Lompat ke isi

Juwairiyah binti al-Harits

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Infobox orangJuwairiyah binti al-Harits
Image
Suntingan nilai di Wikidata
Nama dalam bahasa asli(ar) جويرية بنت الحارث‎ Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran608 Suntingan nilai di Wikidata
Madinah Suntingan nilai di Wikidata
Kematian1r April 676 Suntingan nilai di Wikidata (67/68 tahun)
Madinah Suntingan nilai di Wikidata
Tempat pemakamanJannatul Baqi Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
Pasangan nikahMuhammad (627632) Suntingan nilai di Wikidata
AyahQ12185920 Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata

Juwairiyah binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah al-Khuza'iyyah (bahasa Arab: جويرية بنت الحارث المصطلقية الخزاعية) atau lebih dikenal dengan Juwairiyah binti al-Harits (lahir pada tahun 15 Sebelum H/608, wafat di Madinah pada tahun 56 H/676) adalah istri dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.

Ayahnya: adalah Pembesar Bani al-Mushthaliq, namanya al-Harits bin Dharar bin Habib bin 'A`idz bin Malik bin al-Mushthaliq bin Sa'id bin 'Amru bin Rabi'ah bin Haritsah bin Khuza'ah. Ia seorang penyembah berhala.[1]

Menikah dengan Nabi Muhammad

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun ke-6 Hijriah, setelah pertempuran Khandaq, kaum Bani Mustahliq dengan pimpinan Harits bin Dhirar hendak menyerang Madinah, maka Muhammad mempersiapkan pasukan dan lebih dulu menyerang Bani Musthaliq.[1]

Juwairiyah ditangkap pada hari Al-Muraisi' (Pertempuran Bani Al-Mustaliq) oleh Tsabit bin Qais, lalu ia menghadap pada Muhammad meminta dibebaskan,[2] lalu Muhammad memerdekakannya sekaligus melamarnya di usianya ke 20 tahun.[1] Atas pernikahannya, maka 100 tawanan ikut dibebaskan. Sebelumnya ia menikah dengan sepupunya Musafa' bin Safwan bin Abi Al-Shafar, yang terbunuh dalam pertempuran ini sementara Harits melarikan diri.

Juwairiyah adalah seorang wanita cantik dan datang kepada Rasulullah meminta bantuannya untuk membebaskannya. Sayyidah Aisyah menggambarkan penampakan Juwairiyah di hadapan Rasulullah hari itu, dengan mengatakan:

Demi Allah, saat aku melihatnya di pintu kamar, aku merasa tidak suka padanya. Aku tahu, Nabi akan memandang kecantikannya seperti yang aku lihat.[3] Aku tidak mengetahui wanita yang paling banyak berkahnya pada kaumnya kecuali dirinya.[1]

Saat perjalanan kembali ke Madinah, Ayah Juwairiyah, Al-Harits bin Abu Dhirar, datang dengan maksud menebus putrinya. Pada saat ia berada di Al-Aqiq, ia mengamati unta-unta yang ia siapkan sebagai tebusan bagi putrinya dan ia pun tertarik dengan dua unta dari unta-unta yang ada. Dan ia menyembunyikannya di salah satu lembah di Al-Aqiq. Sesudah itu ia datang menemui RasMuhammad dan berkata,"Wahai Muhammad, engkau tawan putriku dan ini sebagai tebusannya." Muhammad berkata,"Lalu mana dua unta yang engkau sembunyikan di salah satu lembah di Al-Aqiq?" Al Harits bin Abu Dhirar berkata,"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang melihat kedua unta tersebut kecuali Allah." Maka Al-Harits masuk Islam yang diikuti dua anaknya dan sejumlah orang dari kaumnya. Kemudian dia menyuruh seseorang untuk mengambil dua unta yang dia sembunyikan, yang kemudian dibawa ke tempat dia berada dan diserahkan kepada Muhammad, dan putrinya, Juwairiyah binti Al-Harits diserahkan kepadanya. Juwairiyah binti Al-Harits masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Lalu Muhammad melamar kepada ayahnya kemudian ayahnya menikahkan ia dengan Juwairiyah dengan mahar empat ratus dirham.[4]

  • Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Amru An Naqid dan Ibnu Abu 'Umar -dan lafaz ini milik Ibnu Abu 'Umar- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman -budak- keluarga Thalhah dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai salat subuh dan dia tetap di tempat salatnya. Tak lama kemudian Rasulullah kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat salatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya: Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu Juwairiyah menjawab; Ya, Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah berkata: Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu Subhaanallahi Wabihamdihi 'Adada Khalqihi wa Ridha Nafsihi wa Zinata 'Arsyihi wa Midada Kalimatihi yang artinya Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya)
  • Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ishaq dari Muhammad bin Bisyr dari Mis'ar dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Abu Risydin dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah dia berkata; bahwa suatu ketika Rasulullah melewatiku ketika dia usai salat shubuh. -lalu dia menyebutkan redaksi yang serupa. Namun dia dengan menggunakan kalimat; Subhaanallah Wabihamdihi Subhaanallah 'Adada Khalqihi Subhaanallah Ridha Nafsihi Subhaanallah Zinata 'Arsyihi Subhaanallah Midaada Kalimaatihi. Yang artinya: Maha suci Allah sebanyak hitungan makhluk-Nya. Maha Suci Allah menurut keridhaan-Nya. Maha Suci Allah menurut kebesaran arasy-Nya. Maha Suci Allah sebanyak paparan kelimat-Nya.[5]
Image
Makam Juwairiyah di Baqi Madinah.

Juwairiyah menghafal beberapa hadis, termasuk dua hadis yang terdapat di dalam Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, selain itu juga terdapat di Sunan Abi Daud, Jami at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah. Ia meriwayatkan hadis kepada Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin as-Sabbaq, Mujahid, dan lain-lain.

Ia hidup pada masa kekhalifahan Muawiyah, dan wafat di Madinah pada bulan Rabi'ul Awwal 53 H/676 di usianya ke 65 tahun,[2] dan disalatkan oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi.[5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 M.Ag, Azkiya Khikmatiar (2022-09-07). Rumah Tangga Seindah Surga : Kisah Keseharian Rumah Tangga Nabi. Araska Publisher. hlm. 85–87. ISBN 978-623-6335-13-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 Mustafit, Ahmad Khoiron. Inner Beauty : Istri - Istri Nabi Muhammad Saw. QultumMedia. hlm. 106. ISBN 978-979-3762-01-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. "Juwairiyah yang Membuat Aisyah Cemburu". Republika Online. Diakses tanggal 2024-10-28.
  4. Hisyam, Ibnu (205). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Penerbit Qisthi Press. ISBN 978-979-1303-91-0
  5. 1 2 Ad-Dimasyqi, Ahmad Khalil Jam'ah (2020-12-18). Istri-Istri Para Nabi (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm. 465–470. ISBN 978-979-3036-17-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]