Jetis, Ponorogo
Jetis | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Ponorogo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Yusuf Dharmadi Jaya Prabowo, S.STP | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 32.231 jiwa | ||||
| Kode pos | 63473 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.02.09 | ||||
| Kode BPS | 3502100 | ||||
| Luas | 23,45 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 14 | ||||
| |||||
Jetis adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Jetis adalah kecamatan terkecil kedua di Ponorogo setelah Kecamatan Ponorogo yaitu sekitar 23,45 km². Kecamatan ini berjarak cukup dekat dari ibu kota Kabupaten Ponorogo yaitu sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Jetis letaknya strategis karena dilalui jalan nasional penghubung ibu kota Ponorogo dengan Trenggalek.[1] Tepian jalan tersebut cukup ramai, terutama di kawasan sekitar perempatan Jetis yang merupakan pusat ekonomi kecamatan ini karena terdapat Pasar Jetis, pasar hewan, berbagai pertokoan, hingga agen bus.
Kecamatan Jetis memiliki lokasi-lokasi penting dalam sejarah Ponorogo. Ki Ageng Kutu yang merupakan musuh dari pendiri Ponorogo yaitu Batoro Katong berasal dari Desa Kutu (dulunya disebut Surukubeng). Ki Ageng Kutu juga disebut-sebut sebagai pencipta Reog Ponorogo.[2] Selain itu, juga terdapat Desa Tegalsari yang terdapat masjid bersejarah yaitu Masjid Setono dan Masjid Tegalsari. Masjid Tegalsari dulunya terdapat Pesantren Tegalsari (Gerbang Tinatar) yang merupakan salah satu pondok pesantren legendaris di Pulau Jawa dan banyak tokoh penting yang mengenyam pendidikan disini seperti HOS Cokroaminoto, Ronggowarsito, Sunan Pakubuwono II, hingga berbagai kiai yang mendirikan pondok pesantren lainnya. Pondok ini didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari, dan sekarang masjid kuno dan rumah peninggalan beliau menjadi wisata religi terkenal di Ponorogo.[3]
Geografi
[sunting | sunting sumber]
Jetis adalah kecamatan dengan geografi berupa dataran rendah dengan lahan yang didominasi persawahan. Jetis dilewati dua sungai penting yaitu Sungai Keyang dan Sungai Gendol, keduanya menjadi pembatas dengan Kecamatan Siman dan Mlarak. Jetis dilewati jalan nasional Ponorogo-Trenggalek yang melintas dari utara di Desa Winong hingga ke ujung tenggara di Desa Kutuwetan (Pohgosong). Namun Kutuwetan bukanlah desa paling selatan maupun paling timur dari kecamatan ini, desa paling selatan adalah Ngasinan sedangkan desa paling timur adalah Coper.[1]
Batas wilayah Jetis adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | Kecamatan Siman dan Kecamatan Mlarak |
| Timur | Kecamatan Mlarak dan Kecamatan Sambit |
| Selatan | Kecamatan Bungkal dan Kecamatan Sambit |
| Barat | Kecamatan Balong |
Sejarah
[sunting | sunting sumber]
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, di wilayah yang sekarang bernama Desa Kutu dulunya merupakan bagian dari Kademangan Surukubeng di wilayah Wengker yang dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Surukubeng dipimpin oleh Ki Gede Ketut Suryo Ngalam atau Ki Ageng Kutu. Dalam kisah tersebut, Ki Ageng Kutu juga disebut sebagai pencipta Reog Ponorogo yang bermaksud menyindir pemerintahan Raja Brawijaya V yang didominasi oleh permaisurinya yaitu Putri Campa dengan menggambarkannya sebagai harimau yang garang tetapi ditunggangi oleh merak yang cantik. Kerajaan Majapahit kemudian diislamkan dan diteruskan oleh Kesultanan Demak. Ki Ageng Kutu tidak mengakui hal tersebut dan membangun basis pertahanan di Wengker. Sultan Demak Raden Fatah mengirim Bathoro Katong untuk memperluas kekuasaan Demak di daerah Wengker dan menyebarkan Agama Islam. Bathoro Katong kemudian mendirikan pemukiman bernama Ponorogo. Singkat cerita, Kedua pemimpin ini bersaing sehingga timbul peperangan dan adu kesaktian dan akhirnya Ki Ageng Kutu mengalami kekalahan.[2][4]
Setelah masa Bathoro Katong, muncul pusat penyebaran Islam baru seperti Desa Tegalsari di selatan Ponorogo. Tokohnya bernama Pangeran Sumendhe Ragil yang merupakan putra dari Sunan Bayat (tokoh penyebar Islam di Semarang hingga Klaten). Pangeran Sumendhe Ragil merintis pemukiman dan masjid yang sekarang dinamakan Setono (sebuah dukuh di Tegalsari). Setono kemudian mendapatkan status desa perdikan atau desa bebas pajak karena memiliki fungsi khusus untuk menyebarkan agama Islam dan merawat makam Sumendhe Ragil dan penerusnya. Salah satu keturunan dari Sumendhe Ragil adalah Kiai Donopuro yang memiliki santri bernama Muhammad Besari (putra Kiai Anom Besari dari Caruban) sekitar tahun 1700-an. Kiai Donopuro kemudian memerintahkan Muhammad Besari untuk mendirikan pesantren baru di seberang Sungai Keyang. Pesantren baru ini dinamakan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari yang mendapat status perdikan pada tahun 1742.[3] Kedua pesantren ini sekarang masih ada dalam bentuk masjid kuno yang dijadikan wisata religi populer, jembatan untuk pejalan kaki juga dibangun untuk menghubungkan Masjid Setono di barat sungai dengan Masjid Tegalsari di timur sungai.[5]

Pesantren Tegalsari merupakan salah satu pesantren penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa dan melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti HOS Tjokroaminoto dan pujangga Ronggowarsito. Pakubuwono II juga pernah meminta bantuan ke pesantren ini dengan adanya peristiwa Geger Pecinan. Keraton Kartasura dikuasai oleh pasukan Raden Mas Garendi pada tahun 1742 sehingga Pakubuwono lari ke arah barat untuk mengumpulkan pasukan.[3] Kiai Muhammad Besari mengirimkan Raden Mas Bagus Harun untuk membantu menguasai keraton kembali. Nantinya Bagus Harun mendirikan Masjid Sewulan di Madiun dan bergelar Kiai Ageng Basyariyah.[6] Salah satu putra Kiai Ageng Muhammad Besari adalah Kiai Ishaq yang dihadiahi sebuah masjid kayu, beliau memerintahkan Kiai Ishaq untuk menyebarkan Islam di Desa Coper dengan masjid tersebut.[7]
Pasca Perang Diponegoro, wilayah Ponorogo jatuh ke tangan Belanda. Ponorogo direorganisasi sehingga menjadi bagian dari Karesidenan Madiun dan mencakup beberapa kawedanan atau daerah pembantu Bupati. Salah satunya Kawedanan Arjowinangun yang berpusat di Tamansari dan mencakup Kecamatan Sambit, Sawoo, Jetis, dan Mlarak.
Daftar desa dan dusun
[sunting | sunting sumber]Kecamatan Jetis terdiri dari 14 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[1]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Coper | Coper Kidul, Coper Kulon, Banaran, Ngrayut | [1] |
| 2 | Jetis | Jetis I, Jetis II | [1] |
| 3 | Josari | Josari Kulon, Josari Wetan, Keben, Klangi | [1] |
| 4 | Karanggebang | Karang Asri, Purwo Asri, Taman Asri, Tegal Asri / Puhlimo | [8] |
| 5 | Kradenan | Kradenan, Banjar | [1] |
| 6 | Kutu Kulon | Kutu, Tegalarum | [1] |
| 7 | Kutu Wetan | Krajan Barat, Krajan Timur, Pohgosong, Sidorejo / Bogoran | [1] |
| 8 | Mojomati | Mojomati I, Mojomati II | [1] |
| 9 | Mojorejo | Bantengan, Carukan, Malo | [1] |
| 10 | Ngasinan | Ngasinan, Glendoh, Karanglo, Mantup, Samen | [9] |
| 11 | Tegalsari | Gendol, Jinontro, Setono | [1] |
| 12 | Turi | Turi I, Turi II, Karangboto, Manding, Tempel | [1] |
| 13 | Winong | Winong I, Winong II, Pandanderek | [1] |
| 14 | Wonoketro | Wonoketro, Dagangan, Jintap | [1] |
Tempat terkenal
[sunting | sunting sumber]Wisata religi
[sunting | sunting sumber]
- Masjid Tegalsari - masjid bersejarah dari abad ke-18, pada masanya di lokasi ini juga terdapat Pesantren Tegalsari (Gerbang Tinatar) yang didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari
- Dalem Ageng Tegalsari - rumah kuno peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari, masih satu komplek dengan Masjid Tegalsari
- Ndalem Guron Tegalsari - cagar budaya berupa rumah yang dijadikan museum peninggalan Kiai Ageng Besari[10]
- Masjid Baiturrohman Setono - masjid bersejarah yang didirikan Kyai Donopuro, Pondok Setono adalah pendahulu dari Pondok Tegalsari
- Masjid Al-Ishaq Coper - masjid kuno peninggalan Kiai Ishaq, putra dari Kyai Ageng Muhammad Besari[7]
Lainnya
[sunting | sunting sumber]
- Pasar Jetis di tepi jalan nasional
- Pasar Hewan Jetis - pasar hewan yang cukup ramai di waktu pahing[11]
- Petilasan Surukubeng Ki Ageng Kutu[12]
- Jenang Mirah di Desa Josari[13]
- Puskesmas Jetis
- Jembatan Shirotol Mustaqim di Sungai Keyang - jembatan khusus pejalan kaki yang menghubungkan dua masjid bersejarah yaitu Masjid Setono di barat dengan Masjid Tegalsari di timur, keduanya berada di Desa Tegalsari.[5]
- Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah - pondok pesantren khusus putri yang masih serumpun dengan Ponpes Gontor
- Garang Asem Bu Parti Ngasinan
- Kolam renang dan lapangan futsal Isaku Niki
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kecamatan Jetis Dalam Angka 2017. BPS Kabupaten Ponorogo. 2017-09-26.
- 1 2 Ahmad Choirul Rofiq (2020). HISTORIOGRAFI LOKAL : BABAD PONOROGO DAN KEPAHLAWANAN MASYARAKAT PONOROGO (PDF). Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani. ISBN 978-623-6786-49-9.
- 1 2 3 Dawam Multazam (2018). "AKAR DAN BUAH TEGALSARI: DINAMIKA SANTRI DAN KETURUNAN KIAI PESANTREN TEGALSARI PONOROGO". Mozaic : Islam Nusantara. 4 (1). Jakarta: Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).
- ↑ Dewanto Samodro (2019-08-29). "Reog Ponorogo (2) - Antara legenda, sejarah dan budaya". ANTARA.
- 1 2 Wibbiassiddi, ed. (2024-05-24). "Melihat Jembatan Sirotol Mustaqim, Ikon Baru di Pusat Wisata Religi di Kabupaten Ponorogo". PONOROGO NEWS - ponorogo.pikiran-rakyat.com.
- ↑ Zuanti Fitria Melani Melani (2023). "Rekam Jejak Perjuangan Ki Ageng Basyariyah di Madiun Selatan 1710-1811". Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. 13 (2). Padang: UIN Imam Bonjol.
- 1 2 M. Marhaban (2023-04-11). "Kisah di Balik Masjid Al-Ishaq Coper Ponorogo, Wujud Cinta Bapak kepada Anak". TIMES INDONESIA.
- ↑ "Sejarah Desa Karanggebang". karanggebang.id. Diakses tanggal 2025-03-26.
- ↑ Tamrin Fathoni (2018). ""Ki Ageng Nursalim" (Sejarah Lisan tentang Perkembangan Islam di Ngasinan)". QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Agama. 10 (01). Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo.
- ↑ Bagus Ahmad Rizaldi (2023-12-30). "Anies ajak masyarakat kunjungi Museum Ndalem Guron di Ponorogo". ANTARA.
- ↑ Intan Resika Rohmah (2022-05-14). "Pasar Hewan Jetis yang Melegenda di Ponorogo, Terus Antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Ternak". www.ngaderes.com.
- ↑ Diah Ayu Cantrisah (2023-06-20). Lohanna Wibbi Assiddi (ed.). "Surukubeng di Jetis, Jadi Petilasan Ki Ageng Kutu Guru Warok Ponorogo?". PONOROGO NEWS - ponorogo.pikiran-rakyat.com.
- ↑ Ardian Dwi Kurnia (2024-05-30). "Jenang Mirah, Oleh-oleh Legendaris Khas Ponorogo". DETIK.
