Mahatahu
| Artikel ini merupakan bagian dari seri |
| Teisme |
|---|
|
|
Mahatahu adalah sifat yang menunjuk pada kepemilikan pengetahuan yang tertinggi dan menyeluruh. Dalam tradisi Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme, serta agama-agama Abrahamik, kemahatahuan kerap dilekatkan pada sosok ilahi atau roh, entitas, maupun pribadi yang serba mengetahui. Dalam Jainisme, kemahatahuan dipandang sebagai kemampuan yang pada akhirnya dapat dicapai oleh setiap insan. Adapun dalam Buddhisme, terdapat ragam pandangan antar aliran mengenai hakikat dan cakupan kemahatahuan tersebut.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Kata kemahatahuan (omniscience) berasal dari bahasa Latin sciens (“mengetahui” atau “sadar”) dan awalan omni (“semua” atau “segala”), yang juga mengandung makna “melihat segala sesuatu”.[1]
Dalam agama
[sunting | sunting sumber]Buddhisme
[sunting | sunting sumber]Topik mengenai kemahatahuan telah menjadi bahan perdebatan luas dalam berbagai tradisi India, namun tidak ada yang membicarakannya dengan lebih mendalam selain kaum Buddhis. Setelah Dharmakirti menguraikan tentang apa yang dapat disebut sebagai pengetahuan yang sah, Śāntarakṣita beserta muridnya Kamalaśīla meneliti persoalan ini secara sistematis dalam karya agung Tattvasamgraha serta tafsirnya, Panjika. Argumen-argumen dalam teks tersebut dapat digolongkan secara garis besar menjadi empat bagian:
- Penyangkalan bahwa pengetahuan, baik melalui persepsi, inferensi, maupun cara lain, dapat digunakan untuk menolak adanya kemahatahuan.
- Penjelasan tentang kemungkinan kemahatahuan melalui pemahaman atas hakikat universal yang tanpa-aku dari segala sesuatu yang dapat diketahui, dengan menelaah makna ketidaktahuan serta sifat batin dan kesadaran.
- Penjelasan mengenai kemahatahuan mutlak, di mana segala ciri individual (svalaksana) dapat dihadirkan bagi seorang yang maha tahu.
- Penjelasan khusus tentang kemahatahuan non-eksklusif Sang Buddha Shakyamuni, di mana pengetahuan beliau sungguh tak terbatas, dan tidak ada dewa maupun makhluk lain yang mampu menyamai kemahatahuan sejati beliau.[2]
Kekristenan
[sunting | sunting sumber]Beberapa teolog Kristen modern berpendapat bahwa kemahatahuan Allah bersifat kodrati, bukan absolut, dan bahwa Allah memilih membatasi kemahatahuan-Nya demi menjaga kebebasan dan martabat makhluk ciptaan-Nya.[3] John Calvin, bersama sejumlah teolog abad ke-16 lainnya, menegaskan bahwa Allah sungguh mahatahu dalam arti yang mutlak. Namun, agar makhluk tetap dapat memilih secara bebas, ia menerima ajaran tentang predestinasi.[4]
Hinduisme
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi Bhakti dari Waisnavisme, di mana Wisnu dipuja sebagai Tuhan Tertinggi, Wisnu disifatkan memiliki berbagai kualitas luhur seperti kemahatahuan, energi, kekuatan, penguasaan, semangat, dan keagungan.[5]
Islam
[sunting | sunting sumber]Allah dalam Islam disifati dengan kemahatahuan mutlak. Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seorang Muslim diwajibkan meyakini bahwa Allah sungguh mahatahu sebagaimana termaktub dalam salah satu enam rukun iman, yaitu:
- Iman kepada takdir dan ketetapan ilahi.
Katakanlah (kepada mereka), "Apakah kamu akan memberi tahu Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Dipercaya bahwa manusia hanya dapat mengubah takdir mereka (seperti rezeki, kesehatan, amal, dan sejenisnya), namun tidak dapat mengubah ketetapan ilahi (seperti tanggal lahir, ajal, dan keluarga). Dengan demikian, kebebasan kehendak tetap terjaga.
Iman Bahá'í
[sunting | sunting sumber]Kemahatahuan merupakan salah satu sifat Tuhan, namun ia juga menjadi sifat yang menyingkapkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia:
Dengan cara yang serupa, seketika kata yang melambangkan sifat-Ku “Yang Maha Mengetahui” keluar dari mulut-Ku, setiap ciptaan, sesuai dengan kapasitas dan keterbatasannya, akan dianugerahi daya untuk menyingkap pengetahuan tentang ilmu-ilmu yang paling menakjubkan, dan diberi kekuatan untuk mewujudkannya seiring perjalanan waktu, atas perintah Dia Yang Mahaperkasa, Mahatahu.
Jainisme
[sunting | sunting sumber]Dalam Jainisme, kemahatahuan dipandang sebagai bentuk tertinggi dari persepsi. Seorang cendekia Jain berkata, "Perwujudan sempurna dari hakikat sejati jiwa, yang lahir setelah hancurnya seluruh tabir penghalang, itulah yang disebut kemahatahuan."[6]
Jainisme melihat pengetahuan tak terbatas sebagai kemampuan bawaan yang melekat pada setiap jiwa. Istilah Arihanta digunakan kaum Jain untuk menyebut manusia yang berhasil menaklukkan seluruh nafsu batin (seperti keterikatan, keserakahan, kesombongan, dan amarah) serta mencapai Kevala Jnana (pengetahuan tak terbatas). Mereka diyakini terbagi menjadi dua golongan:[7]
- Sāmānya kevali – makhluk mahatahu (Kevalin) yang berfokus pada pembebasan diri mereka sendiri.
- Tirthankara kevali – manusia yang mencapai kemahatahuan, lalu menuntun orang lain untuk meraih jalan yang sama.[7]
Kemahatahuan dan kehendak bebas
[sunting | sunting sumber]
Pertanyaan apakah kemahatahuan—khususnya mengenai pilihan yang akan dibuat manusia—dapat selaras dengan kehendak bebas telah lama diperdebatkan para teolog dan filsuf. Argumen yang menyatakan bahwa pengetahuan Tuhan tentang masa depan tidak selaras dengan kehendak bebas dikenal sebagai fatalisme teologis. Pandangan ini menegaskan, jika manusia sungguh bebas memilih antara berbagai kemungkinan, maka Tuhan tidak mungkin mengetahui pilihan yang akan dibuatnya.[8]
Sebuah pertanyaan pun muncul: bila suatu entitas mahatahu mengetahui segalanya, bahkan keputusan dirinya sendiri di masa depan, apakah itu berarti ia kehilangan kebebasan untuk memilih? William Lane Craig menyatakan bahwa persoalan ini terbagi menjadi dua cabang:
- Jika Tuhan telah mengetahui sebelumnya bahwa suatu peristiwa E akan terjadi, apakah E itu mesti terjadi secara niscaya?[9]
- Jika suatu peristiwa E bersifat kontingen, bagaimana mungkin Tuhan tetap mengetahui sebelumnya akan terjadinya peristiwa itu?[10]
Namun, argumen semacam ini kerap jatuh pada kekeliruan logika yang dikenal sebagai sesat modal. Dapat ditunjukkan bahwa premis pertama dalam argumen-argumen semacam itu bersifat cacat.[11][12]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Epistemologi
- Kemahabaikan (Omnibenevolence)
- Sudut pandang mahatahu (Omniscient point-of-view), dalam penulisan, merujuk pada kemampuan mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui tentang suatu tokoh.
- Kemahakuasaan (Omnipotence)
- Kemahahadiran (Omnipresence)
- Kesadaran diri (Self-awareness)
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Definition of Omniscience" (dalam bahasa Inggris).
- ↑ McClintock, Sara L. (2010). Omniscience and the Rhetoric of Reason. Wisdom Publications.
- ↑ John Polkinghorne, Science and Theology SPCK/Fortress Press, 1998. ISBN 0-8006-3153-6
- ↑ Pike, Nelson (January 1965). "Divine Omniscience and Voluntary Action". The Philosophical Review. 74 (1). p. 30. doi:10.2307/2183529. JSTOR 2183529. S2CID 170519806.
- ↑ Tapasyananda (1991). Bhakti Schools of Vedānta. Sri Ramakrishna Math. ISBN 978-81-7120-226-3.
- ↑ Mehta 1954, hlm. 99.
- 1 2 Sangave 2001, hlm. 16.
- ↑ "Ron Barnette, a Bright-OMNISCIENCE AND FREEDOM". Valdosta.edu. 1999-09-16. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-04-22. Diakses tanggal 2013-04-25.
- ↑ "Purtill on Fatalism and Truth". Faith and Philosophy: 229–234. 1990.
- ↑ Viney, Donald Wayne (Spring 1989). "Does Omniscience Imply Foreknowledge? Craig on Hartshorneby". Process Studies. 18 (1): 30–37. doi:10.5840/process198918130. S2CID 170638788. Diarsipkan dari asli tanggal 2 November 2011. Diakses tanggal 5 October 2011.
- ↑ "Foreknowledge and Free Will". The Internet Encyclopedia of Philosophy. 12 June 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 30 April 2018. Diakses tanggal 3 May 2018.
- ↑ Swartz, Norman (5 March 2011). "'The' Modal Fallacy". Simon Fraser University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 August 2017. Diakses tanggal 3 May 2018.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Sangave, Vilas Adinath (2001), Aspects of Jaina religion (Edisi 3), Bharatiya Jnanpith, ISBN 978-81-263-0626-8
- Mehta, Mohan Lal (1954), Outlines of Jaina Philosophy, Jain Mission Society (Original- the University of Michigan)[pranala nonaktif permanen]
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Inggris) Entri Omniscience di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- Omniscience and Divine Foreknowledge article in the Internet Encyclopedia of Philosophy
- Is God All-Knowing?