Laki-laki

Laki-laki atau pria adalah orang dewasa berjenis kelamin laki-laki dalam spesies manusia.[a][2][3] Sebelum mencapai masa kedewasaan, seorang manusia jantan yang masih anak-anak atau remaja disebut sebagai anak laki-laki.
Sebagaimana mamalia jantan lainnya, genom seorang laki-laki umumnya mewarisi satu kromosom X dari ibu dan satu kromosom Y dari ayah. Diferensiasi seks pada janin laki-laki dikendalikan oleh gen SRY yang terletak pada kromosom Y. Selama masa pubertas, hormon yang menstimulasi produksi androgen memicu perkembangan ciri kelamin sekunder yang mempertegas perbedaan antarjenis kelamin. Hal ini mencakup massa otot yang lebih besar, tinggi badan yang lebih menjulang, pertumbuhan rambut wajah, serta komposisi lemak tubuh yang lebih rendah. Anatomi laki-laki dibedakan dari anatomi perempuan melalui sistem reproduksi laki-laki, yang meliputi testis, saluran sperma, kelenjar prostat, epididimis, dan penis. Karakteristik seks sekunder lainnya mencakup struktur panggul dan pinggul yang lebih sempit, serta payudara dan puting yang lebih kecil.
Sepanjang sejarah manusia, peran gender tradisional kerap menentukan ruang gerak dan peluang bagi laki-laki. Laki-laki sering kali menghadapi wajib militer atau diarahkan ke profesi dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Berbagai doktrin keagamaan menetapkan aturan khusus bagi laki-laki, seperti sirkumsisi keagamaan. Dalam ranah sosial, laki-laki memiliki representasi yang tinggi baik sebagai pelaku maupun korban kekerasan.
Pria trans memiliki identitas gender yang tidak selaras dengan penentuan seks perempuan saat lahir, sementara laki-laki interseks mungkin memiliki karakteristik seks yang tidak sesuai dengan gagasan tipikal biologi jantan.
Etimologi
Istilah bahasa Inggris "man" diturunkan dari akar Proto-Indo-Eropa *man- (lihat bahasa Sanskerta/Avesta manu-, Slavia mǫž "pria, jantan").[4] Secara lebih langsung, kata ini berasal dari Bahasa Inggris Kuno mann. Bentuk Inggris Kuno tersebut utamanya bermakna "orang" atau "insan" dan merujuk pada laki-laki, perempuan, maupun anak-anak secara setara. Kata dalam bahasa Inggris Kuno untuk "laki-laki" sebagai pembeda dari "wif"/"perempuan" atau anak-anak adalah wer. Istilah Mann baru mulai bermakna khusus "laki-laki" pada era bahasa Inggris Pertengahan, menggantikan wer, yang kini hanya bertahan dalam kata majemuk "werewolf" (dari bahasa Inggris Kuno werwulf, secara harfiah "manusia-serigala"), dan "wergild", yang secara harfiah berarti "pembayaran tebusan nyawa".[5][6][7]
Biologi

Pada manusia, sel sperma membawa salah satu dari kromosom seks X atau Y. Apabila sel sperma yang membawa Kromosom Y membuahi sel telur perempuan, maka keturunannya akan memiliki kariotipe laki-laki (XY). Gen SRY umumnya ditemukan pada kromosom Y dan memicu perkembangan testis, yang pada gilirannya mengendalikan aspek-aspek lain dari diferensiasi seks laki-laki. Proses diferensiasi seks pada laki-laki berlangsung dengan bergantung pada keberadaan testis, sementara diferensiasi perempuan tidak bergantung pada gonad.[8]
Karakteristik seks primer (atau organ seks) merupakan ciri-ciri yang telah ada sejak lahir dan merupakan bagian integral dari proses reproduksi. Bagi laki-laki, ciri-ciri seks primer mencakup penis dan testis.
Manusia dewasa menunjukkan dimorfisme seksual pada berbagai karakteristik lainnya, yang banyak di antaranya tidak memiliki hubungan langsung dengan kemampuan reproduksi. Manusia bersifat dimorfik secara seksual dalam ukuran, struktur, dan komposisi tubuh. Laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada perempuan; dengan penyesuaian terhadap tinggi badan, laki-laki cenderung memiliki massa otot dan massa tulang yang lebih besar, serta massa lemak yang lebih rendah dibandingkan perempuan.[9]

Ciri kelamin sekunder adalah fitur-fitur yang muncul selama masa pubertas pada manusia.[10][11] Fitur-fitur tersebut tampak nyata pada sifat fenotipe yang menunjukkan dimorfisme seksual untuk membedakan antarjenis kelamin, namun—berbeda dengan ciri kelamin primer—fitur ini bukan merupakan bagian langsung dari sistem reproduksi.[12][13][14] Karakteristik seksual sekunder yang spesifik pada laki-laki meliputi:
- Bahu yang lebih lebar;[15]
- Peningkatan rambut tubuh;
- Laring yang membesar (juga dikenal sebagai jakun);[15] serta
- Suara yang secara signifikan lebih berat dibandingkan suara anak-anak atau perempuan.[13]
Laki-laki memiliki bobot yang lebih berat daripada perempuan.[16] Secara rata-rata, laki-laki sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan perempuan.[16] Laki-laki umumnya memiliki ukuran pinggang yang lebih besar dibandingkan pinggul mereka (lihat rasio pinggang-pinggul) daripada perempuan. Pada perempuan, jari telunjuk dan jari manis cenderung memiliki ukuran yang serupa atau jari telunjuk sedikit lebih panjang, sedangkan pada laki-laki, jari manis cenderung lebih panjang.[17]
Sistem reproduksi

Genitalia internal laki-laki terdiri dari testis yang memproduksi sperma, kelenjar aksesori yang menghasilkan cairan semen, epididimis yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sel sperma, serta vas deferens dan duktus ejakulatorius yang menyalurkan sperma matang menuju uretra.
Genitalia eksternal laki-laki meliputi penis dan skrotum, yakni kantong kulit yang melindungi testis.[18]
Sel-sel sperma diejakulasikan dalam bentuk air mani melalui penis dan memasuki saluran reproduksi perempuan melalui vagina. Sperma yang bergerak dari vagina ke uterus dapat memasuki tuba falopi dan membuahi (fertilisasi) sel telur, yang kemudian berkembang menjadi embrio. Bidang ilmu yang mempelajari reproduksi laki-laki dan organ-organ terkait disebut andrologi.[19]
Testosteron menstimulasi perkembangan duktus Wolffian, penis, dan penutupan lipatan labioskrotal menjadi skrotum. Hormon penting lainnya dalam diferensiasi seksual adalah hormon anti-Müllerian, yang menghambat perkembangan duktus Müllerian. Bagi laki-laki selama masa pubertas, testosteron bersama dengan gonadotropin yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari, menstimulasi proses spermatogenesis.[20]
Kesehatan
| Bagian dari seri tentang |
| Kekerasan terhadap pria |
|---|
| Isu |
| Pembunuhan |
| Kekerasan seksual dan pemerkosaan |
| Topik terkait |
Meskipun mayoritas disparitas gender dalam kesehatan global cenderung memberatkan perempuan, terdapat situasi di mana laki-laki justru berada pada posisi yang lebih buruk. Salah satu contohnya adalah konflik bersenjata, di mana laki-laki sering kali menjadi korban langsung. Sebuah studi mengenai konflik di 13 negara dari tahun 1955 hingga 2002 menemukan bahwa 81% dari seluruh kematian akibat kekerasan perang adalah laki-laki.[21] Selain konflik bersenjata, wilayah dengan insidensi kekerasan yang tinggi, seperti daerah yang dikuasai oleh kartel narkoba, juga mencatat tingkat mortalitas laki-laki yang lebih tinggi.[22] Hal ini berakar pada konstruksi sosial yang mengasosiasikan idealisme maskulinitas dengan perilaku agresif dan konfrontatif.[23] Selain itu, perubahan lingkungan ekonomi yang drastis serta hilangnya jaring pengaman sosial, khususnya subsidi sosial dan bantuan pangan, juga dikaitkan dengan tingginya tingkat konsumsi alkohol dan stres psikologis di kalangan laki-laki, yang memicu lonjakan angka kematian. Fenomena ini terjadi karena situasi tersebut menyulitkan laki-laki untuk menafkahi keluarga, sebuah peran yang telah lama dianggap sebagai "inti dari maskulinitas."[24] Analisis retrospektif terhadap orang-orang yang terinfeksi pilek umum menemukan bahwa dokter cenderung meremehkan gejala pada laki-laki dan lebih bersedia mengatribusikan gejala serta penyakit pada perempuan dibandingkan pada laki-laki.[25] Perempuan memiliki harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan laki-laki di seluruh negara dan di semua kelompok umur yang memiliki catatan tepercaya.[26] Di Amerika Serikat, laki-laki memiliki tingkat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan perempuan di seluruh strata sosial. Laki-laki non-kulit putih memiliki kondisi kesehatan yang sangat buruk. Laki-laki mendominasi pekerjaan-pekerjaan berbahaya dan merupakan mayoritas dari kasus kematian saat bekerja. Lebih lanjut, dokter memberikan layanan dan saran medis yang lebih sedikit, serta menghabiskan waktu yang lebih singkat dengan laki-laki dibandingkan dengan perempuan dalam setiap pertemuan medis.[27]
Seksualitas

Seksualitas dan orientasi ketertarikan laki-laki bervariasi antarindividu, di mana perilaku seksual seorang laki-laki dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk predisposisi evolusioner, kepribadian, pengasuhan, dan budaya. Meskipun sebagian besar laki-laki adalah heteroseksual, terdapat minoritas yang signifikan yang merupakan homoseksual atau biseksual.[28]
Identitas seks atau gender
Sebagian besar kebudayaan menerapkan biner gender di mana laki-laki merupakan salah satu dari dua gender yang ada, dengan gender lainnya adalah perempuan.[29][30][31]
Mayoritas laki-laki bersifat cisgender, di mana identitas gender mereka selaras dengan penentuan seks laki-laki saat mereka lahir. Pria trans memiliki identitas gender laki-laki yang tidak selaras dengan penentuan seks perempuan saat lahir, dan mungkin menjalani terapi penggantian hormon maskulinisasi dan/atau operasi penentuan ulang seks.[32] Laki-laki interseks mungkin memiliki karakteristik seks yang tidak sesuai dengan gagasan umum mengenai biologi jantan.[33] Sebuah tinjauan sistematis pada tahun 2016 memperkirakan bahwa 0,256% orang mengidentifikasi diri sebagai transgender dari-perempuan-ke-laki-laki.[34] Sebuah survei tahun 2017 terhadap 80.929 siswa di Minnesota menemukan bahwa remaja yang ditetapkan sebagai perempuan saat lahir mengidentifikasi diri sebagai transgender dengan jumlah kira-kira dua kali lebih banyak dibandingkan remaja dengan penentuan seks laki-laki.[35]
Peran sosial
Maskulinitas

Maskulinitas (terkadang disebut pula sebagai kejantanan atau sifat kelaki-lakian) adalah sekumpulan sifat kepribadian dan atribut yang dikaitkan dengan anak laki-laki dan pria dewasa. Kejantanan merupakan perwujudan dari kualitas yang dianggap berkaitan dengan maskulinitas yang matang; hal ini berhubungan dengan masa kedewasaan dan dapat dibedakan dari masa kanak-kanak. Meskipun maskulinitas terbentuk secara konstruksi sosial,[36] sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa perilaku yang dianggap maskulin dipengaruhi secara biologis.[37] Sejauh mana maskulinitas dipengaruhi secara biologis atau sosial masih menjadi subjek perdebatan.[37] Hal ini berbeda dari definisi seks biologis jantan, karena baik laki-laki maupun perempuan dapat menunjukkan sifat-sifat maskulin.[38] Laki-laki umumnya menghadapi stigma sosial karena memiliki sifat feminin, bahkan lebih berat daripada tekanan yang dialami perempuan yang memiliki sifat maskulin.[39] Fenomena ini juga dapat mewujud dalam bentuk homofobia.[40]
Standar kejantanan atau maskulinitas bervariasi di berbagai kebudayaan dan periode sejarah.[41] Walaupun tanda-tanda lahiriah maskulinitas tampak berbeda di tiap budaya, terdapat beberapa aspek umum dalam definisinya lintas budaya. Di seluruh kebudayaan masa lalu, dan masih berlaku di kalangan masyarakat tradisional serta non-Barat, pernikahan merupakan pembeda yang paling umum dan definitif antara masa kanak-kanak dan kedewasaan seorang laki-laki.[42] Pada akhir abad ke-20, beberapa kualitas yang secara tradisional dikaitkan dengan pernikahan (seperti "tiga P": protecting, providing, and procreating—melindungi, menafkahi, dan beranak pinak) masih dianggap sebagai tanda tercapainya kedewasaan laki-laki.[42][43]
Hubungan

Hubungan platonis tidak berbeda secara signifikan antara laki-laki dan perempuan, meskipun terdapat beberapa perbedaan. Pertemanan di kalangan laki-laki cenderung lebih didasarkan pada aktivitas bersama daripada keterbukaan diri dan hubungan emosional yang mendalam. Persepsi mengenai persahabatan antar laki-laki bervariasi tergantung pada budaya dan kurun waktu.[44] Dalam hubungan romantis heteroseksual, laki-laki biasanya diharapkan untuk mengambil peran proaktif, memulai hubungan, merencanakan kencan, dan melamar pernikahan.[45]
Status
Antropologi menunjukkan bahwa maskulinitas itu sendiri memiliki status sosial, selayaknya kekayaan, ras, dan kelas sosial. Di dalam Kebudayaan Barat, sebagai contoh, maskulinitas yang lebih tinggi biasanya mendatangkan status sosial yang lebih besar.[46] Banyak kata dalam bahasa Inggris seperti virtue (kebajikan) dan virile (perkasa) (berasal dari akar kata Indo-Eropa vir yang berarti laki-laki) mencerminkan hal ini.[47][48] Di sebagian besar budaya, hak istimewa laki-laki memberikan pria hak dan previlese yang lebih banyak dibandingkan wanita. Pada masyarakat di mana laki-laki tidak diberikan hak istimewa hukum secara khusus, mereka secara tipikal memegang lebih banyak posisi kekuasaan, dan laki-laki dipandang lebih dihormati secara serius di dalam masyarakat.[46] Hal ini dikaitkan dengan "ketegangan peran gender" di mana laki-laki menghadapi tekanan sosial yang meningkat untuk menyesuaikan diri dengan peran gender mereka.[49]
Sejarah
Nama tertua seorang laki-laki yang diketahui tercatat dalam tulisan kemungkinan adalah Kushim, yang hidup sekitar antara tahun 3400 hingga 3000 SM di kota Sumeria bernama Uruk; meskipun namanya tersebut mungkin merupakan sebuah gelar alih-alih nama aslinya.[50] Nama-nama paling awal yang telah terkonfirmasi adalah Gal-Sal beserta dua budaknya yang bernama En-pap X dan Sukkalgir, dari kurun waktu sekitar ca 3100 SM.[51]
Kebapakan

Laki-laki dapat memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui adopsi; laki-laki tersebut dipanggil sebagai ayah. Peran laki-laki dalam keluarga telah bergeser secara signifikan pada abad ke-20 dan ke-21, dengan mengambil peran yang lebih aktif dalam membesarkan anak di sebagian besar masyarakat.[52][53][54][55] Laki-laki secara tradisional akan menikahi seorang wanita ketika membesarkan anak, namun di masa modern banyak negara sekarang mengizinkan pernikahan sesama jenis, dan bagi pasangan tersebut untuk membesarkan anak baik melalui adopsi maupun ibu pengganti. Laki-laki dapat menjadi orang tua tunggal, dan jumlahnya semakin meningkat di zaman modern, meskipun wanita memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk menjadi orang tua tunggal dibandingkan laki-laki.[56] Dalam masyarakat paternal, laki-laki biasanya dianggap sebagai "kepala keluarga" dan memegang hak istimewa sosial tambahan.[57]
Pekerjaan
Secara tradisional, laki-laki memegang peran dalam berbagai bidang pekerjaan yang dahulu tidak dapat diakses oleh perempuan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut cenderung bersifat lebih menguras tenaga, memiliki prestise yang tinggi, atau lebih berbahaya. Di era modern, laki-laki semakin banyak mengambil jalur karier non-tradisional, seperti menjadi orang tua rumah tangga yang mengasuh anak selagi pasangannya bekerja.[58] Laki-laki modern cenderung memiliki jam kerja yang lebih panjang dibandingkan perempuan, sebuah fenomena yang memengaruhi kemampuan mereka untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.[59] Bahkan di masa kini, beberapa jenis pekerjaan tertentu tetap hanya tersedia bagi laki-laki, seperti dinas militer spesifik.[60] Kebijakan wajib militer secara dominan bersifat diskriminatif; saat ini, hanya sepuluh negara yang menyertakan perempuan dalam program wajib militer mereka.[61][62] Laki-laki terus memegang pekerjaan yang lebih berbahaya dibandingkan perempuan, bahkan di negara-negara maju. Di Amerika Serikat pada tahun 2020, jumlah laki-laki yang meninggal dalam kecelakaan kerja tercatat sepuluh kali lebih banyak daripada perempuan.[63]
Hiburan dan media
Representasi laki-laki dalam media sering kali mereplikasi pemahaman tradisional mengenai maskulinitas. Laki-laki lebih sering ditampilkan di televisi dibandingkan perempuan dan paling umum muncul sebagai pemeran utama dalam program aksi maupun drama. Di dalam pemrograman televisi, laki-laki biasanya digambarkan lebih aktif dan memegang kekuasaan serta status yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Karena dominasinya, laki-laki lebih mungkin menjadi subjek sekaligus pemicu konten yang bersifat humoris maupun merendahkan. Sosok ayah di televisi sering kali dicitrakan antara figur yang ideal dan penuh kasih sayang, atau justru sosok yang kikuk dan tidak kompeten. Dalam dunia periklanan, laki-laki tampil secara tidak proporsional dalam iklan minuman beralkohol, kendaraan, dan produk-produk bisnis.[64]
Busana
Busana laki-laki umumnya mencakup beragam jenis pakaian yang dirancang untuk berbagai kesempatan, musim, dan gaya. Elemen fundamental dalam lemari pakaian seorang laki-laki meliputi kemeja, celana panjang, setelan jas, dan jaket, yang dirancang untuk memberikan kenyamanan sekaligus gaya dengan memprioritaskan fungsionalitas. Mode laki-laki juga mencakup pakaian yang lebih kasual seperti kaus, sweter, jin, celana pendek, dan pakaian renang, yang biasanya ditujukan untuk situasi informal. Tradisi budaya dan regional sering kali memengaruhi mode laki-laki, yang menghasilkan keragaman gaya dan jenis pakaian yang mencerminkan karakteristik dari berbagai belahan dunia.[65]
Pendidikan

Laki-laki secara tradisional menerima pendidikan yang lebih banyak dibandingkan perempuan sebagai konsekuensi dari sistem pendidikan satu jenis kelamin. Pendidikan universal, yang berarti pendidikan dasar dan menengah yang disediakan oleh negara tanpa memandang gender, belum menjadi norma global sepenuhnya, meskipun hal ini telah dianggap lazim di sebagian besar negara maju.[66][67] Pada abad ke-21, keseimbangan tersebut telah bergeser di banyak negara maju, di mana laki-laki kini mulai tertinggal dari perempuan dalam pencapaian pendidikan.[68]
Laki-laki memiliki kemungkinan yang lebih besar dibandingkan perempuan untuk menjadi anggota fakultas atau dosen di universitas.[69]
Pada tahun 2020, 90% laki-laki di dunia telah melek huruf, dibandingkan dengan 87% perempuan. Namun, wilayah Afrika sub-Sahara dan Asia Barat Daya masih tertinggal dibandingkan wilayah dunia lainnya; tercatat hanya 72% laki-laki di Afrika sub-Sahara yang melek huruf.[70]
Hak
Dalam sebagian besar masyarakat, laki-laki memiliki hak hukum dan budaya yang lebih besar dibandingkan perempuan,[46] serta fenomena misogini jauh lebih lazim ditemukan dibandingkan misandria dalam tatanan sosial.[71][72] Namun, terdapat pengecualian terhadap generalisasi ini. Meskipun satu dari enam laki-laki mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak,[73][74][75] laki-laki biasanya menerima dukungan yang lebih sedikit setelah menjadi korban,[76] dan pemerkosaan terhadap laki-laki sering kali mendapatkan stigma negatif.[77] Kekerasan dalam rumah tangga terhadap laki-laki pun mengalami stigmatisasi serupa,[78] meskipun laki-laki mencakup setengah dari total korban dalam pasangan heteroseksual.[79][80][81] Para penentang sirkumsisi atau khitan mendeskripsikannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia.[82] Gerakan hak-hak ayah berupaya mendukung para ayah yang berpisah dan tidak menerima hak yang setara dalam mengasuh anak-anak mereka.[83] Gerakan laki-laki merupakan respons terhadap berbagai isu yang dihadapi laki-laki di negara-negara Barat, mencakup kelompok pro-feminis seperti gerakan pembebasan laki-laki,[84] hingga kelompok anti-feminis seperti manosfer.
Simbol gender
Simbol Mars (♂) adalah simbol umum yang merepresentasikan seks jantan atau laki-laki.[85] Simbol ini identik dengan simbol astronomis planet Mars.[86] Simbol ini pertama kali digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin oleh Carl Linnaeus pada tahun 1751.[87] Simbol tersebut terkadang dipandang sebagai representasi gaya dari perisai dan tombak milik dewa Romawi, Mars. Namun, menurut Stearn, derivasi tersebut bersifat "imajinatif" dan seluruh bukti sejarah justru mendukung "kesimpulan cendekiawan klasik Prancis, Claude de Saumaise" bahwa simbol itu berasal dari θρ, kontraksi dari epitet Yunani untuk Mars, yaitu θοῦρος (Thouros).[88]
Lihat pula
Catatan
Referensi
- ↑ "Male". Merriam-Webster Dictionary.
- ↑ "Meaning of "man" in English". dictionary.cambridge.org (dalam bahasa Inggris). Kamus Cambridge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 January 2023. Diakses tanggal 18 August 2021.
- ↑ "Definition of "man"". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 March 2023. Diakses tanggal 18 August 2021.
- ↑ American Heritage Dictionary, Appendix I: Indo-European Roots. man-1 Diarsipkan 19 May 2006 di Wayback Machine.. Diakses pada 22 Juli 2007.
- ↑ Rauer, Christine (Januari 2017). "Mann and Gender in Old English Prose: A Pilot Study". Neophilologus. 101 (1): 139–158. doi:10.1007/s11061-016-9489-1. hdl:10023/8978. S2CID 55817181.
- ↑ "Etymology, origin and meaning of man". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 August 2020. Diakses tanggal 2023-03-14.
- ↑ "Etymology, origin and meaning of wergeld". www.etymonline.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 June 2022. Diakses tanggal 2022-06-05.
- ↑ Rey, Rodolfo; Josso, Nathalie; Racine, Chrystèle (2000). "Sexual Differentiation". Endotext. MDText.com, Inc. PMID 25905232. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 August 2022. Diakses tanggal 6 December 2021.
Irrespective of their chromosomal constitution, when the gonadal primordia differentiate into testes, all internal and external genitalia develop following the male pathway. When no testes are present, the genitalia develop along the female pathway. The existence of ovaries has no effect on fetal differentiation of the genitalia. The paramount importance of testicular differentiation for fetal sex development has prompted the use of the expression "sex determination" to refer to the differentiation of the bipotential or primitive gonads into testes.
- ↑ Wells, Jonathan C. K. (2007-09-01). "Sexual dimorphism of body composition". Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism. Normal and Abnormal Sex Development (dalam bahasa Inggris). 21 (3): 415–430. doi:10.1016/j.beem.2007.04.007. ISSN 1521-690X. PMID 17875489.
- ↑ Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, Kronenberg HM (2011). Williams Textbook of Endocrinology E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 1054. ISBN 978-1-4377-3600-7.
- ↑ Pack PE (2016). CliffsNotes AP Biology (Edisi 5th). Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 219. ISBN 978-0-544-78417-8.
- ↑ Bjorklund DF, Blasi CH (2011). Child and Adolescent Development: An Integrated Approach. Cengage Learning. hlm. 152–153. ISBN 978-1-133-16837-9.
- 1 2 "Primary & Secondary Sexual Characteristics". Sciencing.com. 30 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 August 2020. Diakses tanggal 13 October 2019.
- ↑ Encyclopedia of Reproduction. Elsevier Science. 2018. hlm. 103. ISBN 978-0-12-815145-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 January 2023. Diakses tanggal 13 October 2019.
- 1 2 Berger, Kathleen Stassen (2005). The Developing Person Through the Life Span. Worth Publishers. hlm. 349. ISBN 978-0-7167-5706-1.
- 1 2 Robert-McComb, Jacalyn; Norman, Reid L.; Zumwalt, Mimi (2014). The Active Female: Health Issues Throughout the Lifespan. Springer Science+Business Media. hlm. 223–238. ISBN 978-1-4614-8884-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 19 November 2022.
- ↑ Halpern, Diane F. (2013). Sex Differences in Cognitive Abilities (Edisi 4th). Psychology Press. hlm. 188. ISBN 978-1-136-72283-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 19 November 2022.
- ↑ "Definition of Male genitalia". MedicineNet. Diarsipkan dari asli tanggal 6 November 2020. Diakses tanggal 13 October 2019.
- ↑ Clement, Pierre; Giuliano, François (2015). "Anatomy and physiology of genital organs – men". Neurology of Sexual and Bladder Disorders. Handbook of Clinical Neurology. Vol. 130. hlm. 19–37. doi:10.1016/B978-0-444-63247-0.00003-1. ISBN 978-0-444-63247-0. ISSN 0072-9752. PMID 26003237.
- ↑ Goodman, H. Maurice (2009). Basic Medical Endocrinology (Edisi 4th). Elsevier. hlm. 239–256. ISBN 978-0-12-373975-9.
- ↑ The World Bank (2012). World Development Report 2012: Gender Equality and Development (Report). Washington, DC: The World Bank.
- ↑ "Homicide Trends in the United States, 1980–2008" Diarsipkan 20 November 2019 di Wayback Machine. United States Department of Justice (2010) p. 10
- ↑ Márquez, Patricia (1999). The Street Is My Home: Youth and Violence in Caracas. Stanford, CA: Stanford University Press.
- ↑ Brainerd, Elizabeth; Cutler, David (2005). "Autopsy on an Empire: Understanding Mortality in Russia and the Former Soviet Union". The Journal of Economic Perspectives. 19 (1). Ann Arbor, MI: William Davidson Institute: 107–30. doi:10.1257/0895330053147921. hdl:10419/20771. JSTOR 4134995.
- ↑ Sue, Kyle (2017). "The science behind 'man flu.'" (PDF). BMJ. 359 j5560. doi:10.1136/bmj.j5560. PMID 29229663. S2CID 3381640. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 December 2017. Diakses tanggal 11 January 2018.
- ↑ Austad, S.N.A; Bartke, A.A. (2016). "Sex Differences in Longevity and in Responses to Anti-Aging Interventions: A Mini-Review". Gerontology. 62 (1): 40–46. doi:10.1159/000381472. PMID 25968226. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 October 2021. Diakses tanggal 31 May 2022.
- ↑ Williams, David R. (May 2003). "The Health of Men: Structured Inequalities and Opportunities". Am J Public Health. 93 (5): 724–731. doi:10.2105/ajph.93.5.724. PMC 1447828. PMID 12721133.
- ↑ Bailey, J. Michael; Vasey, Paul; Diamond, Lisa; Breedlove, S. Marc; Vilain, Eric; Epprecht, Marc (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (2): 45–101. doi:10.1177/1529100616637616. PMID 27113562. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 December 2019. Diakses tanggal 21 December 2019.
- ↑ Kevin L. Nadal, The Sage Encyclopedia of Psychology and Gender (2017, ISBN 978-1-4833-8427-6), p. 401: "Most cultures currently construct their societies based on the understanding of gender binary—the two gender categorizations (male and female). Such societies divide their population based on biological sex assigned to individuals at birth to begin the process of gender socialization."
- ↑ Sigelman, Carol K.; Rider, Elizabeth A. (2017). Life-Span Human Development (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. hlm. 385. ISBN 978-1-337-51606-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 July 2023. Diakses tanggal 4 August 2021.
- ↑ Maddux, James E.; Winstead, Barbara A. (2019). Psychopathology: Foundations for a Contemporary Understanding (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-64787-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 July 2023. Diakses tanggal 4 August 2021.
- ↑ "what are Answers to Your Questions About Transgender Individuals and Gender Identity". APA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 26 January 2015.
- ↑ "What is Intersex? Frequently Asked Questions". interACT: Advocates for Intersex Youth (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 December 2020. Diakses tanggal 2022-12-15.
- ↑ Collin, Lindsay; Reisner, Sari L.; Tangpricha, Vin; Goodman, Michael (2016). "Prevalence of Transgender Depends on the "Case" Definition: A Systematic Review". The Journal of Sexual Medicine (dalam bahasa Inggris). 13 (4): 613–626. doi:10.1016/j.jsxm.2016.02.001. PMC 4823815. PMID 27045261.
- ↑ Goodman, Michael; Adams, Noah; Corneil, Trevor; Kreukels, Baudewijntje; Motmans, Joz; Coleman, Eli (1 June 2019). "Size and Distribution of Transgender and Gender Nonconforming Populations: A Narrative Review". Endocrinology and Metabolism Clinics of North America. Transgender Medicine (dalam bahasa Inggris). 48 (2): 303–321. doi:10.1016/j.ecl.2019.01.001. ISSN 0889-8529. PMID 31027541. S2CID 135439779.
- ↑ Shehan, Constance L. (2018). Gale Researcher Guide for: The Continuing Significance of Gender (dalam bahasa Inggris). Gale, Cengage Learning. hlm. 1–5. ISBN 978-1-5358-6117-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 25 December 2019.
- 1 2 Sitasi sosial vs biologis:
- Shehan, Constance L. (2018). Gale Researcher Guide for: The Continuing Significance of Gender (dalam bahasa Inggris). Gale, Cengage Learning. hlm. 1–5. ISBN 978-1-5358-6117-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 25 December 2019.
- Martin, Hale; Finn, Stephen E. (2010). Masculinity and Femininity in the MMPI-2 and MMPI-A. University of Minnesota Press. hlm. 5–13. ISBN 978-0-8166-2444-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 27 May 2021.
- Lippa, Richard A. (2005). Gender, Nature, and Nurture (Edisi 2nd). Routledge. hlm. 153–154, 218–225. ISBN 978-1-135-60425-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 27 May 2021.
- Wharton, Amy S. (2005). The Sociology of Gender: An Introduction to Theory and Research. John Wiley & Sons. hlm. 29–31. ISBN 978-1-4051-4343-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 27 May 2021.
- ↑ Jantan vs Maskulin/Feminin:
- Ferrante, Joan (2010). Sociology: A Global Perspective (Edisi 7th). Belmont, CA: Thomson Wadsworth. hlm. 269–272. ISBN 978-0-8400-3204-1.
- "What do we mean by 'sex' and 'gender'?". Organisasi Kesehatan Dunia. Diarsipkan dari asli tanggal 8 September 2014.
- Halberstam, Judith (2004). "'Female masculinity'". Dalam Kimmel, Michael S.; Aronson, Amy (ed.). Men and Masculinities: A Social, Cultural, and Historical Encyclopedia, Volume 1. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 294–295. ISBN 978-1-57607-774-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 25 December 2019.
- ↑ Helgeson 2017, hlm. 33–34.
- ↑ Helgeson 2017, hlm. 146–149.
- ↑ Kimmel, Michael S.; Aronson, Amy, ed. (2004). Men and Masculinities: A Social, Cultural, and Historical Encyclopedia, Volume 1. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. xxiii. ISBN 978-1-57607-774-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 30 May 2019.
- 1 2 Arnett, Jeffrey Jensen (1998). "Learning to Stand Alone: The Contemporary American Transition to Adulthood in Cultural and Historical Context". Human Development (dalam bahasa Inggris). 41 (5–6): 295–315. doi:10.1159/000022591. ISSN 0018-716X. S2CID 143862036. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2018. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ Gilmore, David D. (1990). Manhood in the Making: Cultural Concepts of Masculinity (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. hlm. 48. ISBN 0-300-05076-3.
- ↑ Helgeson 2017, hlm. 494–499.
- ↑ Helgeson 2017, hlm. 571–574.
- 1 2 3 Helgeson 2017, hlm. 45–48.
- ↑ "Virtue (2009)". Merriam-Webster Online Dictionary. 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2009. Diakses tanggal 8 June 2009.
- ↑ "Virile (2009)". Merriam-Webster Online Dictionary. 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2009. Diakses tanggal 8 June 2009.
- ↑ Helgeson 2017, hlm. 119–121.
- ↑ Harari, Yuval Noah (2014). "Signed, Kushim". Sapiens: Riwayat Singkat Manusia (Edisi Signal paperback). Penguin Random House Canada. hlm. 123. ISBN 978-0-7710-8351-8.
- ↑ "Who's the First Person in History Whose Name We Know?". Science (dalam bahasa Inggris). 2015-08-19. Diarsipkan dari asli tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ University of California, Irvine (September 28, 2016). "Today's parents spend more time with their kids than moms and dads did 50 years ago". Science Daily. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2020. Diakses tanggal November 3, 2020.
- ↑ Livingston, Gretchen; Parker, Kim (19 June 2019). "8 facts about American dads". Pew Research Center (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 2022-02-02.
- ↑ Blamires, Diana; Kirkham, Sophie (17 August 2005). "Fathers play greater role in childcare". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 2022-02-02.
- ↑ Huerta, Maria C.; Adema, Willem; Baxter, Jennifer; Han, Wen-Jui; Lausten, Mette; Lee, RaeHyuck; Waldfogel, Jane (16 December 2014). "Fathers' Leave and Fathers' Involvement: Evidence from Four OECD Countries". European Journal of Social Security. 16 (4): 308–346. doi:10.1177/138826271401600403. ISSN 1388-2627. PMC 5415087. PMID 28479865.
- ↑ "The Single-Parent Family | Psychology Today". www.psychologytoday.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ Bell, Kenton (2014-12-25). "head of household definition | Open Education Sociology Dictionary" (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 10 March 2023.
- ↑ Heppner, Mary J.; Heppner, P. Paul (September 2009). "On Men and Work: Taking the Road Less Traveled". Journal of Career Development (dalam bahasa Inggris). 36 (1): 49–67. doi:10.1177/0894845309340789. ISSN 0894-8453. S2CID 145053662. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 10 March 2023.
- ↑ Williams, Joan C. (2013-05-29). "Why Men Work So Many Hours". Harvard Business Review. ISSN 0017-8012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ Micheletti, Alberto (2018-08-18). "Why is warfare almost exclusively male?". ThePrint (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ Goldstein, Joshua S. (2003). "War and Gender: Men's War Roles – Boyhood and Coming of Age" Diarsipkan 31 July 2023 di Wayback Machine.. In Ember, Carol R.; Ember, Melvin Encyclopedia of Sex and Gender: Men and Women in the World's Cultures. Volume 1. Springer. p. 108. ISBN 978-0-306-47770-6. Diakses pada 25 April 2015.
- ↑ Persson, Alma; Sundevall, Fia (2019-03-22). "Conscripting women: gender, soldiering, and military service in Sweden 1965–2018". Women's History Review. 28 (7): 1039–1056. doi:10.1080/09612025.2019.1596542. ISSN 0961-2025.
- ↑ DeVore, Chuck. "Fatal Employment: Men 10 Times More Likely Than Women To Be Killed At Work". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ Fejes, Fred J. (1992). "Considering Men and the Media". Dalam Craig, Steve (ed.). Masculinity as Fact: A Review of Empirical Mass Communication Research on Masculinity. SAGE Publications. hlm. 9–22. ISBN 978-0-8039-4163-2.
- ↑ Karlen, Josh; Sulavik, Christopher (1999). The Indispensable Guide to Classic Men's Clothing (dalam bahasa Inggris). Tatra Press. ISBN 978-0-9661847-1-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 April 2023. Diakses tanggal 7 March 2023.
- ↑ "Historical summary of faculty, students, degrees, and finances in degree-granting institutions: Selected years, 1869–70 through 2005–06". Nces.ed.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2017. Diakses tanggal 2014-08-22.
- ↑ Eisenhart, A. Margaret; Finkel, Elizabeth (2001). Women (Still) Need Not Apply:The Gender and Science Reader. New York: Routledge. hlm. 13–23.
- ↑ Directorate-General for Education, Youth; ECORYS; Staring, François; Donlevy, Vicki; Day, Laurie; Georgallis, Marianna; Broughton, Andrea (2021). Study on gender behaviour and its impact on education outcomes (with a special focus on the performance of boys and young men in education): final report. LU: Publications Office of the European Union. doi:10.2766/509505. ISBN 978-92-76-40249-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2023. Diakses tanggal 10 March 2023.
- ↑ Brainard, Susanne G.; Carlin, Linda (2001). A six-year Longitudinal Study of Undergraduate Women in Engineering and Science:The Gender and Science Reader. New York: Routledge. hlm. 24–37.
- ↑ "This is how much global literacy has changed over 200 years". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). 12 September 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 March 2023. Diakses tanggal 2023-03-10.
- ↑ Ouellette, Marc (2007). "Misandry". Dalam Flood, Michael; et al. (ed.). International Encyclopedia of Men and Masculinities. Abingdon; New York: Routledge. hlm. 442–443. ISBN 978-0-415-33343-6.
- ↑ Gilmore, David D. (2010). Misogyny: The Male Malady. University of Pennsylvania Press. hlm. 12–13. ISBN 978-0-8122-0032-4.
- ↑ Briere, John; Elliott, Diana M. (2003). "Prevalence and psychological sequelae of self-reported childhood physical and sexual abuse in a general population sample of men and women". Child Abuse & Neglect. 27 (10): 1205–1222. doi:10.1016/j.chiabu.2003.09.008. PMID 14602100.
- ↑ Holmes, W. C.; Slap, G. B. (1998). "Sexual abuse of boys: Definition, prevalence, correlates, sequelae, and management". Journal of the American Medical Association. 280 (21): 1855–1862. doi:10.1001/jama.280.21.1855. PMID 9846781.
- ↑ Finkelhor, David; Hotaling, Gerald; Lewis, I.A; Smith, Christine (1990). "Sexual abuse in a national survey of adult men and women: Prevalence, characteristics, and risk factors". Child Abuse & Neglect. 14 (1): 19–28. doi:10.1016/0145-2134(90)90077-7. PMID 2310970.
- ↑ Mouthaan, Solange (2013). "Sexual Violence against Men and International Law – Criminalising the Unmentionable". International Criminal Law Review. 13 (3): 665–695. doi:10.1163/15718123-01303004.
- ↑ Rabin, Roni Caryn (23 January 2012). "Men Struggle for Rape Awareness". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 October 2021. Diakses tanggal 30 November 2013.
- ↑ Migliaccio, Todd A. (Winter 2001). "Marginalizing the Battered Male". The Journal of Men's Studies. 9 (2): 205–226. doi:10.3149/jms.0902.205. S2CID 145293675. (perlu berlangganan)
- ↑ Williams, J. R.; Ghandour, R. M.; Kub, J. E. (October 2008). "Female perpetration of violence in heterosexual intimate relationships: adolescence through adulthood". Trauma Violence Abuse. 9 (4): 227–49. doi:10.1177/1524838008324418. PMC 2663360. PMID 18936281.
- ↑ Archer, John (2004). "Sex Differences in Aggression in Real-World Settings: A Meta-Analytic Review". Review of General Psychology. 8 (4): 291–322. doi:10.1037/1089-2680.8.4.291.
- ↑ "The National Intimate Partner and Sexual Violence Survey 2016/2017" (PDF). Report on Intimate. Centers for Disease Control and Prevention.
- ↑ Jacobs, Allan J.; Arora, Kavita Shah (2015-02-01). "Ritual Male Infant Circumcision and Human Rights". The American Journal of Bioethics. 15 (2): 30–39. doi:10.1080/15265161.2014.990162. ISSN 1526-5161. PMID 25674955. S2CID 6581063.
- ↑ Flood, Michael (2012-12-01). "Separated fathers and the 'fathers' rights' movement". Journal of Family Studies. 18 (2–3): 235–345. doi:10.5172/jfs.2012.18.2-3.235. ISSN 1322-9400. S2CID 55469150.
- ↑ Where does Men's Liberation Come From?, 27 October 2022
- ↑ Schott, G D (24 December 2005). "Sex symbols ancient and modern: their origins and iconography on the pedigree". BMJ: British Medical Journal. 331 (7531): 1509–1510. doi:10.1136/bmj.331.7531.1509. ISSN 0959-8138. PMC 1322246. PMID 16373733.
- ↑ "Solar System Symbols". NASA Solar System Exploration. 30 January 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 December 2021. Diakses tanggal 18 August 2021.
- ↑ Stearn, William T. (May 1962). "The Origin of the Male and Female Symbols of Biology" (PDF). Taxon. 11 (4): 109–113. Bibcode:1962Taxon..11..109S. doi:10.2307/1217734. ISSN 0040-0262. JSTOR 1217734. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 May 2023. Diakses tanggal 16 August 2022.
Their first biological use is in the Linnaean dissertation Plantae hybridae xxx sistit J. J. Haartman (1751) where in discussing hybrid plants Linnaeus denoted the supposed female parent species by the sign ♀, the male parent by the sign ♂, the hybrid by ☿: 'matrem signo ♀, patrem ♂ & plantam hybridam ☿ designavero'. In subsequent publications he retained the signs ♀ and ♂ for male and female individuals but discarded ☿ for hybrids.
- ↑ Stearn, William T. (1962). "The Origin of the Male and Female Symbols of Biology". Taxon. 11 (4): 109–113. Bibcode:1962Taxon..11..109S. doi:10.2307/1217734. ISSN 0040-0262. JSTOR 1217734. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2023. Diakses tanggal 18 August 2021.
Bibliografi
- Helgeson, Vicki S. (2017). Psychology of Gender (Edisi 5th). Routledge. ISBN 978-1-138-18687-3.
Bacaan lanjutan
- Andrew Perchuk, Simon Watney, bell hooks, The Masculine Masquerade: Masculinity and Representation, MIT Press, 1995.
- Pierre Bourdieu, Masculine Domination, Edisi Sampul Kertas, Stanford University Press, 2001.
- Robert W. Connell, Masculinities, Cambridge: Polity Press, 1995.
- Warren Farrell, The Myth of Male Power, Berkley Trade, 1993. ISBN 0-425-18144-8.
- Michael Kimmel (ed.), Robert W. Connell (ed.), Jeff Hearn (ed.), Handbook of Studies on Men and Masculinities, Sage Publications, 2004.