Menaburkan garam di halaman sering dianggap cara sederhana untuk mencegah ular masuk rumah. Tanaman tertentu pun mendapat reputasi sebagai pengundang atau pengusir reptil ini.
Namun, menurut Amir Hamidy, herpetolog BRIN, kehadiran ular lebih berkaitan dengan tempat berlindung dan ketersediaan mangsa. Pekarangan yang menyediakan persembunyian bagi tikus, burung, atau hewan kecil lain dapat menjadi lokasi berburu. Karena itu, memahami kondisi lingkungan lebih berguna daripada mengandalkan anggapan tentang aroma tanaman atau bahan yang ditaburkan di sekitar rumah.
“Sebenarnya tanaman itu bukan secara spesifik mengundang ular, tapi memberi ruang untuk ular berlindung,” kata Amir. Anggrek, serai, melati, bambu, dan mint termasuk tanaman yang kerap dikaitkan dengan kehadiran ular, tetapi Amir menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa tanaman tersebut mengundangnya. Aroma bunga bukanlah senyawa pemikat ular.
Berbeda dengan feromon yang dikeluarkan sesama jenis saat musim kawin, bau tumbuhan tidak memberikan daya tarik serupa. Ular dapat memilih vegetasi karena cocok untuk bersembunyi, menyamarkan tubuh, atau menyediakan makanan.
Sebagai satwa yang cenderung menghindari keterpaparan, ular membutuhkan perlindungan dari lingkungan sekitar. Warna tubuh membantu mereka menyatu dengan tempat tinggalnya, seperti ular hijau di antara dedaunan. Hubungan dengan tanaman juga dapat terjadi melalui mangsa.
“Kalau tumbuhan menyediakan shelter untuk tikus, bajing, serangga, atau burung yang jadi mangsa ular, ya wajar kalau ular datang,” ujar Amir.
Sampah makanan yang menarik tikus, misalnya, dapat diikuti kedatangan ular. Kehadiran reptil tersebut merupakan bagian dari hubungan pemangsa dan mangsa yang berlangsung di sekitar permukiman.
Bagaimana dengan garam? Amir menjelaskan bahwa tubuh ular dilindungi sisik, sehingga menaburkan garam bukan cara efektif untuk mengusirnya. “Garam, ijuk, segala macam itu tidak berguna untuk mengusir ular,” katanya.
Dia lebih menyarankan menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan tempat sampah tertutup. Tumpukan kardus, batu, serta barang tidak terpakai juga perlu dibereskan agar tidak menyediakan ruang persembunyian. Upaya tersebut berfokus pada kondisi yang memungkinkan ular dan mangsanya menetap, sehingga tidak bergantung pada bahan yang dipercaya dapat membuat ular menjauh.
Jika berjumpa ular, Amir menyarankan menghindar dan tidak membunuhnya. Ketakutan serta kesulitan mengenali jenis sering membuat semua ular diperlakukan sebagai ancaman yang sama. Padahal, ular memiliki peran penting dalam mengendalikan tikus, yang dapat menjadi hama dan pembawa penyakit.
“Tidak perlu dibunuh. Orang membunuh semua ular karena takut dan kurang paham identifikasi,” ujarnya. Mengurangi perjumpaan dengan ular dimulai dari memahami kebutuhannya: makanan, perlindungan, dan tempat berkembang biak.
Foto utama: Ular kobra bisa beradaptasi dengan baik pada habitatnya dan sering terlihat di permukiman warga. Foto: Pixabay/beatebasenau/Free to use.