Lompat ke isi

Daftar tokoh dalam Mahabharata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Image
Sebuah lukisan miniatur abad ke-19 yang menggambarkan episode Cīraharaṇa (Pelucutan pakaian) Dropadi, menampilkan tokoh-tokoh penting (Pandawa, Dropadi, Korawa dan sekutu utama mereka) di istana Kuru.

Mahabharata adalah salah satu epos atau wiracarita agung (Itihasa) India kuno berbahasa Sanskerta yang disusun oleh Byasa (Veda-vyasa). Inti dari wiracarita ini adalah perseteruan antara Pandawa dan Korawa. Tokoh-tokoh utamanya meliputi lima bersaudara Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa bersama istri mereka, Dropadi), seratus bersaudara Korawa (dipimpin oleh si sulung, Duryodana), serta tokoh-tokoh legenda Hindu lainnya, meliputi Kresna, Bisma, Drona, Karna, Kunti, Krepa, Dretarastra, Gandari, Sangkuni, Aswatama, Baladewa, Subadra, Byasa, Abimanyu, Pandu, Satyawati, dan lain-lain.

Kepustakaan

[sunting | sunting sumber]

Secara tradisional, naskah Mahabharata terhimpun dalam 18 bagian (parwa) yang disebut Astadasaparwa. Naskah Mahabharata terdapat dalam berbagai versi, dengan variasi detail tokoh dan episode, seringkali memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Pengecualian ada pada episode yang mengandung Bhagawadgita, konsisten di berbagai versi naskah, sedangkan episode lainnya tersedia dalam banyak variasi.[1]

Perbedaan antara versi [India] Utara dan [India] Selatan sangat signifikan, dengan jumlah naskah Selatan yang lebih banyak dan lebih panjang. Naskah yang ditemukan di Utara dan India Selatan memiliki "perbedaan besar" dalam detail, meskipun esensinya serupa. Para ahli telah mencoba untuk menyusun sebuah edisi kritis, yang sebagian besar didasarkan pada kajian manuskrip Mahabharata edisi Bombay, edisi Poona, edisi Calcutta, dan edisi India Selatan. Versi yang paling diterima adalah versi yang disiapkan oleh para ahli yang dipimpin oleh Vishnu Sukthankar di Institut Penelitian Oriental Bhandarkar, yang disimpan di Universitas Kyoto, Universitas Cambridge, dan berbagai universitas di India.[2][3]

Daftar ini mengikuti Edisi Kritis Mahabharata, tetapi dapat pula menampilkan tokoh yang eksklusif untuk versi tertentu (kecuali versi cerita rakyat). Beberapa informasi tokoh-tokoh tertentu ditambahkan dari kitab-kitab Purana apabila tidak terperinci dalam Mahabharata.

Abimanyu (अभिमन्यु Abhimanyu) adalah seorang kesatria, putra Arjuna dan Subadra, suami bagi Utari, dan ayah Parikesit. Menurut Adiparwa, dia merupakan reinkarnasi dari Warcasa, putra Dewa Candra. Dikisahkan bahwa dia gugur dalam Perang Kurukshetra akibat terkurung dalam formasi Cakrabyuha yang dirancang Drona.

Adirata (अधिरथ Adhiratha) adalah ayah angkat Karna. Menurut Bhagawatapurana, Adirata adalah keturunan Yayati sehingga memiliki hubungan kekerabatan dengan Kresna. Dia juga merupakan keturunan Romapada,[4] raja Anga yang merupakan saudara ipar Sigra, raja Ayodhya keturunan Dasarata. Istrinya adalah Radha dan putra kandung mereka adalah Satrunjaya dan Citrasena.

Adrika (अद्रिका Adrikā) adalah seorang apsara (bidadari) yang dikutuk menjadi ikan dan hanya akan terbebas dari kutukannya apabila melahirkan manusia. Sebagai ikan, Adrika tinggal di sungai Yamuna. Suatu ketika, ia menelan air mani Raja Uparicarabasu lalu hamil. Setelah 10 bulan, beberapa nelayan menangkapnya, membedah rahimnya dan menemukan dua anak (Matsyaganda dan Matsya). Setelah kejadian itu, Adrika terbebas dari kutukannya dan kembali ke surga.

Agastya (अगस्त्य) adalah seorang resi masyhur dalam agama Hindu. Dalam Mahabharata, perannya tidak berpengaruh dalam plot utama, dan diceritakan dalam kisah berbingkai. Dalam Wanaparwa, dikisahkan beberapa legenda tentang Agastya, seperti kutukannya terhadap pegunungan Windhya, pembantaian raksasa, serta kisah pernikahannya dengan Lopamudra.

Agni (अग्नि) adalah dewa api dalam agama Hindu. Ia beberapa kali muncul dalam wiracarita Mahabharata, terutama saat episode pembakaran hutan Kandhawa (bakal kota Indraprastha). Atas permintaan Agni, Dewa Baruna menganugerahkan busur panah bernama Gandiwa dan kantong anak panah yang tak pernah habis kepada Arjuna. Menjelang kisah perjalanan terakhir Pandawa dalam kitab Mahaprasthanikaparwa, Agni menagih senjata itu kembali, untuk dikembalikan kepada Baruna.

Ajamida (अजमीढ Ajamīḍha) adalah seorang raja dari Wangsa Paurawa, keturunan Bharata, leluhur Pandawa dan Korawa. Dalam Anusasanaparwa, dia disebut sebagai raja yang menyelenggarakan banyak upacara agama, dan bergelar yang utama di antara seluruh manusia bajik.[5] Kadangkala nama "Ajamida" juga disematkan kepada beberapa tokoh Dinasti Kuru (keturunan Ajamida) yang masyhur akan kebajikannya, seperti Yudistira dan Widura.[6]

Akertawrana

[sunting | sunting sumber]

Akertawrana (अकृतव्रण Akṛtavraṇa) adalah seorang brahmana, murid sekaligus pengikut setia Parasurama. Dia muncul dalam kisah konflik antara Parasurama dan Bisma. Perannya menonjol ketika putri Amba datang berkeluh kesah kepada Parasurama, setelah ditolak oleh Bisma. Akertawrana membantu menyampaikan keluhan Amba dan mendorong Parasurama untuk membela kehormatan sang putri, dengan cara memaksa Bisma menikahi Amba.

Akrura (अक्रुर) adalah seorang kesatria bangsa Yadawa, keturunan Yadu. Menurut Purana, dia merupakan putra Swapalka dan Gandini, bangsawan Yadawa dari klan Wresni. Di lingkungan bangsa Yadawa, dia merupakan salah satu panglima perang. Dalam Mahabharata, namanya disebut beberapa kali bersama dengan kesatria Yadawa terkemuka lainnya seperti Balarama dan Satyaki. Kisahnya terperinci dalam Hariwangsa dan Bhagawatapurana.

Alambusa (अलम्बुष Alambuṣa) adalah seorang raksasa, putra Resyasrengga. Dalam perang Kurukshetra, dia berpihak kepada Korawa. Dia mengalahkan Irawan―putra Arjuna dan Ulupi―dengan menggunakan teknik ilusi atau maya. Kemudian Alambusa dikalahkan oleh Gatotkaca sebagai pembalasan dendam atas kematian Irawan.[7]

Alarka (अलर्क) adalah seorang raja yang bersuluk. Kisahnya muncul dalam Aswamedhaparwa. Diceritakan bahwa awalnya Alarka hidup dalam kenikmatan duniawi. Namun seiring waktu, ia mulai menyadari bahwa semua itu bersifat sementara dan tidak memberikan kepuasan sejati. Kegelisahan batin muncul, mendorongnya untuk mencari makna hidup yang lebih dalam. Dalam pencariannya, Alarka beralih dari kehidupan duniawi menuju jalan pengendalian diri. Alarka menjadi simbol transformasi dari raja duniawi menjadi pencari kebenaran spiritual.[8]

Alayuda (अलायुध Alāyudha) adalah seorang raksasa dan merupakan teman Alambusa. Dia memihak Korawa dalam Perang Kurukshetra. Akhir riwayatnya dikisahkan bahwa dia dan Alambusa dibunuh oleh Gatotkaca putra Bima saat serangan malam pada perang Kurukshetra hari ke-14.

Amba (अम्बा Ambā) adalah putri Raja Kasi. Kisahnya terutama diceritakan dalam Adiparwa dan Udyogaparwa. Dikisahkan bahwa dia ingin menikah dengan Raja Salwa, tetapi rencana itu gagal akibat Bisma yang memaksa untuk memboyong para putri Kasi ke Hastinapura. Amba pun bersumpah untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Setelah meninggal, dia bereinkarnasi sebagai Srikandi, putri Raja Drupada.

Ambalika (अम्बालिका Ambālikā) adalah putri Raja Kasi. Dia diboyong oleh Bisma ke Hastinapura untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Namun tak berapa lama, Wicitrawirya wafat tanpa meninggalkan keturunan. Atas bantuan Resi Byasa yang melakukan niyoga, Ambalika memperoleh putra yang diberi nama Pandu.

Ambarisa (अम्बरीष Ambarīṣa) adalah seorang raja dari Dinasti Surya, keturunan Ikswaku. Dalam Mahabharata, Ambarisa tidak diceritakan secara panjang dan dramatis seperti dalam Purana, melainkan muncul secara singkat sebagai bagian dari daftar raja-raja agung.[9] Dalam Santiparwa, tokoh Ambarisa muncul sebagai contoh raja ideal dalam ceramah Bisma kepada Yudistira. Kisah Ambarisa digunakan sebagai model etika kepemimpinan, yang menjadi acuan Yudistira dalam memahami bagaimana seharusnya seorang raja memerintah setelah perang.[10]

Ambika (अम्बिका Ambikā) adalah putri Raja Kasi, dan saudari bagi Amba dan Ambalika. Dia termasuk para putri Kasi yang diboyong oleh Bisma untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Setelah ditinggal wafat tanpa keturunan, Ambika mengikuti ritual niyoga yang diatur Resi Byasa, lalu memperoleh putra yang diberi nama Dretarastra.

Pelayan Ambika

[sunting | sunting sumber]

Pelayan Ambika adalah wanita yang dikirim untuk memperoleh keturunan dari Resi Byasa. Dikisahkan bahwa putra Ambika dan Ambalika tidak lahir dalam fisik yang sempurna, maka ibu suri Satyawati menitahkan salah satu dari mereka untuk menghadap Byasa sekali lagi demi memperoleh keturunan. Tiada satu pun dari mereka yang bersedia, sehingga mereka mengutus pelayan Ambika untuk menghadap sang resi. Pelayan tersebut melahirkan putra yang diberi nama Widura.

Amitauja (अमितौजा Amitaujā) adalah kesatria tangguh yang berasal dari Kerajaan Pancala. Dalam Adiparwa, dituturkan bahwa dia merupakan penitisan asura Ketumat. Dia merupakan salah satu kesatria bergelar maharatha yang bersekutu dengan Pandawa dalam Perang Kurukshetra.[11]

Animandaya

[sunting | sunting sumber]

Animandaya (अणिमाण्डव्य Aṇimāṇḍavya) adalah seorang brahmana yang memiliki kekebalan tubuh. Tokoh ini tercatat dalam Adiparwa. Menurut kisah, Animandaya menganggap bahwa nasib buruk yang menimpa dirinya tidaklah adil, sehingga ia memprotes dan mengutuk Batara Darma (Dewa Yama atau dewa keadilan) yang bertugas menentukan kejadian baik dan buruk yang dialami semua makhluk di dunia. Akhirnya dewa kejujuran, keadilan, dan kebenaran itu harus menjalani hidup sebagai manusia biasa bernama Widura yang dilahirkan oleh wanita berdarah sudra.[12][13]

Aniruda (अनिरुद्ध Aniruddha) adalah seorang kesatria Yadawa, cucu Kresna, putra Pradyumna. Dalam Mahabharata, dia sering disebut secara kolektif bersama para kesatria Yadawa lainnya. Riwayatnya diceritakan secara rinci dalam Bhagawatapurana. Dalam Mosalaparwa, dia disebut sebagai salah satu korban bentrok kaum Yadawa. Sementara itu, dalam kitab Santiparwa, nama "Aniruddha" merujuk pada satu dari empat aspek atau manifestasi Wisnu (Kresna), yang dikenal sebagai sistem emanasi empat aspek (wyūha) menurut tradisi Waisnawa.[14]

Anu (अनु) adalah salah satu putra Raja Yayati, leluhur Pandawa dan Korawa. Dikisahkan bahwa Yayati berselingkuh dengan budak istrinya, sehingga dia dikutuk oleh mertuanya agar tua sebelum waktunya. Namun kutukan tersebut dapat dilimpahkan kepada salah satu putranya. Empat dari lima putranya menolak, termasuk Anu. Akhirnya Anu dan para saudaranya (selain Puru) tidak berhak mendapat warisan ayahnya.

Arjuna (अर्जुन) adalah pangeran Dinasti Kuru, putra ketiga Pandu dan Kunti. Dia merupakan salah satu anggota lima Pandawa. Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa dia merupakan salah satu kesatria yang ulung dalam menggunakan senjata panah. Dia merupakan murid kesayangan Drona, dan teman dekat sekaligus sepupu Kresna, pangeran bangsa Yadawa. Dia merupakan figur utama dalam naskah Bhagawadgita yang terkandung dalam Bhismaparwa.

Aruna (अरुण Aruṇa) adalah kakak Garuda, putra Dewi Winata. Kisahnya muncul dalam Adiparwa, bagian yang mengisahkan sejarah keturunan Resi Kasyapa. Diceritakan bahwa Kasyapa memberikan telur kepada Kadru dan Winata―masing-masing berjumlah seribu dan dua butir―yang kelak akan menjadi anak-anak mereka. Setelah telur-telur yang dijaga Kadru menetas, maka Winata pun memecahkan sebutir telur yang dijaganya karena tidak mau kalah dari saingannya tersebut. Makhluk yang keluar dari telur itu bernama Aruna. Namun karena ditetaskan sebelum waktunya, Aruna mengutuk Winata agar kelak diperbudak oleh saingannya (Kadru).[15] Kemudian, telur Winata yang satunya lagi menetas tepat pada waktunya, dan menghasilkan Garuda.[16]

Aruni (आरुणि Āruṇi) adalah nama seorang brahmana. Dia dikisahkan dalam sebuah cerita berbingkai pada bagian awal Adiparwa sebagai murid Ayoda-domya. Dikisahkan bahwa Ayoda-domya menugaskan Arunika untuk mengurus ladang. Saat tanggul pematang jebol, Arunika merebahkan diri untuk membendungnya. Ayoda-Domya terkesan dengan perbuatannya dan memberkatinya, serta memberinya gelar Uddalaka.[17]

Astawasu (अष्टवसु Aṣṭavasu; arti: Delapan Wasu) adalah kelompok makhluk surgawi. Mereka dikutuk untuk lahir sebagai manusia karena berusaha mencuri sapi milik Resi Wasista. Para Wasu sangat menyesal dan memohon pengampunan sehingga Wasista kemudian meringankan kutukan itu: tujuh dari mereka hanya akan hidup sebentar di dunia manusia, tetapi yang menjadi pelaku utama harus menjalani kehidupan manusia yang panjang dan penuh beban. Akhirnya mereka lahir sebagai putra Dewi Gangga dan Raja Santanu. Di antara mereka, anak kedelapan—yang merupakan Wasu pelaku utama—adalah Bisma.

Aswapati (अश्वपति Aśvapati) merupakan penguasa kerajaan Madra dalam kisah berbingkai yang menceritakan Satyawan dan Sawitri. Dia ayah Sawitri.

Aswin (अश्विन् Aśvin) adalah dewa kembar yang bergelar sebagai tabib para dewa dan ahli kuda. Dikisahkan bahwa mereka dipanggil oleh Madri, istri Raja Pandu, yang menginginkan keturunan. Akhirnya mereka berdua menitis kepada Nakula dan Sadewa, putra kembar Pandu dan Madri.

Aswatama (अश्वत्थामा Aśvatthāmā) adalah seorang brahmana, putra Drona dan Krepi. Dia merupakan keponakan Krepa dan belajar bersama-sama dengan para pangeran Kuru di Hastinapura. Setelah dewasa, dia menguasai sebagian wilayah kerajaan Pancala yang direbut oleh Drona. Dalam Perang Kurukshetra yang berlangsung selama 18 hari, dia merupakan salah satu kesatria Korawa yang mampu bertahan hidup sampai hari terakhir. Dikisahkan bahwa dia dikutuk oleh Kresna agar tetap hidup mengembara di dunia sampai akhir zaman Kaliyuga.

Astika (आस्तीक Āstīka) adalah seorang brahmana, putra Jaratkaru dan Manasa, dewi ular. Tokoh ini memegang peran penting dalam kisah Sarpahoma atau upacara pengorbanan ular yang dilakukan Raja Janamejaya, sebagaimana tercatat dalam bagian awal Adiparwa. Berkat usahanya, upacara tersebut digagalkan, sehingga para kerabatnya (bangsa ular dan naga) tidak punah dari muka Bumi. Kegagalan upacara tersebut akhirnya dikompensasi dengan penuturan kisah para leluhur Raja Janamejaya.

Ayu atau Ayus (आयुस् Āyus) adalah seorang raja, putra Pururawa dan bidadari Urwasi. Dia termasuk salah satu leluhur Dinasti Candra yang menurunkan para raja Hastinapura, termasuk Santanu dan keturunannya. Dia menikah dengan Praba, seorang asura, putri Swarbanu (dalam versi lain disebut Swarbanawi). Dia memiliki putra bernama Nahusa, yang kemudian menggantikannya sebagai raja.[18]

Ayodadomya

[sunting | sunting sumber]

Ayodadomya (अयोधधौम्य Āyodhadhaumya, atau Domya saja) adalah seorang brahmana yang berasal dari kerajaan Awanti. Kisahnya tercatat dalam bagian awal Adiparwa yang bertajuk Pausyaparwa. Dikisahkan bahwa dia memiliki tiga murid: Aruni, Upamanyu, dan Weda. Dia memiliki nama yang sama dengan brahmana yang menjadi pendamping dan penasihat para Pandawa.

Babruwahana

[sunting | sunting sumber]

Babruwahana (बभ्रुवाहन Babhruvāhana) adalah putra Arjuna dan Citranggada dari Manalura (atau Manipura). Dia tidak terlibat dalam Perang Kurukshetra, tetapi memegang peran penting dalam kisah Aswamedha pascaperang, sebagaimana tercatat dalam Aswamedhaparwa. Dalam kisah tersebut, dia terpaksa bertikai dengan Arjuna, yang tidak dia ketahui sebagai ayah kandungnya. Dia membunuh Arjuna dalam suatu pertempuran, tetapi Arjuna hidup kembali berkat bantuan Ulupi. Akhirnya mereka berekonsiliasi.

Badra dan Madira

[sunting | sunting sumber]

Badra (भद्रा Bhadrā) dan Madira (मदिरा Madirā) merupakan istri Basudewa yang ke-3 dan ke-4. Mereka merupakan putri Giribanu (Sumuka) dan Padmawati (Pataladewi), dan kakak bagi Yasoda. Putra Badra ialah Upanidi, Gada, dan Kesi. Sedangkan putra Madira bernama Nanda, Upananda, Kertaka, dan Sura. Dalam Mosalaparwa dikisahkan bahwa setelah tawuran sesama Yadawa berakhir, Basudewa mangkat. Badra dan Madira melakukan sati, menyusul suami mereka.

Badrakali

[sunting | sunting sumber]

Badrakali (भद्रकाली Bhadrakālī) adalah salah satu dewi dalam agama Hindu. Dia merupakan salah satu aspek sakti yang berwujud menyeramkan. Dikisahkan bahwa dia muncul bersama Wirabadra untuk mengobrak-abrik Daksayadnya. Namanya juga tercatat dalam Salyaparwa, sebagai salah satu pengikut dewa perang Kartikeya.[19]

Bagadata (भगदत्त Bhagadatta) adalah penguasa Kerajaan Pragjyotisha. Dia merupakan putra Narakasura, yang terlahir dari tubuh asura Baskala.[20] Ketika Arjuna melakukan ekspedisi untuk mengukuhkan upacara rajasuya Yudistira, Bagadata merupakan salah satu raja yang mula-mula ditaklukkan.[21] Bagadata dikenal sebagai kesatria yang mahir mengendalikan gajah perang.[22] Gajah tunggangannya bernama Supratika, yang dia pakai saat memihak Korawa dalam Perang Kurukshetra. Dia gugur di tangan Arjuna, kemudian takhtanya diteruskan oleh putranya, Bajradata.[23]

Bahlika (बाह्लिक Bāhlika) adalah penguasa Bahlika. Dia merupakan putra kedua Pratipa, dan kakak bagi Santanu, sehingga menjadi paman bagi Bisma. Bahlika merupakan salah satu sesepuh dalam Dinasti Kuru dan kerap menghadiri sejumlah acara sebelum Perang Kurukshetra dimulai. Dalam perang, dia memihak Korawa dan menjadi salah satu kesatria sepuh dalam peristiwa tersebut.

Bajra (वज्रदत्त Vajra) adalah seorang pangeran bangsa Yadawa, putra Aniruda. Setelah sebagian besar pria bangsa Yadawa tewas akibat bentrok dengan sesamanya, Bajra diangkat sebagai Raja Indraprastha atas permohonan Kresna, sebelum Pandawa bersuluk ke Gunung Sumeru (Prasthanikaparwa).

Bakasura (बकासुर Bakāsura) atau Baka adalah nama seorang raksasa. Kisahkan tercatat dalam Adiparwa, himpunan awal Mahabharata. Dikisahkan bahwa setelah lolos dari kebakaran Laksagreha, para Pandawa tinggal sementara di suatu desa yang diteror Bakasura. Di sana, penduduk membuat perjanjian bahwa mereka akan mengirimkan makanan sebanyak satu kereta setiap minggu untuk disantap sang raksasa, termasuk pengantar makanan tersebut yang dipilih secara berbeda setiap minggunya.[24] Untuk melepaskan teror Bakasura, Bima membunuhnya dengan menyamar menjadi relawan pengantar makanan.[25]

Balandara

[sunting | sunting sumber]

Balandara (बलन्धरा Balandharā; kadang dieja Walandara) adalah putri dari Kerajaan Kasi, putri Raja Deweha. Dia merupakan salah satu istri Bima. Putranya bernama Sarwaga, yang diangkat menjadi raja Kasi setelah Perang Kurukshetra. Cucu Sarvaga yang bernama Wapustama menikahi Janamejaya (cicit Arjuna) dan memiliki dua putra: Satanika dan Sahasranika.[26]

Baladewa (Balarama)

[sunting | sunting sumber]

Baladewa (बलदेव Baladeva) atau Balarama (बलराम Balarāma) adalah kakak Kresna, bangsawan Yadawa.[27] Dia merupakan putra Basudewa dan Rohini. Dia dikenal sebagai kesatria yang menggunakan bajak atau tenggala sebagai senjata.[28][29] Selain itu dia juga mahir menggunakan senjata gada, dan merupakan guru bagi Duryodana dan Bima.

Banusena (भानुसेन Bhānusena) adalah salah satu putra Karna. Dia merupakan kesatria yang mahir menggunakan senjata gada. Dalam Perang Kurukshetra yang berlangsung selama 18 hari, dia memihak Korawa. Pada hari ke-16, Banusena bertarung melawan Bima. Bima menyerang Banusena dengan 10 anak panah, dan menggunakan anak panah yang berujung lebar untuk memenggal leher Banusena.[30]

Baruna (वरुण Varuṇa) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu. Dia muncul beberapa kali dalam episode-episode Mahabharata. Dalam bagian Adiparwa yang mengisahkan pembakaran hutan Khandawa, Baruna memberi anugerah kepada Arjuna berupa busur Gandiwa, tabung anak panah yang tak bisa habis, dan kereta perang berpanji Hanoman. Kemudian dalam Prasthanikaparwa dikisahkan bahwa Arjuna mengembalikan Gandiwa kepada Baruna.[31][32]

Untuk kelompok makhluk surgawi, lihat: Astawasu. Untuk nama raja, lihat: Uparicarabasu.

Basudewa (वसुदेव Vasudeva) alias Anakadundubi (आनकदुंदुभि Ānakaduṅdubhi) adalah ayah Baladewa, Kresna, dan Subadra. Menurut Purana, dia merupakan putra Raja Surasena dari kaum Yadawa. Menurut kisah Mahabharata, dia adalah kakak Kunti, ibu para Pandawa dari Hastinapura. Basudewa menikahi Dewaki, adik sepupu Kangsa dari Mathura.

Basuki (वासुकि Vāsuki) adalah seekor naga, putra Resi Kasyapa dan Dewi Kadru. Dia memiliki ribuan saudara, yang terkemuka di antaranya ialah Sesa, Taksaka, dan Manasa. Kisahnya muncul sebagai cerita berbingkai dalam Adiparwa, pada bagian yang menceritakan asal-usul para naga, legenda Samudramantana (pengadukan Lautan Susu), dan perjodohan Jaratkaru.[33]

Bayu (वायु Vāyu) adalah salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu yang bergelar sebagai dewa angin. Dalam Adiparwa, dia merupakan dewa kedua yang dipanggil oleh Kunti untuk memperoleh keturunan. Akhirnya sang dewa memberikan seorang putra  yang diberi nama Bima  dan menganugerahkan kekuatan adimanusia kepadanya sejak lahir.

Bharadwaja

[sunting | sunting sumber]

Bharadwaja (भरद्वाज Bharadvāja) adalah seorang brahmana yang tergolong ke dalam Sapteresi, tujuh resi agung dalam agama Hindu.[34] Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa Raja Bharata mengangkat Bharadwaja sebagai putranya. Bharadwaja menikahi seorang wanita kesatria bernama Susila. Menurut Bhagawatapurana, Bharadwaja memiliki putra bernama Bumanyu, sedangkan Mahabharata menyatakan bahwa Bumanyu diperoleh melalui yadnya.

Bharata (भरत Bharata) adalah seorang kesatria dari Dinasti Candra (Candrawangsa) dan menyandang gelar Chakravarti (Penguasa Dunia).[35] Dia merupakan leluhur para raja Kuru dan Magadha. Menurut Adiparwa, dia merupakan putra Duswanta dan Sakuntala.[36]

Bima (भीम Bhīma) atau Bhimasena (भीमसेन Bhīmasena) adalah salah satu anggota lima Pandawa. Dia merupakan putra kedua pasangan Pandu dan Kunti, yang dibantu oleh Dewa Bayu, dengan anugerah kekuatan adimanusia sejak lahir. Dia kerap bersitegang dengan para Korawa―terutama Duryodana―yang akhirnya memuncak dalam Perang Kurukshetra. Dalam perang tersebut, Bima membunuh seratus Korawa bersaudara.[37]

Bima dari Widarbha

[sunting | sunting sumber]

Bima (भीम Bhīma) adalah nama Raja Widarbha. Dia dikisahkan dalam cerita berbingkai tentang Nala dan Damayanti yang tercatat dalam Wanaparwa. Dalam kisah tersebut, Bima merupakan ayah Damayanti.

Bisma (भीष्म Bhīṣma) adalah negarawan dan panglima kerajaan Kuru. Dia merupakan putra kedelapan dari pasangan Raja Santanu dan Dewi Gangga. Bisma tidak memiliki keturunan karena bersumpah untuk hidup membujang selamanya. Meskipun demikian, dia memiliki keponakan dan cucu-cucu keturunan dari saudaranya. Tokoh ini dikenal sebagai sesepuh Dinasti Kuru, dan disegani karena kebijaksanaan, keberanian, dan kemahirannya. Saat Perang Kurukshetra meletus, dia diangkat sebagai panglima tertinggi.

Bismaka (भीष्मक Bhīṣmaka) adalah penguasa Kerajaan Widarbha dari kalangan Dinasti Bhoja. Dia merupakan ayah bagi Rukma dan Rukmini. Dia merupakan teman Bisma dan sekutu Jarasanda. Dia ditaklukkan oleh Sadewa saat Pandawa meluncurkan kampanye militer ke India Selatan.[38] Kisahnya yang lebih detail terdapat dalam Hariwangsa dan Skandapurana.

Brihadbala

[sunting | sunting sumber]

Brihadrata

[sunting | sunting sumber]

Brihaspati

[sunting | sunting sumber]

Burisrawa

[sunting | sunting sumber]

Burisrawa (भूरिश्रवा Bhūriśravā) adalah pangeran dari Kerajaan Bahlika, putra Bahlika. Dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pandawa dan Korawa, sebab Bahlika merupakan kakak dari Santanu (kakek buyut Pandawa dan Korawa). Dia memiliki hubungan yang tidak baik dengan keluarga Sini, bangsawan Yadawa. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak Korawa. Dia dipenggal oleh Satyaki―keturunan Sini―saat sedang beristirahat dari pertempuran.[39][40]

Byasa (व्यास Vyāsa) adalah resi masyhur dalam agama Hindu. Secara tradisional, dia dikenal sebagai figur yang menulis epos Mahabharata dengan bantuan Ganesa. Sebagian riwayat hidupnya diceritakan dalam Mahabharata. Dalam wiracarita, disebutkan bahwa dia merupakan putra Resi Parasara dan Satyawati. Dia juga berperan penting dalam menjaga kelangsungan takhta Kerajaan Kuru dengan cara melaksanakan upacara niyoga kepada janda Raja Wicitrawirya.

Candakosika

[sunting | sunting sumber]

Candakosika (चण्डकौशिक Caṇḍakauśika) adalah seorang brahmana, putra Kaksiwan, cucu Gautama. Dia membantu Raja Wrehadrata dari Magadha agar memiliki keturunan, dengan cara memberikan buah mangga ajaib untuk dimakan oleh permaisurinya. Akhirnya bantuan Candakosika berhasil sehingga Wrehadrata memiliki putra yang diberi nama Jarasanda. Candakosika tinggal di Kerajaan Magadha sebagai imam agung dan penasihat kerajaan.

Candra adalah dewa bulan dalam kepercayaan Hindu. Dalam Mahabharata, ia merupakan kakek Pururawa, leluhur para kesatria Pandawa dan Korawa, tokoh utama wiracarita tersebut. Maka dari itu, para raja yang berada dalam garis keturunannya disebut Dinasti Candra atau Candrawangsa

Candrawarma

[sunting | sunting sumber]

Candrawarma Kamboja adalah raja pertama bangsa Kamboja yang disebutkan dalam Mahabharata.[41][42][43][44] Dia disebut sebagai pemimpin bangsa Kamboja yang sangat perkasa, disegani, dan sepuh. Dalam Adiparwa, dia dinyatakan sebagai pemimpin yang berwatak asura atau raksasa.[45][46][47] [48]

Citrasena

[sunting | sunting sumber]

Citrasena (चित्रसेन Citrasena) adalah raja gandarwa yang mengajarkan cara menari dan menyanyi kepada Arjuna. Ia tinggal di kahyangan Indra bersama para bidadara dan bidadari. Ia bertempur dengan laskar Duryodana saat para Pandawa menjalani hukuman pengasingan.

Cekitana (चेकितान Cekitāna) adalah seorang kesatria bangsa Yadawa, putra pasangan Raja Drestaketu dan Ratu Srutakirti dari Kerajaan Kekaya. Dia merupakan pemimpin klan Andaka. Dalam Mahabharata, Cekitana dikisahkan sebagai kesatria gagah berani yang pernah bertempur melawan Susarma (Raja Trigarta), Krepa, dan Drona (guru-guru pangeran Kuru). Dia memihak Pandawa dalam Perang Kurukshetra yang berlangsung 18 hari. Pada hari terakhir, dia gugur di tangan Duryodana.

Citra dan Citrasena

[sunting | sunting sumber]

Citra dan Citrasena merupakan kakak beradik sekaligus pemimpin kerajaan Abhisara. Mereka berpihak kepada Korawa saat Perang Kurukshetra berlangsung. Dalam pertempuran hari ke-16, Citra gugur di tangan Pratiwindya (putra Yudistira) sedangkan Citrasena gugur di tangan Srutakarma (putra Arjuna).

Citrangada

[sunting | sunting sumber]

Citranggada (चित्राङ्गद Citrāṅgada) adalah Raja Kuru, putra sulung Santanu dan Satyawati. Dia disebut sebagai kesatria yang tangguh dan mampu menaklukkan para raja mana pun.[49] Namun pemerintahannya tidak berlangsung lama, sebab dia gugur dalam suatu pertempuran melawan seorang gandarwa yang bernama sama dengannya.

Citrangada (gandarwa)

[sunting | sunting sumber]

Citranggada (चित्राङ्गद Citrāṅgada) adalah nama seorang gandarwa (makhluk gaib penghuni kahyangan). Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa dia marah kepada Citranggada putra Santanu karena memiliki nama yang sama. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menyelesaikan konflik dengan pertarungan di tepi sungai Saraswati. Setelah pertempuran berlangsung selama 3 tahun, Citranggada sang gandarwa berhasil membunuh Citranggada putra Santanu.

Citrangada dari Kalinga

[sunting | sunting sumber]

Citranggada (चित्राङ्गद Citrāṅgada) adalah nama Raja Kalinga. Dalam Santiparwa, Resi Narada mengisahkan bahwa putri sang raja (yang disebut Banowati dalam versi cerita rakyat) dipinang oleh pangeran Duryodana dari Hastinapura. Setelah mangkat, takhtanya diteruskan oleh Srutayuda sebab dia tidak memiliki putra.

Citranggada dari Manipura

[sunting | sunting sumber]

Citranggada (चित्राङ्गदा Citrāṅgadā) adalah nama putri Raja Citrawahana dari Manipura (versi lain menyebut Manalura). Dia menikah dengan pangeran Arjuna dari Hastinapura ketika sang pangeran sedang menjalani hukuman pembuangan dengan menjelajahi Bharatawarsha. Citranggada memiliki seorang putra yang diberi nama Babruwahana.

Citrawahana

[sunting | sunting sumber]

Citrawahana (चित्रवाहन Citravāhana) adalah penguasa Manipura (atau Manalura), ayah Citranggada dan mertua Arjuna. Dia bersedia menikahkan putrinya kepada Arjuna dengan syarat bahwa apabila cucunya nanti berjenis kelamin laki-laki, maka dia harus tinggal di Manipura sebagai penerus takhta dan tidak boleh mengikuti ayahnya. Persyaratan itu disanggupi Arjuna. Akhirnya setelah cucunya lahir dan diketahui berjenis kelamin laki-laki, Arjuna pergi meninggalkan Manipura.[50]

Daksa (दक्ष Dakṣa) adalah salah satu Prajapati dalam kepercayaan Hindu. Dia merupakan suami bagi Asikni dan Prasuti, serta ayah bagi puluhan putri. Dalam wiracarita Mahabharata, dia tidak dikisahkan dalam plot utama, melainkan dalam cerita berbingkai. Dalam Mahabharata tercatat bahwa Daksa dan istrinya masing-masing muncul dari jempol kanan dan kiri Brahma, sang dewa pencipta.[51]

Damayanti

[sunting | sunting sumber]

Damayanti (दमयन्ती Damayantī) adalah tokoh dalam cerita berbingkai Nalopakhyana (kisah Nala dan Damayanti) yang disisipkan dalam Wanaparwa, jilid ketiga Mahabharata.[52] Dia merupakan putri Raja Bima, dan istri Raja Nala. Dia dikenal karena kecantikan, kecerdasan, kasih sayang, dan kesetiaan terhadap suaminya.

Dantawakra

[sunting | sunting sumber]

Dantawakra (दन्तवक्र Dantavakra) adalah Raja Karusha. Dia merupakan reinkarnasi dari Wijaya, penjaga gerbang Waikunta (kediaman Dewa Wisnu), sedangkan saudaranya yang bernama Jaya terlahir sebagai Sisupala. Mereka berdua gugur di tangan Kresna[53][54]

Danda dan Dandadara

[sunting | sunting sumber]

Danda (दण्ड Daṇḍa) dan Dandadara (दण्डधर Daṇḍadhara) adalah dua kesatria dari Kerajaan Magadha. Dalam rangka persiapan upacara Rajasuya, Bima menaklukkan para raja di India Timur, termasuk Danda dan Dandadara. Dalam Perang Kurukshetra, mereka berpihak pada Korawa. Dandadara merupakan kesatria penunggang gajah perang. Akhirnya mereka gugur di tangan Arjuna.[55][56]

Darada (दरद Darada) adalah seorang raja di kawasan Bahlika, India Barat. Menurut Adiparwa, dia merupakan penitisan asura yang bernama Surya. Konon pada saat lahir, permukaan Bumi sampai terbelah akibat menanggung berat badannya.[57]

Daruka (दारुक Dāruka) adalah kusir pribadi Kresna. Dalam Perang Kurukshetra, dia sempat menjadi kusir kereta perang Satyaki saat menghadapi Karna.[58] Dia berperan penting terutama menjelang akhir Mahabharata, khususnya dalam Mosalaparwa. Dalam episode kehancuran kaum Yadawa, Daruka menjadi saksi peristiwa tragis tersebut. Menjelang wafatnya Kresna, Daruka menerima perintah untuk pergi dan menyampaikan kondisi kaum Yadawa kepada para Pandawa, khususnya Arjuna.

Dasaraja (दाशराज Dāśarāja) adalah pemimpin kelompok nelayan di Hastinapura. Dia berperan sebagai orang tua asuh Satyawati, yang menikah dengan Raja Santanu. Saat putrinya dipinang, dia mengajukan syarat agar takhta Hastinapura hanya boleh diwarisi oleh keturunan Satyawati. Bisma putra Santanu menyanggupi syarat tersebut sehingga dia bersumpah untuk tidak mengeklaim takhta, dan membujang seumur hidup agar tidak ada perselisihan antara keturunannya dengan keturunan Satyawati. Dasaraja merupakan canggah (kakeknya kakek) bagi Pandawa dan Korawa.

Dewaki (देवकी Devakī) adalah istri Basudewa dan ibu dari Kresna dan Baladewa (Balarama).[59][60] Dia dan suaminya dipenjara oleh Kangsa, kerabat mereka sendiri karena ramalan menyatakan bahwa salah satu putra mereka akan membunuhnya. Akhirnya Dewaki dibebaskan oleh Kresna dan Baladewa, setelah mereka membunuh Kangsa.

Dewala (देवल Devala) adalah seorang resi, terutama diceritakan dalam suatu cerita berbingkai pada Santiparwa. Suatu hari, Dewala bertemu dengan resi lain bernama Jaigisawya yang bertapa khusyuk di hutan. Mereka pun berdialog tentang bagaimana seseorang benar-benar bisa bebas dari keinginan, rasa takut, dan kesedihan dalam kehidupan sehari-hari. Dari dialog panjang itu, keduanya tidak berkonflik, melainkan saling memperdalam pemahaman tentang darma dan yoga, sampai akhirnya ajaran mereka menjadi contoh bahwa kebebasan sejati tidak hanya soal meninggalkan dunia, tetapi memahami diri sepenuhnya di dalam dan di luar dunia.[61]

Dewayani (देवयानी Devayānī) adalah salah satu nenek moyang Pandawa dan Korawa. Dia merupakan putri Sukra (Sukracarya) dengan Jayanti, putri Dewa Indra. Dewayani menjadi permaisuri pertama Yayati dari Dinasti Candra. Kisah tentang Dewayani dan Yayati tercatat dalam Adiparwa, jilid pertama kitab Mahabharata.

Dewika (देविका Devikā) atau Wedika adalah putri Raja Gowasena, pemimpin suku Saibya di kerajaan Siwi. Dia menjadi istri kedua Yudistira yang menikah dalam sayembara. Pasangan tersebut dikaruniai putra yang diberi nama Yodeya.[62]

Domya (धौम्य Dhaumya) adalah nama seorang resi, adik Dewala, keturunan brahmana dari keluarga Anggira.[63] Dia tinggal di sebuah pertapaan bernama Utkocaka. Dalam Mahabharata, Domya berperan sebagai guru dan penasihat spiritual para Pandawa. Dia pula yang berperan sebagai pemimpin upacara pernikahan Putri Dropadi dari Panchala.[64]

Drestadyumna

[sunting | sunting sumber]

Drestadyumna (धृष्टद्युम्न Dhṛṣṭadyumna) adalah putra Raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Dia merupakan saudara Dropadi dan Srikandi. Dia berada di pihak Pandawa saat perang Kurukshetra. Dalam pertempuran, saat Resi Drona (panglima pasukan Korawa) tertunduk lemas dan kehilangan semangat untuk bertarung—sebagai akibat dari kabar bohong tentang gugurnya sang putra, Aswatama—Drestadyumena maju dan memenggal sang resi. Pada akhirnya, tokoh ini dikisahkan tewas secara tragis, yaitu terbunuh saat beristirahat di kemahnya.

Dretrastra

[sunting | sunting sumber]

Dretarastra (धृतराष Dhṛtarāṣṭra) adalah putra Ambika, permaisuri Raja Wicitrawirya dari Hastinapura. Dikisahkan bahwa dia buta sejak lahir. Dia merupakan kakak tiri Pandu, lain ibu tetapi satu ayah. Dalam Mahabharata, Dretarastra berhak menjadi raja karena dia merupakan penerus Wicitrawirya yang tertua. Namun dia buta sehingga takhta diserahkan kepada adiknya. Setelah Pandu wafat, dia menjadi penjabat raja. Dretarastra menikah dengan Gandari, dan menjadi bapak bagi Seratus Pangeran Korawa, Pangeran Yuyutsu, dan Putri Dursilawati.

Drestaketu dari Chedi

[sunting | sunting sumber]

Drestaketu (धृष्टकेतु Dhṛṣṭaketu) adalah putra sulung Sisupala dari Kerajaan Chedi. Dia merupakan sekutu pihak Pandawa, dan berperan sebagai salah satu panglima divisi pasukan dalam Perang Kurukshetra.[65] Dikisahkan bahwa Drestaketu merupakan kesatria tangguh yang bergelar maharatha, dan mampu menghadapi kesatria sepuh seperti Krepa dan Drona (para guru Pandawa). Namun, pada akhirnya dia gugur di tangan Drona.

Drestaketu dari Kekeya

[sunting | sunting sumber]

Drestaketu (धृष्टकेतु Dhṛṣṭaketu) merupakan penguasa Kerajaan Kekeya. Dia menikah dengan Srutakerti, seorang bangsawati Yadawa, putri Raja Surasena. Para putranya berpartisipasi dalam Perang Kurukshetra, dan terbagi-bagi ke dalam dua belah pihak. Wrehadkesatra dan Cekitana merupakan dua putranya yang masyhur. Putrinya yang bernama Badra menikah dengan Kresna.

Dropadi (द्रौपदी Draupadī) alias Pancali (पांचाली Pānchālī) adalah putri Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia merupakan saudara Drestadyumna dan Srikandi. Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa dia dan Drestadyumna tercipta dari api yadnya yang diselenggarakan Drupada. Arjuna, salah satu anggota Pandawa memenangkan sayembara memperebutkan Dropadi dan berhak menikahinya, tetapi akhirnya Dropadi menikahi lima Pandawa karena kesalahpahaman Kunti, ibu para Pandawa. Pada akhir kisah Mahabharata, diceritakan bahwa para Pandawa dan Dropadi bersuluk dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat suci, dengan tujuan akhir Himalaya. Di perjalanan, Dropadi merupakan orang pertama yang meninggal dunia.[66][67][68][69]

Drona (द्रोण Droṇa) adalah seorang brahmana (ahli agama), guru keraton Hastinapura yang mendidik para pangeran Dinasti Kuru, yang terdiri dari seratus Korawa dan lima Pandawa. Sebagai guru para pangeran, dia merupakan ahli seni pertempuran, termasuk pengendalian berbagai senjata sakti (astra). Dalam perang Kurukshetra, Drona berpihak kepada Korawa yang telah memberinya nafkah dan tempat bernaung. Dia menjabat sebagai panglima pada pertempuran hari ke-11 sampai ke-15. Pada hari ke-15, ia mendengar kabar palsu tentang kematian putranya, sehingga semangat bertarungnya pupus. Dalam kondisi tersebut, kepalanya dipenggal oleh Drestadyumna, panglima laskar Pandawa.

Drupada (द्रुपद Drupada) adalah penguasa Kerajaan Pancala. Dalam banyak versi Mahabharata disebutkan bahwa dia merupakan ayah bagi Srikandi, Drestadyumna, dan Dropadi. Dikisahkan bahwa semasa muda ia bersahabat dengan Drona, guru para Pandawa dan Korawa. Namun persahabatan mereka kemudian berubah menjadi permusuhan; Drupada akhirnya tewas di tangan Drona dalam perang besar di Kurukshetra.

Duryodana

[sunting | sunting sumber]

Duryodana (दुर्योधन Duryodhana) adalah putra sulung Dretarastra dan Gandari, pasangan bangsawan Kerajaan Kuru. Duryodana merupakan yang pertama di antara seratus Korawa (anak-anak Dretarastra).[70] Dia diceritakan sebagai kesatria yang mahir menggunakan senjata gada. Dia kerap berseteru dengan pihak Pandawa (anak-anak Pandu), sepupu para Korawa. Perseteruannya dengan para Pandawa berujung kepada perang besar di Kurukshetra. Dia dikalahkan oleh Bima pada hari akhir pertempuran.

Durga (दुर्गा Durgā) adalah salah satu dewi utama dalam kepercayaan Hindu. Dewi ini diasosiasikan dengan kekuatan, perlindungan, pertempuran, dan penegakan darma (kebenaran atau keteraturan).[71][72] Dewi ini tidak mendapat peran signifikan dalam plot utama, tetapi muncul sebagai kameo. Dalam Wirataparwa dan Bhismaparwa, dewi ini dipuja oleh pangeran Yudistira dan Arjuna.[73][74]

Dursilawati (Dursala)

[sunting | sunting sumber]

Dursilawati atau Dursala (दुश्शला Duśśalā) adalah adik Duryodana, pemimpin para Korawa. Dia merupakan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Dretarastra dan Gandari. Sebagai satu-satunya putri yang terlahir dalam garis keturunan Dinasti Kuru, dia sangat dimanjakan oleh seluruh keluarganya, terutama Duryodana.[75][76] Dia menikah dengan Jayadrata, penguasa negeri Sindhu, dan dikaruniai putra yang diberi nama Surata.

Dursasana

[sunting | sunting sumber]

Dursasana (दुःशासन Duḥśāsana) adalah salah satu Korawa, putra Raja Drestarasta dengan Ratu Gandari. Dia dikenal sebagai Korawa yang nomor dua di antara seratus Korawa. Tokoh ini mendapat peran signifikan dalam Sabhaparwa, yang mengisahkan permainan dadu antara lima Pandawa melawan seratus Korawa. Dropadi, istri para Pandawa menjadi budak para Korawa setelah dipertaruhkan dalam permainan tersebut. Merasa sebagai pemilik budak, Dursasana berusaha melucuti pakaian Dropadi secara paksa, tetapi tidak berhasil berkat pertolongan Kresna. Peristiwa itu memperkeruh permusuhannya dengan Bima. Akhirnya, dia dibunuh oleh Bima dalam perang di Kurukshetra pada hari ke-16.

Duswanta atau Dusyanta (दुष्‍यंत Duṣyanta) adalah salah satu leluhur keluarga Pandawa dan Korawa. Dia merupakan salah satu keturunan Raja Puru yang menurunkan Wangsa Paurawa. Permaisurinya adalah Sakuntala dan putranya bernama Bharata yang menurunkan keluarga Bharata dalam kisah Mahabharata.

Ekalawya (एकलव्य Ekalavya) adalah seorang pangeran dari kaum Nishada (persekutuan dari suku-suku pemburu dan manusia pedalaman). Diceritakan bahwa ia merupakan anak angkat dari Hiranyadanus, pemimpin kaum Nishada, dan merupakan sekutu Jarasanda. Dia memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dalam ilmu memanah. Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa dia bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia sehingga memohon untuk diangkat sebagai murid Drona, tetapi permohonannya ditolak. Meskipun di kemudian hari dia kehilangan ibu jari tangan kanannya, Ekalawya tetap dikenal sebagai seorang pemanah dan kesatria yang tangguh.[77]

Ekata, Dwita, dan Trita

[sunting | sunting sumber]

Ekata, Dwita, dan Trita adalah tiga brahmana bersaudara yang tercatat dalam Salyaparwa. Dikisahkan bahwa Ekata, Dwita, dan Trita hidup sebagai resi yang sangat taat menjalani tapa di hutan. Mereka seharusnya berbagi hasil pengorbanan suci dan hidup dalam keharmonisan, tetapi terjadi perselisihan ketika Ekata dan Dwita bertindak tidak adil, sehingga menyingkirkan Trita. Trita yang merasa dikhianati kemudian melontarkan kutukan kepada saudaranya. Akibat kutukan tersebut, Ekata dan Dwita mengalami perubahan nasib yang buruk. Dalam beberapa versi, mereka dikisahkan jatuh ke kondisi hina dan salah satunya bahkan berubah menjadi serigala.[78][79]

Galawa (गालव Gālava) adalah nama seorang brahmana, murid Resi Wiswamitra, dan teman Sang Garuda. Setelah menunaikan pendidikan, dia mengembara bersama Madawi, putri Raja Yayati, untuk mendapatkan 800 kuda demi membayar honorarium gurunya. Berkat bantuan Madawi dan Garuda, dia berhasil mencapai tujuannya. Kisahnya tidak berkaitan dengan plot utama, tapi dinarasikan sebagai cerita berbingkai dalam Udyogaparwa.

Gandari (गांधारी Gāndhārī) adalah putri Subala, Raja Gandhara. Dia merupakan kakak Sangkuni. Gandari menikahi Dretarastra, pangeran tertua di Kerajaan Kuru. Semenjak bersuami, Gandari sengaja menutup matanya sendiri agar tidak bisa menikmati keindahan dunia karena ingin mengikuti jejak suaminya.[80] Mahabharata mendeskripsikannya sebagai wanita cantik dan mulia, serta istri yang berbakti. Dia dikaruniai 100 putra dan seorang putri yang secara kolektif disebut "Korawa".

Gangga (गङ्गा Gaṅgā) adalah permaisuri Raja Santanu, dan ibu bagi Bisma. Santanu melamar sang dewi saat mereka berjumpa di tepi sungai Gangga. Sang dewi bersedia menikahinya dengan satu syarat: sang raja tidak boleh bertanya atau mencegah tindakan yang dia lakukan.[81] Tanpa berpikir panjang, Santanu setuju. Setelah menikah, Gangga menenggelamkan setiap anak mereka tak lama setelah melahirkan, dan tidak dicegah oleh Santanu yang terikat janji pernikahan. Namun Santanu tidak tahan lagi dan mencegah istrinya saat hendak menenggelamkan putra mereka yang kedelapan (Bisma). Gangga pun menceritakan alasan mengapa dia berbuat demikian. Karena Santanu telah melanggar janji, maka Gangga pergi bersama Bisma, dan membawanya kembali ke hadapan Santanu saat anak itu sudah remaja.[81]

Garuda (गरुड़ Garuḍa) adalah seekor burung mitologis berwujud setengah manusia setengah burung. Dia merupakan keturunan Resi Kasyapa dan Dewi Winata. Dia musuh bebuyutan para ular, sebuah sifat yang diwarisinya dari ibunya, yang berseteru dengan istri Kasyapa lainnya, yaitu Kadru, ibu para ular. Garuda muncul dalam Adiparwa (bagian awal Mahabharata) serta Udyogaparwa, dalam bentuk cerita berbingkai.

Gatotkaca

[sunting | sunting sumber]

Gatotkaca (घटोत्कच Ghaṭotkaca) adalah putra Bimasena (Bima) atau Werkodara dari keluarga Pandawa. Ibunya bernama Hidimbi yang berasal dari bangsa raksasa. Gatotkaca dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa. Dalam perang besar di Kurukshetra, dia menewaskan banyak sekutu Korawa. Hal itu mengakibatkan kerugian besar di pihak Korawa. Duryodana, pemimpin laskar Korawa mendesak Karna untuk menggunakan senjata sakti demi membinasakan Gatotkaca. Akhirnya Gatotkaca gugur di tangan Karna.

Gotama adalah seorang resi masyhur dalam agama Hindu yang disebutkan beberapa kali dalam Mahabharata. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa dia memiliki anak bernama Saradwan dan Cirakari. Saradwan juga dikenal dengan sebutan Gotama, demikian pula putra-putrinya―Krepa dan Krepi―juga memiliki julukan Gotama dan Gotami. Resi Gotama juga memiliki seorang putri, tapi namanya tidak pernah disebutkan dalam wiracarita tersebut.[82] Dalam Sabhaparva, dikisahkan bahwa dia memiliki sejumlah anak dengan putri Usinara, yang sulung bernama Kaksiwata. Pernikahan Gotama dengan putri Usinara dilangsungkan di Magadha, daerah kekuasaan Jarasanda.[83] Dalam Wanaparwa, kisah Gotama muncul dalam bentuk cerita moral yang disampaikan selama pengasingan para Pandawa di hutan. Gotama digambarkan sebagai seorang brahmana yang menjalani kehidupan asketis; kisah yang dikaitkan dengannya sering berfungsi sebagai pelajaran tentang darma, pengendalian diri, dan akibat dari tindakan manusia.[84]

Hamsa dan Dimbaka

[sunting | sunting sumber]

Hamsa (हंस Haṃsa) dan Dimbaka (डिम्भक Ḍimbhaka) adalah dua kesatria yang mengabdi kepada Raja Jarasanda, serta membantunya dalam menginvasi Mathura.[85] Dalam Sabhaparwa dikisahkan bahwa seorang raja bernama Hamsa telah dibunuh oleh Baladewa. Dimbaka mengira bahwa itu adalah Hamsa sahabatnya, sehingga ia menenggelamkan diri ke sungai Yamuna dengan maksud menyusul sahabatnya. Tak lama kemudian, Hamsa mendengar kabar tentang aksi bunuh diri Dimbaka, sehingga ia pun menyusul bunuh diri dengan cara yang sama.[86]

Hanoman (हनुमान् Hanumān) adalah seekor wanara (manusia kera), putra Anjani. Tokoh ini mendapat peran signifikan dalam wiracarita Ramayana. Dalam Mahabharata, Hanoman muncul sekilas saat episode pengasingan para Pandawa sebagaimana tercatat dalam Wanaparwa. Dikisahkan bahwa Bima (salah satu Pandawa) menjumpai Hanoman―dalam wujud monyet biasa―sedang menghadang jalannya di hutan. Bima segera menyuruh monyet itu menyingkir, tetapi si monyet hanya bersedia minggir apabila Bima mampu mengangkat ekornya. Karena bukan monyet biasa, Bima tak sanggup melakukannya, kemudian dia memohon maaf. Hanoman pun membeberkan identitasnya, lalu mengajari Bima beberapa teknik bela diri.[87]

Haryaswa (हर्यश्व Haryaśva) adalah seorang raja dari kalangan Dinasti Surya yang memerintah Kerajaan Kosala dengan ibukota Ayodhya. Tokoh ini tidak berkaitan dengan plot utama Mahabharata, dan terutama ditemukan dalam cerita berbingkai yang dinarasikan Narada. Dia hidup sezaman dengan Yayati, leluhur Pandawa dan Korawa. Dia menikahi putri Yayati yang bernama Madawi, dan berputra Basumana. Tak lama setelah putranya lahir, Madawi pergi meninggalkannya sesuai perjanjian pranikah.[88][89]

Hasti (हस्ती Hastī) adalah leluhur Pandawa dan Korawa yang tercatat dalam Adiparwa. Dia merupakan putra Raja Suhotra dan Suwarna, putri Ikswaku. Semenjak pemerintahannya, kota para keturunan Puru disebut Hastinapura. Hasti menikah dengan Yasodara, putri dari kerajaan Trigarta. Pasangan tersebut dikaruniai putra yang diberi nama Wikuntana (versi Purana menyebut Ajamida). Setelah beberapa generasi, lahirlah Kuru yang masyhur sebagai pendiri Kurukshetra.[90]

Hayagriwa

[sunting | sunting sumber]

Hayagriwa (हयग्रीव Hayagrīva) adalah awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu yang berwujud manusia berkepala kuda. Tokoh ini muncul dalam cerita berbingkai pada Santiparwa, yang mengisahkan pembasmian asura (raksasa) Madu dan Kaitaba karena telah mencuri pustaka Weda. Setelah kedua asura itu dibasmi, Hayagriwa mengembalikan Weda kepada Brahma―dewa pencipta, pengetahuan, dan kebijaksanaan.[91]

Hidimba (हिडिंब Hidiṁba) adalah seorang raksasa pemakan daging manusia dan merupakan makhluk penghuni hutan Kamyaka. Dikisahkan bahwa ia tergoda dengan bau tubuh para Pandawa dan hendak memakan mereka. Kemudian adiknya yang bernama Hidimbi berubah menjadi wanita cantik dan memperingatkan para Pandawa akan ancaman dari Hidimba. Akhirnya, Hidimba bertarung dengan Bima ( Pandawa yang terkuat ) lalu tewas dalam perkelahian tersebut.

Hidimbi (हिडिम्बी Hiḍimbī) atau Hidimbaa (हिडिम्बा Hiḍimbā) adalah seorang raksasi (raksasa wanita). Ia merupakan saudara Hidimba, seorang raksasa penghuni hutan Kamyaka. Hidimbi menikah dengan Bima, salah satu Pandawa, dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Namun Bima tidak dapat hidup bersama Hidimbi dalam waktu yang lama, sebab dia dan saudara-saudaranya harus meninggalkan hutan untuk merebut kembali hak sebagai pewaris takhta kerajaan Kuru.

Hiranyawarma

[sunting | sunting sumber]

Hiranyawarma (हिरण्यवर्मन् Hiraṇyavarman) adalah raja dari negeri Dasharna. Dalam Udyogaparwa dikisahkan bahwa putrinya dinikahkan dengan Srikandi, anak Raja Drupada dari Pancala. Kemudian terungkap bahwa Srikandi adalah perempuan yang dibesarkan sebagai laki-laki. Akhirnya Srikandi kabur, sedangkan Hiranyawarma merasa tertipu dan marah karena menganggap keluarganya telah dipermalukan. Dia pun mengancam akan menyerang kerajaan Pancala. Situasi tersebut menciptakan ketegangan politik yang serius, tetapi akhirnya mereda setelah Srikandi bertukar kelamin dengan yaksa (makhluk gaib penghuni hutan) bernama Stunakarna. Hubungan antara Raja Hiranyawarma dengan Raja Drupada pun pulih kembali.[92]

Ila (इला Ilā) adalah nama salah satu keturunan Waiwaswata Manu. Beberapa Purana mengatakan bahwa Ila lahir sebagai wanita, tetapi di kemudian hari berganti kelamin menjadi pria. Sebagai seorang pria, Ila dikenal pula dengan nama Sudyumna. Menurut Mahabharata, Ila merupakan leluhur para raja dari Dinasti Candra, termasuk keluarga Pandawa dan Korawa.

Ilwala dan Watapi

[sunting | sunting sumber]

Ilwala (इल्वल) dan Watapi (वातापि Vātāpi) adalah sepasang asura bersaudara. Kisahnya muncul sebagai cerita berbingkai dalam Wanaparwa, dengan Resi Lomasa sebagai narator. Dikisahkan bahwa Ilwala memiliki kebencian terhadap kaum brahmana. Dia bersiasat dengan Watapi untuk membunuh brahmana. Caranya, mereka mengundang para brahmana sebagai tamu, lalu Watapi berubah wujud menjadi kambing dan dimasak sebagai hidangan. Setelah para tamu memakannya, Ilwala akan berseru memanggil Watapi. Maka Watapi akan hidup kembali dengan merobek perut korbannya. Tipu daya ini berlangsung lama hingga mereka mencoba hal yang sama terhadap Resi Agastya. Namun, Agastya memiliki kekuatan spiritual tinggi. Setelah memakan daging Watapi yang disajikan Ilwala, sang resi segera mencerna dengan kekuatan tapa dan berkata bahwa Watapi telah hancur dalam perutnya.[93][94]

Indra (इन्द्र) adalah seorang dewa utama dalam kepercayaan Hindu. Dewa ini memperoleh peran yang cukup signifikan dalam Mahabharata. Dalam Adiparwa, dikisahkan bahwa dia merupakan dewa yang menganugerahkan Arjuna kepada pasangan Pandu dan Kunti. Kemudian setelah Arjuna dewasa, Indra melindungi hutan Khandawa, kediaman naga Taksaka yang hendak dibakar habis oleh Arjuna demi pembangunan kota Indraprastha. Saat para Pandawa menjalani hukuman pengasingan, Arjuna pergi ke Indraloka untuk menemuinya. Menjelang Perang Kurukshetra dimulai, dia meminta zirah milik Karna dan menukarnya dengan senjata sakti.

Irawan (इरवन Iravan) adalah salah satu putra Arjuna. Ibunya adalah seorang putri bangsa naga bernama Ulupi. Dia ikut bertempur di pihak Pandawa dalam perang besar di Kurukshetra, dengan mengerahkan laskar naga. Namun dia gugur pada hari kedelapan setelah pertempuran sengit melawan raksasa Alambusa.

Jaigisawya

[sunting | sunting sumber]

Jaigisawya (जैगीषव्य Jaigīṣavya) adalah seorang resi yang diceritakan pada bagian Salyaparwa dan juga Santiparwa. Dengan Wesampayana sebagai narator, Jaigisawya dipakai sebagai contoh seorang yogi yang mencapai tingkat pengendalian diri dan kesempurnaan meditasi yang sangat tinggi. Kisahnya digunakan dalam diskursus untuk menegaskan bahwa kemenangan sejati bukan hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dalam penguasaan indra, pikiran, dan hasrat batin.[95] Dalam Santiparwa, Jaigisawya berdiskusi dengan Resi Dewala mengenai spiritualisme.

Jajali (जाजलि Jājali) adalah seorang resi yang hidup menyendiri di hutan dan melakukan tapa yang sangat khusyuk, sampai-sampai sepasang burung membangun sarang di atas kepalanya karena dia terus bergeming. Saat dia merasa bangga akan pencapaiannya, suatu suara gaib menyatakan bahwa seorang pedagang bernama Tuladara dari Kerajaan Kasi justru lebih baik daripada dirinya. Dia pun mencari Tuladara untuk berdialog, dan menyadari bahwa darma tidak hanya terletak pada pertapaan ekstrem, tetapi juga pada sikap baik dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.[96]

Jamadagni

[sunting | sunting sumber]

Jamadagni (जमदग्नि) adalah seorang resi, suami Renuka, ayah Parasurama. Kisahnya muncul beberapa kali dalam cerita berbingkai Mahabharata, meliputi kisah anugerah dari Dewa Darma,[97] dan Dewa Surya.[98] Kisah yang paling masyhur adalah serangan raja Kartawirya Arjuna ke asrama Jamadagni, dan membunuhnya karena perselisihan dan dendam. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu alasan utama Parasurama bersumpah untuk memusnahkan kaum kesatria berkali-kali.

Janamejaya

[sunting | sunting sumber]

Janamejaya adalah seorang raja keturunan Arjuna. Menurut Mahabharata, dia anak dari Parikesit, yang memiliki tiga adik bernama Srutasena, Ugrasena, dan Bimasena.[99] Dia diangkat menjadi raja pada usia yang masih muda setelah ayahnya tewas dipagut Naga Taksaka. Janamejaya menyelenggarakan upacara pengorbanan ular demi membalas dendam. Namun, upacara tersebut dibatalkan karena permintaan seorang resi muda bernama Astika. Untuk melipur duka sang raja akibat kegagalannya menyelenggarakan pengorbanan ular, Wesampayana mengisahkan cerita Mahabharata kepadanya.[100]

Janapadi (जानपदी Jānapadī) adalah seorang bidadari (apsara). Dia diutus oleh Indra untuk menguji keteguhan tapa Resi Saradwan, putra Gautama.[101] Ketika melihat kemolekan tubuh sang bidadari, tanpa sengaja mani Saradwan memancar. Dari mani tersebut, terbentuklah dua manusia laki-perempuan yang akhirnya ditemukan oleh Santanu, Raja Kuru. Sang raja menamai mereka Krepa dan Krepi.[101]

Jara (pemburu)

[sunting | sunting sumber]

Jara (जर) adalah seorang pemburu. Kisahnya muncul sekilas dalam Mosalaparwa, menjelang bagian akhir Mahabharata. Diceritakan bahwa setelah sebagian besar keluarganya binasa dalam tawuran di Prabhasa, Kresna mengasingkan diri ke hutan. Saat sedang bermeditasi di bawah pohon, Jara memanah kaki Kresna karena mengiranya sebagai hewan buruan. Tidak lama setelah itu, Kresna pun wafat.[102] Dalam Mosalaparwa diterangkan bahwa mata panah yang dipakai oleh Jara terbuat dari gedik baja (mosala) yang dikeluarkan dari perut Samba.[103] Gedik tersebut merupakan senjata kutukan yang ditujukan untuk menghancurkan bangsa Yadawa (keluarga Kresna) karena pernah menjahili rombongan orang suci.[104][105]

Jara (raksasi)

[sunting | sunting sumber]

Jara (जरा Jarā) adalah seorang raksasi (raksasa wanita). Dia terkait dengan asal-mula tokoh Jarasanda. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa dua permaisuri Raja Wrehadata dari Magadha melahirkan bayi yang hanya bertubuh separuh dan tidak bernyawa.[106] Sang raja pun membuang bayi tersebut, yang kemudian dipungut oleh Jara. Tubuh bayi tersebut disatukan, dan akhirnya sang bayi pun bernyawa. Kejadian itu diketahui oleh sang raja, lalu dia pun membesarkan bayi tersebut sebagai putranya, yang diberi nama Jarasanda.[107]

Jarasanda

[sunting | sunting sumber]

Jarasanda (जरासन्ध Jarāsandha) adalah putra dari Raja Wrehadrata, penguasa Kerajaan Magadha. Dia merupakan teman Sisupala, raja di Kerajaan Chedi. Setelah mewarisi takhta, dia bermusuhan dengan Kresna dari Mathura dan menggempur kota tersebut berkali-kali, hingga akhirnya Kresna mendirikan kerajaan baru bernama Dwaraka. Dikisahkan bahwa Jarasanda pandai dalam bergulat. Dalam suatu pertandingan gulat, ia dibunuh oleh Bima atas siasat dari Kresna. Riwayat Jarasanda terutama dikisahkan dalam kitab Mahabharata jilid kedua, yaitu Sabhaparwa. Selain itu, ia juga diceritakan dalam Hariwangsa dan sejumlah Purana.

Jaratkaru

[sunting | sunting sumber]

Jaratkaru (जरत्कारु Jaratkāru) adalah seorang resi, suami Dewi Manasa (yang memiliki nama lain "Jaratkaru").[108] Dikisahkan bahwa Jaratkaru merupakan seorang resi yang memutuskan untuk menikah demi mewujudkan harapan leluhurnya, yang terancam akan jatuh ke neraka apabila dia tidak memiliki keturunan. Namun pernikahannya kandas, akibat ikatan emosional yang sulit terjalin antara dia dan istrinya. Pada akhirnya Jaratkaru meninggalkan Manasa setelah menghamili wanita tersebut. Manasa pun melahirkan Astika dalam kondisi ditinggalkan suami.

Jatasura (जटासुर Jatāsura) adalah seorang raksasa. Dia diceritakan dalam kitab ketiga Mahabharata, yaitu Wanaparwa, yang membahas pengalaman Lima Pandawa dan Dropadi selama menjalani masa pengasingan di hutan. Dikisahkan bahwa saat Bima tidak ada, Jatasura menculik Dropadi dan menawan tiga Pandawa: Yudistira, Nakula, dan Sadewa (pada saat itu, Arjuna sedang bertapa di tempat lain). Pada akhirnya, Bima berhasil membunuhnya.

Jayadrata

[sunting | sunting sumber]

Jayadrata (जयद्रथ Jayadratha) adalah Raja Sindhu. Dia menikahi Dursilawati, adik perempuan Korawa bersaudara. Jayadrata merupakan tokoh penting di balik pembunuhan Abimanyu (putra Arjuna) di medan Perang Kurukshetra. Dia menghadang para kesatria Pandawa saat mereka berusaha menyelamatkan Abimanyu. Atas kematian anaknya, Arjuna berusaha membunuh Jayadrata. Akhirnya pada pertempuran pada hari keempat belas, Jayadrata gugur di tangan Arjuna.

Jayatsena

[sunting | sunting sumber]

Jayatsena (जयत्सेन) adalah kesatria Magadha, adik Sadewa, putra Jarasanda. Dia memimpin Magadha bersama-sama dengan saudaranya setelah kematian ayah mereka di tangan Bima. Jayatsena dikenal karena memberikan bantuan menjelang Perang Kurukshetra berupa angkatan bersenjata sebesar satu aksohini. Meski demikian, terdapat ambiguitas dan inkonsistensi dalam naskah Mahabharata mengenai keberpihakannya dalam perang tersebut.

Kaca (कच) adalah seorang resi putra Wrehaspati, yang menjadi murid Sukra, guru para asura atau raksasa. Tokoh ini muncul dalam kitab Mahabharata buku pertama (Adiparwa), sebagai cerita berbingkai tentang leluhur Pandawa dan Korawa. Dikisahkan bahwa Kaca mengabdi kepada Sukra demi mempelajari Amerta-sanjiwani, ajian yang dapat membangkitkan orang mati.

Kadru (कद्र Kadrū) adalah salah satu putri Daksa. Tokoh ini muncul pada bagian awal Mahabharata yang mengandung cerita berbingkai tentang silsilah dewa-dewi dan para raja manusia. Dia menikah dengan Resi Kasyapa dan memperoleh seribu butir telur dari Kasyapa untuk dirawat. Setelah lima ratus tahun, telur-telur itu akhirnya menetaskan berbagai naga. Naga yang utama adalah Sesa, Basuki, dan Taksaka. Semuanya diasuh sebagai anak oleh Kadru.

Kakudmi (ककुद्मि) alias Rewata adalah Raja Kusasthali, keturunan Suryawangsa. Dia memiliki putri bernama Rewati. Menurut Mahabharata, Kakudmi dan putrinya pergi menghadap Dewa Brahma, di Brahmaloka untuk mendapatkan saran tentang jodoh yang tepat bagi Rewati. Brahma menyarankan Baladewa sebagai suami yang tepat bagi Rewati. Saat Kakudmi dan Rewati kembali ke dunia, mereka terkejut menyaksikan bahwa keadaan dunia saat mereka pergi sudah jauh berbeda dengan keadaan saat mereka kembali. Padahal mereka merasa hanya pergi beberapa jam saja.[109][110] Bagaimanapun, Kakudmi dan Rewati segera mencari Baladewa dan melangsungkan pernikahan.

Kangsa (कंस Kaṅsa) adalah musuh pertama Kresna. Kitab Hariwangsa menyebutkan bahwa dia adalah asura yang terlahir kembali dalam tubuh manusia. Dia terlahir dalam klan bangsawan Yadawa yang disebut Bhoja.[111] Dia merebut takhta Mathura dari tangan ayahnya, Ugrasena, serta memenjarakan ayahnya itu. Dia juga memenjarakan sepupunya, Dewaki dan Basudewa, karena suatu ramalan bahwa dia akan terbunuh di tangan putra mereka.

Kanika (कणिक Kaṇika) adalah seorang menteri dan penasihat Raja Dretarastra yang berasal dari golongan brahmana dan ahli dalam diplomasi (Kūṭanīti).[112] Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa ketika Yudistira―salah satu Pandawa―dinyatakan sebagai putra mahkota, Dretarastra merasa kecewa. Dia pun memanggil Kanika dan meminta nasihatnya. Kanika menyarankan agar sang raja tidak melakukan kekerasan dalam menyingkirkan pesaingnya, melainkan dengan muslihat tersembunyi. Kanika pun memakai analogi kisah seekor rubah yang menyingkirkan hewan-hewan pesaingnya dengan kelicikan. Saran yang diberikan oleh Kanika disebut "Kūṭanīti Kaṇika". Akhirnya, Dretarastra memutuskan untuk menyingkirkan para Pandawa dengan menyuruh mereka berlibur di suatu istana lilin di Waranawata.[113]

Karenumati

[sunting | sunting sumber]

Karenumati (करेणुमती Kareṇumatī) adalah putri Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi. Dalam Mahabharata―demikian pula Bhagawatapurana―dia merupakan salah satu istri Nakula, Pandawa keempat. Pasangan tersebut memiliki seorang putra yang diberi nama Niramitra (Naramitra).[114]

Karna (कर्ण Karṇa) alias Radeya (राधेय Rādheya) adalah penguasa Kerajaan Angga. Dia pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, dan akhirnya gugur di tangan Arjuna. Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Karna menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski angkuh, dia juga seorang dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir miskin dan kaum brahmana.[115]

Saudara Karna

[sunting | sunting sumber]

Karna merupakan anak angkat pasangan Adirata dan Radha. Di samping Karna, pasangan tersebut memiliki anak-anak kandung yang menjadi saudara tiri Karna. Nama-nama serta jumlah mereka bervariasi. Meski demikian, persamaannya ialah mereka semua gugur di medan perang Kurukshetra.[116]

Istri Karna

[sunting | sunting sumber]

Istri Karna tidak disebutkan namanya dalam Mahabharata, tetapi diketahui bahwa dia berasal dari golongan Suta (kusir).[116] Dalam jilid Striparwa, dia disebut sebagai ibu dari Wresasena dan Susena, putra Karna yang paling terkemuka. Istri Karna adalah subjek fantasi, dan berbagai versi cerita mengisahkan wanita yang berbeda-beda sebagai istri Karna.

Kartawirya Arjuna

[sunting | sunting sumber]

Kartawirya Arjuna (कार्तवीर्य अर्जुन Kārtavīrya Arjuna) adalah Raja Hehaya yang beribu kota di Mahismati. Dalam salah satu kisah penting, ia datang ke pertapaan resi Jamadagni. Di sana, ia melihat kemakmuran luar biasa yang berasal dari sapi suci (Kamadenu). Karena serakah, Kartawirya Arjuna mencoba untuk merampas sapi tersebut. Tindakan ini memicu kemarahan putra Jamadagni, yaitu Parasurama. Dalam pertempuran besar, Parasurama akhirnya membunuh Kartawirya Arjuna, meskipun raja itu sangat kuat.

Kertawarma

[sunting | sunting sumber]

Kertawarma (कृतवर्म Kṛtavarma) adalah seorang kesatria kaum Yadawa. Kertawarma merupakan putra dari Herdika, kesatria klan Andaka, yang juga masih keturunan bangsa Yadawa, sama halnya dengan Kresna dan Satyaki.[117] Dalam perang di Kurukshetra, Kertawarma memihak Korawa, sedangkan Kresna dan Satyaki memihak Pandawa. Dia memimpin tentara gabungan beberapa klan Yadawa: Wresni, Andaka, Kukura, dan Boja.[117]

Kesatradewa

[sunting | sunting sumber]

Kesatradewa (क्षत्रदेव Kṣatradeva) adalah kesatria Kerajaan Pancala yang berpihak kepada Pandawa saat Perang Kurukshetra. Dia merupakan putra Srikandi yang lahir di negeri bangsa Bahlika.[118] Mahabharata mendeskripsikannya memiliki mata seperti kelopak bunga seroja.[118] Dalam pertempuran, dia menghadapi Bagadata dan Laksmanakumara. Akhirnya dia gugur di tangan Laksmanakumara.

Kicaka (कीचक Kīcaka) adalah panglima tertinggi kerajaan Matsya yang dipimpin Raja Wirata. Diceritakan bahwa Kicaka merupakan saudara Ratu Sudesna, sehingga dia menjadi ipar Raja Wirata.[119] Dia merupakan orang yang sangat kuat dan memiliki tenaga yang sangat besar; bahkan Raja Wirata sekalipun merasa segan untuk menentangnya. Dia telah menyelamatkan kerajaan Matsya berkali-kali dari serangan musuh. Dalam Wirataparwa, dia diceritakan tewas di tangan Bima karena mencoba merayu Dropadi.

Kindama (किन्दम) adalah seorang resi yang hidup di hutan dan dapat berubah wujud menjadi binatang. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa Raja Pandu dari Hastinapura berburu ke hutan kediaman Kindama. Di sana dia memanah rusa jelmaan Kindama yang sedang bersenggama dengan rusa betina. Sebelum mati akibat panah sang raja, Kindama kembali ke wujud asalnya, lalu mengutuk Pandu agar tewas seketika saat berhubungan badan dengan seorang wanita.[120][121]

Kirata (किरात Kirāta) adalah salah satu wujud dari dewa Hindu Siwa sebagai seorang pemburu.[122] Wujud ini tercatat dalam Wanaparwa. Dalam kitab dikisahkan bahwa Siwa mengambil wujud tersebut untuk menguji keberanian dan kemampuan Arjuna, serta memberinya anugerah senjata sakti Pasupatastra.[123]

Kirmira (किर्मीर Kirmīra) adalah raksasa saudara Bakasura. Dia tinggal di hutan Kamyaka, dan meneror para resi yang menetap di sana. Saat mengetahui bahwa para Pandawa mengasingkan diri ke hutan Kamyaka, Kirmira langsung mengincar mereka. Dia menantang para Pandawa untuk bertarung. Pada akhirnya, Bima membunuh Kirmira dengan cara mencekiknya.

Korawa (कौरव Kaurava) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang berarti "keturunan [raja] Kuru". Dalam kisah Mahabharata, kata "Korawa" secara khusus dimaknai sebagai "anak-anak Dretarastra", karena Dretarastra merupakan pangeran sulung di Dinasti Kuru, sebelum lahirnya Pandawa. Jumlah para Korawa (sebagai anak Dretarastra) ialah seratus dua orang; seratus satu orang dilahirkan oleh Gandari, sedangkan yang seorang lagi dilahirkan oleh dayang-dayangnya. Yang terkemuka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu. Hampir seluruh Korawa berjenis laki-laki, kecuali seorang (anak perempuan Gandari), yang bernama Dursilawati atau Dursala.

Korawya (कौरव्य Kauravya) adalah nama seekor naga. Dia menguasai suatu kerajaan naga yang berada di dasar sungai Gangga.[124] Dia memiliki seorang putri bernama Ulupi, yang menikah dengan Pangeran Arjuna. Cucunya bernama Irawan, gugur di medan Perang Kurukshetra.

Krata adalah seorang kesatria yang merupakan reinkarnasi dari raksasa Rahu. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak Korawa. Pada akhirnya, dia gugur di tangan Raja Kulinda.[125]

Krepa (कृप Kṛpa) adalah seorang brahmana, putra Resi Saradwana dan Janapadi,[126] dan menjadi penasihat serta guru para pangeran Dinasti Kuru di Hastinapura. Dia memiliki adik perempuan bernama Krepi, yang menikah dengan Drona, yang juga merupakan guru para pangeran Dinasti Kuru. Dia merupakan salah satu dari 3 kesatria Korawa yang sintas setelah perang Kurukshetra berakhir. Dia juga merupakan salah satu resi terkemuka pada era Kaliyuga.[127]

Krepi adalah saudari Krepa. Mereka berdua merupakan anak-anak Resi Saradwana. Menurut Adiparwa, Krepa dan Krepi terlahir dari mani Saradwana yang jatuh ke tanah akibat terpesona dengan kemolekan tubuh bidadari Janapadi.[101] Sebelum memiliki nama, Krepi hidup di hutan bersama dengan kakaknya. Prabu Santanu dari Hastinapura berjumpa dengan kedua anak tersebut saat berburu ke hutan. Karena merasa kasihan dengan keadaan mereka, ia memungut kedua anak tersebut dan memberi mereka nama "Krepa" dan "Krepi".[101] Kejadian tersebut diketahui oleh Saradwana yang sedang melakukan pertapaan di tengah hutan. Dia pun pergi ke Hastinapura untuk memberi tahu siapa sebenarnya anak-anak yang telah dipungut Santanu. Setelah dewasa, Krepi menikah dengan Drona dan memiliki putra bernama Aswatama.

Kresna (कृष्ण Kṛṣṇa) adalah putra kedelapan Basudewa dan Dewaki, bangsawan Yadawa dari kerajaan Surasena. Dia merupakan saudara seayah bagi Baladewa dan Subadra. Dalam Mahabharata, dia dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Selain itu dia dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran filosofis, sebagaimana termaktub dalam Bhagawadgita, kitab yang memuat kotbah Kresna kepada Arjuna yang disisipkan dalam Bhismaparwa. Kresna sering terlibat dalam plot utama Mahabharata, mulai dari pendirian kota Indraprastha, upacara Rajasuya Yudistira, upaya perdamaian Pandawa-Korawa, Perang Kurukshetra, hingga pertikaian bangsa Yadawa.

Kunti (कुंती Kuntī) atau Prita (पृथा Pṛthā) adalah putri kandung Surasena, raja Wangsa Yadawa,[128] dan diangkat sebagai putri oleh Kuntiboja.[129] Dia merupakan saudara Basudewa, ayah dari Baladewa, Kresna, dan Subadra. Dia juga merupakan istri pertama Pandu, dan ibu kandung bagi Karna, Yudistira, Werkodara (Bima), dan Arjuna. Sepeninggal Pandu, dia mengasuh Nakula dan Sadewa, anak Pandu dan Madri. Seusai Perang besar keluarga Bharata, dia dan iparnya—Dretarastra, Gandari, dan Widura—pergi bertapa sampai akhir hayatnya.

Kuntiboja

[sunting | sunting sumber]

Kuntiboja adalah bangsawan Yadawa, saudara Surasena dan ayah angkat Kunti. Dia memerintah Kerajaan Kunti.[130] Putranya bernama Wisarada, yang menggantikannya sebagai raja. Namun dia gugur di tangan Duryodana dalam Perangan Kurukshetra hari kedelapan.

Kuru (कुरु) adalah putra Sambarana dan Tapati dari keluarga Dinasti Candra. Dalam Mahabharata, dia merupakan leluhur Pandawa dan Korawa―keluarga keturunan Pandu dan Dretarastra―tokoh utama dalam wiracarita tersebut. Kuru menurunkan para raja yang dikenal sebagai Wangsa Kaurawa atau Dinasti Kuru. Menurut legenda, Kuru merupakan raja yang mengorbankan dirinya demi meresmikan sebuah wilayah suci di India Utara yang dikenal sebagai Kurukshetra, yang secara harfiah berarti "Wilayah Kuru," sebagai dedikasi atas keluhuran budi raja tersebut.[131][132]

Laksmana (लक्षमना Lakṣmanā; disebut pula Laksana dalam Purana) adalah putri Duryodana, pemimpin para Korawa. Kisahnya terdapat dalam Hariwangsa (naskah pendukung Mahabharata) serta beberapa Purana. Dikisahkan bahwa Samba—seorang kesatria Yadawa—jatuh cinta kepadanya, lalu menculiknya. Para Korawa pun menangkap dan memenjarakan Samba. Karena para Yadawa dan para Korawa memiliki hubungan kerabat, maka Baladewa—salah satu pemuka para Yadawa—memilih untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Akhirnya Samba dibebaskan dan pernikahannya dengan Laksmana direstui.

Laksmanakumara

[sunting | sunting sumber]

Laksmanakumara (लक्षमनकुमार Lakṣmanakumāra) atau Laksmana (लक्षमन Lakṣmana) adalah putra Duryodana.[133] Dia memiliki saudari bernama Laksmana yang menikah dengan Samba, putra Kresna.[134] Laksmanakumara turut membela ayahnya di kubu Korawa saat Perang Kurukshetra berkecamuk. Pada pertempuran hari kedua, perang tanding sengit terjadi antara dirinya melawan Abimanyu, salah satu putra Arjuna dari kubu Pandawa. Saat Abimanyu nyaris mengalahkannya, Duryodana segera turut campur dan menyelamatkan Laksmanakumara.[135][136] Pada pertempuran hari ke-13, bersama para perwira Korawa lainnya, dia ikut serta mengeroyok Abimanyu yang terperangkap dalam formasi perang Cakrabyuha. Namun, dia dipenggal oleh Abimanyu dengan menggunakan senjata Nagasirastra.

Lomasa (लोमश Lomaśa) atau Romasa adalah seorang resi. Dia mendapat kemunculan yang signifikan dalam Mahabharata, sebagai narator yang mengisahkan sejumlah legenda kepada para Pandawa saat mereka menjalani pengasingan di tengah hutan.[137] Dalam Wanaparwa, Lomasa melipur lara Yudistira dengan berkhotbah tentang darma. Dengan mengambil contoh keunggulan para dewa di atas para asura, sang resi meyakinkan Yudistira bahwa siapa pun yang hidupnya tidak selaras dengan darma akan menemui kehancuran.[138] Sang resi juga mengisahkan riwayat beberapa tokoh kepada para Pandawa, meliputi Agastya, Rama, Parasurama, dan Resyasrengga.[139] Lomasa juga menemani para Pandawa berziarah ke sejumlah situs suci, yaitu hutan Nemisa, Gaya, dan sungai Yamuna, sambil menjelaskan keutamaan tempat-tempat tersebut.[140]

Madawi (माधवी Mādhavī) adalah putri Raja Yayati, seorang penguasa dari kalangan Dinasti Candra. Kisahnya terdapat dalam kitab Udyogaparwa, himpunan Mahabharata yang kelima. Dikisahkan bahwa ia menikah empat kali demi membantu seorang resi bernama Galawa, yang memiliki hutang kepada Wiswamitra, gurunya. Kisah Madawi dikemas dalam bentuk cerita berbingkai, dengan Narada  seorang resi pengelana  sebagai naratornya. Kisah dituturkan di hadapan sidang tetua Dinasti Kuru, saat mempersiapkan perang Kurukshetra.[141]

Madri (माद्री Mādrī) adalah seorang putri dari Kerajaan Madra, adik dari Raja Salya. Dalam Adiparwa, sesepuh Dinasti Kuru yang bernama Bisma berencana untuk mencarikan Pandu istri kedua, tak lama setelah ia menikah dengan Kunti.[142] Maka ia pergi ke Madra untuk menjodohkan Madri kepada Pandu. Salya menyetujui perjodohan tersebut.[143] Dari pernikahannya, Madri memiliki putra kembar bernama Nakula dan Sadewa atas bantuan Dewa Aswin. Setelah Pandu meninggal, Madri menitipkan Nakula dan Sadewa kepada Kunti, lalu dia melakukan sati untuk menyusul suaminya.

Manasa (मनसा Manasā) adalah dewi ular dalam kepercayaan Hindu. Menurut pustaka Hindu, Manasa merupakan adik Naga Sesa dan Basuki (raja para naga). Dalam Mahabharata, dewi ini muncul dalam cerita berbingkai dan tidak memperoleh porsi signifikan dalam plot utama. Dikisahkan bahwa dia dijodohkan oleh Basuki untuk menikahi Resi Jaratkaru. Mereka dikaruniai putra yang diberi nama Astika. Kelak Astika berperan dalam menggagalkan upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya, yang mengawali penuturan kisah Mahabharata.

Maniman (मणिमान् Maṇimān) adalah seorang kesatria. Dia merupakan reinkarnasi dari Wretra, putra Danayu. Dia termasuk salah satu tamu undangan yang menyaksikan upacara pernikahan Dropadi dengan para Pandawa. Dalam rangka menyukseskan upacara Rajasuya Yudistira, Bima menaklukkan para raja kawasan timur, termasuk Maniman. Dia tunduk kepada hegemoni Yudistira. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak laskar Pandawa. Akhirnya dia gugur di tangan Burisrawa.[144]

Markandeya

[sunting | sunting sumber]

Markandeya (मार्कण्‍डेय; Mārkaṇḍeya) adalah seorang resi yang masyhur dalam legenda Hindu. Dalam Mahabharata, dia memperoleh peran signifikan dalam episode Markandeyasamasya-parwa, bagian dari Wanaparwa, tentang percakapan antara Markandeya dengan Yudistira. Diceritakan bahwa sebagai akibat kalah bermain dadu, Yudistira dan saudara-saudaranya harus hidup di tengah hutan selama 12 tahun. Yudistira masih galau akan kekalahan yang dideritanya dan memutuskan untuk mencari Resi Markandeya untuk berkonsultasi. Sang resi merupakan makhluk abadi yang hidup ribuan tahun serta selamat dari berbagai bencana yang pernah terjadi di Bumi. Salah satu topik percakapan mereka ialah peristiwa air bah pada masa lampau yang disaksikan oleh Markandeya.[145][146]

Mayasura (मयासुर) adalah seorang asura yang ahli dalam arsitektur dan tata kota. Dia juga merupakan arsitek mahir bagi penduduk di bawah tanah (Patala). Dalam Mahabharata, pada saat Pandawa membuka lahan hutan Kandhawa untuk dijadikan kota Indraprastha, Kresna memanggil Wiswakarma untuk menciptakan kota dengan struktur megah. Mayasura turut serta dalam pekerjaan itu dengan membangun sebuah balairung besar bernama Mayasabha untuk Raja Yudistira.

Menaka (मेनका Ménakā) adalah seorang bidadari yang diutus oleh Dewa Indra untuk menggagalkan tapa yang dilakukan oleh Wiswamitra. Godaan Menaka berhasil sehingga Wiswamitra melupakan tapanya dan bercinta dengan Menaka. Namun setelah beberapa lama, Wiswamitra sadar bahwa Menaka hanyalah godaan yang diberikan oleh Indra. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan Menaka. Dari hubungannya dengan Wiswamitra, Menaka melahirkan bayi perempuan yang ia tinggalkan begitu saja di kaki Gunung Himalaya. Kemudian bayi itu dipungut Resi Kanwa, lalu diberi nama "Sakuntala". Sakuntala menikah dengan Duswanta, dan melahirkan seorang raja terkenal yang bernama Bharata, leluhur Pandawa dan Korawa.

Mucukunda

[sunting | sunting sumber]

Mucukunda (मुचुकुण्ड Mucukuṇḍa) adalah seorang raja dari kalangan dinasti Surya, putra Mandata. Dia merupakan leluhur Raja Rama, yang disebutkan dalam wiracarita Ramayana. Tokoh ini muncul dalam wiracarita Mahabharata bagian Santiparwa. Dikisahkan bahwa Mucukunda menginvasi kediaman Waisrawana dengan bantuan Resi Wasista. Setelah Waisrawana kalah, dia pun menghadap secara takzim ke hadapan Mucukunda. Kisah tersebut muncul sebagai alegori yang dinarasikan oleh Bisma tentang kerjasama yang baik antara brahmana dan kesatria dalam mewujudkan kejayaan.[147]

Mukasura (मूकासुर Mūkāsura) adalah seorang asura, atau raksasa yang dikisahkan dalam Wanaparwa. Dikisahkan bahwa Mukasura merupakan raksasa yang diutus para dewa untuk menguji keteguhan Arjuna dalam bertapa. Mukasura berwujud babi hutan dan mengobrak-abrik tempat Arjuna bertapa. Akhirnya ia tewas tertembak panah Arjuna. Tepat pada saat yang sama, Dewa Siwa yang menyamar sebagai orang Kirata juga menguji Arjuna dan mengeklaim bahwa panahnya yang menewaskan Mukasura, bukan panah Arjuna. Kisah tersebut diadaptasi menjadi beberapa karya sastra, meliputi Kiratarjuniya dan Arjuna Wiwaha.[148]

Nala (नल) adalah raja dari kerajaan Nishadha. Kisah cintanya dengan Damayanti diceritakan sekilas dalam kitab Mahabharata jilid ketiga, Wanaparwa. Dia dipilih oleh Damayanti sebagai suami dalam sebuah sayembara, sebuah tradisi ketika seorang calon istri memilih suami di antara para undangan. Dia kehilangan jabatan beserta seluruh kekayaannya akibat kalah bermain dadu. Kisahnya merupakan alegori yang dinarasikan oleh Resi Wrehadaswa kepada Yudistira tentang kerugian yang diperoleh karena judi.

Nahusa (नहुष Nahuṣa) adalah seorang raja dari kalangan Dinasti Candra, putra Ayu, cucu Pururawa. Nahusa menikah dengan Asokasundari dan menurunkan Yayati. Kisahnya dituturkan berulang-ulang dengan berbagai variasi di bagian-bagian yang berbeda dalam Mahabharata dan juga Purana.[149]

Nakula (नकुल) adalah putra Madri dan Pandu. Dia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putra Dewa Aswin, dewa tabib kembar. Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Mahaprasthanikaparwa. Selain tampan, Nakula juga memiliki kemampuan khusus dalam merawat kuda dan astrologi.

Nanda (नंद) adalah pemimpin kaum penggembala sapi,[150] dan merupakan ayah angkat Kresna.[151] Dia adalah putra Parjanya,[152][153] penguasa wilayah Vraja di India Utara,[154] keturunan Dewamida, pemimpin kaum Yadawa.[155] Nanda menjabat sebagai pemimpin di Gokulam,[156] yang merupakan salah satu wilayah kaum Yadawa yang terkuat.[157] Kadangkala dia disetarakan sebagai raja.[158]

Nara dan Narayana

[sunting | sunting sumber]

Nara dan Narayana (नर नारायण Nara Nārāyaṇa) adalah sepasang dewa Hindu. Nara dan Narayana merupakan saudara kembar penjelmaan (awatara) Dewa Wisnu di Bumi, bertugas sebagai penegak dharma atau kebenaran. Dalam Mahabharata dinyatakan Kresna sebagai Narayana sedangkan Arjuna―pahlawan dalam wiracarita tersebut―sebagai Nara. Menurut Bhandarkar, Dewa Nara dan Narayana pasti sangat terkenal pada masa penyusunan kitab Mahabharata, karena bait pertama dalam setiap jilid kitab tersebut terdapat kalimat penghormatan kepada dua dewa tersebut.[159]

Narada (नारद Nārada) adalah seorang resi dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, termasuk Mahabharata. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Dia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai veena dan khartal, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Wisnu atau Kresna.[160][161]

Narakasura

[sunting | sunting sumber]

Narakasura (नरकासुर Narakāsura) adalah raja raksasa dari Kerajaan Pragjyotisha. Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Dia mengalahkan banyak raja serta menawan putri-putri mereka, bahkan para dewa pun diserangnya. Karena merasa resah, Indra raja kahyangan melaporkan kejadian tersebut kepada Kresna. Kresna berhasil menewaskan Naraka dengan menggunakan senjata Cakra Sudarsana. Setelah itu ia pun membebaskan para raja dan putri yang ditawan oleh asura tersebut. Kresna kemudian mengangkat putra Naraka yang bernama Bagadata untuk menjadi raja Pragjyotisha selanjutnya.

Niramitra

[sunting | sunting sumber]

Niramitra (निरमित्र) adalah putra Nakula dan Karenumati.[162][163] Tokoh ini tidak diceritakan lebih lanjut dalam Mahabharata, dan hanya muncul sekilas dalam Adiparwa. Dia memiliki saudara seayah bernama Satanika.

Pandawa (पाण्डव Pāṇḍava) merupakan istilah dalam bahasa Sanskerta yang berarti "anak Pandu". Pandawa terdiri dari lima orang: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka adalah tokoh protagonis dalam Mahabharata, sedangkan yang antagonis adalah para Korawa, yaitu para putra Dretarastra, saudara Pandu. Dalam Mahabharata, kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan masing-masing anggota Pandawa memiliki seorang putra darinya.

Pandu (पाण्‍डु Pāṇḍu) adalah ayah dari para Pandawa. Pandu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara; kakaknya Dretarastra, sedangkan adiknya Widura. Pandu memiliki dua orang istri, yaitu Kunti dan Madri. Pandu pantang berhubungan badan dengan istrinya akibat dikutuk oleh Resi Kindama. Kedua istri Pandu pun berusaha memiliki keturunan tanpa berhubungan badan dengan cara memohon kepada para dewa. Setelah dianugerahi anak, Pandu mangkat akibat melanggar pantangannya.

Pandya (पाण्ड्य Pāṇḍya) adalah penguasa Kerajaan Pandya. Dia merupakan sekutu para Pandawa dan turut menghadiri upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira. Dalam Perang Kurukshetra, Pandya berpihak kepada Pandawa. Dia bergelar maharathi dan berkali-kali disebut sebagai kesatria ulung. Dalam Karnaparwa, dia berhadapan dengan Aswatama. Setelah bertarung sengit, dia gugur di tangan Aswatama.[164]

Parasara (परशर Paraśara) adalah seorang brahmana, putra Resi Sakti. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa Parasara berhasil mengilangkan bau amis pada tubuh Satyawati, seorang putri nelayan. Kemudian dia menjadikan Satyawati sebagai istri. Dari hasil hubungannya, lahirlah Resi Byasa yang kemudian berperan signifikan terhadap kelangsungan Dinasti Kuru.

Parasurama

[sunting | sunting sumber]

Parasurama (परशुराम Paraśurāma) adalah seorang brahmana masyhur dalam legenda Hindu. Dalam Mahabharata, dia berperan sebagai gurunya Bisma. Atas desakan Putri Amba dari Kerajaan Kasi, dia memaksa Bisma untuk menikahi sang putri, tetapi tidak berhasil. Dia juga merupakan guru bagi Karna―bakal Raja Angga―yang mengajarkan berbagai ilmu bela diri dan penggunaan senjata sakti.[165][166]

Parikesit

[sunting | sunting sumber]

Parikesit (परीक्षित् Parikṣit) adalah Raja Kuru, putra Abimanyu dan Utari, dan merupakan cucu Arjuna. Dia menjadi penerus kakeknya, Yudistira yang bertakhta di Hastinapura, ibukota Kuru.[167][168] Menurut Mahabharata, dia memerintah selama 24 tahun dan wafat saat berumur 60 tahun. Dalam Adiparwa diceritakan bahwa Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka. Cara kematian tersebut terjadi karena kutukan brahmana bernama Srenggi yang merasa sakit hati karena Parikesit telah mengalungkan bangkai ular di leher Samiti (Samika), ayahnya.

Parwata (पर्वत Parvata) adalah seorang resi, keponakan Narada. Tokoh ini muncul dalam cerita berbingkai yang dinarasikan Kresna kepada Yudistira setelah Perang Kurukshetra berakhir. Dikisahkan bahwa Parwata mengutuk pamannya sendiri agar berwajah mirip kera, setelah terlena pada seorang perempuan dan dianggap melanggar etika seorang brahmacari (petapa bujang). Narada juga balas mengutuk Parwata agar tetap berkelana dan tidak bisa pulang. Setelah sekian lama, paman dan keponakan tersebut akhirnya berdamai.[169] Dikisahkan pula bahwa Parwata pernah dijamu dengan sangat baik oleh Raja Srinjaya, keturunan Kuru. Berkat kebaikan tersebut, Srinjaya memperoleh seorang putra yang gagah perkasa.[170]

Persati (पृषती Pṛṣatī) adalah permaisuri Raja Drupada dari Panchala, dan ibu bagi Srikandi, Drestadyumna, dan Dropadi. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa Raja Drupada menyelenggarakan suatu yadnya―upacara persembahan yang dipimpin para brahmana atau resi―untuk memperoleh keturunan. Persati diminta untuk memakan sajen agar lekas hamil. Namun Persati menundanya karena sedang mengunyah kuma-kuma. Para resi yang tidak sabar akhirnya menuangkan sajen tersebut ke api upacara. Dari api tersebut, muncullah Drestadyumna dan Dropadi, yang kemudian dinyatakan sebagai anak-anak Persati.[171]

Porawa (पौरव Paurava) adalah seorang rajaresi, reinkarnasi dari detya Saraba. Dia merupakan salah satu sekutu Duryodana dalam Perang Kurukshetra. Dia termasuk panglima perang yang tangguh. Dalam pertempuran, dia sempat berhadapan dengan Drestaketu dan hampir kalah, tetapi diselamatkan oleh Jayatsena, salah satu Korawa. Saat berhadapan dengan Abimanyu, dia terluka parah, tetapi Abimanyu tidak menghabisinya setelah mendapat intervensi dari Jayadrata. Pada akhirnya dia gugur di tangan Arjuna.

Praceta (प्रचेत) adalah salah satu Prajapati dalam kepercayaan Hindu. Dalam Mahabharata dan Purana, mereka disebut berjumlah sepuluh orang. Menurut Purana, mereka merupakan para putra Raja Pracinawari dan Putri Sawarna.[172][173] Dalam Adiparwa bagian Waiwahikaparwa (pernikahan para Pandawa dengan Dropadi), mereka dipakai sebagai contoh poliandri oleh Yudistira.[174] Mereka juga disebutkan beberapa kali dalam Santiparwa dan Anusasanaparwa, bagian Mahabharata yang mengandung banyak sisipan legenda dan cerita rakyat Hindu.

Pradyumna

[sunting | sunting sumber]

Pradyumna (प्रद्युम्न) adalah seorang kesatria Yadawa, putra Kresna dan Rukmini.[175] Dia merupakan penitisan Kamadewa (Kamajaya), dewa cinta.[176] Menurut pustaka Purana, Pradyumna memiliki dua istri, yaitu Mayawati dan Rukmawati, putri Raja Rukma. Dalam Mosalaparwa dikisahkan bahwa Pradyumna terlibat dalam tawuran Bangsa Yadawa di Prabhasa. Dia tewas dalam peristiwa tersebut.

Pratipa (प्रतीप Pratīpa) adalah seorang raja Dinasti Candra, memerintah Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Dia menikah dengan Sunanda dari Kerajaan Siwi dan memiliki tiga orang putra: Dewapi, Bahlika, dan Santanu.[177] Di antara ketiga putranya tersebut, Santanu yang dinobatkan sebagai raja, sebab Dewapi memilih untuk menjadi pertapa. Sementara itu, Bahlika memilih untuk mengembara ke wilayah India Barat Daya. Keturunan Santanu merupakan tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata.

Pratiwindya

[sunting | sunting sumber]

Pratiwindya (प्रतविन्ध्य Prativindhya) alias Srutawindya[178] adalah putra Yudistira dan Dropadi. Mahabharata menguraikannya sebagai petarung yang cekatan, masyhur karena menghadapi pasukan bagaikan "Batara Indra yang bersenjata bajra".[179] Dalam Perang Kurukshetra, Pratiwindya sempat berhadapan dengan Sangkuni, ahli siasat pihak Korawa.[180] Selain itu, Pratiwindya juga kerap menghadapi kesatria-kesatria ulung lainnya dari pihak Korawa. Dia sintas sampai hari terakhir pertempuran. Akhir riwayatnya dikisahkan bahwa dia tewas dalam serangan gerilya Aswatama di perkemahan kubu Pandawa.

Purocana (पुरोचन Purocana) adalah seorang arsitek dan orang kepercayaan Duryodana. Diceritakan bahwa ia merupakan salah satu menteri dalam pemerintahan Dretarastra.[181] Dia direkrut oleh Duryodana untuk membuat sebuah istana yang mudah terbakar, atau laksagreha. Istana tersebut direncanakan untuk dibakar setelah para Pandawa berhasil dibujuk untuk menginap di dalamnya. Namun, rencana Purocana diketahui saat dia akan menyulut api untuk membakar laksagreha. Dia pun dibunuh oleh Bima, anggota Pandawa yang terkuat.[182]

Puru (पुरु) adalah raja dari kalangan Dinasti Candra. Dia merupakan putra bungsu Yayati dan Sarmista, dan keturunan keempat dari Raja Pururawa. Menurut Mahabharata dan sastra Purana, dia memiliki empat kakak, yaitu: Yadu dan Turwasu (saudara seayah beda ibu), Druhyu dan Anu (saudara kandung). Puru merupakan kakek moyang dari keluarga Pandawa dan Korawa, tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata.

Pururawa (पुरूरव Purūrava) adalah putra Budha dan Ila. Dia merupakan raja awal Dinasti Candra, keturunan Soma (Candra). Dia menikah dengan Ausiniri dan Urwasi. Dari hubungannya dengan Ausiniri, dia tidak memiliki keturunan, sedangkan dari hubungannya dengan Urwasi, dia memiliki beberapa putra, yang terkenal ialah Ayu, yang di kemudian hari menjadi penerus takhta. Dia merupakan leluhur para Pandawa dan Korawa, tokoh utama Mahabharata.

Radha (रधा Radhā) adalah istri Adirata, dan menjadi ibu angkat Karna (berbeda dengan Radha istri Kresna, sang pengembala wanita). Dalam Mahabharata bagian Wanaparwa dikisahkan bahwa suaminya menemukan bayi lelaki yang dihanyutkan di sungai. Mereka mengasuh bayi tersebut selayaknya anak kandung dan memberinya nama Karna. Sebagai putra Radha, kadangkala Karna dipanggil Radheya.[183]

Rewati (रेवती Révatī) adalah putri Raja Kakudmi (Raiwata). Dia merupakan suami bagi Baladewa. Menurut pustaka Purana, dia merupakan reinkarnasi dari Jyotismati, putri Caksusa Manu, yang melakukan tapa brata agar dapat menikahi orang terkuat di dunia. Orang yang dimaksud itu adalah Baladewa, kakak Kresna, yang dikisahkan dalam wiracarita Mahabharata. Dari pernikahannya dengan Baladewa, dia memiliki dua putra yang diberi nama Nisata dan Ulmuka.

Rocamana (रोचमान Rocamāna) adalah seorang penguasa Kerajaan Aswamedha. Menurut Adiparwa, dia merupakan penitisan asura Aswagriwa. Dia dikalahkan oleh Bima dalam kampanye militer menaklukkan kerajaan-kerajaan di India Timur pra-Rajasuya Yudistira. Rocamana memihak kubu Pandawa dalam Perang Kurukshetra. Dia memiliki dua saudara―tidak disebutkan namanya―yang turut serta berperang, dan gugur di tangan Drona. Pada akhirnya, Rocamana gugur di tangan Karna.[184]

Rohini (रोहिणी Rohiṇī) adalah istri pertama Basudewa, dan merupakan ibu Baladewa dan Subadra. Dia juga berperan penting dalam mengasuh Krishna, anak Basudewa dari istrinya yang bernama Dewaki.[185][186] Menurut pustaka Purana, Rohini merupakan putri Raja Bahlika, yang memiliki hubungan keluarga dengan Dinasti Kuru.[187]

Rukma atau Rukmi (रुक्मी) adalah pemimpin kerajaan Widarbha. Dia merupakan putra Raja Bismaka dan merupakan kakak bagi Putri Rukmini.[188] Dia dikisahkan sebagai seorang kesatria yang berseteru dengan Kresna. Saat persiapan perang besar antara Pandawa melawan Korawa dimulai, dia ditolak oleh kedua belah pihak karena dianggap angkuh. Akhir riwayatnya dikisahkan dalam Bhagawatapurana, yaitu terbunuh oleh Baladewa dalam suatu permainan dadu.[189]

Rukmini (रुक्मिणी Rukmiṇī) adalah putri Raja Bismaka dari Kerajaan Widarba. Dia merupakan saudari Rukmi. Rukmini mencintai Kresna dan hendak menikahinya, tetapi dia dijodohkan untuk menikahi Sisupala, yakni Raja Cedi yang mencintai Rukmini. Pada hari yang ditetapkan untuk perkawinan, baik Kresna maupun Sisupala datang ke Kundinyapura, ibu kota Kerajaan Widarba. Sebelum waktu yang ditetapkan, Kresna melarikan Rukmini dan menikahinya di Dwaraka.

Ruru (रुरु) adalah seorang resi, putra Resi Pramati dan bidadari Gretaci. Ruru menikah dengan Pramadwara, putri angkat Resi Stulakesa. Kisah Ruru tidak berkaitan dengan plot utama dan merupakan cerita berbingkai yang mengawali Mahabharata. Diceritakan bahwa menjelang pernikahan, Pramadwara mati dipatuk ular. Sejak saat itu, Ruru membenci ular. Suatu ketika, dia bertemu ular bernama Dunduba dan berniat membunuhnya. Dunduba pun membela diri, lalu mengaitkan kebencian Ruru terhadap ular dengan ambisi Raja Janamejaya untuk melenyapkan seluruh ular dari muka Bumi.

Saci (शची Śacī) alias Indrani (इन्द्राणी Indrāṇī) adalah permaisuri Indra, raja para dewa. Dalam Mahabharata dikisahkan bahwa Indra pernah meletakkan jabatannya sebagai raja para dewa karena telah melakukan suatu dosa. Para resi memilih Raja Nahusa untuk menggantikan Indra, tetapi Saci menolak. Saci berkata bahwa dia bersedia mendampingi Nahusa sebagai raja para dewa yang baru apabila Nahusa datang kepadanya dengan menaiki tandu yang dipikul oleh brahmana. Saat menaiki tandu, Nahusa kehilangan keseimbangan lalu tanpa sengaja kakinya menyentuh kepala Resi Agastya. Akhirnya sang resi marah lalu mengutuk Nahusa menjadi ular.

Sadewa (सहदेव Sahadeva) adalah anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula. Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kembarannya. Dalam hal perbintangan atau astrologi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Drona yang lain. Selain itu, dia juga pandai dalam hal beternak sapi.

Sadewa dari Magadha

[sunting | sunting sumber]

Sadewa (सहदेव Sahadeva) adalah putra Jarasanda dari Magadha. Menurut Mahabharata, saudari-saudarinya yang bernama Asti dan Prapti menikah dengan Kangsa, penguasa Mathura. Setelah Jarasanda gugur dalam perang tanding melawan Bima, Sadewa diangkat menjadi Raja Magadha. Sadewa memiliki saudara bernama Jayatsena (atau Jayasena), yang juga berbagi kekuasaan dengannya.[190] Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak Pandawa dan gugur di tangan Drona.

Sakradewa

[sunting | sunting sumber]

Sakradewa (शक्रदेव Śakradeva) adalah putra Raja Srutayuda dan Ratu Sakrayani dari Kerajaan Kalinga. Dia merupakan yuwaraja (putra mahkota) Kalinga. Dalam Perang Kurukshetra, dia berpihak kepada Korawa. Pada pertempuran hari kedua, dia bersama dua panglimanyaSatya dan Satyadewagugur di tangan Bima.

Sakuntala

[sunting | sunting sumber]

Sakuntala (शकुन्‍तला Śākuntalā) adalah nama permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata. Ibu kandungnya adalah bidadari Menaka dari kahyangan. Sejak lahir, dia dibuang oleh sang ibu, lalu dipungut dan dibesarkan oleh Resi Kanwa. Dia merupakan ibu dari Raja Bharata yang menurunkan Dinasti Kuru.

Salwa (शाल्व Śālva) adalah penguasa Kerajaan Salwa. Dikisahkan bahwa dalam sayembara di Kerajaan Kasi, dia hendak dipilih sebagai suami oleh Putri Amba. Namun Amba diboyong ke Hastinapura oleh Bisma, pangeran dari Kerajaan Kuru, untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya, Raja Kuru. Amba menolak untuk menikah dengan Wicitrawirya karena telanjur berjanji untuk menikah dengan Raja Salwa. Bisma pun mempersilakan Amba kembali kepada Salwa. Namun Salwa menolak untuk menerima Amba kembali sebagai pengantinnya karena dirinya telanjur dipermalukan oleh Bisma.[191] Raja Salwa turut hadir dalam sayembara Drupadi dan upacara Rajasuya Yudistira. Setelah Sisupala dibunuhKresna, dia menyerang Dwaraka dengan wilmana. Akhirnya dia gugur di tangan Kresna.[192]

Salya (शल्य Śalya) adalah penguasa Kerajaan Madra. Dia dikenal sebagai pemanah ulung dan kusir kereta yang handal. Salya merupakan kakak Madri, istri Pandu (ayah para Pandawa). Menjelang terjadinya perang besar di Kurukshetra, dia memutuskan untuk berpihak kepada Pandawa. Namun sebelum perang dimulai, dia ditipu oleh pihak Korawa sehingga terpaksa berperang melawan para Pandawa. Salya akhirnya gugur pada hari terakhir pertempuran di tangan Yudistira.

Para putra Salya

[sunting | sunting sumber]

Salya memiliki tiga putra bernama Madranjaya, Rukmanggada, dan Rukmanarata. Madranjaya merupakan putra sulung dengan selisih umur sepuluh tahun. Sedangkan Rukmanggada dan Rukmanaratha merupakan saudara kembar. Madranjaya gugur di tangan Raja Wirata pada pertempuran hari kedua, sedangkan kedua adiknya dibunuh Abimanyu di dalam formasi Cakrabyuha pada hari ke-13.

Samba (साम्ब Sāmba) adalah putra Kresna dan Jembawati. Dia adalah seorang kesatria terkemuka dari wangsa Yadawa. Kisahnya juga terdapat dalam kitab Hindu Bhagawatapurana. Dikisahkan dalam Mosalaparwa bahwa Samba merupakan kesatria yang takabur; bersama para pemuda Yadawa lainnya, ia mengolok-olok para resi yang mengunjungi Dwaraka, yang akhirnya menyebabkan kehancuran kerajaan tersebut.

Sambarana

[sunting | sunting sumber]

Sambarana (संवरण Saṃvaraṇa) adalah seorang raja dari kalangan Wangsa Candra, putra Reksa. Dia menikah dengan Tapati, dan berputra Kuru, yang keturunannya kemudian dikenal sebagai para Korawa.[193] Menurut kitab Purana, dia berguru pada Resi Wasista dan menjadi pemuja Wisnu yang taat. Anaknya menyucikan suatu lapangan yang kemudian dikenal sebagai Kurukshetra, medan perang Pandawa melawan Korawa.[194]

Samika (शमीक Śamīka) adalah seorang resi yang diceritakan pada bagian awal Mahabharata. Dia tinggal di pertapaan dalam hutan. Pada suatu hari, Raja Parikesit yang sedang berburu kehilangan jejak buruannya di lingkungan pertapaan Samika. Dia pun bertanya kepada Samika yang saat itu sedang bermeditasi dan pantang berbicara. Karena tidak dihiraukan, maka Parikesit mengusili sang resi dengan cara mengalungkan kulit ular. Peristiwa itu disaksikan oleh murid sang resi, lalu dilaporkan kepada Srenggi, putra Samika. Srenggi pun mengutuk agar Parikesit tewas dipatuk ular.

Samudrasena

[sunting | sunting sumber]

Samudrasena (समुद्रसेन) adalah seorang raja. Menurut Adiparwa, dia merupakan penitisan asura Kaleya. Bima mengalahkan Samudrasena saat menaklukkan kerajaan-kerajaan di India Timur dalam rangka persiapan Rajasuya Yudistira. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak ke kubu Korawa.[195]

Sandili (शाण्डिली Śāṇḍilī) adalah seorang brahmana wanita yang tinggal di Gunung Resaba. Tokoh ini muncul dalam cerita berbingkai yang dituturkan Resi Narada pada bagian Udyogaparwa. Dikisahkan bahwa Garuda pernah kehilangan sayapnya secara tiba-tiba karena telah meremehkan tempat tinggal dan gaya hidup yang Sandili terapkan. Akhirnya Garuda pun sadar bahwa ia telah berdosa karena berpikir buruk. Sandili menguatkan hati Garuda dan memaafkannya. Dia pun memberi anugerah bahwa sayap-sayap Garuda akan segera tumbuh kembali.[196][197]

Sangkuni (शकुनि Śakuni) adalah paman para Korawa dari pihak ibu. Dia merupakan putra Raja Subala dari Kerajaan Gandhara. Sangkuni terkenal sebagai tokoh yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Dia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. Menurut Mahabharata, Sangkuni merupakan personifikasi dari Dwaparayuga, yaitu masa kekacauan di muka Bumi, pendahulu zaman kegelapan atau Kaliyuga.

Sanjaya (सञ्जय Sañjaya) adalah putra Gawalgana, kusir di keraton Hastinapura. Dalam struktur pemerintahan Hastinapura, Sanjaya adalah seorang penasihat sekaligus kusir pribadi Raja Dretarastra. Dia juga merupakan narator yang memberikan pemaparan detail tentang berlangsungnya perang Kurukshetra yang tercatat dalam kitab Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, dan Salyaparwa, termasuk narator kitab Bhagawadgita, sisipan dari Bhismaparwa.

Santanu (सांतनु Śāntanu) adalah putra bungsu Raja Pratipa dari trah Candrawangsa, keturunan Maharaja Kuru. Dia memiliki dua kakak, masing-masing bernama Dewapi dan Bahlika yang tidak mewarisi takhta kerajaan. Santanu merupakan suami Dewi Gangga dan Satyawati, dan ayah bagi Bisma, Citrānggada, dan Wicitrawirya. Dia memerintah di Hastinapura, ibu kota sekaligus pusat pemerintahan para keturunan Kuru di Kerajaan Kuru.

Saradwan (शरद्वान् Śaradvān) adalah seorang brahmana putra Resi Gotama (dalam versi Purana disebut sebagai putra Satyaderti, keturunan Satananda) yang sangat tekun dalam tapa dan memiliki keahlian luar biasa dalam ilmu memanah. Dewa Indra mengirim seorang apsara (bidadari) bernama Janapadi untuk menggoda Saradwan sekaligus menguji keteguhan hatinya dalam bertapa. Saat melihat kecantikan apsara tersebut, konsentrasinya terganggu dan tanpa sengaja ia mengalami ejakulasi atau pengeluaran mani. Mani itu jatuh di atas seikat rumput (śara), dan secara ajaib berkembang menjadi sepasang bayi kembar. Mereka kemudian ditemukan oleh Raja Santanu dari Hastinapura. Karena ditemukan dalam keadaan yang membangkitkan rasa belas kasih (kṛpa), mereka diberi nama Krepa dan Krepi. Dengan kesaktiannya, Saradwan tahu bahwa kedua anaknya dipungut, lalu dia pergi menghadap sang raja untuk menjelaskan semuanya. Kelak, Krepa menjadi pendeta keluarga (purohita) Dinasti Kuru, sementara Krepi menikah dengan Drona, guru para pengeran Dinasti Kuru.

Sarama (सरमा Saramā) adalah anjing betina para dewa, menurut mitologi Hindu. Para anjing di Bumi dipercaya sebagai keturunannya sehingga memperoleh matronim "Sarameya". Dalam Mahabharata, dia disebut pada bagian Adiparwa. Dikisahkan bahwa saat Raja Janamejaya akan melangsungkan upacara, seekor anjing berada di dekat lokasi upacara. Adik sang raja mengusir anjing tersebut dengan cara memukulnya. Si anjing pun mengadukan perlakuan itu kepada Sarama. Akhirnya Sarama mengutuk agar upacara yang dilakukan Raja Janamejaya tidak akan sempurna.

Saraswati

[sunting | sunting sumber]

Saraswati (सरस्वती Sarasvatī) adalah salah satu dewi masyhur dalam agama Hindu. Sloka pertama dalam setiap jilid Mahabharata (Astadasaparwa) selalu diawali dengan ungkapan hormat kepada Nara dan Narayana beserta Dewi Saraswati.

Sarmista (शर्मिष्ठा Śarmiṣṭhā) adalah putri Wresaparwa, pemimpin para detya. Riwayatnya muncul sekilas dalam kitab pertama Mahabharata, yaitu Adiparwa.[198] Sarmista merupakan istri kedua Raja Yayati, yang memiliki tiga putra, salah satunya adalah Puru, leluhur Pandawa dan Korawa. Maka dari itu, dia merupakan nenek moyang tokoh utama Mahabharata.[199]

Satanika (शतानीक Śatānīka) adalah putra Nakula dan Dropadi, dan berada di urutan ketiga di antara Pancakumara. Dalam perang Kurukshetra, dia diangkat sebagai wakil panglima Drestadyumna dalam merencanakan formasi tempur.[200] Dia membantai pasukan sekutu Korawa yang dipimpin Butakarma.[201] Satanika membunuh pangeran Kalinga. Pada hari ke-17, ia menghancurkan sebagian besar tentara Korawa.[202]

Satyabama

[sunting | sunting sumber]

Satyabama (सत्यभामा Satyabhāmā) adalah putri Satrajit, bangsawan Yadawa. Dia merupakan salah satu istri Kresna. Dalam Wanaparwa terkandung kisah pertemanan antara Satyabama dan Dropadi. Diceritakan bahwa Kresna dan Satyabama mengunjungi para Pandawa dan Dropadi yang saat itu sedang mengasingkan diri di hutan Kamyaka. Di sana, Satyabama mengobrol dengan Dropadi perihal kehidupan rumah tangga dan kewajiban seorang istri (stridharma).[203]

Satyajit (सत्यजित्) adalah seorang pangeran dari Kerajaan Pancala.[204] Hubungannya dengan Raja Drupada tidak konsisten dalam beberapa versi; ada yang mencatatnya sebagai putra, ada yang sebagai saudara. Ketika Drupada berselisih dengan Drona, Satyajit tampil membela rajanya. Dalam perang Kurukshetra, Satyajit gugur di tangan Drona pada hari ke-14, setelah berjuang keras melindungi Yudistira, pemimpin para Pandawa.

Satyaka (सत्यक) adalah seorang kesatria bangsa Yadawa. Dia merupakan putra Sini, dan ayah bagi Satyaki. Tokoh ini disebutkan saat kunjungan Arjuna ke Dwaraka sebagaimana tertulis dalam Adiparwa. Seperti kebanyakan kesatria Yadawa lainnya, dia tidak terlibat Perang Kurukshetra, tetapi putranya turut serta. Bersama Satyaki dan Kertawarma  para kesatria Yadawa yang sintas dalam perang tersebut  dia melakukan upacara peringatan kematian Abimanyu.

Satyaki (सात्यकि Sātyaki) adalah seorang kesatria Warsneya, salah satu klan bangsa Yadawa, yang memihak para Pandawa dalam Perang Kurukshetra. Dia merupakan salah satu putra Satyaka. Dia merupakan salah satu sekutu Pandawa—selain Kresna dan Yuyutsu—yang masih hidup setelah perang berakhir. Pada akhir riwayatnya, dia tewas dalam bentrokan yang terjadi antara sesama bangsa Yadawa di pantai Prabhasa.

Satyawan (सत्यवान Satyavān) adalah tokoh cerita berbingkai yang terkandung dalam Wanaparwa. Dikisahkan bahwa Satyawan merupakan putra Raja Dyumatsena dari Kerajaan Salwa. Ayahnya kalah perang sehingga dia sekeluarga mengasingkan diri ke hutan. Akhirnya dia menikah dengan Putri Sawitri dari Kerajaan Madra. Pada suatu ketika, dewa kematian (Yama) mencabut nyawa Satyawan. Sawitri membujuk sang dewa agar menghidupkan suaminya kembali.[205]

Satyawati

[sunting | sunting sumber]

Satyawati (सत्यवती Satyavatī) adalah permaisuri Raja Santanu dari Hastinapura, dan ibu kandung bagi Byasa, Citrānggada, dan Wicitrawirya. Dia merupakan nenek buyut bagi para Pandawa dan Korawa, tokoh utama Mahabharata. Tokoh ini diceritakan dalam jilid awal Mahabharata, terutama Adiparwa. Satyawati merupakan putri angkat keluarga nelayan di tepi sungai Yamuna. Saat dewasa, dia dinikahi oleh Santanu dari Hastinapura. Kemudian, keturunan Satyawati menjadi penerus Dinasti Kuru.

Sawitri (dewi)

[sunting | sunting sumber]

Sawitri (सावित्री Sāvitrī) adalah dewi dalam kepercayaan Hindu, yang dapat mengacu kepada Saraswati atau Gayatri. Dewi ini disebutkan dalam Wanaparwa, tepatnya pada episode kisah cinta "Satyawan dan Sawitri". Dewi ini dipuja oleh Raja Aswapati. Berkenan atas pengabdian sang raja, maka sang dewi pun menganugerahkan seorang putri kepadanya. Raja menamainya "Sawitri", sama seperti sang dewi.

Sawitri (putri)

[sunting | sunting sumber]

Sawitri (सावित्री Sāvitrī) adalah putri Raja Aswapati. Tokoh ini tidak terkait dengan plot utama Mahabharata, tetapi diceritakan sebagai cerita berbingkai yang dinarasikan oleh Resi Markandeya saat para Pandawa menjalani hukuman pengasingan di hutan.[206][207] Dikisahkan bahwa Sawitri menikah dengan Satyawan, pangeran yang terbuang. Pada suatu ketika, dewa kematian datang menjemput Satyawan. Agar lolos dari kematian, Sawitri pun bernegosiasi dengan sang dewa, dan akhirnya menang. Satyawan pun hidup kembali.

Senabindu

[sunting | sunting sumber]

Senabindu (सेनाबिन्दु Senābindu) adalah seorang raja, penitisan asura Tuhunda. Arjuna mengalahkan raja tersebut dalam upaya penaklukkan kerajaan-kerajaan di India Utara demi persiapan upacara Rajasuya Yudistira. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak ke kubu Pandawa.

Sesa (शेष Śeṣa) alias Ananta (अनन्त) adalah naga raksasa, putra Resi Kasyapa dan Dewi Kadru. Kisahnya tercatat dalam Adiparwa bagian Astikaparwa. Sesa tidak sepaham dengan para saudaranya yang membenci Garuda. Maka dari itu, dia memutuskan untuk mengasingkan diri dalam pertapaan. Atas berkah Dewa Brahma, Sesa dikaruniai kemampuan untuk menopang Bumi. Dikisahkan pula bahwa Sesa menitis kepada Baladewa, sedangkan istrinya menitis kepada Rewati.[208][209]

Sini (शिनि Śini) adalah seorang kesatria dari keluarga Dewamida, bangsa Yadawa. Dalam pustaka Purana, dia disebut sebagai putra Anamitra, dan ayah bagi Satyaka. Pada masa muda, Sini mewakili Basudewa untuk mengikuti sayembara memperebutkan Dewaki. Dia berhasil mengalahkan para kesatria yang hadir pada saat itu dan memboyong Dewaki. Pangeran Somadata dari Bahlika mencoba menghentikan Sini, tetapi tidak berhasil dan merasa dipermalukan. Sejak saat itu, timbul hubungan buruk antara keturunan Sini dengan keturunan Somadata. Di antara keturunan Sini, Satyaki merupakan yang termasyhur dan sering disebut dengan panggilan "cucu Sini" dalam episode-episode Perang Kurukshetra.

Sisupala (शिशुपाल Śiśupāla) adalah putra Damagosa dan Srutakerti (Srutasrawa) dari kerajaan Chedi, kerabat Basudewa dari Mathura. Dia merupakan sepupu Baladewa, Kresna, dan Subadra. Diceritakan bahwa dia merupakan musuh bebuyutan Kresna. Sisupala dibunuh oleh Kresna pada saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan oleh Yudistira sebagai hukuman atas penghinaan yang bertubi-tubi. Kitab Purana menjelaskan bahwa Sisupala merupakan penitisan dari Jaya, penjaga gerbang Waikunta, istana Dewa Wisnu.[210]

Para putra Sisupala

[sunting | sunting sumber]

Empat putra Raja Sisupala adalah Drestaketu, Mahipala, Suketu, dan Saraba. Mereka memiliki saudari bernama Karenumati yang lebih muda dari Drestaketu, tetapi lebih tua daripada tiga lainnya. Setelah Sisupala tewas, Drestaketu diangkat sebagai Raja Chedi. Saat Perang Kurukshetra meletus, para putra Sisupala memihak ke kubu Pandawa. Dalam pertempuran yang berlangsung selama 18 hari, Drestaketu gugur di tangan Drona pada hari keenam, sedangkan adik-adiknya dibunuh oleh Wrekasura, putra Sangkuni.

Siwa (शिव Śiva) adalah salah satu dewa utama dalam agama Hindu. Dewa ini disebutkan dalam sejumlah sastra Hindu termasuk Mahabharata. Dalam wiracarita tersebut, Siwa muncul dalam episode Kairataparwa, yang mengisahkan pertapaan Arjuna demi memperoleh senjata sakti. Siwa mengambil wujud Kiratamurti lalu menganugerahkan Pasupatastra (panah Pasupati) kepadanya. Dewa ini juga muncul dalam kisah serangan malam Aswatama, tak lama setelah Perang Kurukshetra berakhir. Siwa menganugerahkan kekuatan tambahan kepada Aswatama yang membuatnya mampu membantai para kesatria sintas di kubu Pandawa.

Sodasa (सौदास Saudāsa), disebut pula Mitrasaha atau Kalmasapada dalam kitab-kitab Purana, adalah seorang raja dari Dinasti Ikswaku. Dalam Mahabharata, kisahnya dituturkan oleh Bisma pada bagian Anusasanaparwa. Diceritakan bahwa pada mulanya, Sodasa merupakan seorang raja yang menjalankan darma. Karena kesalahan terhadap kaum brahmana, ia dikutuk menjadi makhluk ganas yang memiliki kecenderungan memakan manusia. Setelah masa kutukan berakhir, ia kembali ke wujud semula.[211]

Somadata (सोमदत्त Somadatta) adalah pangeran kerajaan Bahlika, putra Bahlika. Dia merupakan keponakan Prabu Santanu dari Hastinapura. Pada waktu muda, dia bersaing dengan pangeran Sini dari wangsa Yadawa untuk memperebutkan Dewaki. Sejak kalah dari Sini, timbul perselisihan antara keluarga Sini dengan keluarga Somadata. Somadata bersekutu dengan Korawa dalam perang di Kurukshetra. Dalam perang tersebut, Somadata dibunuh oleh Satyaki, cucu Sini.

Sonaka (शौनक śaunaka) adalah seorang brahmana masyhur dalam kepercayaan Hindu. Sonaka melaksanakan upacara skala besar selama 12 hari yang berlangsung di hutan Nemisa.[212][213] Sonaka juga disebut dalam penuturan wiracarita Mahabharata. Kisah tersebut dinarasikan oleh seorang pencerita bernama Ugrasrawa saat persamuhan para resi yang diadakan oleh Sonaka di hutan Nemisa.

Śreṇimān (श्रेणिमान् Śreṇimān) adalah seorang raja yang menguasai Kumaradesa. Dia dikalahkan oleh Nakula saat ekspedisi empat Pandawa menaklukkan kerajaan-kerajaan di empat penjuru India, dalam rangka menyukseskan upacara Rajasuya Yudistira. Dalam Perang Kurukshetra, dia memihak kubu Pandawa. Dia gugur di tangan Drona.

Srikandi (शिखंडी Śikhaṇḍī) adalah tokoh putri Raja Drupada dan Persati dari Kerajaan Panchala. Dalam kitab Mahabharata bagian Adiparwa dan Udyogaparwa dijelaskan bahwa dia merupakan reinkarnasi putri kerajaan Kasi bernama Amba, yang meninggal dengan hati penuh dendam kepada Bisma, pangeran Dinasti Kuru. Kemudian Amba terlahir kembali sebagai anak perempuan Drupada. Namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai laki-laki. Dalam Perang Kurukshetra, dia berada di pihak Pandawa. Pada pertempuran hari ke-10, dia berhasil menaklukkan Bisma atas bantuan Arjuna.

Srutakarma

[sunting | sunting sumber]

Srutakarma (श्रुतकर्म Śrutakarma) adalah putra Arjuna dan Dropadi, dan merupakan yang bungsu di antara saudaranya. Seperti ayahnya, dia mahir dalam panahan. Ketika perang Kurukshetra berlangsung, dia mengalahkan Raja Sudaksina dari Kamboja pada hari pertama. Dia juga bertarung dengan Jayatsena, salah satu Korawa pada hari ke-6. Dia dibunuh oleh Aswatama saat beristirahat di perkemahannya pada hari terakhir pertempuran.

Srutasena (Srutakerti)

[sunting | sunting sumber]

Srutasena (श्रुतसेन Śrutaséna) atau Srutakerti (श्रुतकृति Śrutakṛti) merupakan putra Sadewa dan Dropadi, dan berada di urutan keempat di antara Pancakumara. Seperti ayahnya, dia berwatak cerdas dan cermat. Dalam kisah perang Kurukshetra, ia membunuh Sala, adik Burisrawa pada hari ke-14.[214] Dia dibunuh oleh Aswatama saat beristirahat di perkemahannya pada hari terakhir pertempuran.

Srutayuda

[sunting | sunting sumber]

Srutayuda (श्रुतायुध Śrutāyudha) adalah seorang kesatria dari Kerajaan Kalinga. Dia merupakan putra Dewa Baruna dan Dewi Parnasa. Baruna memberinya anugerah berupa senjata gada yang dapat membuatnya tak terkalahkan dalam setiap pertempuran. Namun gada tersebut tidak boleh digunakan untuk menyerang orang yang tak bersenjata. Srutayuda merupakan sekutu Jarasanda. Setelah Jarasanda kalah oleh siasat Kresna, maka dia pun membenci Kresna. Dalam Perang Kurukshetra, Srutayuda mengarahkan gadanya kepada Kresna. Namun karena Kresna tidak bersenjata, maka gada itu berbalik kepadanya dan membunuhnya.[215][216]

Stuna (स्थूण Sthūṇa) atau Stunakarna (स्थुणाकर्ण Sthuṇākarṇa) adalah seorang raja yaksa (makhluk gaib) pengikut Kuwera (dewa kekayaan), tinggal di suatu istana dalam hutan yang tidak pernah dijamah laki-laki karena takut kepadanya.[217] Kisahnya tercatat dalam kilas balik yang menerangkan asal-usul Srikandi, sebagaimana termaktub dalam Udyogaparwa. Dikisahkan bahwa Srikandi dari Panchala (perempuan yang dibesarkan sebagai laki-laki) dijodohkan dengan putri Raja Hiranyawarma. Namun tak berapa lama, identitasnya sebagai perempuan terungkap. Sang raja merasa tertipu sehingga mengumumkan perang ke kerajaan Pancala. Srikandi pun malu dan melarikan diri ke hutan kediaman yaksa Stuna. Setelah Srikandi menceritakan kisahnya, sang yaksa merasa iba, lalu bersedia untuk menukar jenis kelaminnya dengan Srikandi untuk sementara waktu. Akhirnya Srikandi kembali ke hadapan orang tua dan mertuanya sebagai laki-laki dan mencegah perang. Sementara itu, Kuwera datang berkunjung ke istana Stuna, tapi Stuna tidak mau menyambutnya dalam wujud wanita. Sebagai hukuman, Kuwera mengutuk Stuna agar tetap berada dalam wujud perempuan sampai Srikandi meninggal dunia.[218]

Subala (सुबल) adalah penguasa Kerajaan Gandhara, ayah bagi Sangkuni dan Gandari. Dia merupakan mertua Dretarastra dari Kerajaan Kuru. Pada awalnya Subala ragu untuk menyetujui lamaran pernikahan Dretarastra kepada Gandari, sebab tahu bahwa Dretarastra buta. Dengan mempertimbangkan reputasi Kerajaan Kuru, maka dia menyetujui pinangan tersebut.

Subadra (सुभद्रा Subhadrā) adalah putri Basudewa dari Kerajaan Surasena. Subadra mempunyai dua orang kakak yaitu Baladewa dan Kresna. Subadra menikah dengan salah satu anggota Pandawa yakni Arjuna. Subadra merupakan ibu Abimanyu, yang kemudian menurunkan Prabu Parikesit.

Sudaksina

[sunting | sunting sumber]

Sudaksina (सुदक्षिण Sudakṣiṇa) adalah raja ketiga Kamboja. Raja tersebut ikut berpartisipasi dalam perang saudara di Kurukshetra dan memihak Korawa. Pada pertempuran di hari keempat belas, Arjuna berupaya menjangkau Jayadrata dengan kereta perangnya. Dalam kesempatan tersebut, Sudaksina menghadang Arjuna untuk membantu Jayadrata. Arjuna mengeluarkan senjata Indrastra yang segera menghujani tentara Korawa dengan ribuan panah. Sudaksina gugur setelah terkena serangan panah tersebut.[219]

Sudesna (सुदेष्णा Sudéṣṇā) adalah permaisuri Raja Wirata, yaitu raja yang menyediakan lapangan pekerjaan kepada para Pandawa saat mereka hidup dalam masa penyamaran selama setahun di kerajaan Wirata. Dia merupakan ibu bagi Utara, Utari, Sweta, dan Wratsangka. Dia memiliki saudara bernama Kicaka yang menjabat sebagai panglima di kerajaan Matsya, dan seorang ipar bernama Satanika.[220] Kebanyakan kisah tentang Sudesna terdapat dalam Mahabharata buku ke-4, yaitu Wirataparwa.

Dalam Mahabharata, ada beberapa tokoh bernama Sunanda (सुनन्दा Sunandā), antara lain:

  1. Putri Raja Sarwasena dari Kerajaan Kashi. Dia menikah dengan Bharata dari Kerajaan Kuru dan dikaruniai putra yang diberi nama Bumanyu.
  2. Putri dari Kerajaan Siwi. Dia menikah dengan Raja Pratipa dari Dinasti Kuru dan memiliki tiga putra: Dewapi, Bahlika, dan Santanu.
  3. Putri Raja Wirabahu dari Kerajaan Chedi. Dia merupakan adik Subahu, dan menjadi pendamping Damayanti yang sedang berkelana di Chedi.

Sunda dan Upasunda

[sunting | sunting sumber]

Sunda dan Upasunda (सुन्द उपसुन्द Sunda Upasunda) adalah nama dua asura bersaudara dalam cerita berbingkai yang dituturkan oleh Resi Narada.[221] Diceritakan bahwa kedua asura tersebut sangat kuat dan selalu kompak. Pada akhirnya, mereka tewas setelah bertarung memperebutkan bidadari Tilotama. Saat berceramah kepada para Pandawa, Narada memakai cerita Sunda dan Upasunda sebagai alegori untuk mencontohkan bahwa suatu godaan dapat menghancurkan persaudaraan.

Surasena (शूरसेन Śūrasena) adalah raja bangsa Yadawa di Mathura, dan namanya dipakai sebagai nama kerajaan, yaitu Kerajaan Surasena.[222] Menurut kitab Mahabharata, dia merupakan putra Dewamida, sedangkan menurut Purana, ayahnya bernama Dewamidusa.[223] Dia sering disebut dalam Mahabharata dan Purana sebagai ayah Basudewa dan Perta (Kunti), dan merupakan kakek bagi Kresna dan para Pandawa (dari pihak ibu).[224]

Surya (सूर्य Sūrya) adalah dewa matahari menurut kepercayaan Hindu. Dalam Mahabharata, Dewa Surya memberi Kunti seorang putra sebab Kunti telah mencoba ilmu Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa dan memperoleh keturunan darinya. Karena pada saat itu Kunti belum menikah, maka dia segera membuang bayi yang dia lahirkan (di kemudian hari, bayi tersebut terkenal sebagai Karna). Dalam bagian Wanaparwa yang mengisahkan pengasingan para Pandawa ke hutan, Dewa Surya memberikan aksayapatra ("periuk ajaib") kepada Yudistira agar para Pandawa tidak mengalami kesulitan pangan.

Susarma (सुशर्म Suśārma) adalah raja Trigarta. Dia menjalin hubungan yang baik dengan para Korawa dan Sangkuni, serta membantu mereka menginvasi Kerajaan Matsya. Pada saat perang Kurukshetra meletus, Susarma memihak Korawa. Dia sempat gentar setelah menyaksikan Dorna, panglima perang Korawa, gugur pada hari ke-13.[225] Susarma tetap bertahan hingga Salya diangkat sebagai panglima perang Korawa. Setelah gugurnya Salya, Susarma berhadapan kembali dengan Arjuna. Pada akhirnya, ia gugur setelah jantungnya tertembus panah yang ditembakkan Arjuna.[226]

Sutasoma (सुतसोम) adalah putra Bima dan Dropadi, dan urutan kedua di antara Pancakumara. Sebagaimana ayahnya, dia mahir memakai senjata gada, demikian pula dalam panahan. Pada hari pertama perang Kurukshetra, dia berhadapan dengan pangeran Wikarna, salah satu putra Dretarastra. Dia dan anggota Pancakumara lainnya berperan penting dalam menyukseskan serangan kubu Pandawa.[227] Pada akhirnya dia tewas dibunuh Aswatama saat hari berakhirnya pertempuran.

Sukra (शुक्राचर्य Śukrācārya) adalah nama seorang acarya, keturunan Resi Bregu. Istrinya adalah Jayanti, putri Indra. Kisahnya terutama terdapat dalam Adiparwa, bagian awal Mahabharata. Dia berperan sebagai guru para asura, dan bersaing dengan Wrehaspati, guru para dewa. Dia menguasai mantra yang dapat menghidupkan orang mati, yang dia wariskan kepada muridnya, Kaca. Dia memiliki seorang putri bernama Dewayani, yang kemudian menjadi istri Raja Yayati (leluhur Pandawa dan Korawa) dari Dinasti Candra.

Sweta (श्वेत Śveta) adalah pangeran dari Kerajaan Matsya, putra Raja Wirata. Dia bertempur di pihak Pandawa dalam perang besar di Kurukshetra. Dia merupakan salah satu kesatria Pandawa yang gugur pada hari pertama Perang Kurukshetra. Dikisahkan bahwa sebelumnya, saudaranya yang bernama Utara gugur di tangan Salya. Sweta pun mengamuk dan menimbulkan kerugian besar di pihak Korawa. Akhirnya dia gugur di tangan Bisma, panglima tertinggi pasukan Korawa pada saat itu.

Swetaki (श्वेतकि Śvetaki) adalah seorang raja yang terobsesi untuk melakukan yadnya (upacara keagamaan) berkali-kali bahkan berlarut-larut. Tindakannya menjadi alasan bagi Dewa Agni (api) untuk menghanguskan hutan Kandhawa, sebagaimana tercatat dalam Adiparwa. Dikisahkan bahwa karena saking sering dan lamanya menyelenggarakan upacara, para penghulunya (retwika) pun meninggalkannya. Dia terpaksa mencari penghulu yang baru. Atas petunjuk Dewa Siwa, Swetaki melaksanakan upacara persembahan kepada Dewa Agni (api) selama 12 tahun berturut-turut. Dia memilih Resi Durwasa sebagai pemimpin upacaranya. Selama 12 tahun, Agni banyak mengonsumsi sajen mentega sehingga pancaran tubuhnya berbeda dan melemah. Atas saran Brahma, Agni diminta untuk melahap hutan Khandawa, kediaman musuh para dewa. Dengan bantuan Arjuna dan Kresna, Agni menghanguskan hutan tersebut sehingga tubuhnya normal kembali.[228]

Taksaka (तक्षक Takṣaka) adalah seekor naga, putra Resi Kasyapa dan Dewi Kadru. Dia merupakan sahabat Dewa Indra. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa dia menghuni hutan Khandawa sebelum hutan tersebut dibakar Dewa Agni atas bantuan Arjuna dari Hastinapura. Bertahun-tahun kemudian, setelah memperoleh kesempatan, Taksaka memagut Parikesit (cucu Arjuna) hingga tewas. Janamejaya (putra Parikesit) membalas kematian ayahnya dengan cara melangsungkan upacara Sarpahoma (kurban ular). Upacara tersebut dihentikan oleh Astika, keponakan Taksaka.

Tapati (तपती Tapatī) adalah seorang dewi atau personifikasi dari sungai Tapati. Dia menikah dengan Raja Sambarana dari Dinasti Candra. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai putra yang diberi nama Kuru. Kemudian Kuru mendirikan Dinasti Kuru dan menurunkan para raja Hastinapura. Maka dari itu, Tapati merupakan salah satu nenek moyang Pandawa dan Korawa.[229][230]

Tara (तारा Tārā) adalah seorang dewi, istri Wrehaspati, guru para dewa. Dikisahkan bahwa pada suatu zaman, Dewa Candra memboyong Tara dan mengajaknya kawin lari, meskipun saat itu status Tara masih bersuami.[231] Hal itu memicu perang antara para dewa yang disebut Tarakamayasangrama. Perang itu berhasil dimenangkan Wrehaspati. Namun, Tara kembali dalam keadaan hamil. Akhirnya dia melahirkan Budha, yang kemudian menurunkan Pururawa, leluhur Pandawa dan Korawa.

Tilotama (तिलोत्तमा Tilottamā) adalah seorang bidadari. Kisahnya terdapat dalam Adiparwa dengan Resi Narada sebagai naratornya. Dikisahkan bahwa pada suatu zaman, Bumi diteror raksasa Sunda dan Upasunda. Keduanya sangat kompak, saling membantu, melindungi, dan berbagi. Tilotama diutus dengan misi menghancurkan persatuan kedua raksasa tersebut. Saat Sunda dan Upasunda berjumpa Tilotama, mereka berniat mengawininya tanpa berbagi. Akhirnya kedua raksasa itu tewas setelah berkelahi untuk memperebutkan Tilotama.[232]

Tuladara (तुलाधार Tulādhāra) adalah seorang waisya dari Kerajaan Kasi, yang terdapat dalam cerita berbingkai dalam Santiparwa, dituturkan oleh Bisma kepada Yudistira. Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Tuladara didatangi oleh Jajali, seorang brahmana. Jajali berkata bahwa ada suara dari langit yang menyatakan Tuladara lebih unggul daripada Jajali. Tuladara pun menyampaikan bahwa selama ini dia hanya berdagang secara jujur, rendah hati, dan tidak melanggar darma. Kisah Tuladara merupakan alegori Hindu bahwa kejujuran dan kerendahhatian lebih utama daripada kebanggaan akibat pencapaian spiritual.[233]

Turwasu (तुर्वसु) adalah putra kedua Raja Yayati dan Dewayani. Kisahnya terdapat dalam Adiparwa, pada bagian yang membahas leluhur Pandawa dan Korawa. Diceritakan bahwa Yayati menjadi tua sebelum waktunya akibat dikutuk oleh Sukra (mertuanya) karena melanggar janji pranikah. Namun kutukan tersebut dapat dilimpahkan kepada salah satu putranya. Turwasu menolak untuk menggantikan ayahnya menanggung kutukan tersebut. Akhirnya, Turwasu tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.

Twasta (त्वष्टा Tvaṣṭā) atau Twastri (त्वष्टृ Tvaṣṭṛ) adalah seorang dewa, salah satu dari kelompok Aditya. Dia merupakan dewa pertukangan dan pandai besi. Dewa ini muncul dalam cerita berbingkai dalam Udyogaparwa, dinarasikan oleh Salya. Diceritakan bahwa dia pernah menciptakaan seorang putra dari kekuatan supernatural. Putra tersebut ditaklukkan oleh Dewa Indra agar tidak menjadi ancaman di kemudian hari. Akhirnya, Twastri menciptakan raksasa Wretra untuk membalas dendam. Raksasa itu dikalahkan oleh Indra dengan senjata bajra.

Udawa (उध्धव Uddhava) adalah seorang bangsawan klan Wresni, berperan sebagai sahabat dan penasihat Kresna. Dalam Sabhaparwa disebutkan bahwa Udawa merupakan yang terbijak di antara keluarga Wresni, yang sepadan dengan Widura di Dinasti Kuru.[234] Tokoh ini lebih banyak muncul dalam Bhagawatapurana daripada Mahabharata.

Ugrasena (उग्रसेन Ugraséna) adalah nama Raja Mathura, pusat pemerintahan bangsa Yadawa, serta klan Wresni dan Bhoja. Diceritakan bahwa Ugrasena dikudeta oleh Kangsa, anaknya sendiri. Kemudian Kangsa dibunuh oleh Kresna. Ugrasena mengambil kembali kerajaannya setelah tewasnya Kangsa.

Ugrasrawa

[sunting | sunting sumber]

Ugrasrawa (उग्रश्रवस Ugraśravas) atau Ugrasrawa Sauti adalah penyair sastra Purana[235] dan narator Mahabharata,[236] dengan narasi yang umumnya dilakukan di hadapan para cendekiawan yang berkumpul di hutan Nemisa. Dia merupakan murid Byasa, penyusun kitab Mahabharata. Keseluruhan kitab Mahabharata disusun sebagai cerita berbingkai, diawali dengan dialog yang terjadi antara Ugrasrawa (sebagai penutur) dengan Sonaka (sebagai pendengar). Di dalam dialog tersebut terkandung sejarah para raja (Bharata) keturunan Barata yang dituturkan oleh Resi Wesampayana kepada Raja Janamejaya. Kemudian penuturan dari Wesampayana mengandung kisah Perang Kurukshetra (Jaya) yang dituturkan oleh Sanjaya kepada Raja Dretarastra.

Uluka (उलूक Ulūka) adalah putra raja Gandhara, Sangkuni. Ayahnya tinggal bersama bibinya, Gandari, yang telah menjadi permaisuri Dretarastra dari Dinasti Kuru di Hastinapura. Dalam Udyogaparwa, sebelum perang dimulai, Duryodana mengutus Uluka ke perkemahan para Pandawa untuk menyampaikan pesan verbal dengan kata-kata kasar dan hinaan kepada para Pandawa. Pada akhirnya, dia dibunuh oleh Sadewa, yang bungsu di antara Pandawa.

Ulupi (उलूपी Ulūpī) adalah salah satu istri Arjuna dari kaum naga. Dia putri dari Korawya, seorang raja naga. Dia terutama disebutkan dalam bagian Adiparwa, lalu Aswamedhikaparwa (bagian tentang pertarungan antara Arjuna melawan Babruwahana—putra kandung Arjuna dengan Citrānggadā). Dia merupakan orang yang menghidupkan Arjuna setelah dibunuh oleh Babruwahana. Setelah menghidupkan Arjuna, Ulupi tinggal bersama keluarga Kuru di Hastinapura. Saat para Pandawa dan Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan terakhir mereka, Ulupi kembali ke tempat asalnya di sungai Gangga.[237]

Uma (उमा Umā) atau Parwati (पार्वती Pārvatī) adalah salah satu dewi dalam agama Hindu, yang menjadi permaisuri Dewa Siwa. Uma tidak banyak disebutkan dalam Mahabharata, dan terutama muncul sebagai tokoh pendamping dalam kisah-kisah yang melibatkan Siwa. Dalam Wanaparwa, dia turut mendampingi Siwa yang menguji keteguhan tapa Arjuna. Dalam Anusasanaparwa, dia muncul dalam kisah sisipan yang mengandung dialog Siwaistik.

Upamanyu (उपमन्यु) adalah seorang brahmana, murid Ayodadomya (Domya). Kisahnya muncul pada bagian awal Adiparwa. Dikisahkan bahwa ia ditugaskan untuk menggembala sapi tetapi tanpa bekal. Pada suatu hari, saat tak kuat lagi menahan lapar dan dahaga, Upamanyu nekat memakan daun biduri sehingga matanya menjadi buta. Dalam kondisi tersebut, ia terjatuh ke sumur. Akhirnya Ayodadomya memanggil dewa pengobatan, Aswin, untuk menyembuhkan Upamanyu. Kemudian ia memberkati Upamanyu.[238]

Uparicarabasu

[sunting | sunting sumber]

Uparicarabasu (उपरिचरवसु Uparicaravasu) adalah seorang raja keturunan Kuru, suami Girika. Dia merupakan ayah bagi Pratyagraha―yang kemudian menurunkan para raja Chedi―dan Wrehadrata, yang menurunkan para raja Magadha. Dari ikan jelmaan bidadari Adrika―yang menelan sperma sang raja―dia memiliki seorang putra yang diberi nama Matsya, dan seorang putri bernama Satyawati yang kemudian diadopsi oleh keluarga nelayan.

Urwasi (उर्वशी Urvaśī) adalah seorang bidadari yang tinggal di kediaman Dewa Indra. Konon di antara para bidadari, dialah yang paling cantik. Dia menjadi permaisuri Raja Pururawa, leluhur Dinasti Candra atau Candrawangsa. Dalam kitab Wanaparwa, Arjuna tinggal selama beberapa waktu di kediaman Dewa Indra. Dia menolak permohonan Urwasi yang ingin menikahinya. Karena marah, Urwasi mengutuk agar kelak Arjuna menjadi seorang banci. Kutukan itu terwujud saat para Pandawa melakukan penyamaran di Kerajaan Matsya.[239]

Utamoja (उत्तमौज Uttamauja) adalah seorang kesatria dari keluarga bangsawan kerajaan Panchala. Dia bertugas sebagai pengawal Arjuna yang melindungi sisi kanan kereta perang saat perang Kurukshetra. Kadangkala dia juga ditugaskan melindungi sisi belakang. Dia merupakan salah satu kesatria yang bertahan hidup sampai perang berakhir. Dia tewas terbunuh dalam serangan malam yang dilakukan Aswatama, tak lama setelah perang berakhir.

Utangka (उत्तङ्क Uttaṅka) adalah seorang resi. Dalam kitab Adiparwa, Utangka merupakan penasihat Raja Janamejaya yang menyarankan agar sang raja mengadakan upacara Sarpahoma, sebagai pembalasan atas kematian Parikesit, ayah sang raja yang wafat setelah dipatuk ular. Kitab Aswamedikaparwa mengisahkan pertemuan antara Utangka dengan Kresna. Kresna memberikan anugerah bahwa kapan pun sang resi merasa haus, dia akan menemukan sumber air.

Utara (उत्तर Uttara) adalah nama salah seorang putra Wirata, Raja Matsya. Dia merupakan saudara Sweta, Wratsangka (Sangka), dan Utari. Dalam naskah Wirataparwa diceritakan bahwa dia adalah seorang pangeran yang sombong dan takabur. Ketika kerajaannya diserang oleh para Korawa dari Hastinapura, dia sesumbar untuk menghadang mereka dengan hanya ditemani oleh seorang waria bernama Wrehanala.

Utari (उत्तरा Uttarā) adalah putri Raja Wirata dan Ratu Sudesna dari kerajaan Matsya. Dia menjadi murid Wrehanala (Arjuna), pelatih seni musik dan tari di keputren.[240][241] Utari dinikahkan dengan Abimanyu, putra Arjuna yang tinggal di Dwaraka. Dari pernikahan tersebut, dia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Parikesit, yang kemudian meneruskan garis keturunan Pandawa, dan menjadi raja di Hastinapura.

Wabruwahana

[sunting | sunting sumber]

Wapustama

[sunting | sunting sumber]

Wapustama (वपुष्टमा Vapuṣṭamā) adalah seorang putri dari Kerajaan Kashi, anak Subarnawarma. Dia merupakan cucu Sarwaga, dan cicit Bima (anggota Pandawa). Wapustama menikah dengan Janamejaya, cicit Arjuna. Dari pernikahannya, mereka memiliki dua putra: Satanika dan Sangkukarna.

Wasista (वसिष्ठ Vasiṣṭha) adalah seorang resi dalam agama Hindu, yang termasuk ke dalam anggota Saptaresi. Dia disebut dalam Adiparwa sebagai resi yang mengutuk Delapan Wasu karena berusaha mencuri Kamadenu, sapi miliknya. Salah satu Wasu tersebut akhirnya bereinkarnasi sebagai Bisma, kakek Pandawa dan Korawa. Pada bagian Sambhawaparwa (kisah leluhur Pandawa dan Korawa), saat Raja Sambarana hidup dalam pengasingan, dia mengangkat Wasista menjadi pendeta keluarga Bharata.[242]

Wena (वेन Vēna) adalah seorang raja keturunan Manu. Kisahnya terdapat dalam Santiparwa, dalam bentuk cerita berbingkai yang disampaikan oleh Bisma kepada Yudistira. Diceritakan bahwa Wena merupakan sosok raja yang kejam dan angkuh. Dia melarang rakyatnya melakukan upacara keagamaan. Para resi yang melihat keadaan ini mencoba menasihatinya, tetapi Wena tidak mau berubah. Akhirnya para resi membunuh Wena demi menghentikan penderitaan rakyat. Setelah kematiannya, para resi melakukan ritual terhadap tubuh Wena, dan dari sana muncul sosok raja baru bernama Pertu yang membawa sifat kebajikan.[243]

Wesampayana

[sunting | sunting sumber]

Wesampayana (वैशंपायन Vaiśampāyana) adalah narator wiracarita Mahabharata. Dia berasal dari Takshashila, dan disanalah wiracarita tersebut dituturkan untuk yang pertama kali.[244][245] Dia merupakan murid Resi Byasa, yang mengajarinya sloka asli dari kitab Mahabharata. Kemudian dia menuturkannya kepada Raja Janamejaya sehabis pelaksanaan sarpahoma atau sarpasatra (pengorbanan ular).

Wirabadra

[sunting | sunting sumber]

Wirabadra (वीरभद्र Vīrabhadra) adalah salah satu manifestasi Dewa Siwa yang memiliki penampilan garang. Kisahnya lebih banyak terdapat dalam Purana. Dalam Mahabharata, dia disebutkan pada bagian Santiparwa yang memuat cerita berbingkai tentang Daksayadnya (upacara Daksa).[246]

Wicitrawirya

[sunting | sunting sumber]

Wicitrawirya (विचित्रवीर्य Vicitravīrya) adalah putra bungsu Santanu, Raja Kuru. Ibunya adalah Satyawati, istri kedua Santanu. Dia merupakan adik kandung Citrānggada, dan adik tiri Bisma (saudara seayah). Menurut silsilah keluarga Kuru, dia merupakan kakek bagi Pandawa dan Korawa.

Widura (विदुर Vidura) adalah adik tiri Pandu dan Dretarasta karena memiliki ayah yang sama tetapi lain ibu. Ayah Widura adalah Resi Byasa, tetapi ibunya adalah seorang perempuan dari kasta sudra. Dalam pemerintahan Kerajaan Kuru, Widura menjabat sebagai perdana menteri. Widura tidak turut terjun ke dalam medan Perang Kurukshetra.

Istri Widura

[sunting | sunting sumber]

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa Widura memiliki seorang istri, tetapi namanya tidak pernah dicantumkan. Dia diceritakan sebagai wanita dari keluarga terpandang atau bangsawan. Dia pernah menjamu Kresna di rumahnya saat Kresna berada di Hastinapura demi melakukan perundingan damai antara Pandawa dan Korawa. Dalam versi-versi Mahabharata yang ditulis belakangan, istri Widura dipanggil "Sulaba".[247][248] Sulaba merupakan seorang pemuja Kresna. Pada suatu hari, Kresna berkunjung ke rumah Sulaba secara tiba-tiba. Kala itu Widura sedang tidak berada di rumah. Karena tidak ada persiapan apa pun, Sulaba mempersembahkan kulit pisang kepada Kresna. Menyadari rasa bakti yang tulus dari Sulaba, Kresna pun bersedia memakannya.[249]

Wijaya (काली Vijayā) adalah putri Dyutimata dari Madra, paman para Pandawa. Dia merupakan salah satu istri Sadewa. Mereka menikah melalui suatu sayembara. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai putra yang diberi nama Suhotra.

Wikarna (विकर्ण Vikarṇa) adalah salah satu Korawa, yaitu para putra Dretarastra dan Gandari. Wikarna adalah satu-satunya Korawa yang membela Putri Dropadi, saat sang putri hendak ditelanjangi oleh Dursasana dalam suatu permainan dadu. Namun pembelaannya tidak dianggap oleh para Korawa. Saat perang Kurukshetra, dia gugur di tangan Bima.

Winata (विनता Vinatā) adalah ibu dari Aruna dan Garuda, burung legendaris. Dia merupakan salah satu putri Prajapati Daksa. Kisahnya tercatat dalam cerita berbingkai dalam Adiparwa, bagian awal Mahabharata. Winata dan sejumlah saudarinya menikah dengan Kasyapa. Dari hubungan tersebut, Winata dikaruniai dua putra, yang sulung bernama Aruna dan yang bungsu adalah Garuda.[250]

Winda dan Anuwinda

[sunting | sunting sumber]

Winda (विन्द Vinda) dan Anuwinda (अनुविन्द Anuvinda) adalah dua pangeran dari kerajaan Awanti. Mereka memerintah kerajaan secara bersama-sama. Mereka menjalin hubungan baik dan memihak para Korawa dalam Perang Kurukshetra. Kedua bersaudara itu bertempur di medan perang melawan para Pandawa dan akhirnya keduanya gugur setelah kena panah Arjuna dalam pertempuran sengit.[251]

Wipula (विपुल Vipula) adalah seorang brahmana keturunan Bregu, yang berguru kepada Resi Dewasarma. Kisahnya terdapat dalam bentuk cerita berbingkai yang dituturkan Bisma kepada Yudistira pada bagian Anusasanaparwa. Pada suatu hari, Wipula diperintahkan untuk menjaga Ruci (istri gurunya) saat sang guru pergi bertapa. Sang guru mewanti-wanti bahwa Dewa Indra bisa saja datang menggoda karena pernah kepergok memandang Ruci dengan tatapan bernafsu. Sepeninggal gurunya, Wipula menggunakan kesaktiannya untuk masuk ke dalam tubuh Ruci mengendalikannya. Akibatnya, setelah Dewa Indra datang, dia gagal menggoda Ruci karena Wipula telah menjaga pikiran dan tindakan wanita tersebut. Setelah Dewasarma kembali, Wipula menceritakan apa yang terjadi dan terbukti telah menjalankan tugasnya dengan sempurna.[252][253]

Wirata (विराट Virāṭa) adalah penguasa Wiratanagara, ibukota kerajaan Matsya. Dia mendapat peran siginifikan dalam Wirataparwa. Disebutkan bahwa dia menyediakan tempat bernaung bagi para Pandawa ketika mereka harus hidup dalam penyamaran setahun, setelah menjalani pengasingan di hutan selama 12 tahun.[254] Dia turut serta dalam perang besar di Kurukshetra dan memihak Pandawa. Dalam pertempuran, dia dan seluruh putranya terbunuh oleh para kesatria Korawa.

Wirocana (विरोचन Virocana) adalah putra Prahlada, dikenal sebagai raja asura. Dalam Mahabharata, Wirocana hanya disebutkan dalam cerita berbingkai pada bagian Adiparwa (tentang silsilah para raja dan dewa-dewi), Udyogaparwa, serta Santiparwa, yang mengandung banyak sisipan filsafat. Dalam Udyogaparwa, Wirocana berdebat dengan Sudanwan mengenai siapa yang lebih unggul di antara asura dan brahmana. Dalam Santiparwa, kisah Wirocana disampaikan oleh Bisma kepada Yudistira. Dikisahkan bahwa Wirocana dan Dewa Indra pernah menghadap Prajapati untuk mempelajari hakikat jiwa.

Wisalaksa

[sunting | sunting sumber]

Wisalaksa (विशालाक्ष Viśālākṣa) adalah salah satu Korawa, putra Dretarastra dan Gandari. Dalam Perang Kurukshetra, dia mengepung Bima bersama Korawa lainnya. Wisalaksa menembak tujuh batang panah ke arah Bima. Akhirnya Bima memenggal kepalanya dengan tiga anak panah.

Wisnu (विष्णु Viṣṇu) adalah salah satu dewa utama dalam kepercayaan Hindu. Dalam Mahabharata, Wisnu menitis kepada Kresna, pangeran bangsa Yadawa. Di samping itu, nama Wisnu beberapa kali disebutkan, terutama dalam bagian-bagian Mahabharata yang mengandung cerita berbingkai tentang awatara (penjelmaan) Wisnu.

Wisoka (विशोक Viśoka) adalah kusir kereta perang Bima saat Perang Kurukshetra berlangsung. Dalam pertempuran, Wisoka selalu sigap mengarahkan kuda, menjaga posisi, dan membawa Bima ke titik-titik penting untuk menyerang musuh. Wisoka beberapa kali pernah terluka akibat serangan panah dari pasukan Korawa, tetapi tidak sampai berakibat fatal.[255][256]

Wiswakarma

[sunting | sunting sumber]

Wiswakarma (विश्वकर्मा Viśvákarma) adalah dewa arsitektur dan pertukangan dalam agama Hindu. Dalam Mahabharata, dewa ini dipanggil oleh Brahma untuk menciptakan seorang wanita cantik. Wanita tersebut kemudian digunakan sebagai penyebab keretakan hubungan Sunda dan Upasunda, sepasang raksasa yang meneror dunia.

Wiswamitra

[sunting | sunting sumber]

Wiswamitra (विश्वामित्र Viśvāmitra) adalah seorang resi mantan kesatria, rival Wasista. Dalam Adiparwa dikisahkan bahwa dia melakukan tapa yang sangat khusyuk dan mengguncang dunia. Para dewa mengirim bidadari Menaka untuk menguji keteguhannya. Usaha Menaka berhasil sehingga Wiswamitra terbuai dan bercumbu dengannya. Akhirnya Menaka melahirkan seorang anak dari hasil hubungannya dengan Wiswamitra. Anak itu diasuh oleh Resi Kanwa dan diberi nama Sakuntala, yang menjadi nenek moyang Pandawa dan Korawa.[257][258]

Wiwingsati

[sunting | sunting sumber]

Wiwingsati (विविंशति Viviṃśati) adalah salah satu Korawa, putra Dretarastra dan Gandari dari Kerajaan Kuru. Wiwingsati disebutkan beberapa kali dalam pertempuran yang melibatkan Duryodana. Dalam invasi Kuru ke Matsya, Wiwingsati turut membantu Duryodana. Dalam Perang Kurukshetra, dia dan Wikarna sempat berhadapan dengan Arjuna, tetapi kalah dan menarik diri. Akhirnya dia gugur di tangan Bima.

Wratsangka

[sunting | sunting sumber]

Wratsangka atau Sangka (शङ्ख Śaṅkha) adalah salah satu putra Raja Wirata dari Kerajaan Matsya. Dia setia mendampingi ayahnya dalam pertempuran di Matsya maupun Kurukshetra. Pada hari pertama pertempuran, dia dan ayahnya menghadapi Drona, salah satu kesatria ulung pihak Korawa. Dalam konfrontasi tersebut, Wirata berhasil lolos dari serangan fatal, sedangkan Wratsangka gugur tertembak panah Drona.

Wredakesatra

[sunting | sunting sumber]

Wredakesatra (वृद्धक्षत्र Vṛddhakṣatra) adalah penguasa Kerajaan Sindhu, ayah Jayadrata. Suatu ramalan menyatakan bahwa putranya akan terbunuh dalam perang besar. Dia pun melakukan tapa agar mendapatkan sebuah anugerah yang membuat siapa pun yang menjatuhkan kepala anaknya ke tanah, maka kepala orang itu akan hancur berkeping‑keping. Kemudian dia menyerahkan takhta kepada Jayadrata sebelum bersuluk ke hutan. Dalam Perang Kurukshetra, Arjuna memenggal Jayadrata dengan senjata saktinya dan mengarahkan kepala itu agar jatuh ke pangkuan Wredaksatra yang sedang berdoa dalam posisi duduk. Saat doanya selesai, tanpa sengaja Wredaksatra menjatuhkan kepala anaknya dari pangkuannya, menyebabkan kepalanya sendiri hancur berkeping-keping.[259]

Wrehadaswa

[sunting | sunting sumber]

Wrehadaswa adalah seorang resi yang menuturkan kisah Nala dan Damayanti kepada Yudistira. Dia muncul dalam Wanaparwa, bagian Mahabharata yang mengisahkan pengasingan para Pandawa di hutan akibat kalah berjudi. Diceritakan bahwa dia muncul secara tiba-tiba saat Yudistira sedang galau di tengah hutan. Yudistira pun mencurahkan keluh kesahnya kepada sang resi dan merasa tidak ada orang yang lebih malang daripada dirinya. Akhirnya Wrehadaswa menceritakan kisah kemalangan Nala kepada Yudistira sebagai perbandingan.[260]

Wrehadbala

[sunting | sunting sumber]

Wrehadbala (वृहद्वल Vṛhadvala) adalah Raja Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya.[261] Dalam Mahabharata, dia mendukung pihak Korawa selama perang Kurukshetra berkecamuk.[262] Pada pertempuran hari ketiga belas, Wrehadbala menghadapi Abimanyu, putra Arjuna. Setelah bertarung sengit, akhirnya Wrehadbala gugur tertembak panah Abimanyu.[263]

Wrehadrata

[sunting | sunting sumber]

Wrehadrata (वृहद्रथ Vṛhadratha) adalah penguasa Magadha, ayah Jarasanda. Dia memiliki dua istri yang berasal dari Kerajaan Kashi. Dalam Sabhaparwa diceritakan bahwa sebelumnya dia sulit memiliki keturunan. Pada suatu ketika, Resi Candakosika memberinya buah ajaib untuk dimakan oleh istrinya agar mendapatkan keturunan. Namun sang resi tidak tahu bahwa Wrehadrata memiliki dua istri. Buah itu pun dibagi dua supaya bisa dimakan kedua istrinya. Beberapa bulan kemudian, kedua istrinya melahirkan bayi laki-laki yang tak bernyawa dan hanya bertubuh setengah. Bayi yang tak lazim itu pun dibuang ke hutan. Seorang raksasi bernama Jara menemukan dan menyatukan kedua bagian bayi tersebut, sehingga hidup kembali. Kemudian bayi tersebut dibawa ke hadapan Wrehadrata, dan dinamai Jarasanda ("disatukan oleh Jara"). Wrehadrata menyerahkan takhta Magadha setelah Jarasanda dewasa.

Wrehaspati

[sunting | sunting sumber]

Wrehaspati (वृहस्पति Vṛhaspati) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu, digambarkan sebagai guru bagi para dewa.[264] Dia merupakan saingan bagi Sukra, guru para raksasa. Dalam Mahabharata, dia mengutus putranya yang bernama Kaca untuk berguru kepada Sukra, agar memperoleh pengetahuan tentang mantra yang dapat menghidupkan orang mati.

Wrehatkesatra

[sunting | sunting sumber]

Wrehatkesatra (वृहत्क्षत्र Vṛhatkṣatra) adalah seorang kesatria dari Kerajaan Kekeya. Dia merupakan yang sulung di antara lima bersaudara, dan salah satu maharathi (kesatria unggul dalam mengendarai kereta perang) yang bergabung ke kubu Pandawa saat Perang Kurukshetra meletus. Dia gugur di tangan Drona, panglima pasukan Korawa.[265]

Wresaketu

[sunting | sunting sumber]

Wresaketu (वृषकेतु Vṛṣaketu) adalah salah satu putra Karna, penguasa Kerajaan Anga. Dalam Mahabharata, tokoh ini hanya disebutkan pada jilid Bhismaparwa. Disebutkan bahwa pada hari pertama Perang Kurukshetra  saat para kesatria sedang bersiap-siap di rana  prajurit Anga dipimpin oleh Wresaketu.[266] Sebagian besar kisah yang melibatkan Wresaketu dikembangkan dalam Mahabharata versi regional di India.[267]

Wresaparwa

[sunting | sunting sumber]

Wresaparwa (वृशपर्व Vṛśaparva) adalah seorang pemimpin bangsa asura (raksasa). Dia merupakan murid Sukracarya. Kisahnya terdapat pada Adiparwa, bagian yang menceritakan leluhur Pandawa dan Korawa. Pada suatu ketika, putri Wresaparwa yang bernama Sarmista berbuat tidak menyenangkan terhadap Dewayani, putri Sukracarya. Demi rekonsiliasi, Wresaparwa berjanji untuk mengabulkan apa pun permohonan Dewayani. Akhirnya, Dewayani meminta agar Sarmista menjadi budaknya. Kelak di kemudian hari, Dewayani dan Sarmista menurunkan para raja Wangsa Paurawa.

Wresasena

[sunting | sunting sumber]

Wresasena (वृषसेन Vṛṣaséna) adalah putra Karna, penguasa Kerajaan Anga. Dalam Mahabharata, dia merupakan salah satu maharathi, kesatria berkereta perang terbaik.[268] Bersama ayahnya, dia terjun ke medan Perang Kurukshetra pada hari kesebelas, setelah gugurnya Bisma. Pada akhirnya—sama seperti ayahnya—Wresasena gugur di tangan Arjuna pada pertempuran pada hari ke-17.

Yadu (यद Yadu) adalah putra sulung Yayati dan Dewayani, leluhur Pandawa dan Korawa. Yadu memiliki empat saudara, yaitu Turwasu, Druhyu, Anu, dan Puru. Ketika ayahnya dikutuk agar menjadi cepat tua, Yadu diminta untuk menanggung kutukan tersebut. Namun dia menolak permintaan itu. Akhirnya dia tidak bisa mewarisi kerajaan ayahnya. Di kemudian hari, keturunan Yadu disebut Yadawa.

Yama (यम) adalah dewa kematian, alam bawah, hukum dan keadilan dalam agama Hindu. Dalam Mahabharata, Dewa Yama—yang sering diidentifikasi dengan Dewa Darma—merupakan ayah spiritual Yudistira. Dia adalah dewa pertama yang dipanggil oleh Kunti untuk memiliki keturunan. Kemudian dalam Wanaparwa, Yama muncul untuk menguji Yudistira dengan mengambil wujud sebagai yaksa. Ketika para Pandawa dan Dropadi mendaki Sumeru (Prasthanikaparwa), dia menemani mereka dengan mengambil wujud seekor anjing, dan menjadi satu-satunya yang sintas untuk menemani Yudistira.

Yati (यति) adalah putra sulung Raja Nahusa. Kisahnya terdapat dalam Adiparwa bagian Sambhawaparwa yang menceritakan leluhur Pandawa dan Korawa. Diceritakan bahwa meskipun terlahir sebagai pangeran, dia tidak tertarik untuk mewarisi takhta. Sebaliknya, dia lebih memilih untuk hidup sebagai muni (petapa) untuk bersatu dengan Brahman. Maka dari itu, setelah Nahusa mangkat, Yayati (adik Yati) diangkat sebagai raja.[269]

Yayati (ययाति Yayāti) adalah leluhur Pandawa dan Korawa. Dia merupakan putra dari pasangan Nahusa dan Asokasundari.[270] Yayati menikah dengan Dewayani dan Sarmista, dan menurunkan lima putra.[271] Di antaranya kelimanya, si bungu Puru diangkat menjadi raja.

Yodeya (यौधेय Yaudheya) adalah putra Yudistira dan Dewika (istri Yudistira selain Dropadi). Dia merupakan cucu Gowasena, penguasa Kerajaan Siwi. Yodeya mewarisi takhta Siwi setelah kakeknya gugur dalam Perang Kurukshetra.

Yudamanyu

[sunting | sunting sumber]

Yudamanyu (युधामन्यु Yudhāmanyu) adalah pangeran dari Kerajaan Panchala. Dia bertugas sebagai pelindung sisi belakang kereta perang Arjuna dalam perang Kurukshetra. Yudamanyu bersama saudaranya yang bernama Utamoja mengawal Arjuna saat bertempur melawan tentara Duryodana. Mereka tewas terbunuh saat Aswatama melakukan serangan malam ke perkemahan Pandawa.

Yudistira

[sunting | sunting sumber]

Yudistira (युधिष्ठिर Yudhiṣṭhira) adalah putra sulung Pandu dan Kunti. Dia merupakan salah satu tokoh utama Mahabharata. Dia menjabat sebagai Raja Kuru setelah Perang Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, dia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka.

Yuyutsu (युयुत्सु Yuyutsu) adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Dia merupakan putra Raja Dretarastra sehingga termasuk salah satu Korawa, tetapi merupakan satu-satunya Korawa yang tidak dilahirkan oleh Ratu Gandari. Ibunya merupakan pelayan Ratu Gandari yang berasal dari kasta waisya. Dia adalah satu-satunya Korawa yang selamat setelah perang Kurukshetra berakhir.[272]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Minor, Robert N. (1982). Bhagavad Gita: An Exegetical Commentary. South Asia Books. hlm. L–LI. ISBN 978-0-8364-0862-1.
  2. McGrath 2004, hlm. 21–26 dengan catatan kaki.
  3. Critical Edition Prepared by Scholars at Bhandarkar Oriental Research Institute BORI, Muneo Tokunaga, Kyoto University (1998)
  4. Chib, Sukhdev Singh (1980). Bihar. hlm. 4.
  5. Anusasana Parva: Section 4
  6. Ajamidha, Ajamīḍha, Ājamīḍha, Aja-midha: 12 definitions
  7. Dalal, Roshen (2014-04-18). Hinduism: An Alphabetical Guide (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-81-8475-277-9.
  8. Ashwamedha Parva: Section 30
  9. Sabha Parva: Section 8
  10. Shanti Parva: Section 97
  11. www.wisdomlib.org (2020-04-01). "Section CLXXII [Mahabharata, English]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-26.
  12. "Begawan Animandaya". Wayangpedia. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-14. Diakses tanggal 14 April 2014.
  13. Tim Penulis SENA WANGI (1999). Ensiklopedi Wayang Indonesia. SENA WANGI. hlm. 99,200. ;
  14. Shanti Parva: Section 347
  15. "The Mahabharata, Book 1: Adi Parva: Astika Parva: Section XVI". www.sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-05-24.
  16. George M. Williams (2008). Handbook of Hindu Mythology. Oxford University Press. hlm. 62–63. ISBN 978-0-19-533261-2.
  17. Mahesh Sharma (2006), Tales From The Vedas And Other Scriptures, Diamond Pocket Books Limited, ISBN 9788128811999
  18. Mani 1975, hlm. 96.
  19. "The Mahabharata, Book 9: Shalya Parva: Section 46". sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-12-09.
  20. "The Mahabharata, Book 1: Adi Parva: Sambhava Parva: Section LXVII".
  21. "The Mahabharata, 10 Volumes by B. Debroy".
  22. "The Mahabharata, Book 5: Udyoga Parva: Uluka Dutagamana Parva: Section CLXVIII".
  23. (Sircar 1990, hlm. 81)
  24. www.wisdomlib.org (2012-06-15). "Bakasura, Bakāsura: 4 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-13.
  25. Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 75.
  26. Hinduism, Glorious (1 January 2016). "Kasi Kingdom". Glorious Hinduism.
  27. ""Balarama and Krishna Fighting the Enemy", Folio from a Harivamsa (The Legend of Hari (Krishna)". Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 4 September 2023.
  28. Jan Gonda (1969). Aspects of Early Viṣṇuism. Motilal Banarsidass. hlm. 100, 152–153. ISBN 978-81-208-1087-7.
  29. Lavanya Vemsani (2006). Hindu and Mythology of Balarāma. Edwin Mellen Press. hlm. 30–31, 52–59, 68–69 with footnotes. ISBN 978-0-7734-5723-2.
  30. "The Mahabharata, Book 8: Karna Parva Section 48". Internet Sacred Text Archive.
  31. Chaudhuri, Dr Usha (1978). "Varuṇa in the Mahābhārata". Indra And Varuna In Indian Mythology (dalam bahasa Inggris). Nag Publishers. hlm. 153–163. ISBN 978-81-7081-034-6.
  32. Mani, Vettam (1975). Puranic encyclopaedia : a comprehensive dictionary with special reference to the epic and Puranic literature. Robarts – University of Toronto. Delhi : Motilal Banarsidass. ISBN 978-0-8426-0822-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  33. Mahabharata, Book 1: Adi Parva. Section 48
  34. Sanjana, Darab Dastur Peshotan (1898). "17. Gotama in the Avesta". Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain. 30 (2). Cambridge University Press: 391–394. doi:10.1017/s0035869x00025417.
  35. www.wisdomlib.org (11 April 2009). "Bharata, Bhārata, Bharatā, Bharaṭa: 44 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 November 2022.
  36. Buitenen, J. A. B. van (1973). "Introduction". Mahabharata Book I: The book of beginnings. University of Chicago Press. ISBN 9780226846637.
  37. James Lochtefeld The Illustrated Encyclopedia Of Hinduism (dalam bahasa English). Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  38. Bhishmaka, Bhīṣmaka: 9 definitions
  39. Essential Hinduism by Steven J. Rosen and Graham M. Schweig. Greenwood Publishing, 2006, page 96. Google books link accessed May 27, 2008.
  40. Mahabharata Online: Somadatta's End, accessed May 27, 2008.
  41. Political History of Ancient India, 1953, p 150, Hemchandra Raychaudhuri, University of Calcutta.
  42. The People and Culture of Bengal, a Study in Origins: A Study in Origins, 2002, p 564, Annapurna Chattopadhyaya.
  43. Lord Mahāvīra and his times, 1974, p 213, Kailash Chand Jain.
  44. Ancient Indian History, 1988, p 149, Madhavan Arjunan Pillai.
  45. Epic Mythology, 1969, p 62, Edward Washburn Hopkins.
  46. See epic referential link: .
  47. Cf: Candravarma, the King of Kambojas, was the Asura or demon Candra, son of Diti... (Ref: Epic Mythology, 1915, p 62, Edward Washburn Hopkins – Hindu Mythology.
  48. Rose, H. A.; Ibbetson, D.; Maclagan, E. D. A Glossary of the Tribes and Castes of the Punjab and North-West Frontier Province, Vol II, Lahore: Government Printing, 1911, pp. 444–445. Archive.org
  49. Shambava Parva, Section CI, The Mahabharata, Book 1: Adi Parva, diakses tanggal 3 November 2017
  50. Thadani, N. (1931). The Mystery of the Mahabharata. Vol. 4. India Research Press. GGKEY:EUL3QR74A0R.
  51. Coulter, Charles Russell; Turner, Patricia (2013-07-04). Encyclopedia of Ancient Deities (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-96390-3.
  52. J. A. B. van Buitenen (1981). The Mahabharata, Volume 2. University of Chicago Press. hlm. 318–322. ISBN 978-0-226-84664-4.
  53. Kulkarni, Shripad Dattatraya (1992). The Epics Ramayana and Mahabharata (dalam bahasa Inggris). Shri Bhagavan Vedavyasa Itihasa Samsodhana Mandira (Bhishma). hlm. 238. ISBN 978-81-900113-6-5.
  54. Gupta, Ravi; Valpey, Kenneth (2013-03-26). The Bhagavata Purana: Sacred Text and Living Tradition (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. hlm. 234. ISBN 978-0-231-14999-0.
  55. www.wisdomlib.org (2014-08-03). "Danda, Daṃḍa, Daṇḍa, Daṇḍā, Damda: 56 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
  56. www.wisdomlib.org (2017-04-20). "Dandadhara, Daṇḍadhara, Daṇḍadhāra, Daṇḍadharā, Danda-dhara, Damdadhara: 15 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
  57. Darada, Daradā, Dārada, Dara-da: 20 definitions, Wisdom Library, diakses tanggal 29 Maret 2026
  58. Daruka, Daru-ka, Dāruka: 21 definitions
  59. "XV". The Vishnu Purana: Book IV. hlm. 438.
  60. "123". The Mahabharata: Book VI. Sacred-texts.com. hlm. 311.
  61. Shanti Parva: Section 228
  62. Devika, Devikā: 15 definitions, Wisdom Library, diakses tanggal 29 Maret 2026
  63. Vettam Mani (1975), Puranic encyclopaedia, Motilal Banarsidass, ISBN 0842608222
  64. Kisari Mohan Ganguli (1885), "Section 186: Chaitraratha Parva", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa: Adi Parva, Sacred-Text.som
  65. Buitenen, Johannes Adrianus Bernardus; Fitzgerald, James L. (1973). The Mahabharata, Volume 7: Book 11: The Book of the Women Book 12: The Book of Peace, Part 1 (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-25250-6.
  66. Mahasweta Devi (6 December 2012). "Draupadi". Dalam Gayatri Chakravorty Spivak (ed.). In Other Worlds: Essays In Cultural Politics. Routledge. hlm. 251. ISBN 978-1-135-07081-6.
  67. - Wendy Doniger (March 2014). On Hinduism. Oxford University Press. hlm. 533. ISBN 978-0-19-936007-9.
  68. - Devdutt Pattanaik (1 September 2000). The Goddess in India: The Five Faces of the Eternal Feminine. Inner Traditions / Bear & Co. hlm. 98. ISBN 978-1-59477-537-6.
  69. Das, Gurcharan (2010-10-04). The Difficulty of Being Good: On the Subtle Art of Dharma (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-978147-8.
  70. Sharma, Arvind (2007). Essays on the Mahābhārata (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass Publishe. ISBN 978-81-208-2738-7.
  71. "Shaktism". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 20 November 2025.
  72. "Devi Bhagavata Purana". Wisdom Library. Diakses tanggal 20 November 2025.
  73. "The Mahabharata, Book 4: Virata Parva: Pandava-Pravesa Parva: Section VI". sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-12-16.
  74. "The Mahabharata, Book 6: Bhishma Parva: Bhagavat-Gita Parva: Section XXIII". sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-12-16.
  75. Mani 1975, hlm. 263.
  76. "Unveiling the secret of Duhsala, the only sister of 100 Kaurava Brothers". Detechter. 2017-10-24. Diakses tanggal 2020-08-26.
  77. "Eklavya—A Powerful Archer and Charioteer". Diakses tanggal 19 November 2013.
  78. Shalya Parva: Section34
  79. How Ekata became a wolf by a curse.
  80. Ganguli, Kisari Mohan. The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa Translated into English Prose by Kisari Mohan Ganguli. N.p.: n.p., n.d. Web.
  81. 1 2 Vemsani, Lavanya (2021), Introduction: Feminine Journeys of the Mahabharata, Cham: Springer International Publishing, hlm. 198
  82. "Puranic encyclopaedia: a dictionary with special reference to the epic and Puranic literature". archive.org. 1975.
  83. Mahabharata Sabha Parva Section XXI
  84. Vana Parva: Section 184
  85. The Mahabharata. Vol. Sabha Prava. Diterjemahkan oleh Protap Chandra Roy. Bharata Press. 1884. hlm. 47.
  86. John Dowson (1888). A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion. Trubner and Co. hlm. 116.
  87. Chandrakant, Kamala (1980). Bheema and Hanuman. Amar Chitra Katha. hlm. 1–32.
  88. Feller, Danielle. "The Strange Story of Princess Mādhavī". Academia.edu.
  89. Brodbeck, Simon Pearse (2017-03-02). The Mahabharata Patriline: Gender, Culture, and the Royal Hereditary (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-88630-7.
  90. Adi Parva: Section 95
  91. "Hayagriva in Mahabharata, Book 12". sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-06-30.
  92. Udyoga Parva: Section 192–195
  93. Vana Parva: Section 96
  94. Wisdom Library: The story of how Agastya ate Vātāpi
  95. Shalya Parva: Section 48
  96. Jajali, Jājali: 6 definitions
  97. Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 225. ISBN 978-81-208-0597-2.
  98. "The Mahabharata, Book 13: Anusasana Parva: Section XCVI".
  99. Journal of the Department of Letters by University of Calcutta (Dept. of Letters), Publ. Calcutta University Press, 1923, p2
  100. Vaidya P.L. and A.D. Pusalkar (1962, reprint 2003). The Mahabharata: Its History and Character in S. Radhakrishnan (ed.) The Cultural Heritage of India, Vol.II, Kolkata: The Ramakrishna Mission Institute of Culture, ISBN 81-85843-03-1, p. 60
  101. 1 2 3 4 Ganguli 1896, Adi Parva: Sambhava Parva: Section CXXX
  102. "Bhagavata Purana Canto 11. Chapter 31". Vedabase.
  103. "Mahabharata: Mausala Parva, section 4". Sacred-Text.com.
  104. Ushasri (2001), Bharatam (Dviteeya Bhagam), Telugu Edition, Tirumala Tirupati Devasthanam's Religious Publication Series. No.: 111, Page 493
  105. C Rajagopalachari (2008), Mahabharata, 52nd Edition, Bhavan's Book University. ISBN 81-7276-368-9, Page 436
  106. Gokhale, Namita (2013-01-21). The Puffin Mahabharata (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-93-5118-415-7.
  107. Chandrakant, Kamala (1977). Krishna and Jarasandha. India Book House Ltd. hlm. 3–5. ISBN 81-7508-080-9.
  108. Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 348–9. ISBN 0-8426-0822-2.
  109. Bhag-P, 9.3.32 (see texts 29-32)
  110. Vishnu-Purana (see Book IV, chap I)
  111. Madan Gopal (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 78. Bhojapati. An epithet of Kamsa.
  112. Vettam Mani (1975), "Story of Kanika", Puranic encyclopaedia, ISBN 0842608222
  113. Pratap Chandra Roy Mahabharata, Sambhava Parva and Jatugriha Parva, Pages 335–338
  114. Karenumati, Kareṇumatī: 6 definitions, Wisdom Library
  115. "Karnal". District of Karnal. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-02. Diakses tanggal 26 November 2013.
  116. 1 2 McGrath, Kevin (2004-01-01). The Sanskrit Hero: Karṇa in Epic Mahābhārata (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 135. ISBN 978-90-04-13729-5.
  117. 1 2 Pargiter, F.E. (1972). Ancient Indian Historical Tradition, Delhi: Motilal Banarsidass, p.105.
  118. 1 2 Drona Parva: Section 23
  119. SRIKRISHNA The Lord Of The Universe By SHIVAJI SAWANT. ISBN 9789386888242. Diakses tanggal 8 October 2017.
  120. Uberoi, Meera. The Mahabharata. ISBN 9788170702313.
  121. Pattanaik, Devdutt (2000). The goddess in India: the five faces of the eternal feminine. Inner Traditions International. ISBN 9780892818075.
  122. Radhakumud Mukharji (2009), Hindu Shabhyata, Rajkamal Prakashan Pvt Ltd, ISBN 978-81-267-0503-0, ... किरात (मंगोल) : द्रविड़ भाषाओं से भिन्न यह भाषाओं में किरात या ...
  123. R. Suthashi (2010), "Description of Pashupata-Murti", Prayogamanjari and Saivagamanibandhana (Study), Wisdom Library
  124. Debroy, Bibek (2010). The Mahabharata: Volume 2. Penguin Books. hlm. 536. ISBN 978-0-14-310013-3.
  125. www.wisdomlib.org (2017-10-16). "Kratha, Krātha: 11 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
  126. Varkey, C.P. (2001). A Pilgrimage ~ Through the Mahabharata. St Pauls BYB. hlm. 22–. ISBN 978-81-7109-497-4.
  127. K M Ganguly(1883-1896). The Mahabharata,Book 13 Anusasana Parva,SECTION CL sacred-texts.com,October 2003,Retrieved 2014-02-11
  128. "Studies of Mahabharata" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-11-09. Diakses tanggal 2014-08-15.
  129. KUNTI (also called Pritha and Parshni)
  130. "Kunti". www.mythfolklore.net.
  131. Monier Williams Sanskrit-English Dictionary (Oxford, 1899), p. 294.1
  132. M.M.S. Shastri Chitrao, Bharatavarshiya Prachin Charitrakosha (Dictionary of Ancient Indian Biography, in Hindi) Pune 1964, p. 151
  133. "Indian Myth and Legend: Chapter XVIII. The Battle of Eighteen Days". Sacred-texts.com.
  134. "Krishna Book Chapter 68: The Marriage of Samba". Krsnabook.com.
  135. Mackenzie, Donald Alexander (2020-08-15). Indian Myth and Legend (dalam bahasa Inggris). BoD – Books on Demand. hlm. 254. ISBN 978-3-7524-4315-8.
  136. Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0597-2.
  137. Bhatt, G. P.; Shastri, J. L.; Deshpande, N. A. (1992). The Skanda Purana Part 1: Ancient Indian Tradition And Mythology Volume 49 (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 2. ISBN 978-81-208-0966-6.
  138. Bibek Debroy. The Mahabharata, 10 Volumes by B. Debroy. hlm. 1400.
  139. Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 457–458. ISBN 978-81-208-0597-2.
  140. Buitenen, Johannes Adrianus Bernardus; Buitenen, Johannes Adrianus Bernardus van; Fitzgerald, James L. (1973). The Mahābhārata (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. hlm. 368–370. ISBN 978-0-226-84664-4.
  141. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), "SECTION CVI", The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa: Udyoga Parva, Sacred-Text.com
  142. K.M. Ganguli, "Shambava Parva. SECTION CXIII", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Sacred-Text.com
  143. Debalina (2019-12-20). Into the Myths: A Realistic Approach Towards Mythology and Epic (dalam bahasa Inggris). Partridge Publishing. ISBN 978-1-5437-0576-8.
  144. www.wisdomlib.org (2017-01-21). "Maniman, Maṇimān, Maṇiman: 4 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
  145. "Markandeya – Vyasa Mahabharata" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-01-11.
  146. GV, Shivakumar (2020-06-19). "Mahabharata Metaphors: Markandeya, The Sage Who Saw The Deluge - Indic Today" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-01-11.
  147. "Santi Parva: Section LXXIV", The Mahabharata of Krishna Dwaipayana Vyasa, Sacred-Text.com
  148. Anonymous. The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa (Complete) (dalam bahasa Inggris). Library of Alexandria. hlm. 1796. ISBN 978-1-4655-2637-3.
  149. Anant Pai (ed.), Nahusha, Amar Chitra Katha Private limited, ISBN 9788184821901
  150. Bhatt, Dr G. P.; Gangadharan, N. (2013-01-01). The Agni-Purana Part 4: Ancient Indian Tradition and Mythology Volume 30 (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 1137. ISBN 978-81-208-3897-0.
  151. His Divine Grace A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupad. Krsna, the Supreme Personality of Godhead- Chepter-5. The Bhaktivedanta Book Trust. ISBN 978-9171495587.
  152. Swarup Das (1999). Śrī Śrī 84 Krosh Vrajamaṇḍala. Samir Debanth.
  153. A. W. Entwistle (1987). Braj: Centre of Krishna Pilgrimage. E. Forsten. ISBN 978-90-6980-016-5.
  154. Holdrege, Barbara A. (2015-08-14). Bhakti and Embodiment: Fashioning Divine Bodies and Devotional Bodies in Krsna Bhakti (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 235. ISBN 978-1-317-66909-8.
  155. Viśvanātha Cakravartī (2004). Sārārtha Darśini: Tenth Canto Commnetaries [of] Srimad Bhagavatam. Mahanidhi Swami.
  156. Lach, Donald Frederick; Kley, Edwin J. Van (1993). South Asia (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. hlm. 1052. ISBN 978-0-226-46754-2.
  157. Gopal Chowdhary (2014). The Greatest Farce of History. Partridge Publishing. hlm. 119. ISBN 978-1482819250.
  158. www.wisdomlib.org (2022-07-16). "Verse 5.14.7 [Garga Samhita]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-25.
  159. Bhandarkar, Ramkrishna Gopal (1995). Vaisnavism Saivism and Minor Religious Systems. Asian Educational Services. hlm. 238. ISBN 812060122X.
  160. Guy, Randor (31 July 2010). "Bhaktha Naradar 1942". The Hindu. Diarsipkan dari asli tanggal 20 August 2010. Diakses tanggal 9 October 2011.
  161. "Srimad Bhagavatam 1.5.1". Bhaktivedanta VedaBase. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Agustus 2022. Diakses tanggal 27 Januari 2023.
  162. "The Mahabharata, Book 1: Adi Parva: Sambhava Parva: Section XCV". 16 January 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 16 January 2010.
  163. T. Rengarajan (1999). Glossary of Hinduism. Oxford & IBH Publishing Company. hlm. 229. ISBN 978-81-204-1348-1.
  164. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), "Section 20", The Mahabharata, Book 8: Karna Parva, Sacred Text Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
  165. Constance Jones; James D. Ryan (2006). Encyclopedia of Hinduism. Infobase Publishing. hlm. 324. ISBN 978-0-8160-7564-5.
  166. James G. Lochtefeld (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism: N–Z. The Rosen Publishing Group. hlm. 500–501. ISBN 978-0-8239-3180-4.
  167. "Prāci-jyotī: Digest of Indological Studies". 1967.
  168. Dalal, Roshen (2010). Hinduism: An Alphabetical Guide. ISBN 9780143414216.
  169. "Section 30", Shanti Parva
  170. "Section 31", Shanti Parva
  171. "The Mahabharata, Book 1: Adi Parva: Chaitraratha Parva: Section CLXIX". Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 2021-06-03.
  172. Helena Petrovna Balavatsky (January 1993). The Secret Doctrine Vol.1. Quest Books. hlm. 578. ISBN 9780835602389.
  173. Oriental Translation Fund Vol.52. 1840. hlm. 443.
  174. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), The Mahabharata, Book 1: Adi Parva, Sacred Text Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
  175. Books 8-12: Krishna, spirit of delight (dalam bahasa Inggris). Vighneswara Publishing House. 1976. hlm. 740.
  176. "Srimad Bhagavatam: Canto 10 - Chapter 55".
  177. Mbhr. 1.90.45–46 (Pune Critical Edition)
  178. N.V., Thadani. The Mystery of the Mahabharata: Vol.4.
  179. http://ancientvoice.wikidot.com/mbh:prativindhya
  180. https://books.google.co.in/books?id=BjP7CwAAQBAJ&pg=PA349&lpg=PA349&dq=subala+prativindhya+mahabharata&source=bl&ots=aRIbzE6zwn&sig=ACfU3U0a8k-sBVa8dL-iP72SA5koSx1frA&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwiT_tffvJ_qAhX_4zgGHcm9CCkQ6AEwBnoECAwQAQ#v=onepage&q=subala%20prativindhya%20mahabharata&f=false
  181. November 2, India Today Web Desk (2 November 2017). "ASI grants permission to excavate palace Kauravas commissioned to kill Pandavas". India Today (dalam bahasa Inggris). Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  182. Saṅgrahālaya-purātatva patrikā: Bulletin of museums & archaeology in U.P. (dalam bahasa Inggris). Department of Cultural Affairs and Scientific Research. 1972.
  183. Kotru, Umesh; Zutshi, Ashutosh (2015-03-01). Karna The Unsung Hero of the Mahabharata (dalam bahasa Inggris). One Point Six Technology Pvt Ltd. ISBN 978-93-5201-304-3.
  184. Rocamana, Rocamāna, Rocamānā: 11 definitions, Wisdom Library
  185. Flueckiger, Joyce Burkhalter (2013). When the World Becomes Female: Guises of a South Indian Goddess (dalam bahasa Inggris). Indiana University Press. ISBN 978-0-253-00960-9.
  186. Patel, Vijay (2011). Corrupt Practice (dalam bahasa Inggris). AuthorHouse. ISBN 978-1-4567-9304-3.
  187. Vemsani, Lavanya (2016). "Rohini". Krishna in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Hindu Lord of Many Names. ABC-CLIO. hlm. 233–4. ISBN 978-1-61069-211-3.
  188. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896). The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa Translated into English Prose.
  189. "Srimad Bhagavatam: Canto 10 - Chapter 61". bhagavata.org. Diakses tanggal 2022-07-11.
  190. Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0597-2.
  191. "4. Amba and Bhishma". Mahabharataonline.com. Diakses tanggal 30 April 2013.
  192. Shalva, Śalva, Sālva, Salva, Śālva: 18 definitions, Wisdom Library
  193. Monier Williams Sanskrit-English Dictionary (1899), S. 1116,1
  194. Mbhr. 1.89.27–43 (Pune Critical Edition)
  195. www.wisdomlib.org (2017-11-13). "Samudrasena: 6 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-10.
  196. Kisari Mohan Ganguli (1889), "Udyoga Parva - Section CXIII", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Sacred-Text.com
  197. Shivakumar GV (3 April 2020), The Story Of Sage Shandili: Garuda’s Arrogance and Realization, Indica Today, diarsipkan dari asli tanggal 13 April 2024
  198. www.wisdomlib.org (2012-06-29). "Sarmishtha, Sharmishtha, Sarmiṣṭhā, Śarmiṣṭhā: 12 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-07.
  199. www.wisdomlib.org (2019-01-28). "Story of Pūru". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-07.
  200. Parmeshwaranand, Swami (2001). Encyclopaedic dictionary of Purāṇas (Edisi 1st). Sarup & Sons. ISBN 9788176252263.
  201. Parmeshwaranand, Swami (2001). Encyclopaedic dictionary of Purāṇas (Edisi 1st). Sarup & Sons. ISBN 9788176252263.
  202. https://books.google.co.in/books?id=RWQ-AAAAQBAJ&pg=PT295&lpg=PT295&dq=shatanika+bhojas&source=bl&ots=rxgiUgTFrX&sig=ACfU3U0EnJ3vkiXjsHroNYWD_bvRciYTDQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjHtJeQmojrAhULxzgGHRS0BbwQ6AEwBHoECAsQAQ#v=onepage&q=shatanika%20bhojas&f=false
  203. "The Mahabharata, Book 3: Vana Parva: Draupadi-Satyabhama Samvada: Section CCXXXI". www.sacred-texts.com. Diakses tanggal 2017-04-18.
  204. Buitenen, J. A. B. van; Fitzgerald, James L. (1973). The Mahabharata, Volume 3: Book 4: The Book of the Virata; Book 5: The Book of the Effort (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-84665-1.
  205. Williams, George M. (2008-03-27). Handbook of Hindu Mythology (dalam bahasa Inggris). OUP USA. hlm. 263. ISBN 978-0-19-533261-2.
  206. "XVIII: Vana Parva: Wife's Devotion and Satyavana". Vyasa's Mahabharatam. Academic Publishers. 2008. hlm. 329–336. ISBN 978-81-89781-68-2.
  207. "Section CCLXLI (Pativrata-mahatmya Parva)". Mahabharata Vana Parva. Diterjemahkan oleh KM Ganguly. Diakses tanggal 2021-11-23 via Mahabharata Online.
  208. Revati. "Daughter of King Raivata and wife of Balarama."
  209. Dalal, Roshen (2014-04-18). Hinduism: An Alphabetical Guide (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-81-8475-277-9.
  210. Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 80.
  211. Anusasana Parva: Section 78
  212. (Inggris) Mangaldeva Śāstri, The Rgveda-prātiśākhya with the commentary of Uvaṭa by Śaunaka.; Vaidika Svādhyāya Mandira, Varanasi Cantt.,1959,OCLC: 28723321
  213. (Hindi) Virendrakumar Verma, Rgveda-prātiśākhya of Śaunaka Along with Uvaṭabhāshya; Chaukhambha Sanskrit Pratishthan,38 U.A., Jawaharnagar, Bungalow Road, Delhi-110007, Reprint-1999; (also published by Saujanya Books,Delhi, and by Benaras Hindu University)
  214. Parmeshwaranand, Swami (2001). Encyclopaedic dictionary of Purāṇas (Edisi 1st). Sarup & Sons. ISBN 9788176252263. ,
  215. "Sacred Texts SECTION XCI". www.sacred-texts.com. Diakses tanggal 19 July 2017.
  216. "Srutayudha". www.ancientvoice.wikidot.com. Diakses tanggal 19 July 2017.
  217. Udyoga Parva: Section 194
  218. Udyoga Parva: Section 195
  219. Vyasa, Dwaipayana (2021-08-24). The Mahabharata of Vyasa: (Complete 18 Volumes) (dalam bahasa Inggris). Enigma Edizioni. hlm. 3383.
  220. Dowson, John (1888). A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion, Geography, History, and Literature. Trubner & Co., London. hlm. 1.
  221. "Section CCX: Rajya-labha parva", Adi Parva, Sacred-text.com
  222. The Ancient Geography of India, pp 374, By Alexander Cunningham, Published by Trübner and co., 1871, Item notes: v.1, Original from the University of Michigan
  223. Pargiter, F.E. (1972). Ancient Indian Historical Tradition, Delhi: Motilal Banarsidass, p.106n
  224. Ghazni to Jaiselmer (Pre-medieval History of the Bhatis), p.42, Hari Singh Bhati, Publisher: Hari Singh Bhati, 1998, Printers: Sankhala Printers, Bikaner
  225. Jijith N.R., "Dronaparwa, bab 191", Ancient Voice
  226. Jijith N.R., "Salyaparwa, bab 25", Ancient Voice
  227. The Mahabharata. ISBN 9781451015799.
  228. "The Mahabharata, Book 1: Adi Parva: Khandava-daha Parva: Section CCXXV (Story of Shvetaki)". sacred-texts.com. Diakses tanggal 2022-05-05.
  229. Vyasa's Mahabharatam (dalam bahasa Inggris). Academic Publishers. 2008. hlm. 99–100. ISBN 978-81-89781-68-2.
  230. Buitenen, J. A. B. van; Buitenen, Johannes Adrianus Bernardus (1973). The Mahabharata, Volume 1: Book 1: The Book of the Beginning (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 9780226846637.
  231. Patel, Utkarsh (2020-06-05). "Tara and Chandradev: If a Dissatisfied Partner Has An Affair, Who Is To Be Blamed?". Bonobology.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-08-14.
  232. Buitenen, Johannes Adrianus Bernardus (1978). The Mahābhārata. vol 1 University of Chicago Press Adi Parva (Book of Beginnings) Cantos 201-204. pp. 392-8
  233. Kisari Mohan Ganguli, "Section CCLXII", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Book 12
  234. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), The Mahabharata Book 2: Sabha Parva Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
  235. Jarow, Rick (2003). Tales for the dying: the death narrative of the Bhāgavata-Purāṇa. SUNY Press. hlm. 154. ISBN 978-0-7914-5609-5.
  236. Winternitz, Moriz; V. Srinivasa Sarma (1996). A History of Indian Literature, Volume 1. Motilal Banarsidass Publ. hlm. 303. ISBN 978-81-208-0264-3.
  237. Ganguli, Kisari Mohan (1883–1896). "SECTION 1". The Mahabharata: Book 17: Mahaprasthanika Parva. Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 3 April 2016.
  238. Kisari Mohan Ganguli, "Section 3", Adi Parva, Ancient Voice
  239. "The Mahabharata, Book 3: Vana Parva: Indralokagamana Parva: Section XLVI". www.sacred-texts.com. Diakses tanggal 2021-09-20.
  240. Conner & Sparks (1998), p. 68, "Arjuna"
  241. Pattanaik (2001), p. 80
  242. "Sambhava Parva, section XCIV", Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa
  243. Shanti Parva. Section 58.
  244. Krishnan, Bal (1978). Kurukshetra: Political and Cultural History. B.R. Publishing Corporation. hlm. 50. Diakses tanggal 31 May 2017.
  245. Britannica Online Encyclopedia, article:Taxila. "The great Indian epic Mahabharata was, according to tradition, first recited at Taxila at the great snake sacrifice of King Janamejaya, one of the heroes of the story."
  246. "The Mahabharata, Book 12: Santi Parva: Mokshadharma Parva: Section CCLXXXIV". Internet Sacred Text Archive. Diakses tanggal 2022-12-05.
  247. Vaidya, Sahna (2018-03-10). "My Beloved Lord Krishna: The man 'with and behind' every strong woman". Pravaah Wellness (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-11-24. Diakses tanggal 2021-01-19.
  248. "Shun self". The Hindu (dalam bahasa Indian English). ISSN 0971-751X. Diakses tanggal 2021-01-19.
  249. "Mahabharata Characters 19 – Vidura 01 – A true friend, affectionate but not attached | The Spiritual Scientist" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2021-01-19.
  250. Söhnen, Renate; Söhnen-Thieme, Renate; Schreiner, Peter (1989). Brahmapurāṇa: Summary of Contents, with Index of Names and Motifs (dalam bahasa Inggris). Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 978-3-447-02960-5.
  251. Garg, Gaṅgā Rām (1992). Encyclopaedia of the Hindu World (dalam bahasa Inggris). Concept Publishing Company. ISBN 978-81-7022-373-3.
  252. Vipula, Vipulā: 37 definitions, Wisdom Library
  253. "Section XL", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Book 13: Anusasana Parva, Sacred-Text
  254. Dowson, John (1888). A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion, Geography, History, and Literature. Trubner & Co., London. hlm. 1.
  255. Bhisma Parva, Section 64
  256. Drona Parva, Section 152
  257. "Section 72", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Book 1: Adi Parva
  258. Sattar, Arshia (2017-06-22). "The ultimate male fantasy". The Hindu (dalam bahasa Indian English). ISSN 0971-751X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 October 2020. Diakses tanggal 2020-09-05.
  259. Drona Parva, 145
  260. "Section 52", The Mahabharata, Book 3: Vana Parva, Sacred Text
  261. "Chapter CXLI: Descriptions of kings who came after Janamejaya", Garuda Purana, Wisdom Library, diakses tanggal 3 Oktober 2017
  262. Pruthi, Raj (2004). Vedic Civilization. Discovery Publishing House. hlm. 75. ISBN 978-81-7141-875-6.
  263. "Abhimanyu-badha Parva, SECTION XLV", Drona Parva, Sacred-Text.com, diakses tanggal 3 Oktober 2017
  264. Charles Russell Coulter; Patricia Turner (2013). Encyclopedia of Ancient Deities. Routledge. hlm. 108. ISBN 978-1-135-96390-3.
  265. Drona Parva, Section 122
  266. Bhishma Parva. Section XVII.
  267. Pakistan, Asiatic Society of (1966). Journal of the Asiatic Society of Pakistan (dalam bahasa Inggris). Asiatic Society of Pakistan.
  268. "The Mahabharata, Book 5: Udyoga Parva: Uluka Dutagamana Parva: section CLXVIII". Sacred-texts.com.
  269. Adi Parva: Section LXXV
  270. www.wisdomlib.org (2019-01-28). "Story of Yayāti". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-07.
  271. www.wisdomlib.org (2020-11-14). "Account of the King Yayati [Chapter 30]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-07.
  272. Parmeshwaranand, Swami (2001-01-01). Encyclopaedic Dictionary of Puranas (dalam bahasa Inggris). Sarup & Sons. ISBN 9788176252263.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]