Lompat ke isi

Umamah binti Abi al-Ash

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Infobox orangUmamah binti Abi al-Ash
Image
Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
KelahiranMakkah Suntingan nilai di Wikidata
Kematian686 Suntingan nilai di Wikidata
Jeddah Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
KeluargaAhlulbait Suntingan nilai di Wikidata
Pasangan nikahAli bin Abi Thalib
Al-Mughirah bin Naufal Suntingan nilai di Wikidata
AnakMuhammad al-Ausath bin Ali
 (Image Ali bin Abi Thalib) Suntingan nilai di Wikidata
Orang tuaAbu al-Ash bin ar-Rabi' Suntingan nilai di Wikidata, Zainab binti Muhammad Suntingan nilai di Wikidata
SaudaraAli bin Abi al-Ash Suntingan nilai di Wikidata

Umamah binti Abi al-'Ash bin ar-Rabi' (bahasa Arab: أمامة بنت أبي العاص بن الربيع) adalah cucu perempuan Nabi Islam Muhammad dan ia dicatatkan sebagai salah satu Sahabat Nabi. Ia terlahir dari Abu al-Ash bin ar-Rabi' dan Zainab, putri tertua Muhammad.[1][2]

Dalam hadits riwayat Ahmad, Aisyah menuturkan bahwa suatu kali diberikan kepada Muhammad sebuah hadiah berupa kalung yang bertahtakan sejenis batu akik lalu beliau mengatakan,"Aku akan memberikannya kepada orang yang paling kusayangi di antara keluargaku." Istri-istri Nabi yang lain mengatakan, "Pasti hadiah itu akan diperoleh oleh cucu Abu Quhafah (yakni Aisyah)."[3]

Namun, ternyata ia memanggil Umamah binti Zainab dan mengalungkannya di leher Umamah. Di antara sikap kasih sayang Nabi terhadap Umamah adalah ketika pada suatu hari Nabi. lebih mengutamakan menjaga perasaan Umamah daripada menjaga keterlampauan khusyu dalam shalat.

Abu Qatadah berkata, "Suatu hari Nabi datang kepada kami yang telah berkumpul di dalam masjid sambil menggendong Umamah bintu Abil-' Ash di atas pundak beliau. Kemudian beliau shalat bersama kami. Pada saat beliau ruku, beliau meletakkan Umamah; dan pada saat beliau bangkit, beliau meng-gendongnya kembali."[3]

Karena rasa sayangnya terhadap Umamah, maka pada saat ia ruku atau sujud, ia takut Umamah terjatuh. Maka, Muhammad meletakkan Umamah di lantai dan menggendongnya kembali pada saat beliau bangkit sebab ia khawatir Umamah merasa takut berpisah dengannya dan tidak sabar duduk di lantai.

Setelah Fatimah az-Zahra meninggal dunia pada 632, Umamah dinikahi Ali bin Abi Thalib.[1][2] Mereka mempunyai seorang putra yang bernama Muhammad al-Ausath.[4] Umamah meninggal pada 670 (50 AH).[5]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Muhammad ibn Saad. Kitab al-Tabaqat al-Kabir vol. 8. Translated by Bewley, A. (1995). The Women of Madina, pp. 27-28, 163-164. London: Ta-Ha Publishers.
  2. 1 2 Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Tarikh al-Rusul wa'l-Muluk. Translated by Landau-Tasseron, E. (1998). Volume 39: Biographies of the Prophet's Companions and Their Successors, pp. 13, 162. Albany: State University of New York Press.
  3. 1 2 Tharsyah, Adnan (2006). Yang Disenangi Nabi saw. dan Yang Tak Disukai. Gema Insani. hlm. 581. ISBN 978-979-560-113-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Muhammad ibn Saad. Kitab al-Tabaqat al-Kabir vol. 3. Translated by Bewley, A. (2013). The Companions of Badr, p. 12. London: Ta-Ha Publishers.
  5. Lammens, H. (1912). Fatima et les Filles de Mahomet, p. 127. Rome: Sumptibus Pontificii Instituti Biblici.