Lompat ke isi

PSIS Semarang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
PSIS Semarang
ꦥꦱꦆꦱꦱꦼꦩꦫꦁ
Image
Nama lengkapPersatuan Sepakbola Indonesia Semarang
JulukanLaskar Mahesa Jenar
Naga Warak
NegaraIndonesia
Berdiri18 Mei 1932; 94 tahun lalu (1932-05-18)
StadionStadion Jatidiri
(Kapasitas: 18.000)
PemilikPT Mahesa Jenar Semarang
CEOIndonesia Datu Nova Fatmawati
PelatihIndonesia Widodo C. Putro
LigaKejuaraan
2025–26Grup Timur
Situs webSitus web resmi klub
Kelompok suporter
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Kostum kandang
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Image
Kostum tandang
Image Musim ini

Persatuan Sepakbola Indonesia Semarang (biasa disebut sebagai PSIS Semarang, atau hanya disingkat PSIS saja) adalah klub sepak bola profesional Indonesia yang berbasis di Kota Semarang, Jawa Tengah. Klub ini bermarkas di Stadion Jatidiri, yang terletak di Kota Semarang. Julukan klub ini adalah Laskar Mahesa Jenar.

PSIS Semarang pernah dapat juara Divisi Utama pada tahun 1999, tetapi kemudian terdegradasi ke Divisi Satu pada musim berikutnya pada tahun 2000. Kemudian, klub ini berhasil menjuarai kompetisi Divisi Satu Nasional pada tahun 2001, dan berhak berlaga kembali di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (yang sekarang berganti nama menjadi Liga 1).

Image PSIS Semarang

Image
Tim utama
Image
Tim putri

Sejarah tim sepak bola Kota Semarang ini telah berlangsung sejak lama, ketika Semarang masih berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial. Yang pertama tercatat adalah team sepak bola UNION yang berdiri tanggal 2 Juli 1911. UNION sendiri hanyalah sebutan bagi tim dengan nama Tionghoa Hoa Yoe Hwee Koan. Tim ini mendapatkan hak rechspersoon tahun 1917 dari pemerintah kolonial.[butuh rujukan]

Selanjutnya ada pula tim bernama Comite Kampioens-wedstrijden Tionghoa (CKTH) dengan gedung olahraga di wilayah Seteran. Pada tahun 1926 tim ini berubah nama menjadi Hwa Nan Voetbalbond (HNV). Tercatat klub Hwa Nan ini bahkan telah melakukan pertandingan eksibisi dengan klub luar negeri asal Taiwan, Loh Hua Team Voetbalbond.[butuh rujukan]

Di kalangan pendukung pribumi, perkumpulan yang menonjol adalah Tots Ons Doel (TOD) yang didirikan pada 23 Mei 1928, bermarkas di Tanggul Kalibuntang (sekarang Jl. Dr. Cipto). Dalam perjalanannya Tots Ons Doel berganti nama menjadi PS. Sport Stal Spieren (SSS). PS SSS inilah yang kemudian menjadi cikal bakal PSIS Semarang. Pada tahun 1930 team ini berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesia Semarang (VIS) yang berlatih di lapangan Karimata Timur.[butuh rujukan]

Setelah PSSI lahir pada 19 April 1930, Voetbalbond Indonesia Semarang berganti nama penjadi Persatuan Sepak bola Indonesia Semarang (PSIS) yang beranggotakan klub sepak bola Romeo, PSKM, REA, MAS, PKVI, Naga, RIM, RDS dan SSS sendiri. Adapun nama klub SSS kemudian berganti menjadi berbahasa Indonesia, Sport Supaya Sehat, sampai sekarang.[butuh rujukan]

PSIS baru bisa mencicipi gelar juara pada tahun 1987. Kala itu PSIS Semarang yang diperkuat legenda besar, Ribut Waidi, mengalahkan Persebaya Surabaya di final kompetisi perserikatan PSSI dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Syaiful Amri. Karena faktor terlalu cepat puas ini (apalagi ditambah keberhasilan penggawanya dalam merebut medali emas SEA Games yang pertama kali bagi Indonesia) maka di kompetisi berikutnya PSIS nyaris terjerumus dalam lubang degradasi ditambah dengan "campur tangan" Persebaya yang bermain untuk kalah 12-0 dari Persipura Jayapura. Untung saja PSIS masih mampu bertahan dan terus bertahan dengan peringkat tim medioker.

Prestasi tertinggi PSIS adalah ketika menjuarai kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI tahun 1987 dan Juara Liga Indonesia 1999. Pada musim 2006, PSIS menjadi runner-up Liga Indonesia dengan keberhasilan mencapai final Liga Indonesia, berhadapan dengan Persik Kediri di Stadion Manahan, Solo dan kalah melalui akhir perpanjangan waktu babak ke-2. Saat ini PSIS Semarang juga berstatus sebagai runner-up Piala Emas Bang Yos (PEBY) yang terakhir, diadakan di Jakarta akhir tahun 2006.

Laskar Mahesa Jenar terdegradasi dari kasta tertinggi pada akhir musim 2008/2009. Kejatuhan ini memaksa PSIS untuk menghabiskan waktu selama delapan tahun di kasta kedua sepak bola Indonesia. Perjuangan keras itu akhirnya berbuah hasil pada tahun 2017, di mana PSIS berhasil mengamankan tiket promosi ke Liga 1 setelah memenangi laga penentuan dengan skor 6-4 atas Martapura FC, mengakhiri penantian panjang dari suporter PSIS. Klub ini kemudian sempat stabil menjadi kontestan Liga 1 dari tahun 2018 hingga 2024, tetapi PSIS kembali harus menghadapi kenyataan pahit berupa degradasi ke Liga 2 (Pegadaian Championship) pada akhir musim 2024/2025. Kini, klub ini masih berkompetisi di Grup Barat Pegadaian Championship (Liga 2) di bawah kepelatihan Widodo Cahyo Putro.

Kiprah PSIS di Liga Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Era Perserikatan

[sunting | sunting sumber]

Sebelum adanya Liga Indonesia, kompetisi masih terbagi 2 yaitu Perserikatan dan Galatama dan PSIS ikut dalam kompetisi Perserikatan. Dan tinta emas yang pernah diraih PSIS di Era Perserikatan adalah Juara Liga Perserikatan musim 1986/1987, di mana PSIS tergabung dalam Grup Wilayah Timur bersama Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Perseman Manokwari, PSM Ujungpandang dan Persiba Balikpapan di Babak Pertama. PSIS berhasil menjadi juara grup setelah mengumpulkan 14 poin hasil dari 5 kali kemenangan, 4 kali imbang dan sekali kalah, berjarak 2 poin dari runner-up grup, Persebaya Surabaya, yang juga meraih tiket ke babak 6 besar bersama PSIS dan peringkat tiga grup, Persipura Jayapura.[1]

Di babak 6 besar, selain berjumpa dengan Persipura Jayapura dan Persebaya Surabaya, PSIS juga berjumpa dengan tim dari grup wilayah barat, yakni Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSMS Medan. Kali ini dalam klasemen akhir, PSIS harus berada di posisi ke dua di bawah Persebaya. Walaupun berada di posisi kedua, PSIS berhak melaju ke partai grand final melawan posisi pertama, Persebaya Surabaya di Stadion Utama Senayan. Di pertandingan final tanggal 11 Maret 1987, PSIS berhasil menobatkan diri sebagai juara Liga Perserikatan musim 1986/1987 dengan kemenangan tipis 1-0 atas Persebaya Surabaya melalui sundulan Saiful Amri.[1] Sebagai Juara Liga Perserikatan, PSIS pun dikirim ke Piala Sultan Hassanal Bolkiah 1987 di Brunei Darussalam. Prestasinya pun cukup membanggakan, yakni menjadi runner-up setelah dikalahkan Malaysia 1-4 di partai final.[2]

Era Divisi Utama

[sunting | sunting sumber]

Sebelum adanya Liga Super Indonesia 2008, Divisi Utama adalah liga sepak bola kasta pertama di Indonesia. Divisi Utama dibentuk pada tahun 1994 melalui peleburan 2 kompetisi yang ada pada saat itu, yaitu Perserikatan dan Galatama. Di Divisi Utama edisi pertama (Liga Indonesia I 1994–1995), atau yang juga dikenal sebagai Liga Dunhill, PSIS berhasil mencapai peringkat 13 dari 17 tim Wilayah Timur. Kendati sempat mengejutkan dengan mengalahkan Persebaya dengan skor 8-0 di Stadion Gelora 10 November Surabaya, prestasi PSIS tetap cenderung berada di papan bawah. Ditambah lagi jumlah penonton yang menurun drastis karena "kuningisasi" yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah saat itu serta berbarengan dengan meningkatnya prestasi BPD Jateng, membuat posisi PSIS kian tersisih. Total pertandingan yang dijalani PSIS di Divisi Utama 1994–1995 yaitu 32 pertandingan dengan 10 kali menang, 9 kali seri, 13 kali kalah dengan selisih 28 gol memasukkan dan 43 gol kemasukan.

Musim selanjutnya, (Divisi Utama Liga Indonesia 1995–1996) PSIS berhasil mencapai peringkat 10 dari 16 tim Wilayah Timur. Prestasi PSIS masih stagnan di papan tengah, hanya saja dari segi penonton sudah mulai ada peningkatan. Hal ini disebabkan karena mulai masuknya pemain impor yang menarik penonton untuk menyaksikan aksinya serta seragam yang kembali ke warna biru kebesaran PSIS Semarang. Selain itu, adapun faktor campur tangan Gubernur Jawa Tengah yang pada saat itu mewajibkan BPD Jateng hanya diperkuat pemain PON yang minim pengalaman. Bahkan, pelatih yang mencoba menurunkan pemain non-PON dipecat dari jabatannya, meskipun berhasil meraih kemenangan. Total pertandingan yang dijalani PSIS di Divisi Utama Liga Indonesia 1995–1996 yaitu sebanyak 30 main dengan 10 kali menang, 7 kali seri, 13 kali kalah, dengan selisih 37 gol memasukkan dan 41 gol kemasukan.

Di Divisi Utama Liga Indonesia 1996 (atau yang juga dikenal sebagai Liga Kansas), Ada sedikit peningkatan prestasi PSIS dengan hampir menembus babak 12 besar. Gairah sepak bola Semarang pun seolah bangkit dari tidurnya. Dukungan dari pun pemerintah mengalir dan penonton pun semakin meningkat, di mana Stadion Jatidiri (yang saat itu berkapasitas 25.000) pada Divisi Utama Liga Indonesia 1994 hanya mencatat rata-rata penonton 500 orang; dan di Divisi Utama Liga Indonesia 1995–1996 dengan rata-rata penonton 15.000 orang, kali ini selalu penuh. Selanjutnya di musim Divisi Utama Liga Indonesia 1997–98, terjadi peristiwa di mana kompetisi liga dihentikan akibat kondisi politik di Indonesia yang tidak kondusif. Sebelum kompetisi dihentikan, PSIS berhasil mencapai peringkat 6 dari 11 tim Wilayah Tengah Divisi Utama Liga Indonesia 1997–98, dengan catatan bermain sebanyak 16 kali yang terdiri dari 4 kemenangan, 8 seri, dan 4 kekalahan. PSIS juga berhasil mencetak 17 gol ke gawang lawan dan kebobolan 24 gol. Imbas dari prestasi yang meningkat ini membuat PSIS mulai bergairah dan semakin diperhitungkan di kancah sepak bola nasional, meski sayangnya saat itu liga harus dihetikan karena krisis moneter 1997.

Juara Liga Indonesia V (Musim Kompetisi 1998-1999)

[sunting | sunting sumber]

Puncak prestasi dari PSIS. Dilatih oleh Edi Paryono, setelah mencapai peringkat 2 dari 5 tim Grup D dan kemudian runner-up Grup F (10 Besar), PSIS akhirnya meraih gelar juara setelah memenangkan laga final yang menjadi "partai usiran" karena harus terbang ke Manado dengan semangat balas budi atas meninggalnya 11 orang suporter PSIS di Manggarai. PSIS bermain luar biasa dan mengalahkan Persebaya dengan skor tipis 1-0 melalui gol Tugiyo di injury time babak kedua. Sayangnya, prestasi ini sepertinya kurang bernilai karena liga saat itu dibagi oleh banyak grup (3 wilayah 5 grup). Namun, PSIS pun tetap berhak mewakili Indonesia ke Piala Champions Asia meski langsung tunduk dari Suwon Samsung Bluewings dengan skor 3-2 di kandang dan 6-2 saat tandang.

  • Total pertandingan: 14 (7 kali menang, 3 kali seri, 4 kali kalah)
  • Selisih gol: 18 gol memasukkan-13 gol kemasukan

Degradasi yang Ironis di Liga Indonesia VI 1999-2000

[sunting | sunting sumber]

Terlena dengan gelar yang sudah diraih, memasuki Divisi Utama Liga Indonesia 1999–2000, PSIS terlambat menyiapkan tim dan dukungan dana jgua tiba-tiba terhambat. Kerusuhan di partai pembukaan saat PSIS takluk dari Barito Putra 2-0 seakan menjadi pertanda buruk. Dan ternyata kenyataan pahit itupun terbukti, di mana PSIS terdegradasi ke Divisi Satu, sekaligus mencatatkan diri sebagai tim pertama di Indonesia yang terdegradasi setelah menjuarai kompetisi sebelumnya. PSIS hanya mampu bercokol di peringkat 13 dari 14 tim Wilayah Timur, dengan hasil 6 kali menang, 6 kali seri, dan 14 kali kalah serta mencetak 22 gol dan kebobolan 32 gol. Dengan imbas dari relegasi tersebut, PSIS harus bermain di Divisi Satu Liga Indonesia 2001. Tersentak oleh kenyataan pahit tersebut, manajemen tim pun bertindak dengan tekad mengembalikan PSIS ke Divisi Utama. Dan tekad itu pun terwujud, PSIS berhasil menjuarai Divisi Satu Liga Indonesia 2001 sekaligus kembali promosi ke Divisi Utama bersama Persedikab Kediri. Dari 16 total pertandingan di Divisi Satu Liga Indonesia 2001, PSIS meraih 12 kali kemenangan, 2 kali seri, dan 2 kali kekalahan, dengan selisih gol 24 gol memasukkan 9 gol kemasukan. Tahun ini ditandai pula dengan berdirinya komunitas suporter PSIS, Panser Biru.

Kembali ke Divisi Utama

[sunting | sunting sumber]

Kembali ke Divisi Utama di Liga Indonesia VIII (Liga Bank Mandiri 2002), PSIS berhasil menempati posisi papan tengah (Meraih peringkat 8 dari 12 tim Wilayah Timur). Suatu hal yang patut disyukuri karena PSIS tidak terdegradasi ke Divisi I. PSIS nyaris terdegradasi, beruntung 2 kemenangan kandang terakhir menyelamatkan PSIS dari jurang degradasi. PSIS menjalani 22 pertandingan dengan 8 kali menang, 6 kali seri, 8 kali kalah, sementara Selisih gol: 20 gol memasukkan-25 gol kemasukan.

Sejak Liga Indonesia IX Tahun 2003 PSIS mempercayakan jabatan manajer tim kepada Yoyok Sukawi. Di bawah kepemimpinannya, PSIS mengalami beberapa perubahan yang signifikan, antara lain dengan mengontrak pelatih Daniel Roekito, dan mengganti beberapa pemain, dengan tujuan agar mampu mencapai hasil maksimal di kancah Liga Indonesia 2003. Bersamaan dengan diadakannya Piala Emas Bang Yos (PEBY) I di Jakarta, PSIS memanfaatkan ajang ini untuk menyeleksi dan mematangkan skuat pemain yang ada untuk menghadapi Liga Indonesia tahun berikutnya. Tahun 2003, menjadi tonggak sejarah di mana semua peserta saling bertemu karena sistem turnamen yang tidak membagi wilayah lagi. Alih-alih berprestasi, PSIS masih belum mampu beranjak dari papan tengah ke bawah dengan menempati peringkat 13 dari 20 tim. Hasil yang dicapai PSIS pada tahun 2003 adalah 38 kali bermain 14 kali menang, 8 kali seri, 16 kali kalah dengan selisih gol -2 (43 memasukan dan 45 kemasukan).

Di Liga Indonesia X tahun 2004, dengan suntikan tenaga pemain baru, baik lokal maupun asing, ditambah polesan tangan pelatih Cornelis Sutadi dan asisten pelatih Bonggo Pribadi, PSIS mengarungi kerasnya persaingan di Liga Indonesia 2004. Di pertengahan tahun kompetisi 2004, manajemen PSIS menilai perlu dilakukan perombakan tim. Jabatan pelatih kepala diserahkan kepada Herry Kiswanto, dan beberapa pemain baru pun dikontrak untuk menambah kekuatan tim. PSIS Mencapai peringkat 10 dari 18 tim dengan hasil 12 kali menang, 10 kali seri, 12 kali kalah serta memasukan 35 gol dan kemasukan 34 gol kemasukan.

Era Emas di Tahun 2000-an

[sunting | sunting sumber]
Image
Muhammad Ridwan, Bagian dari Era Emas tahun 2000-an

Era emas PSIS Semarang di tahun 2000-an adalah pada tahun 2005 dan 2006. Pada tahun-tahun itu, PSIS Semarang menjadi tim yang diperhitungkan di kancah persepakbolaan nasional dengan menduduki peringkat III di Divisi Utama musim kompetisi 2005 dan runner up di Divisi Utama musim kompetisi 2006. Saat itu, Divisi Utama Liga Indonesia masih merupakan kasta tertinggi kompetisi sepak bola tanah air. Liga Indonesia 2005 dibagi menjadi 2 wilayah. PSIS termasuk di Wilayah I atau Barat. Masih dikomandani oleh Yoyok Sukawi sebagai manajer tim, dan di bawah sentuhan pelatih kepala Bambang Nurdiansyah, PSIS berhasil melaju ke putaran 8 besar yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Meski dirugikan oleh kejadian mundurnya Persebaya dari putaran ini, PSIS sukses mencapai peringkat 3 untuk Liga Indonesia tahun 2005. PSIS Semarang menjalani total pertandingan 30 dengan total 13 kali menang 12 kali seri serta 5 kali kalah. Sepanjang musim 2005, PSIS Semarang berhasil menjaringkan 41 gol dan kebobolan 23 gol. Pada musim kompetisi 2005 ini, ada sesuatu yang baru di mana Piala Indonesia (Copa Dji Sam Soe) untuk pertama kali dimainkan. Sayangnya, PSIS hanya sampai babak 16 besar karena terhenti langkahnya oleh Persijap Jepara.

Menjalani Divisi Utama musim kompetisi 2006, PSIS dinakhodai oleh pelatih Sutan Harhara. Kekuatan PSIS bertambah dengan masuknya Imral Usman, Suwita Patha, Yaris Riyadi, Greg Nwokolo, dan Gustavo Hernan Ortiz. PEBY III menjadi ajang pembuktian keseriusan PSIS dalam persiapan menjelang Divisi Utama musim kompetisi 2006. PSIS kembali ke Semarang dengan keberhasilan menduduki posisi 3 PEBY.

Di pertengahan Liga Super Indonesia musim 2006, posisi pelatih kepala Sutan Harhara di PSIS digantikan oleh asistennya, Bonggo Pribadi. Perubahan pelatih ini berhasil membawa PSIS ke partai final, meski harus puas menjadi runner-up usai dikalahkan Persik Kediri melalui gol Cristian Gonzáles. Secara keseluruhan di musim 2006, PSIS melakoni 31 pertandingan dengan hasil 16 kemenangan, 5 seri, dan 10 kekalahan (agregat gol 37-31). Sayangnya, performa PSIS Semarang di musim 2007 mengalami penurunan. Menghadapi Divisi Utama Liga Indonesia 2007 yang terdiri dari 36 tim demi merebut 18 slot tim yang berhak bermain di Liga Super Indonesia, PSIS hanya menduduki peringkat ke-10 Wilayah Barat dengan torehan 13 menang, 10 seri, dan 11 kekalahan. Hasil ini menempatkan PSIS satu tingkat di bawah batas minimal kualifikasi (peringkat ke-9), sehingga sejatinya PSIS gagal melaju ke ISL 2008.

Liga Super Indonesia

[sunting | sunting sumber]

Bersama PKT Bontang, Laskar Mahesa Jenar beruntung mengikuti Liga Super Indonesia 2008–09 menggantikan Persmin Minahasa dan Persiter Ternate yang tidak memenuhi 5 aspek lisensi dari Badan Liga Indonesia (BLI). Tanpa adanya dukungan dana APBD Pemkot Semarang dan ditinggal oleh pemain bintangnya, seperti M. Ridwan dan Khusnul Yakin yang hengkang ke Pelita Jaya, Emanuel De Porras yang memilih tim Serie B Italia, Benevento, dan Imral Usman yang hengkang ke Persikabo Bogor, PSIS Semarang terpaksa bertumpu pada para pemain mudanya. Alhasil, PSIS mengakhiri musim di dasar klasemen dan terdegradasi ke Divisi Utama setelah mencatatkan 21 kekalahan, 9 hasil imbang, dan hanya memetik 4 kemenangan, serta kebobolan sebanyak 62 gol.

Liga Indonesia 2009–2012

[sunting | sunting sumber]

Setelah terdegradasi ke Divisi Utama, Tim kebanggaan kota Lumpia selama musim 2009–2010, 2010–2011, dan 2011–2012 tidak pernah sanggup lolos ke babak 8 besar dan selalu tertahan di babak penyisihan grup/babak pertama saja. Bahkan di musim 2011–2012, di tengah kisruhnya sepak bola Indonesia, PSIS Semarang tetap mencoba peruntungan di Divisi Utama Liga Indonesia 2011–12 (LPIS) di bawah bendera PT Liga Prima Indonesia Sportindo. Namun, PSIS Semarang hanya sanggup bercokol di penyisihan grup dan mengakhiri musim tersebut pada peringkat 5 grup di bawah tim-tim Jawa Tengah lainya, seperti PSIR Rembang dan PSCS Cilacap.

Dua Musim di 8 Besar Divisi Utama

[sunting | sunting sumber]

Di musim 2013, PSIS Semarang hijrah ke Divisi Utama Liga Indonesia 2013 yang dikelola PT Liga Indonesia (LI). Kali ini mereka menujukan prestasi yang lebih baik. Menghuni peringkat ketiga di Grup 2, PSIS Semarang berhasil lolos ke babak kedua. Akan tetapi, mereka terpaksa menghadapi babak kedua dengan cederanya Ronald Fagundez dan Addison Alves yang tidak diimbangi kematangan para pemain muda. Sehingga, Laskar Mahesa Jenar hanya menjadi juru kunci dan kalah dengan sang juara, Persebaya Surabaya, PSBS Biak Numfor, dan PS Bangka.

Di Musim 2014, PSIS diperkuat dua pemain asing, yaitu Julio Alcorsé dan Ronald Fagundez. PSIS memulai Divisi Utama Liga Indonesia 2014 dengan luar biasa, memuncaki klasemen Grup 4, dengan hanya menantongi 1 kekalahan, hingga akhirnya lolos ke 8 besar. Di 8 Besar, PSIS Semarang bermain luar biasa hingga belum selesai 8 besar pun, tim asal kota Semarang ini sudah dipastikan melaju ke semifinal bersama PSS Sleman, termasuk kemenangan telak melawan Persiwa Wamena. Sang juru gedor, Hari Nur Yulianto menjadi pencetak gol terbanyak ke-4 dengan 14 gol di bawah Abblode Yao Rudy (Persiwa Wamena,17 gol), Brima Pepito Sanusie (Martapura FC, 16 gol), dan Fernando Gaston Soler (Pusamania Borneo F.C.,15 gol), bersama penyerang Mahesa Jenar lainnya, Julio Alcorsé di peringkat 7 dengan 13 gol.

Skandal Sepak Bola Gajah

[sunting | sunting sumber]

Langkah yang susah payah dibangun sejak awal musim 2014 harus berakhir tragis di pertandingan akhir yang hanya memperebutkan posisi juara grup dan runner up dengan PSS Sleman. PSS Sleman dan PSIS Semarang terlibat skandal sepak bola gajah di mana kedua klub sama-sama menginginkan kekalahan agar tidak bertemu dengan Pusamania Borneo F.C., hingga terjadi peristiwa 5 gol bunuh diri dalam 7 menit, dan akhirnya pertandingan berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan PSS Sleman. Manajemen berdalih melakukan hal tersebut karena menghindari mafia persepakbolaan Indonesia, di mana mereka menilai Pusamania Borneo F.C. sudah diatur untuk menjuarai Divisi Utama.[3][4] Akibat dari skandal ini, Laskar Mahesa Jenar didiskualifikasi dari babak 8 Besar. Sedangkan beberapa staf termasuk Eko Riyadi serta para pemain mendapat hukuman yang beragam, dari sanksi ringan hingga hukuman seumur hidup tak boleh terlibat dalam persepakbolaan Indonesia. Baru pada tahun 2017, pada era kepemimpinan Edy Rahmayadi, melalui Nomor 009/Kep/PK-PSSI/I/2017 tertanggal 10 Januari 2017, 10 pemain dan tiga ofisial memperoleh pemulihan status. Sepuluh pemain tersebut yaitu Saptono, Eli Nasokha, Taufik Hidayat, Andik Rahmat, Franky Mahendra, Sunar Sulaiman, Ronald Fagundez, Julio Alcorsé, Vidi Hasiholan, dan Anam Syahrul Fitrianto sedangkan 3 official yaitu pelatih Eko Riyadi beserta dua asistennya, Setiawan dan Budi Cipto.[5]

Kembalinya PSIS ke Kasta Tertinggi

[sunting | sunting sumber]

Pasca dilanda skandal sepak bola gajah, kompetisi sepak bola nasional di Indonesia mengalami vakum pada tahun 2015 akibat sanksi FIFA terhadap PSSI. Dan saat kompetisi resmi kembali bergulir dengan tajuk Liga 2 pada tahun 2017, PSIS Semarang kembali bangkit dengan harapan untuk mengembalikan kejayaan mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Di kompetisi ini, PSIS berhasil melaju hingga ke babak empat besar. Dan meskipun PSIS sempat mengalami kekalahan melawan PSMS Medan di babak semifinal, PSIS tetap berhasil mengamankan tiket promosi ke Liga 1 2018 setelah mengalahkan Martapura FC dengan skor 6-4 sebagai peringkat ketiga Liga 2 2017. Hasil ini menandai kembalinya PSIS ke kasta tertinggi setelah terdegradasi pada Liga Super Indonesia 2008.[6]

Image
Striker asal Brazil, Bruno Silva di PSIS Semarang

Sekembalinya ke kasta tertinggi, PSIS Semarang secara konsisten mampu mempertahankan eksistensinya di Liga 1 Indonesia. Pada musim pertama kembalinya ke Liga 1 di bawah naungan Jafri Sastra, PSIS sempat menghadapi paruh musim yang berat. Namun, putaran kedua menjadi momentum kebangkitan berkat penampilan gemilang dari penyerang asal Brazil, Bruno Silva dan bomber lokal Hari Nur Yulianto, yang membawa PSIS finis di peringkat ke-10.[7][8] Di musim selanjutnya, PSIS pun melanjutkan tren kompetitifnya di papan tengah dengan finis di posisi ke-14. Selanjutnya ketika kompetisi Liga 1 2020 dihentikan akibat pandemi COVID-19 setelah berjalan tiga pekan, PSIS sempat menduduki peringkat ke-5. Dan ketika Liga 1 kembali digelar dengan sistem bubble pada musim 2021/2022 di bawah arahan pelatih Dragan Đukanović, PSIS mengakhiri musim di peringkat ke-7.[9]

Memasuki era manajemen modern di bawah kepemimpinan CEO Yoyok Sukawi, PSIS mendatangkan sejumlah pemain bintang yang mencuri perhatian publik sepak bola nasional, seperti pemain terbaik BRI Liga 1 2021 asal Jepang, Taisei Marukawa; top skor Arema FC di musim 2021, Carlos Fortes; hingga talenta muda asal Timor Leste, Paulo Gali Freitas. Di bawah pelatih asal Malta, Gilbert Agius, Mahesa Jenar mencatatkan pencapaian terbaiknya di era Liga 1 dengan finis di peringkat ke-6 BRI Liga 1 2023/2024.[10] Memasuki musim 2024/2025, performa PSIS Semarang mengalami penurunan drastis akibat badai cedera, ketidakkonsistenan skuad, serta masalah internal klub. Meskipun sempat melakukan perombakan tim di tengah musim, Laskar Mahesa Jenar gagal keluar dari zona degradasi dan terpaksa turun ke Liga 2 setelah menjadi juru kunci di klasemen Liga 1 2024/2025. Ini sekaligus mengakhiri catatan tujuh musim beruntun PSIS berkompetisi di kasta tertinggi Liga 1 Indonesia.[11]

Akuisisi oleh Datu Nova Fatmawati

[sunting | sunting sumber]
Image
Stadion Jatidiri Semarang

Pada 17 November 2025, Datu Nova Fatmawati, pengusaha asal Semarang dan juga istri dari Fariz Julinar Maurisal, yang pada saat itu merupakan CEO Persela Lamongan, resmi mengakuisisi 74,2% saham PSIS Semarang melalui PT Mahesa Jenar Semarang dan menggantikan Yoyok Sukawi sebagai pemegang saham mayoritas.[12] Pergantian kepemilikan ini menandai babak baru bagi PSIS, dengan rencana perombakan menyeluruh mencakup pemain, pelatih, serta manajemen internal. Target jangka pendeknya adalah untuk bertahan di Pegadaian Championship 2025/2026, sedangkan jangka panjangnya mengembalikan PSIS ke kasta tertinggi. Datu Nova menyebut bahwa keputusannya bukan sekadar investasi, melainkan bentuk penerusan kecintaan sang ayah yang sejak kecil mengajaknya menonton PSIS di Stadion Jatidiri. Sebagai pemilik baru, ia telah mengumumkan visi pemulihan dengan perombakan struktur internal untuk membangun fondasi yang lebih kuat. Langkah awal dari perubahan ini dimulai dengan membawa Jafri Sastra kembali ke PSIS sebagai pelatih kepala.[13]

Daftar Pemain PSIS Semarang Musim 2026/2027

[sunting | sunting sumber]
Per 24 September 2026.[14]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan kelayakan FIFA. Pemain bisa saja memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Negara Pemain
1 GK Image IDN Reky Rahayu
4 DF Image IDN Agus Nova
7 FW Image ENG Deri Corfe
8 MF Image IDN Syahrian Abimanyu
10 MF Image ARG Jonathan Bustos
11 FW Image IDN Miftahul Hamdi
12 DF Image IDN Nuri Fasya
13 DF Image IDN Bayu Fiqri
15 DF Image IDN Fabiano Beltrame
16 MF Image IDN Muammar Khadafi
17 FW Image IDN Ahmad Nufiandani
18 DF Image IDN Abduh Lestaluhu
19 MF Image IDN Ricki Ariansyah
20 DF Image IDN Habil Akbar
22 FW Image IDN Hari Nur Yulianto (kapten)
25 DF Image IDN Akbar Arjunsyah
No. Pos. Negara Pemain
27 MF Image IDN Fitra Ridwan
31 FW Image IDN Krisna Sulistia
32 MF Image IDN Rifky Dwi Septiawan
33 DF Image IDN Komang Tri (wakil kapten)
41 DF Image IDN Amirul Fisabilillah
43 MF Image IDN Fadistya Mahendra
47 DF Image IDN Akmal Hidayat
52 GK Image IDN Rizky Darmawan
70 FW Image IDN Thaufan Hidayat
73 FW Image IDN Seva Bernadine
77 FW Image IDN Lorensius Sabda
90 MF Image IDN Jack Brown
91 FW Image ARG Felipe Cadenazzi
96 GK Image IDN Ray Redondo
97 DF Image IDN Andy Setyo

Nomor yang dipensiunkan

[sunting | sunting sumber]

Daftar Sponsor PSIS Semarang Musim 2026/2027

[sunting | sunting sumber]
Per 30 September 2026.[16]
  • Belikopi (sponsor utama)
  • Indomie
  • Cordova Edupartment
  • Lyly Bakery
  • PStore
  • Yamaha Mataram Sakti
  • SanQua
  • Immoderma
  • Titan Home/Nexa (internet partner)
  • Mitra Orphys Sports Clinic (medical partner)
  • RIORS Apparel (sponsor apparel)

Pegadaian Championship 2026/2027

[sunting | sunting sumber]
Pos. Tim Main M S K MG KG SG Poin Kualifikasi atau degradasi
1 PSPS Pekanbaru 6 5 0 1 12 6 +6 15 Promosi ke Super League dan lolos ke final
2 Persikad 6 4 0 2 9 10 −1 12 Lolos ke babak play-off promosi
3 PSMS Medan 6 3 2 1 15 5 +10 11
4 PSIS Semarang[a] 6 3 2 1 8 5 +3 10
5 Sumsel United[b] 6 3 1 2 12 9 +3 9
6 Semen Padang FC[c] 6 2 2 2 6 5 +1 7
7 PSGC Ciamis 6 2 1 3 5 9 −4 7
8 Adhyaksa FC Bekasi 6 1 2 3 6 5 +1 5
9 Persiraja Banda Aceh[d] 6 1 1 4 6 8 −2 3 Lolos ke Play-off degradasi
10 Persiku Kudus[e] 6 0 1 5 4 21 −17 −1 Degradasi ke Liga Nusantara
Per pertandingan yang dimainkan pada 19 Oktober 2026. Sumber: PT LIB
Kriteria peringkat: 1) Poin; 2) Poin satu-lawan-satu; 3) Selisih gol satu-lawan-satu; 4) Gol dicetak satu-lawan-satu; 5) Selisih gol; 6) Gol yang dicetak; 7) Poin fair-play; 8) Undian.
Catatan:
  1. ↑ PSIS Semarang dikurangi 1 poin karena masalah lisensi.[17]
  2. ↑ Sumsel United dikurangi 1 poin karena masalah lisensi.[17]
  3. ↑ Semen Padang FC dikurangi 1 poin karena masalah lisensi.[17]
  4. ↑ Persiraja Banda Aceh dikurangi 1 poin karena masalah lisensi.[17]
  5. ↑ Persiku Kudus dikurangi 2 poin karena masalah lisensi.[17]

Manajemen & Staf Pelatih

[sunting | sunting sumber]

Manajemen & Staf Pelatih Musim 2026/2027

[sunting | sunting sumber]
Per 21 September 2026.
Posisi Nama
Chief Executive Officer Indonesia Datu Nova Fatmawati
Chief Operating Officer Indonesia Fariz Julinar Maurisal
Manajer Tim Indonesia Wafa Amri
Asisten Manajer Indonesia Mochammad Reza Handhika
Direktur Akademi Indonesia Samsul Arif
Pelatih Kepala Indonesia Widodo Cahyono Putro
Asisten Pelatih Indonesia Agam Pambudi
Asisten Pelatih Indonesia Anang Dwita
Asisten Pelatih Indonesia Hamka Hamzah
Pelatih Kiper Indonesia I Komang Putra
Pelatih Fisik Indonesia Gaselly Jun Panam
Pelatih Akademi Indonesia Khusnul Yaqien
Analis Video Indonesia Jihad Alief Alfikri
Tim Dokter Indonesia Edi Suprayitno

Rekor Klub

[sunting | sunting sumber]

Riwayat Pelatih PSIS Semarang

[sunting | sunting sumber]

Pelatih kepala berdasarkan tahun (2016–sekarang)[18]

Periode Nama Periode Nama
2016-2018 Indonesia Bambang Nurdiansyah 2022 Brasil Sérgio Alexandre
2017 Indonesia Subangkit 2022-2023 Skotlandia Ian Gillan
2018 Italia Vincenzo Alberto Annese 2023 Indonesia Muhammad Ridwan
2018-2019 Indonesia Jafri Sastra 2023-2025 Malta Gilbert Agius
2019 Indonesia Widyantoro 2025 Indonesia Muhammad Ridwan
2019 Indonesia Bambang Nurdiansyah 2025 Indonesia Kahudi Widodo
2020-2021 Serbia Dragan Djukanovic 2025 Indonesia Eka Raka Galih
2021 Indonesia Imran Nahumarury 2025-2026 Indonesia Jafri Sastra
2021 Skotlandia Ian Gillan 2026 Indonesia Andri Ramawi
2021 Indonesia Imran Nahumarury 2026 Indonesia Kas Hartadi
2021-2022 Serbia Dragan Djukanovic 2026- Indonesia Widodo Cahyo Putro

Catatan: Penulisan miring merupakan posisi caretaker atau pelatih sementara.

Pencetak Gol Terbanyak PSIS Semarang

[sunting | sunting sumber]
Nama Gol Periode
Indonesia Hari Nur Yulianto 71 2013–2023, 2026–sekarang
Chili Julio López 36 2003–2007
Indonesia Indriyanto Nugroho 34 2003–2011
Indonesia Budi Wahyono 30 1986–1988
Brasil Arliston de Oliveira 29 1995–2002
Brasil Bruno Silva 26 2018–2022
Indonesia Muhammad Ridwan 26 1999–2002, 2005–2008, 2016–2017
Argentina Emanuel De Porras 23 2005–2006
Indonesia Ribut Waidi 21 1984–1992
Indonesia Septian David Maulana 20 2019–2025
Indonesia Imral Usman 20 2010–2011, 2013–2015
Indonesia Johan Yoga Utama 16 2008–2009, 2016–2017
Palestina Jonathan Cantillana 14 2019–2023
Tanjung Verde Carlos Fortes 13 2022–2024
Argentina Julio César Alcorsé 13 2014–2015
Indonesia Khusnul Yakin 13 2000–2007, 2011–2013

Catatan: Rekor gol hanya dihitung dari pertandingan liga domestik.[19][20] [21]

Suporter dan Rivalitas

[sunting | sunting sumber]

Pendukung PSIS Semarang menyebut diri mereka Panser Biru (Pasukan Pendukung Semarang Biru) [22] dan Snex (pendukung Semarang Ekstrem) pendukung yang paling bersemangat dan fanatik di Indonesia. Panser Biru atau Blue Panzer ini lahir pada tanggal 25 Maret 2001 melalui proses yang panjang. Ketika PSIS menjadi juara pada tahun 1999, Sebenarnya sudah banyak penggemar dan pendukung loyal Laskar Mahesa Jenar di Semarang dan sekitarnya, tetapi belum terkoordinasi dengan baik.[23] Seiring dengan PSIS yang terdegradasi ke Divisi I, beberapa fans PSIS ingin membentuk sebuah organisasi yang terkoordinasi yang pertama di Semarang yang baik dan rapi. Oleh karena itu, pada 22 Oktober 2000 di Gedung Berlian Semarang, sekitar 15 pendukung fanatik mengadakan konferensi pertama. Akhirnya setuju pada hari itu untuk mendirikan Forum Peduli PSIS Semarang. Mereka kemudian melanjutkan dilanjutkan dengan konferensi pada 29 Oktober 2000 yang dihadiri oleh sekitar 35 orang. Sampai pada akhirnya, pada 5 November 2000 di GOR Tri Lomba Juang, membentuk Panser Biru; Panzer atau Tank yang melambangkan semangat juang dari Suporter PSIS, dan Biru yang merupakan warna kebanggaan dari PSIS Semarang. Adapun SneX yang sebelumnya merupakan bagian dari Panser Biru, tetapi pada 20 Maret 2005 menjadi sebuah organisasi independen.

Rivalitas

[sunting | sunting sumber]

Rivalitas yang paling utama adalah persaingan dengan Persijap Jepara dengan pendukung mereka disebut Banaspati dan The Jet Man, klub dari kota berbeda tetapi dari provinsi yang sama yaitu Jawa Tengah. Derby antara keduanya disebut Derby Jawa Tengah, Derby itu adalah di derby yang paling panas dan emosional di Indonesia setelah Persija Jakarta dengan The Jack vs Persib Bandung dengan para Bobotoh. Telah terjadi beberapa kasus kekerasan termasuk tahun 2009, ketika kelompok Persijap Jepara pendukung akan pergi ke Jakarta (karena akan melawan Persija Jakarta), mereka dicegat di Semarang, 3 bus yang mereka tumpangi dilempari batu, 2 bus melewati dan 1 bus berhenti di Semarang, semua fans yang berada di bus mengalami luka-luka serius.[24] Beberapa pendukung PSIS Semarang juga pernah menyanyikan yel-yel pertandingan yang berisi ungkapan kebencian kepada warga Godong karena pernah dicegat di Purwodadi pada 5 Mei 2013. Sebenarnya masalah tersebut disebabkan oleh beberapa oknum supporter PSIS Semarang yang membuat beberapa keributan seperti mencuri dan menjarah warga ketika mereka hendak mengunjungi Purwodadi, Grobogan untuk mendukung kesebelasan kesayangannya, PSIS Semarang melawan Persipur Purwodadi. Ketika mereka pulang ke Semarang, semua pendukung PSIS dicegat oleh warga Godong, Grobogan yang melampiaskan kemarahannya dan tidak dapat dievakuasi sampai 18 jam.[25] Rival lainnya adalah dengan suporter Persip Pekalongan.[26]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Istanto, Feri; Herfiyana, Novan (2021-11-18). "Indonesia 1986/87". Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation. Diakses tanggal 2026-10-19.
  2. ↑ ForzaPSIS (2020-04-12). "ForzaPSIS: PSIS Musim 1986/1987". ForzaPSIS. Diakses tanggal 2026-10-19.
  3. ↑ http://www.goal.com/id-ID/news/2281/divisi-utama/2014/10/28/5566351/pss-sleman-psis-semarang-klaim-tak-takut-pusamania-borneo-fc
  4. ↑ http://www.sepak[pranala nonaktif permanen] bola.com/2014/10/faktor-pusamania-borneo-jadi-salah-satu-penyebab-sepak-bola-gajah-pss-vs-psis
  5. ↑ https://www.tempo.co/arsip/10-pemain-psis-dibebaskan-dari-sanksi-kasus-sepak-bola-gajah-1303597
  6. ↑ Idaman, Putra Permata Tegar. "PSIS Semarang Promosi ke Liga 1". olahraga. Diakses tanggal 2026-10-19.
  7. ↑ "Budi". "JPNN". www.jpnn.com. Diakses tanggal 2026-10-19.
  8. ↑ Wirawan, Kusuma. "Kejutan! PSIS Semarang Boyong Pemain Terbaik dan Pencetak Gol Terbaik Liga 1 Indonesia 2021/2022". VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan. Diakses tanggal 2026-10-19.
  9. ↑ Senjaya, Immanuel (2021-12-27). "Dragan Djukanovic kembali melatih PSIS". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-10-19.
  10. ↑ Bola.com (2023-06-28). "Profil Klub BRI Liga 1 2023 / 2024, PSIS: Jor-joran Belanja Pemain, Targetnya Juga Tak Main-Main". bola.com. Diakses tanggal 2026-10-19.
  11. ↑ Antoni, Ahmad (2025-05-11). "BREAKING NEWS: PSIS Semarang Resmi Degradasi ke Liga 2". iNews.
  12. ↑ Sigit. "Datu Nova Fatmawati Resmi Akuisisi 74,2% Saham PSIS Semarang, Ini Fakta Lengkapnya - Suara Semarang". Datu Nova Fatmawati Resmi Akuisisi 74,2% Saham PSIS Semarang, Ini Fakta Lengkapnya - Suara Semarang. Diakses tanggal 2025-11-24.
  13. ↑ Arsa, Radifa (2025-11-21). "PSIS Resmi Tunjuk Jafri Sastra Jadi Pelatih Baru, Pergerakan untuk Bursa Transfer Mulai Disiapkan". bola.com. Diakses tanggal 2025-11-24.
  14. ↑ ILeague. "Pemain PSIS SEMARANG". www.ligaindonesiabaru.com. Diakses tanggal 2026-09-21.
  15. ↑ Ardana, Arixc. "Hormati Dua Pemain Ini, PSIS Semarang Pensiunkan Nomor Punggung 9 - Akurat Jateng". Hormati Dua Pemain Ini, PSIS Semarang Pensiunkan Nomor Punggung 9- Akurat Jateng. Diakses tanggal 2026-01-25.
  16. ↑ Heriyanto, Agus. "Belikopi Sponsor Utama PSIS Semarang Musim 2026/2027 - RRI.co.id". rri.co.id - Portal berita terpercaya (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-21.
  17. 1 2 3 4 5 Saputro, Sasongko Dwi (11 September 2026). "Termasuk PSBS Biak, 10 Klub Harus Memulai Championship 2026/2027 dari Poin Minus, Ada Apa?". Bolasport.com. Diakses tanggal 17 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ "PSIS Semarang - Staff Saat Ini dan Mantan". www.transfermarkt.co.id. Diakses tanggal 2026-09-21.
  19. ↑ "PSIS (@psisfcofficial) di X". X (formerly Twitter). 2020-06-08. Diakses tanggal 2026-09-21.
  20. ↑ "PSIS Semarang - Pencetak gol terbanyak". www.transfermarkt.co.id. Diakses tanggal 2026-09-21.
  21. ↑ ForzaPSIS (2020-05-16). "ForzaPSIS: Top Skor PSIS Sepanjang Masa". ForzaPSIS. Diakses tanggal 2026-09-21.
  22. ↑ http://www.hooligans1932.com/2012/03/sejarah-panser-biru.html Diarsipkan 2012-04-13 di Wayback Machine Panser Biru
  23. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-02. Diakses tanggal 2015-01-02.
  24. ↑ http://www.bola.net/indonesia/suporter-psis-sayangkan-aksi-pelemparan-fans-persijap.html
  25. ↑ "Bentrok Suporter PSIS Versus Warga, Godong Mencekam". JPNN.com. 2013-05-07. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-02. Diakses tanggal 2015-01-02.
  26. ↑ http://www.antaranews.com/berita/361062/suporter-psis-tertahan-di-depan-stadion-kraton-usai-bentrok

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]