Imaduddin Zanki
| Imad ad-Din Zengi | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Atabeg dari Mosul, Aleppo, Hama dan Edessa | |||||
| Berkuasa | 1127 – 1146 | ||||
| Penobatan | 1127, Mosul | ||||
| Pendahulu | Mahmud II | ||||
| Penerus | Saif ad-Din Ghazi I | ||||
| Ayah | Aq Sunqur al-Hajib | ||||
| |||||
| Dinasti | Dinasti Zankiyah | ||||
Imaduddin Zanki (bahasa Turki İmadeddin Zengi, bahasa Arab: عماد الدین زنكي) (1085–14 September 1146) adalah anak dari Aq Sunqur al-Hajib, gubernur Aleppo di bawah Malik Shah I.
Masa kecil
[sunting | sunting sumber]Ayahnya, Aq Sunqur al-HIjab, adalah gubernur Turki yang berkuasa di Aleppo di bawah penguasa Seljuk, Malik-Shah Ia dibunuh oleh kelompok Hashasin saat sedang menunaikan salat di Mesjid Jami’ Mosul pada tahun 1094. Pendapat lain oleh sejarawan Amin Maalouf menyatakan ia dihukum penggal oleh Tutush I karena pengkhianatan.[1]
Menurut sejarawan Ibnu Atsir, Aq Sunqur al-Hajib adalah seorang gubernur yang sangat baik dan menjaga ibadahnya. Menurut kisah legenda dari sudut pandang barat, sebagaimana tercatat di Historia Welforum, Ibu Zanki adalah Ida of Austria (ibu dari Leopold III of Austria), yang diduga ditawan selama Perang Salib pada tahun 1101 dan ditempatkan di harem. Pada tahun 1146, ia berumur 46 tahun, Sedangkan Zanki lahir tahun 1085, dan ayahnya wafat tahun 1094. Hal ini dianggap tidak mungkin terjadi.
Zangki kemudian diasuh oleh Gubernur Mosul, Kerbogha dan menjadi tentara Mosul, di bawah kepemimpinan Jawali Saqawa (1106–1109), Mawdud (1109–1113), dan sejak 1114, Aqsunqur al-Bursuqi.[2]
Gubernur Irak
[sunting | sunting sumber]Wilayah Mesopotamia ditaklukkan oleh Kekaisaran Seljuk pada periode 1055 hingga 1135, karena diusirnya Tughril Beg dari Dinasti Buyid yang menganut ajaran Syiah. Ia kemudian menjadi penguasa Seljuk pertama yang memanggil dirinya Sultan dan pelindung Kekalifahan Abassiyah. Mesopotamida dikuasai kemudian pada masa Muhammad I Tapar (1082-1118). Namun penerusnya, Mahmud II, sejak 1119, dibatasi kekuasannya hanya di wilayah Irak saja dari keseluruhan wilayah Seljuk sebelumnya, sementara Sanjaar menguasai wilayah sisanya. [3]
Berharap bisa mengontrol pemimpin Bani Mazyad, Dubays ibn Sadaqa, Mahmud II memerintahkan ekspedisi dari Mosul ke Irak Selatan, dikomandani Zanki dan Altun-Tash al-Aburi, atas perintah Aqsunqur al-Bursuqi. [4] Zanki menempatkan pasukannya di Wasit, dan dihadiahi posisi kepemimpinan di Wasit sebagai bagian dari sistem hadiah ıqta.[4] Dengan aliansi dengan pasukan Kekalifahan, mereka menaklukkan Mubaraqiyya pada tahun 1123. Zanki kemudian dihadiahi lagi kekuasaan militer atas Basra pada tahun 1124. [4][3]
Untuk mengimbangi ambisi Kalifah Abassiyah al-Mustarshid (1118-1135), yang menginginkan kekuasaan mendunia, penguasa Seljuk yang dipimpin Mahmud kemudian melancarkan kampanye militer menyerang al-Mustarshid (.[4] Dengan kepemimpinan dari Zanki, Seljuk berhasil menguasai Baghdad dan kekalifahan, kemudian membakar istana Kalifah. Kalifah menawarkan perjanjian damai dan diwajibkan membayar upeti yang sangat besar.[4] Zanki, yang sudah menguasai Wasit dan Basra, kini dipromosikan lagi menjadi Gubernur Baghdad pada bulan April 1126, dengan gelar shihna, yang secara praktis menempatkannya sebagai penguasa keseluruhan Seljuk Irak.[4][3] Pada tahun 1127, dengan terbunuhnya Aqsunqur al-Bursuqi, ia menjadi Gubernur Mosul.[3]
Atabeg Mosul dan Aleppo
[sunting | sunting sumber]Dengan kematian Toghtekin, atabeg Damaskus pada tahun 1128, maka kekosongan kekuasaan tejradi dan membuat Syria terancam atas agresi oleh pasukan Salib.[5] Zangki yang sudah menjadi atabeg dari Mosul pada tahun 1127 dan Aleppo pada tahun 1128, kemudian menyatukan kedua kota ini di bawah kepemipinan pribadinya, dan menjadi penguasa kedua kota ini di bawah Sultan Mahmud II. Zangki memutuskan berpihak kepada sultan muda tersebut, melawan Kalifah al-Mustarshid.
Konflik dengan Damaskus
[sunting | sunting sumber]Zanki menjadi Atabeg Mosul pada tahun 1127, dan Aleppo pada tahun 1128, mempersatukan dua kota tersebut dalam satu pemerintahan, dan secara formal dinobatkan oleh Sultan Mahmud II dari Kesultanan Seljuk Agung. Imadudin Zanki mendukung Sultan muda tersebut dalam persaingan melawan saingannya Khalifah Al-Mustarshid.
Pada tahun 1130, Ia bersekutu dengan Taj al-Mulk Buri dari Damaskus melawan pasukan salib. Namun diperkirakan terjadi perselisihan kemudian. Dalam pertikaian itu, ia memenjarakan anak dari Buri dan merampas kota Hama. Ia juga mengepung kota Hims, dengan cara bersekongkol dengan Gubernurnya. Namun upaya ini gagal dan ia kembali ke Mosul. Anak dari Buri dan tawanan lain dari Damaskus kemudian ditebus dengan bayaran 50.000 dinar.
Pada tahun 1131 Zanki setuju untuk mengembalikan 50.000 dinar jika Buri mau menyerahkan Dubais, Emir dari Hillah, Irak, yang lari ke Damaskus dari al-Mustarshid, kepadanya. Ketika utusan Khalifah tiba untuk membawa kembali Dubais, Zanki menyerangnya dan membunuh beberapa pengiringnya. Sang utusan pun kembali ke Baghdad tanpa Dubais.
Pada taun yang sama, Mahmud II meninggal, sehingga terjadi perang perebutan kekuasaan sebagai penerus. Saat para pangeran Seljuk saling serang di Persia, Zengi masuk ke Baghdad dan mendeklarasikan daerah itu sebagai domoninya. Ia kemudian dikalahkan lagi oleh pasukan Kalifah, dan akhirnya berhasil lolos berkat bantuan Gubernur Tikrit, Najm ad-Din Ayyub. Beberapa tahun setelahnya Najm ad-Din Ayyub diberikan posisi penting di pasukannya, yang menjadi jalan masuk bagi karir Salahudin Ayyubi, anaknya di masa depan.
Pada tahun 1134 Zanki melibatkan diri dalam perselisihan Artoqid. Ia bersekutu dengan emir Timurtash (putra Ilghazi) melawan sepupu Timurtash, Da'ud. Namun di baliknya Zanki sebenarnya berniat menyerbu ke selatan, menguasai Damaskus. Pada tahun 1135 Zanki menerima permohonan bantuan dari Ismail, yang menggantikan ayahnya, Buri, sebagai Emir Damaskus. Ia mengkhwatirkan atas keselamatan jiwanya dari serbuan penduduknya sendiri yang menganggapnya sebagai tirani yang kejam. Ismail menyatakan bersedia menyerahkan kota kepada Zanki untuk memulihkan perdamaian. Namun tidak satupun keluarga atau penasihat Ismail menyetujui hal ini. Ismail akhirnya dibunuh oleh ibunya sendiri, Zumurrud, untuk mencegahnya menyerahkan penguasaan kota kepada Zanki. Ismail digantikan oleh saudaranya Shihab ad-Din Mahmud.
Zanki tidak berkecil hati atas kejadian ini dan tiba di Damaskus, karena masih bermaksud menguasai kota. Pengepungan berlangsung untuk beberapa lama tanpa hasil apapun. Gencatan senjata pun dibuat dan saudara laki-laki Shahibudin, Bahram-Shah diserahkan sebagai jaminan. Di waktu yang sama, kabar pengepungan tersebut sampai ke Khalifah di Baghdad, dan seorang utusan dikirim dengan perintah agar Zanki meninggalkan Damaskus dan mengambil alih kendali atas Irak. Sang utusan diabaikan, tetapi pada akhirnya Zanki tetap meninggalkan pengepungan itu sebagai bagian dari gencatan senjata yang dibuat dengan Shahibudin. Dalam perjalanan pulang ke Aleppo, Zanki mengepung kota Hims, yang membuat sang gubernur murka padanya, dan Shahibudin menanggapinya dengan mengirim Mu'inudin Unur untuk memerintah kota tersebut.
Konflik dengan Pasukan Salib dan Bizantium
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1137 Zanki menyerang kota Hims kembali, tetapi Mu'inudin berhasil mempertahankan kota. Sebagai balasan atas serangan terbaru Zanki, Damaskus bersekutu dengan Kerajaan Yerusalem untuk melawannya.
Dalam Pertempuran Montferrand pada tahu 1137, pasukan salib di bawah Raja Fulk dari Yerusalem tercerai-berai dan ditaklukkan oleh Zanki, yang sudah menjadi atabeg dari Mosul dan Aleppo. Akibatnya pasukan salib kehilangan istana Montferrand di Baarin. Raja Fulk setuju menyerah dan diizinkan mundur bersama sisa pasukannya.[6]
Konflik dengan Bizantium
[sunting | sunting sumber]Zanki yang menyadari bahwa ekspedisinya kali ini melawan Damaskus akan mengalami kegagalan, membuat perdamaian dengan Shahibudin. Tepat pada saat yang sama terjadi konfrontasi di dengan tentara yang dikirim oleh Kaisar Bizantium, John II Comnenus. Sang Kaisar baru saja menundukkan Kepangeran Antiokia yang berada dalam kekuasaan pasukan salib. Ia memutuskan bersekutu dengan Joscelin II dari Edessa dan Raymond dari Antioch. Berhadapan denngan ancaman pasukan gabungan pasukan Bizantium dengan pasukan salib, Zanki memobilisasi kekuatannya dan merekrut bantuan dari pemimpin muslim lainnya. Di bulan April 1138, pasukan gabungan kaisar Bizantium dan kedua pangeran tersebut mengepung Shaizar, tetapi berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Zanki sebulan kemudian.
Pengepungan Baalbek
[sunting | sunting sumber]Pada bulan Mei 1138 Zanki berhasil membuat persetujuan dengan Damaskus. Ia menikahi Zumurrud, wanita yang membunuh anaknya sendiri, Ismail, dan menerima Hims sebagai hadiah perkawinannya. Pada bulan Juli 1139 putra Zumurrud, Shihabudin, terbunuh. Zanki memutuskan bergerak ke Damaskus untuk mengambil alih kota. Penduduk Damaskus, bersatu di bawah pimpinan Mu'inudin Unur, yang bertindak sebagai wali dari pengganti Shihabudin, Jamaludin.
Jamaludin, kembali memutuskan bersekutu dengan Yerusalem untuk mengusir Zanki. Zanki mengepung kota Baalbek, dan Mu'inudin juga mempertahankan kota tersebut. Baalbek menyerah dengan syarat Zanki mau menjaga keselamatan penghuninya yang akan mengungsi. Hanya saja, Zanki tidak mematuhi janji ini. Seluruh penjaga kota disalib. Ia tidak memenuhi janjinya untuk menjaga keselamatan penghuni Baalbek pada tahun 1139, tidak seperti yang dilakukan Salahudin di Yerusalem pada tahun 1187. enurut catatan Ibn Al-'Adim, Zanki "bersumpah atas nama Alquran dan jaminan istrinya sendiri. Namun saat mereka menyerah, ia mengingkari sumpahnya sendiri, menguliti gubernur dan menggantung sisa penghuni lainnya."[7][8]
Ia menghadiahkan wilayah tersebut kepada Najm al-Din Ayyub. Jamaludin kemudian meninggal karena sakit, digantikan oleh Mujir al-Din, dengan Mu'in al-Din tetap sebagai wali.
Konflik dengan Armenia
[sunting | sunting sumber]Mu'in al-Din kembali menandatangani perjanjian damai dengan Yerusalem untuk saling melindungi di antara mereka dalam melawan Zanki. Selama Mu'inudin dan bergabung bersama mengepung kota Banias, Zanki sekali lagi mengepung kota Damaskus, tetapi dengan cepat meniggalkannya lagi. Tidak ada perjanjian penting antara pasukan salib, Damaskus, dan Zanki untuk tahun-tahun berikutnya dalam waktu dekat. Namun Zanki untuk sementara waktu bergerak ke utara dan merebut Ashib dan benteng milik Armeni di Hizan.
Penaklukan Edessa
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1144 Zanki mengepung Edessa karena mendapat laporan intelijen bahwa Joscelin II, Konte dari Edessa meninggalkan wilayah ini untuk membantu Kara Arslan, yang merupakan musuh Zanki. Ia langsung meninggalkan Armenia dan memulai pengepungan Edessa pada bulan November. Edessa akhirnya jatuh pada tanggal 24 Desember 1144. [9]Karena Edessa adalah negara pasukan salib pertama yang diciptakan dan menjadi yang pertama pula jatuh, maka kejadian ini memicu Perang Salib Kedua. Sementara itu, peristiwa ini dicatat oleh sejarawan muslim sebagai awal dari seruan jihad melawan pasukan salib.
Wafat
[sunting | sunting sumber]Zanki terus berusaha menguasai Damaskus, hingga akhirnya pada tahun 1145. Ia kemudian dibunuh oleh seorang budak berbangsa Frank yang bernama Yarankash pada tahun 1146, karena diancam akan dibunuh hanya karena lancang minum dari cawan miliknya.[10] Oleh sejarawan barat, kematiannya dianggap sebagai hasil pembunuhan oleh keluarga istananya sendiri.[11]
Menurut Ibn al-Adim:
"Atabeg (Zengi) adalah sosok yang kejam, berkuasa, menakutkan, dan cenderung menyerang secara tiba-tiba ... Ketika ia berkuda, para prajurit biasa berjalan di belakangnya seolah-olah mereka berada di antara dua helai benang, karena takut akan menginjak tanaman, dan tidak ada seorang pun yang berani menginjak satu tangkai pun atau menjalankan kudanya di atasnya karena rasa takut ... Jika ada yang melanggar, ia akan disalib. Ia (Zengi) biasa berkata: "Tidak boleh ada lebih dari satu orang tirani (merujuk pada dirinya sendiri) dalam satu waktu."[12]}}
Sejarawan Kristen William of Tyre melaporkan bawa berita kematiannya disambut dengan gembira oleh pasukan salib dengan sambutan "What a happy coincidence! A guilty murderer, which the bloody name Sanguinus, has become ensanguined with his own blood", persamaan bunyi dalam bahasa latin untuk darah adalah sanguinus, dan terjemahan latin untuk nama Zanki adalah sanguis juga.
Zangki adalah pendiri dinasti Zengid yang dinamai menurut namanya. Di Mosul ia digantikan oleh putra sulungnya, Sayf al-Din Ghazi I, dan di Aleppo ia digantikan oleh putra keduanya, Nur al-Din. Ketika Sayf wafat pada tahun 1149, ia digantikan di Mosul oleh putra ketiga, Qutb al-Din Mawdud.[13]
Peninggalan
[sunting | sunting sumber]Menurut Ibn Al Katsir, Zanki adalah seorang politikus yang ulung, sangat dihormati, dihargai oleh pasukannya dan orang-orang sipil lainnya serta tidak menganiaya orang-orang lemah. Sebelum ia memegang tampuk kekuasaan, negaranya dalam kondisi hancur karena merupakan tempat melintasnya para pemimpin yang korup dan bertetangga dengan pihak pasukan salib. Ketika ia memegang kekuasaan, semua itu berubah dan menjadikan negaranya kembali kepada rel yang semestinya serta mengembalikan kemakmuran buat negaranya. Ia dianggap sosok penguasa terbaik pada masa itu.
Imaduddin Zanki bekerja dalam kondisi dan situasi yang paling sulit. Pada satu sisi, ia berada di tengah konflik yang berkecamuk di antara para penguasa dan para pangeran dinasti Saljuk. Dan pada sisi yang lain ia berdiri di antara mereka yang bertikai dan dinasti Abbasiyah. Kendati demikian ia dapat meletakkan fondasi-fondasi bagi pembangunan pangkalan untuk bertolaknya jihad besar dan kuat yang membentang dari utara Syam ke arah utara Iraq. Aksinya mendorong terjadinya jihad sehingga beberapa wilayah yang sebelumnya dirampas oleh pasukan salib bisa dikuasai kembali.
Pandangan dunia barat
[sunting | sunting sumber]Patriach Gereja Syria Ortodok, Michael the Great (juga disebut Michael The Syrian)[1126-1199 A.D.] menyebutnya "Hziro Othuroyo/Hzira Athuraya" (secara harfiah berarti Orang-Orang Assyiria Babi). Istilah assyrian (Othuroyo/Athuraya) dalam bahasa Syria sendiri mempunyai banyak arti. Dan frase yang dimaksud berarti orang-orang barbar, tetapi Imadudin Zanki sendirit tidak berasal dari suku bangsa assyria. Dalam Perjanjian Lama, Bangsa Assyria digambarkan sebagai barbarian, jahat dan lainnya. Tentu saja pernyataan ini sangat subjektif yang dipengaruhi rasa benci terhadap perjuangan Imadudin Zanki dalam rangka melawan pasukan salib yang telah merebut dan menjajah Yerusalem.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Amin Maalouf, The Crusades Through Arab Eyes, 1985
- Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. II: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge University Press, 1952.
- The Damascus Chronicle of the Crusades, Extracted and Translated from the Chronicle of Ibn al-Qalanisi. H.A.R. Gibb, 1932 (reprint, Dover Publications, 2002).
- William of Tyre, A History of Deeds Done Beyond the Sea, trans. E.A. Babcock and A.C. Krey. Columbia University Press, 1943.
- An Arab-Syrian Gentleman and Warrior in the Period of the Crusades; Memoirs of Usamah ibn-Munqidh (Kitab al i'tibar), trans. Philip K. Hitti. New York, 1929.
- The Second Crusade Scope and Consequences Edited by Jonathan Phillips & Martin Hoch, 2001.
- Dinasti Zanki Oleh Wassito
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Maalouf, Amin (1984). The crusades through Arab eyes. Internet Archive. New York : Schocken Books. hlm. 271. ISBN 978-0-8052-0898-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ "Istanbul University Press". iupress.istanbul.edu.tr. Diakses tanggal 2026-08-23.
- 1 2 3 4 Küçüksipahioğlu, Birsel (30 Juni 2020). "Mosul and Aleppo Governor Imad Al-Din Zangi's Fight Against the Crusaders". Journal of Oriental Studies (36): 104. doi:10.26650/jos.2020.005.
Staying in Mosul until the death of Sultān Muhammad Tapar in 1118, Zangi then entered the service of the Sultān's son and the new Seljuk ruler Mahmūd (1118–1119), remaining loyal to him to the end. With the new era introduced with the defeat of Sultān Mahmūd in the Sāveh battle he engaged his uncle Sanjar in 1119, which opened the way for Sanjar (1119–1157) to accede to the throne of Great Seljuk Empire, Mahmūd was assigned to the Iraqi Seljuk Sultānate (1119–1131), continuing his rule there. In 1124, Sultān Mahmūd granted the city of Wasit to Imad al-Din Zangi as a ıqta, and conferred him the Military Governorship of Basra together with Baghdad and Iraq in 1127. The reason behind such assignments was to attempt to impede Abbasid Caliph al-Mustarshid (1118–1135) who then wished to build a worldwide dominance. Indeed, the efforts of Zangi in the fight of Mahmūd, whom Sanjar urgently sent to Baghdad, against the Caliph ensured the Sultān became victorious, and he contributed to the efforts in damaging the sole authority and dominance claims of the Caliph. Following the deaths of Mosul Governor Aq-Sunqur el-Porsuqi and his successor and son Mas'ud in the same year in 1127, Zangi was appointed Governor of Mosul. He was also in charge of al-Jazeera and Northern Syria, and Sultān Mahmūd approved him being assigned as the Atabeg of his two sons, Farrukh shah and Alparsalan. Thus the Atabegdom of Mosul was formed.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 Alptekin, Cojkun (1972). The Reign of Zangi (PDF). University of London. hlm. 38–44.
- ↑ Gabrieli 1969: 41
- ↑ Smail, p 33
- ↑ Maalouf, Crusades Through Arab Eyes, p. 138. Also, Ibn Wasil, Mufarrij al-Kurub, p. 86
- ↑ Asbridge, Thomas (2010). The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBN 9781849837705.
- ↑ Asbridge, Thomas (2010). The Crusades, The Authoritative History of the War for the Holy Land. Great Britain: HarperCollins. hlm. 193–196. ISBN 978-0-06-078728-8.
- ↑ Maalouf, Crusades Through Arab Eyes, p.138
- ↑ Thompson, Henry Yates (1919). Catalogue of twenty-eight illuminated manuscripts and two illuminated printed books, the property of Henry Yates Thompson, which will be sold at auction by Sotheby, Wilkinson & Hodge ... the 3rd of June, 1919. London: Dryden Press, J. Davy. p. 50, Plate 34, image 1.
- ↑ Ibn al-‘Adim, Zubda, vol. 2, p. 471
- ↑ Bosworth 1996, hlm. 190.
# The main line in Mosul and Aleppo:
- 521/1127 Zangi I b. Qasim al-Dawla Aq Sunqur, 'Imad al-Din
- 541/1146 Ghazi I b. Zangi I, Sayf al-Din
- 544/1149 Mawdud b. Zangi I, Qutb al-Din (...)
- The line in Damascus and then Aleppo
- 541/1147 Mahmud b. Zangi, Abu ’1-Qasim al-Malik al-'Adil Nur al-Din, in Aleppo and then Damascus (...)
- ↑ Thompson, Henry Yates (1919). Catalogue of twenty-eight illuminated manuscripts and two illuminated printed books, the property of Henry Yates Thompson, which will be sold at auction by Sotheby, Wilkinson & Hodge ... the 3rd of June, 1919. London: Dryden Press, J. Davy. p. 50, Plate 34, image 1.
- ↑ "Copper alloy dirham of Qutb al-Din Mawdud ibn Zengi, al-Mawsil, 556 H. 1917.215.1000". numismatics.org (dalam bahasa Inggris). American Numismatic Society.