik (2012). The Complete History of Wheeled Transportation: From Cars and Trucks to Buses and Bikes. New York: Britannica Educational Publishing. hlm. 130. ISBN 978-1-61530-701-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2021. Diakses tanggal 12 November 2020.
  53. 1 2 3 4 5 6 7 Aicher, Peter J. (1995). Guide to the Aqueducts of Ancient Rome. Wauconda, IL: Bolchazy-Carducci Publishers, Inc. hlm. 6. ISBN 978-0-86516-282-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2020. Diakses tanggal 12 November 2020.
  54. 1 2 3 Eslamian, Saeid (2014). Handbook of Engineering Hydrology: Environmental Hydrology and Water Management. Boca Raton, Florida: CRC Press. hlm. 171–175. ISBN 978-1-4665-5250-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 December 2020. Diakses tanggal 12 November 2020.
  55. 1 2 3 4 5 Lechner, Norbert (2012). Plumbing, Electricity, Acoustics: Sustainable Design Methods for Architecture. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc. hlm. 106. ISBN 978-1-118-01475-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2021. Diakses tanggal 12 November 2020.
  56. Davids, K.; De Munck, B., ed. (2019). Innovation and Creativity in Late Medieval and Early Modern European Cities. Routledge. doi:10.4324/9781315588605. ISBN 978-1-317-11653-0. S2CID 148764971. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022.
  57. Courtenay, W. J.; Miethke, J.; Priest, D. B., ed. (2000). Universities and Schooling in Medieval Society. BRILL. ISBN 978-90-04-11351-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  58. Deming, D. (2014). Science and Technology in World History, Volume 3: The Black Death, the Renaissance, the Reformation and the Scientific Revolution. McFarland. ISBN 978-0-7864-9086-8.
  59. Stearns, P. N. (2020). The Industrial Revolution in World History. Routledge. ISBN 978-0-8133-4729-5.
  60. Mokyr, J. (2000). "The Second Industrial Revolution, 1870–1914" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 September 2022. Diakses tanggal 10 September 2022.
  61. Black, B. C. (2022). To Have and Have Not: Energy in World History. Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-5381-0504-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  62. Albion, Robert G. (1 January 1933). "The Communication Revolution, 1760–1933". Transactions of the Newcomen Society. 14 (1): 13–25. doi:10.1179/tns.1933.002. ISSN 0372-0187.
  63. Agar, J. (2012). Science in the 20th Century and Beyond. Polity. ISBN 978-0-7456-3469-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  64. Goldin, C.; Katz, L. F. (2010). The Race between Education and Technology. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-03773-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  65. Solow, Robert M. (1957). "Technical Change and the Aggregate Production Function". The Review of Economics and Statistics. 39 (3): 312–320. doi:10.2307/1926047. ISSN 0034-6535. JSTOR 1926047.
  66. Bresnahan, Timothy F.; Trajtenberg, M. (1 January 1995). "General purpose technologies 'Engines of growth'?". Journal of Econometrics. 65 (1): 83–108. Bibcode:1995JEcon..65...83B. doi:10.1016/0304-4076(94)01598-T. ISSN 0304-4076.
  67. Wrigley, E. A (13 March 2013). "Energy and the English Industrial Revolution". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 371 (1986) 20110568. Bibcode:2013RSPTA.37110568W. doi:10.1098/rsta.2011.0568. PMID 23359739. S2CID 10624423.
  68. Persily, Nathaniel; Tucker, Joshua A., ed. (2020). Social Media and Democracy: The State of the Field, Prospects for Reform. SSRC Anxieties of Democracy. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781108890960. hdl:11245.1/cf2f5b6a-8dc8-4400-bc38-3317b0164499. ISBN 978-1-108-83555-8. S2CID 243715477. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 October 2022. Diakses tanggal 19 October 2022.
  69. Autor, D. H. (2015). "Why Are There Still So Many Jobs? The History and Future of Workplace". Journal of Economic Perspectives. 29 (3): 3–30. doi:10.1257/jep.29.3.3. hdl:1721.1/109476. Diarsipkan dari asli tanggal 1 September 2022.
  70. Bessen, J. E. (3 October 2016). "How Computer Automation Affects Occupations: Technology, Jobs, and Skills". Economic Perspectives on Employment & Labor Law EJournal. 15–49. Rochester, NY. doi:10.2139/ssrn.2690435. S2CID 29968989. SSRN 2690435. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2024. Diakses tanggal 20 January 2024.
  71. "Robots and Artificial Intelligence". igmchicago.org. Initiative on Global Markets. 30 June 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2022. Diakses tanggal 17 September 2022.
  72. "The Future of Jobs Report 2020" (PDF). www3.weforum.org. October 2020. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 15 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2022.
  73. "Robots and AI Taking Over Jobs: What to Know | Built In". builtin.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  74. "How many jobs do robots really replace?". MIT News | Massachusetts Institute of Technology. 4 May 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  75. Acemoglu, Daron; Restrepo, Pascual (1 June 2020). "Robots and Jobs: Evidence from US Labor Markets". Journal of Political Economy. 128 (6): 2188–2244. doi:10.1086/705716. hdl:1721.1/130324. ISSN 0022-3808. S2CID 7468879. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  76. "Remarks Upon Signing Bill Creating the National Commission on Technology, Automation, and Economic Progress. | The American Presidency Project". www.presidency.ucsb.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  77. "Technology and the American Economy" (PDF). files.eric.ed.gov. February 1966. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  78. "If Robots Take Our Jobs, Will They Make It Up to Us?". The University of Chicago Booth School of Business. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  79. "GovInfo". www.govinfo.gov n. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  80. "H.R.11611 – An Act to establish a National Commission on Technology, Automation, and Economic Progress". www.congress.gov. 1963. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 January 2023.
  81. 1 2 Rosenberg, Elizabeth; Harrell, Peter E.; Shiffman, Gary M.; Dorshimer, Sam (2019). "Financial Technology and National Security". Center for a New American Security. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 19 January 2023.
  82. "U.S. takes aim at North Korean crypto laundering". NBC News. 6 May 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 19 January 2023.
  83. "U.S. ties North Korean hacker group to Axie Infinity crypto theft". NBC News. 15 April 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 19 January 2023.
  84. Austin, David; Macauley, Molly K. (1 December 2001). "Cutting Through Environmental Issues: Technology as a double-edged sword". Brookings. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 February 2023. Diakses tanggal 10 February 2023.
  85. Grainger, Alan; Francisco, Herminia A; Tiraswat, Penporn (July 2003). "The impact of changes in agricultural technology on long-term trends in deforestation". Land Use Policy. 20 (3): 209–223. Bibcode:2003LUPol..20..209G. doi:10.1016/S0264-8377(03)00009-7.
  86. EPA (19 January 2017). "Climate Impacts on Ecosystems". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2018. Diakses tanggal 5 February 2019. Mountain and arctic ecosystems and species are particularly sensitive to climate change... As ocean temperatures warm and the acidity of the ocean increases, bleaching and coral die-offs are likely to become more frequent.
  87. Union of Concerned Scientists (6 November 2017). "What is Climate Engineering?". www.ucsusa.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 October 2021. Diakses tanggal 2024-10-28.
  88. Chaudhry, Imran Sharif; Ali, Sajid; Bhatti, Shaukat Hussain; Anser, Muhammad Khalid; Khan, Ahmad Imran; Nazar, Raima (October 2021). "Dynamic common correlated effects of technological innovations and institutional performance on environmental quality: Evidence from East-Asia and Pacific countries". Environmental Science & Policy. 124: 313–323. Bibcode:2021ESPol.124..313C. doi:10.1016/j.envsci.2021.07.007.
  89. Smol, J. P. (2009). Pollution of Lakes and Rivers: a Paleoenvironmental Perspective (Edisi 2nd). Chichester: John Wiley & Sons. hlm. 135. ISBN 978-1-4443-0757-3. OCLC 476272945.
  90. 1 2 Franssen, M.; Lokhorst, G.-J.; van de Poel, I. (2018). "Philosophy of Technology". Dalam Zalta, E. N. (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Fall 2018). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  91. 1 2 de Vries, M. J.; Verkerk, M. J.; Hoogland, J.; van der Stoep, J. (2015). Philosophy of Technology: An Introduction for Technology and Business Students. United Kingdom: Taylor & Francis. ISBN 978-1-317-44571-5. OCLC 907132694. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 10 September 2022.
  92. Brey, P. (2000). Mitcham, C. (ed.). "Theories of Technology as Extension of Human Faculties". Metaphysics, Epistemology, and Technology. Research in Philosophy and Technology. 19.
  93. 1 2 Johnson, Deborah G.; Wetmore, Jameson M. (2021). Technology and Society: Building Our Sociotechnical Future (Edisi 2nd). MIT Press. ISBN 978-0-262-53996-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2024. Diakses tanggal 18 October 2022.
  94. Dusek, Val (2006). Philosophy of Technology: An Introduction. Wiley. ISBN 978-1-4051-1162-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 13 September 2022.
  95. Postman, Neil (1993). Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage.
  96. Marcuse, H. (2004). Technology, War and Fascism: Collected Papers of Herbert Marcuse, Volume 1. Routledge. ISBN 978-1-134-77466-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  97. Hansson, Sven Ove (2017). The Ethics of Technology: Methods and Approaches. Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-78348-659-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 13 September 2022.
  98. Al-Rodhan, Nayef. "The Many Ethical Implications of Emerging Technologies". Scientific American . Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2017. Diakses tanggal 13 December 2019.
  99. Luppicini, R. (2008). "The emerging field of Technoethics". Dalam Luppicini; R. Adell (ed.). Handbook of Research on Technoethics. Hershey: Idea Group Publishing.
  100. Veruggio, Gianmarco (2011). "The Roboethics Roadmap". EURON Roboethics Atelier. Scuola di Robotica: 2. CiteSeerX 10.1.1.466.2810.
  101. Anderson, Michael; Anderson, Susan Leigh, ed. (2011). Machine Ethics. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-11235-2.
  102. 1 2 3 4 5 Bell, W. Foundations of Futures Studies, Volume 1: Human Science for a New Era. Transaction Publishers. ISBN 978-1-4128-2379-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 12 September 2022.
  103. "About us". cser.ac.uk. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 December 2017. Diakses tanggal 11 September 2022.
  104. Gottlieb, Joseph (May 2022). "Discounting, Buck-Passing, and Existential Risk Mitigation: The Case of Space Colonization". Space Policy. 60 101486. Bibcode:2022SpPol..6001486G. doi:10.1016/j.spacepol.2022.101486.
  105. "Stanford Existential Risks Initiative". cisac.fsi.stanford.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2022. Diakses tanggal 4 October 2022.
  106. Rees, Martin J. (2008). Bostrom, Nick; Cirkovic, Milan M. (ed.). Global Catastrophic Risks. doi:10.1093/oso/9780198570509.001.0001. ISBN 978-0-19-857050-9.[halaman dibutuhkan]
  107. 1 2 Bostrom, Nick (6 September 2019). "The Vulnerable World Hypothesis". Global Policy. 10 (4): 455–476. doi:10.1111/1758-5899.12718. ISSN 1758-5880. S2CID 203169705.
  108. Kurzweil, Ray (2005). "GNR: Three Overlapping Revolutions". The Singularity is Near. Penguin. ISBN 978-1-101-21888-4.
  109. Kompridis, N. (2009). "Technology's challenge to democracy: What of the human" (PDF). Parrhesia. 8 (1): 20–33. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 21 February 2011.
  110. McShane, Sveta (19 April 2016). "Ray Kurzweil Predicts Three Technologies Will Define Our Future". Singularity Hub. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 May 2021. Diakses tanggal 10 May 2021.
  111. Poole, C. P. Jr.; Owens, F. J. (2003). Introduction to Nanotechnology. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-471-07935-4.
  112. Vince, G. (3 July 2003). "Nanotechnology may create new organs". New Scientist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  113. Lee, Sukhan; Suh, Il Hong (2008). Recent Progress in Robotics: Viable Robotic Service to Human: An Edition of the Selected Papers from the 13th International Conference on Advanced Robotics. Springer Science & Business Media. hlm. 3 . ISBN 978-3-540-76728-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 13 September 2022.
  114. Grace, K.; Salvatier, J.; Dafoe, A.; Zhang, B.; Evans, O. (31 July 2018). "Viewpoint: When Will AI Exceed Human Performance? Evidence from AI Experts". Journal of Artificial Intelligence Research. 62: 729–754. doi:10.1613/jair.1.11222. ISSN 1076-9757. S2CID 8746462. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  115. Segal, H. P. (2005). Technological Utopianism in American Culture (Edisi 20th Anniversary). Syracuse University Press. ISBN 978-0-8156-3061-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  116. More, M.; Vita-More, N., ed. (29 April 2013). "Roots and Core Themes". The Transhumanist Reader. Wiley. hlm. 1–2. doi:10.1002/9781118555927.part1. ISBN 978-1-118-33429-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  117. Istvan, Zoltan (1 February 2015). "A New Generation of Transhumanists Is Emerging". Interalia Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  118. More, M.; Vita-More, N., ed. (29 April 2013). "Future Trajectories: Singularity". The Transhumanist Reader. Wiley. hlm. 361–363. doi:10.1002/9781118555927.part8. ISBN 978-1-118-33429-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  119. Blackford, R.; Bostrom, N.; Dupuy, J.-P. (2011). H±: Transhumanism and Its Critics. Metanexus Institute. ISBN 978-1-4568-1565-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 13 September 2022.
  120. Jones, Steven E. (2013). Against Technology: From the Luddites to Neo-Luddism. Routledge. ISBN 978-1-135-52239-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  121. Kelman, David (1 June 2020). "Politics in a Small Room: Subterranean Babel in Piglia's El camino de Ida". The Yearbook of Comparative Literature. 63: 179–201. doi:10.3138/ycl.63.005. ISSN 0084-3695. S2CID 220494877. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 March 2022. Diakses tanggal 11 September 2022.
  122. Fleming, Sean (7 May 2021). "The Unabomber and the origins of anti-tech radicalism". Journal of Political Ideologies. 27 (2): 207–225. doi:10.1080/13569317.2021.1921940. ISSN 1356-9317.
  123. Vannini, Phillip; Jonathan Taggart (2013). "Voluntary simplicity, involuntary complexities, and the pull of remove: The radical ruralities of off-grid lifestyles". Environment and Planning A. 45 (2): 295–311. Bibcode:2013EnPlA..45..295V. doi:10.1068/a4564. S2CID 143970611.
  124. 1 2 Scranton, Philip (1 May 2006). "Urgency, uncertainty, and innovation: Building jet engines in postwar America". Management & Organizational History. 1 (2): 127–157. doi:10.1177/1744935906064096. ISSN 1744-9359. S2CID 143813033.
  125. Di Nucci Pearce, M. R.; Pearce, David (1989). "Technology vs. Science: The Cognitive Fallacy". Synthese. 81 (3): 405–419. doi:10.1007/BF00869324. ISSN 0039-7857. JSTOR 20116729. S2CID 46975083.
  126. Skolimowski, Henryk (1966). "The Structure of Thinking in Technology". Technology and Culture. 7 (3): 371–383. doi:10.2307/3101935. ISSN 0040-165X . JSTOR 3101935. ;
  127. Brooks, Harvey (September 1994). "The relationship between science and technology". Research Policy. 23 (5): 477–486. doi:10.1016/0048-7333(94)01001-3.
  128. 1 2 3 Taleb, Nassim Nicholas (2012). Antifragile. Penguin Random House. OCLC 1252833169.
  129. Hare, Ronald (1970). The Birth of Penicillin, and the Disarming of Microbes. Allen & Unwin. ISBN 978-0-04-925005-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2022. Diakses tanggal 12 September 2022.
  130. Wise, George (1985). "Science and Technology". Osiris. 2nd Series. 1: 229–46. doi:10.1086/368647. S2CID 144475553.
  131. Guston, David H. (2000). Between Politics and Science: Assuring the Integrity and Productivity of Research. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-65318-3.
  132. Taleb, N. N. (12 December 2012). "Understanding is a Poor Substitute for Convexity (Antifragility)" (PDF). fooledbyrandomness.com. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 21 June 2022. Diakses tanggal 12 September 2022.
  133. Narin, Francis; Olivastro, Dominic (June 1992). "Status report: Linkage between technology and science". Research Policy. 21 (3): 237–249. doi:10.1016/0048-7333(92)90018-Y.
  134. Krieger, Joshua L.; Schnitzer, Monika; Watzinger, Martin (1 May 2019). "Standing on the Shoulders of Science" (PDF). SSRN 3401853. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 12 September 2022. Diakses tanggal 12 September 2022.
  135. Oakley, Kenneth Page (1976). Man the Tool-maker. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-61270-6.[halaman dibutuhkan]
  136. Sagan, Carl; Druyan, Ann; Leakey, Richard. "Chimpanzee Tool Use". Diarsipkan dari asli tanggal 21 September 2006. Diakses tanggal 13 February 2007.
  137. Rincon, Paul (7 June 2005). "Sponging dolphins learn from mum". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 December 2016. Diakses tanggal 11 November 2016.
  138. Schmid, Randolph E. (4 October 2007). "Crows use tools to find food". NBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2017. Diakses tanggal 11 November 2016.
  139. Rutz, C.; Bluff, L.A.; Weir, A.A.S.; Kacelnik, A. (4 October 2007). "Video cameras on wild birds". Science. 318 (5851): 765. Bibcode:2007Sci...318..765R. doi:10.1126/science.1146788. PMID 17916693. S2CID 28785984.
  140. McGrew, W. C (1992). Chimpanzee Material Culture. Cambridge u.a.: Cambridge Univ. Press. ISBN 978-0-521-42371-7.
  141. Boesch, Christophe; Boesch, Hedwige (1984). "Mental map in wild chimpanzees: An analysis of hammer transports for nut cracking". Primates. 25 (2): 160–170. doi:10.1007/BF02382388. S2CID 24073884.
  142. Brahic, Catherine (15 January 2009). "Nut-cracking monkeys find the right tool for the job". New Scientist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2016. Diakses tanggal 11 November 2016.
  143. Müller, G.; Watling, J. (24 June 2016). The engineering in beaver dams. River Flow 2016: Eighth International Conference on Fluvial Hydraulics . St. Louis: University of Southampton Institutional Research Repository. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2022. Diakses tanggal 29 September 2022.
  144. Thomas Michaud (2008). "Science fiction and politics: Cyberpunk science fiction as political philosophy". New Boundaries in Political Science Fiction. Oleh Hassler, Donald M. University of South Carolina Press. hlm. 65–77 [75–76]. ISBN 978-1-57003-736-8.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Gribbin, John, "Alone in the Milky Way: Why we are probably the only intelligent life in the galaxy", Scientific American, vol. 319, no. 3 (September 2018), pp. 94–99. "Is life likely to exist elsewhere in the [Milky Way] galaxy? Almost certainly yes, given the speed with which it appeared on Earth. Is another technological civilization likely to exist today? Almost certainly no, given the chain of circumstances that led to our existence. These considerations suggest that we are unique not just on our planet but in the whole Milky Way. And if our planet is so special, it becomes all the more important to preserve this unique world for ourselves, our descendants and the many creatures that call Earth home." (p. 99.)