Lompat ke isi

Zona Kering (Myanmar)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Image
  Kotapraja di dalam Zona Kering
  Region yang sebagian wilayahnya berada di Zona Kering
  Kotapraja dan region yang seluruhnya berada di luar Zona Kering

Zona Kering atau Anyar (bahasa Burma: အညာ) adalah sebuah wilayah di Myanmar yang terletak di Burma Hulu bagian tengah - meliputi sebagian besar Region Magway, Mandalay, dan Sagaing. Sebagai pusat populasi utama negara ini, Zona Kering merupakan rumah bagi seperempat hingga sepertiga populasi negara ini, yang 80% di antaranya adalah petani dan buruh tani.[1][2] Sebagai pusat peradaban leluhur Bamar, Zona Kering telah menjadi pusat kekuasaan bagi pemerintahan di sepanjang sejarah Myanmar, termasuk hingga saat ini.

Zona Kering dinamai berdasarkan iklim semi-kering dengan curah hujan yang kecil dan tidak menentu, dikarenakan terhalangnya angin muson mencapai wilayah ini oleh Pegunungan Arakan. Wilayah ini merupakan wilayah yang paling kesulitan air di Myanmar.[1] Kawasan Zona Kering sangat rentan mengalami degradasi lahan dan penggurunan, karena faktor-faktor seperti erosi oleh air dan angin, degradasi lahan, dan pembalakan hutan.[3] Akibatnya, Zona Kering adalah salah satu wilayah di Myanmar dengan kerawanan pangan tertinggi.[4]

Penggunaan lahan di Zona Kering
Penggunaan lahan Persentase
Lahan pertanian
 
46%
Penggunaan lahan lainnya
 
23%
Hutan lindung
 
13%
Kawasan hutan lainnya
 
13%
Hutan publik terlindungi
 
4%
Kawasan dilindungi
 
1%
Sunver: Kementerian Sumber Daya Alam dan Konservasi Lingkungan

Zona kering mencakup 53 kotapraja di 13 distrik di 3 region - Magway, Mandalay, dan Sagaing, dengan luas 19.539.494 ekar (79.073,53 km2), atau 10% dari total luas daratan Myanmar.[5] Zona kering dibatasi oleh distrik Shwebo dan Katha di utara, dataran tinggi Shan di timur, Pegunungan Arakan di barat, dan distrik Pyay di selatan.[5] Wilayah ini memiliki panjang 250 mil (400 km) pada titik terpanjangnya, dan 120 mil (190 km) pada titik terlebarnya.[5] Sekitar 46% wilayahnya diperuntukkan untuk pertanian, sementara wilayah hutan mencakup 30%.[5] 270 mil (430 km) Sungai Irrawaddy mengalir di zona kering.[6]

Menurut Satuan Manajemen Informasi Myanmar (MIMU), zona kering meliputi sebagian atau seluruh distrik berikut:[7]

  • Wilayah Sagaing: Distrik Kanbalu, Shwebo, Monywa, Sagaing, dan Yinmabin
  • Wilayah Mandalay: Distrik Kyaukse, Myingyan, Nyaung-U, Meiktila, Tada-U, dan Yamethin

Wilayah Magway: Distrik Magway, Minbu, Pakokku, dan Thayet

  • Wilayah Persatuan Naypyidaw: Distrik Ottara

Iklim dan Geografi

[sunting | sunting sumber]
Image
Petani Bamar di Bagan

Zona kering memiliki beragam iklim, mulai dari semi-kering hingga semi-lembap. Wilayah ini menerima curah hujan yang relatif sedikit dan mengalami musim kering selama muson Asia Selatan dan musim hujan.[8] Hal ini disebabkan oleh letaknya yang dikepung oleh Pegunungan Arakan di sebelah barat dan Pegunungan Pegu di sebelah selatan, serta Perbukitan Shan di sebelah timur; menciptakan bayangan hujan.[9][10] Curah hujan rata-rata tahunan hanya 28,44 inci (722 mm), yang biasanya turun selama dua periode terpisah: Mei hingga Juni, dan September hingga Oktober.[10]

Image
Sungai Chindwin di Monywa.

Zona Kering juga dilintasi oleh beberapa sungai, terutama Sungai Irrawaddy dan anak-anak sungainya, termasuk Sungai Chindwin dan Mu. Pada musim penghujan, Sungai Irrawaddy kerap meluap, tetapi di Zona Kering, sungai ini justru mengikis tanah.[9]

Musim panas di Zona Kering terjadi antara bulan Maret hingga April, dengan suhu maksimum rata-rata 90 °F (32 °C). Musim dingin di wilayah ini jatuh di antara bulan November hingga Februari, dengan suhu minimum rata-rata 50 °F (10 °C).[11]

Era Pra-kolonial

[sunting | sunting sumber]
Image
Candi Ananda di Bagan.

Dengan populasi etnis Bamar yang besar, Zona Kering dijuluki "jantung" Myanmar.[12][13] Sebelum migrasi Bamar, wilayah ini merupakan lokasi bagi sejumlah negara kota Pyu. Dimulai pada abad ke-9 M, Zona Kering menjadi pusat kekuasaan regional dengan munculnya Kerajaan Pagan, yang menyatukan sebagian besar negara. Penyatuan ini melibatkan konsolidasi negara-kota yang lebih kecil dan terbentuknya pemerintahan yang terpusat. Lokasi strategis Zona Kering, dengan aksesnya ke beberapa sungai, termasuk Sungai Ayeyarwady, memainkan peran penting dalam memfasilitasi perdagangan, komunikasi, dan kampanye militer. Beberapa kerajaan besar, seperti Pagan,[14] Ava,[15] dan Konbaung,[12] telah mengandalkan wilayah ini untuk mengonsolidasikan kekuasaan.

Pada masa Kerajaan Pagan, Zona Kering telah menjadi pusat pertanian utama. Kerajaan tersebut telah mengembangkan sistem irigasi dan pengelolaan air yang canggih untuk beradaptasi dengan lingkungan yang kering, termasuk pemanfaatan waduk, kanal, dan bendungan, serta sistem penyimpanan musiman.[16] Teknologi ini memungkinkan penanaman padi yang intensif dan mampu menyokong pertumbuhan Pagan menjadi kota besar.[16][17] Wilayah ini mungkin juga diuntungkan dari fenomena iklim yang dikenal sebagai Anomali Iklim Abad Pertengahan yang terjadi dari abad ke-10 hingga ke-14.[16]

Pasca-kemerdekaan

[sunting | sunting sumber]
Image
Kantor Direktur Jenderal Departemen Penghijauan Zona Kering di Wilayah Mandalay.

Pada tahun 1953, Badan Pengembangan Pertanian dan Pedesaan dibentuk untuk memimpin kegiatan pembinaan pedesaan di Zona Kering.[18] Badan-badan pemerintah seperti Departemen Kehutanan telah diberi wewenang untuk memimpin kegiatan penghijauan dan pengembangan lahan di wilayah tersebut.[18] Sejak tahun 1997, Departemen Penghijauan Zona Kering di bawah Kementerian Sumber Daya Alam dan Konservasi Lingkungan juga mengawasi upaya-upaya ini.[18]

Pemimpin otoriter Ne Win gagal dalam upayanya untuk memindahkan sebagian penduduk Zona Kering ke Negara Bagian Shan sebelah timur.[19]

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, Zona Kering telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemiskinan, kurangnya infrastruktur, dan menurunnya kualitas lingkungan. Para petani di wilayah tersebut telah berjuang melawan perampasan tanah, kebijakan pertanian yang gagal, dan dampak dari proyek-proyek ekstraksi sumber daya. Tantangan-tantangan ini telah berkontribusi pada kesulitan ekonomi dan keresahan sosial, terutama di masyarakat pedesaan yang masih sangat bergantung pada sektor pertanian.

Zona Kering telah mengalami kemiskinan kronis, diperburuk oleh infrastruktur yang tidak memadai dan akses terbatas terhadap layanan penting.[20] Masyarakat di wilayah tersebut khususnya di pedesaan sangat terdampak, dengan banyak warga yang tidak memiliki surat tanah resmi, sehingga rentan dirampas tanahnya.[20] Pada tahun 2017, tingkat ketidakberdayaan lahan di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 40%.[20] Menurut Program Pangan Dunia dalam sebuah survei sebelum tahun 2014, 27% anak-anak di Zona Kering mengalami gizi buruk kronis.[21]

Zona Kering secara tradisional tidak terdampak oleh konflik internal di Myanmar karena homogenitas etnis di wilayah tersebut dan kurangnya minat Tatmadaw terhadap wilayah tersebut. Biasanya, sebagian besar konflik berpusat pada sengketa tanah, pertanian, dan, di era yang lebih modern, dan ekstraksi SDA oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Sejak 2021

[sunting | sunting sumber]

Dengan dimulainya Perang Saudara Myanmar pada tahun 2021, kawasan Zona Kering semakin terseret dalam konflik internal di Myanmar. Di satu sisi, terdapat milisi Pyusawhti yang pro-junta dan anggota kelompok pro-Tatmadaw lainnya sementara di sisi lain, terdapat Pasukan Pertahanan Rakyat, sebuah kelompok gerilya yang melawan rezim militer.[22] Wilayah ini telah menjadi wilayah perlawanan utama terhadap junta militer, dengan pasukan pertahanan lokal muncul untuk menantang otoritas.[23] Keluhan mendalam yang bermula dari kesulitan ekonomi dan marginalisasi politik selama puluhan tahun telah menyulut perlawanan ini.[23] Perlawanan di Zona Kering dicirikan oleh struktur yang terdesentralisasi, dengan berbagai kelompok lokal beroperasi secara mandiri.[24] Fragmentasi ini memungkinkan fleksibilitas tetapi juga mempersulit koordinasi.[24]

Akibat kekerasan yang disponsori negara setelah kudeta Myanmar 2021, meningkatnya suhu, pandemi Covid-19, dan hasil panen yang semakin buruk, eksodus besar-besaran penduduk Zona Kering ke wilayah lain di Myanmar telah terjadi.[25]

Pusat gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter dengan gempa susulan berkekuatan 6,4 skala Richter pada 28 Maret 2025 terjadi di Zona Kering di sepanjang Sesar Sagaing, yang menjadi wilayah paling terdampak di negara tersebut.[26] Gempa bumi ini secara signifikan mengganggu kegiatan perdagangan, pertanian, dan merusak infrastruktur di wilayah tersebut, serta menewaskan sedikitnya 3.600 orang.[27]

Pertanian

[sunting | sunting sumber]
Image
Petani di Sagaing.

Zona Kering merupakan pusat pertanian Myanmar; dua pertiga lahan subur Myanmar dan 35% tanaman biji-bijiannya berada di wilayah tersebut, dengan kegiatan ekonomi tambahan meliputi peternakan.[28] Tanaman yang paling banyak ditanam adalah wijen, padi, kacang tanah, kacang gude, kacang Arab, kacang hijau, dan sorgum.[29] Zona Kering menyumbang sebagian besar produksi domestik Myanmar untuk beberapa tanaman, termasuk 89% wijen, 69% kacang tanah, 70% bunga matahari, dan 95% produksi kapas nasional.[4] Zona Kering juga merupakan daerah penghasil kacang-kacangan utama, menghasilkan 92% kacang gude, 97% kacang Arab, dan 52% kacang hijau, sebagian besar untuk diekspor ke India.[4] Selain bawang merah, budi daya sayuran di tempat ini jarang.[4]

Namun, akibat rendahnya curah hujan, perubahan iklim, dan aktivitas manusia serta pertanian lainnya (seperti penggundulan hutan dan pemamahan berlebih), kondisi ekonomi di Zona Kering tetaplah buruk.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 "Improving access to water in Myanmar's Central Dry Zone". PreventionWeb (dalam bahasa Inggris). 2018-11-06.
  2. "The Dry Zone of Myanmar: A Strategic Resilience Assessment of Farming Communities". Mercy Corps. 27 Maret 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 23 April 2023.
  3. Weine, N. N. O. (2013), Heshmati, G. Ali; Squires, Victor R. (ed.), "Review of Efforts to Combat Desertification and Arrest and Reverse Land Degradation in Myanmar", Combating Desertification in Asia, Africa and the Middle East: Proven practices (dalam bahasa Inggris), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm. 279–302, doi:10.1007/978-94-007-6652-5_14, ISBN 978-94-007-6652-5
  4. 1 2 3 4 "Annex 2 Seeds, Crops and Livestock Development" (PDF). Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  5. 1 2 3 4 "Location, Area and Land Use of Central Dry Zone of Myanmar". Dry Zone Greening Department (dalam bahasa American English). 2019-12-13.
  6. "Topography, Drainage and Geography". Dry Zone Greening Department (dalam bahasa American English). 2020-06-19.
  7. "Dry Zone Townships in Myanmar" (PDF). Myanmar Information Management Unit. 2018-11-27.
  8. "Dry Zone". Myanmar Information Management Unit. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Maret 2023.
  9. 1 2 Tun Tun (Januari 2000). "Greening the Dry Zone of Myanmar" (PDF). International Atomic Energy Agency. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 April 2023.
  10. 1 2 "Rainfall". Dry Zone Greening Department (dalam bahasa American English). 2020-06-19.
  11. "Weather and Temperature". Dry Zone Greening Department (dalam bahasa American English). 2020-06-19.
  12. 1 2 Callahan, Mary (9 Februari 2022). "Myanmar's Dry Zone: The History of a Tinderbox". Fulcrum. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Desember 2023.
  13. "'Fear causes more hate': Beheadings haunt Myanmar's heartland". Frontier Myanmar. 25 November 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Maret 2024.
  14. "Running dry: A window into the Dry Zone of Myanmar". ReliefWeb. 25 Februari 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Februari 2022.
  15. Aung-Thwin, Michael A. (2017). Myanmar in the Fifteenth Century: A Tale of Two Kingdoms. University of Hawaii Press. hlm. 107–142.
  16. 1 2 3 Iannone, Gyles; Rivera, Raiza S.; Lin, Saw Tun; Soe, Nyein Chan (2024-01-30). "Water, Ideology, and Kingship at the Ancient Burmese Capital of Bagan, Myanmar: An Iconographic Analysis of the Nat Yekan Sacred Water Tank". Religions (dalam bahasa Inggris). 15 (2): 166. doi:10.3390/rel15020166. ISSN 2077-1444.
  17. "Thousands of Buddhist temples filled this sacred skyline". National Geographic History (dalam bahasa Inggris). 2025-05-14.
  18. 1 2 3 "Background History". Dry Zone Greening Department (dalam bahasa American English). 2019-12-13.
  19. Wa Lone; Lewis, Simon (22 Desember 2016). "In Myanmar, profit clouds army pledge to return seized land". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Agustus 2022.
  20. 1 2 3 "Agricultural Land in Myanmar's Dry Zone". Feed the Future Innovation Lab for Food Security Policy (dalam bahasa American English).
  21. Kichener, M. (18 Juni 2014). "Labour and change in Myanmar". Himal Southasian. Diarsipkan dari asli tanggal 22 September 2023.
  22. Loong, Shona (5 Juli 2022). "The Dry Zone: an existential struggle in central Myanmar". International Institute for Strategic Studies.
  23. 1 2 "Junta tactics shift in Myanmar's war-torn Dry Zone". IISS Myanmar Conflict Map (dalam bahasa Inggris).
  24. 1 2 "Myanmar's Decentralized Resistance Is Too Resilient and Flexible to Crush". thediplomat.com (dalam bahasa American English).
  25. Duncan, Kiana (21 Juli 2022). "Coup, Covid, climate: the triple threat chasing citizens from Myanmar's rice bowl". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Agustus 2023.
  26. "Myanmar earthquake: CESVI stands by affected communities - Myanmar | ReliefWeb". reliefweb.int (dalam bahasa Inggris). 2025-03-29.
  27. "How Myanmar's devastating earthquake threatens to leave a lasting economic scar". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 2025-05-11.
  28. "Greening the Dry Zone". United Nations Development Programme. 5 Juni 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Desember 2023.
  29. David Mather, Nilar Aung et al., 2018. Crop Production and Profitability in Myanmar’s Dry Zone. Feed the Future Innovation Lab for Food Security Policy Research Paper 102. East Lansing: Michigan State University