Lompat ke isi

Paus Gelasius II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gelasius II
Uskup Roma
Image
Gambar anumerta Gelasius II, abad ke-16
GerejaGereja Katolik
Awal masa kepausan
24 Januari 1118
Akhir masa kepausan
29 Januari 1119
PendahuluPaskalis II
PenerusKalistus II
Imamat
Tahbisan imam
9 Maret 1118
Tahbisan uskup
10 Maret 1118
Pelantikan kardinal
September 1088
oleh Urbanus II
PeringkatKardinal Diakon (1088 - 1118)
Informasi pribadi
Nama lahirGiovanni Caetani
Lahir1060–64
Gaeta, Kadipaten Gaeta
Meninggal29 Januari 1119
Cluny, Kadipaten Burgundy, Kerajaan Prancis
Jabatan sebelumnya
Paus lainnya yang bernama Gelasius

Paus Gelasius II (c. 1060/1064 – 29 Januari 1119), lahir Giovanni Caetani atau Giovanni da Gaeta (juga disebut Coniulo),[1] adalah kepala Gereja Katolik dan penguasa Negara Kepausan dari tanggal 24 Januari 1118 hingga kematiannya pada tahun 1119. Seorang biarawan dari Monte Cassino dan kanselir Paus Paskalis II, Caetani terpilih secara bulat untuk menggantikannya. Dengan melakukan hal itu, ia juga mewarisi konflik dengan Kaisar Henry V mengenai investitur. Gelasius menghabiskan sebagian besar masa kepausannya yang singkat di pengasingan.

Kehidupan Awal

[sunting | sunting sumber]

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang masa muda Giovanni Coniulo, selain bahwa ia berasal dari keluarga terpandang di wilayah Gaeta, sebuah daerah di Italia tengah. Ia masuk ke dunia gereja pada usia muda dan menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang teologi dan administrasi gerejawi. Sebelum menjadi paus, ia telah menduduki posisi penting dalam struktur Gereja Katolik.

Nama "Coniulo" yang melekat padanya sering disebutkan dalam berbagai sumber sejarah, meskipun ada juga yang menyebutnya sebagai "Caetani", kemungkinan karena hubungannya dengan keluarga bangsawan tersebut. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa ia memiliki hubungan langsung dengan keluarga Caetani yang terkenal.

Masa Kepausan

[sunting | sunting sumber]

Giovanni Coniulo terpilih sebagai paus pada 24 Januari 1118 setelah pendahulunya, Paus Paskalis II, meninggal dunia. Pemilihan ini dilakukan oleh para kardinal di bawah ancaman politik yang sangat besar, terutama dari Kaisar Heinrich V, yang saat itu sedang berselisih dengan Gereja Katolik mengenai hak investitura—yaitu hak untuk menunjuk pejabat gereja seperti uskup dan abbas.

Konflik dengan Kaisar Heinrich V

[sunting | sunting sumber]

Salah satu tantangan terbesar selama masa kepemimpinan Gelasius II adalah konflik dengan Kaisar Heinrich V. Heinrich V, yang merupakan penerus garis keras dari ayahnya Heinrich IV, menentang keras otoritas Gereja dalam urusan penunjukan pejabat gereja. Konflik ini mencapai puncaknya ketika Heinrich V menyerbu Roma hanya beberapa bulan setelah Gelasius II terpilih sebagai paus.

Pada Februari 1118, Heinrich V berhasil menangkap Gelasius II di Roma. Meskipun demikian, Gelasius II berhasil melarikan diri dari penahanan dan mencari perlindungan di wilayah Gaeta, tempat kelahirannya. Dalam pelariannya, ia tetap menjalankan tugas-tugas kepausannya, termasuk mengeluarkan ekskomunikasi terhadap Heinrich V sebagai bentuk protes terhadap tindakan sewenang-wenang sang kaisar.

Pengasingan di Cluny

[sunting | sunting sumber]

Setelah melarikan diri dari Heinrich V, Gelasius II akhirnya menemukan perlindungan di Biara Cluny, Prancis. Di sana, ia tinggal hingga akhir hayatnya. Meskipun masa kepemimpinannya sangat singkat, Gelasius II tetap berusaha mempertahankan integritas Gereja Katolik di tengah tekanan politik yang luar biasa.

Wafat dan Warisan

[sunting | sunting sumber]

Paus Gelasius II meninggal dunia pada 29 Januari 1119 di Biara Cluny, Prancis, tepat setahun setelah ia terpilih sebagai paus. Ia dimakamkan di biara yang sama, yang menjadi salah satu pusat spiritualitas Kristen paling penting pada masanya. Meskipun masa kepemimpinannya singkat, Gelasius II diingat sebagai figur yang teguh dalam mempertahankan prinsip-prinsip Gereja di tengah badai politik.

Warisan utama Gelasius II adalah sikapnya yang tegas terhadap campur tangan kekuasaan sekuler dalam urusan gereja. Sikap ini menjadi fondasi bagi perjuangan Gereja Katolik dalam mempertahankan independensinya selama berabad-abad setelahnya.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Pham, John-Peter (2004). Heirs of the Fisherman. Oxford University Press. hlm. 12. ISBN 9780195178340.