Lompat ke isi

Nusa Tenggara Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Nusa Tenggara Barat
Transkripsi bahasa daerah
  Jawiنوسا تڠݢرا بارات
  Sasakᬦᬸᬲᬢᭂᬗ᭄ᬕᬭᬩᬭᬢ᭄
  Mbojoᨊᨘᨔ ᨈᨙᨂᨁᨑ ᨅᨑᨈ 7°52′S 117°35′E / 7.867°S 117.583°E / -7.867; 117.583
Bendera Nusa Tenggara Barat
Peta
Peta
NegaraImage Indonesia
Dasar hukum pendirianUU No. 64 Tahun 1958
Hari jadi17 Desember 1958 (umur 67)
Ibu kotaKota Mataram
Kota besar lainnyaKota Bima
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kabupaten: 8
  • Kota: 2
  • Kecamatan: 117
  • Kelurahan: 145
  • Desa: 998
Pemerintahan
  GubernurLalu Muhamad Iqbal
  Wakil GubernurIndah Dhamayanti Putri
  Sekretaris DaerahLalu Gita Ariadi
  Ketua DPRDBaiq Isvie Rupaeda
Luas
  Total20.124,48 km2 (7,770,11 sq mi)
Populasi
 (30 Juni 2024)[1]
  Total5.666.314
  Kepadatan280/km2 (730/sq mi)
Demografi
  Agama
  • 96,89% Islam
  • 2,38% Hindu
  • 0,30% Buddha[1]
  BahasaIndonesia (resmi)
Sasak (dominan), Sumbawa, Bima/Mbojo, Bali, lainnya
  IPMKenaikan 72,37 (2023)
tinggi[2]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode pos
83xxx-84xxx
Kode area telepon
Daftar
  • 0364 - Kota Mataram
  • 0370 - Mataram, Praya
  • 0371 - Sumbawa
  • 0372 - Alas, Taliwang
  • 0373 - Dompu
  • 0374 - Bima
  • 0376 - Selong
Kode ISO 3166ID-NB
Pelat kendaraan
Daftar
  • DR (Lombok dsk.)
  • EA (Sumbawa dsk.)
Kode Kemendagri52 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS52 Suntingan nilai di Wikidata
DAURp 1.641.178.248.000,- (2020)[3]
Lagu daerahKadal Nongak
Teluk Saleh
Rumah adat
Senjata tradisional
Flora resmiAjan kelicung
Fauna resmiRusa timor
Situs webntbprov.go.id

Nusa Tenggara Barat (disingkat NTB) ialah sebuah provinsi di Indonesia yang berada di bagian tengah Kepulauan Nusa Tenggara di antara provinsi Bali di sebelah barat dan provinsi Nusa Tenggara Timur di sebelah Timur. Pusat pemerintahan dan ibu kota provinsi ini berada di Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat memiliki 8 Kabupaten dan 2 Kota, termasuk kota Mataram. Pada pertengahan tahun 2024, penduduk Nusa Tenggara Barat berjumlah 5.666.314 jiwa, dengan kepadatan 264 jiwa/km2.[4][1][5]

Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah ini termasuk dalam wilayah Provinsi Sunda Kecil[6][7] yang beribu kota di Singaraja. Kemudian, wilayah Provinsi Sunda Kecil dibagi menjadi 3 provinsi: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dua pulau terbesar di provinsi ini adalah Lombok yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di timur. Sebagian besar dari penduduk pulau Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima (suku Mbojo) dan suku Sumbawa merupakan kelompok etnis terbanyak di pulau Sumbawa.

Geografis

[sunting | sunting sumber]
Image
Peta Administrasi Provinsi Nusa Tenggara Barat

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat meliputi dua pulau besar yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.[8] Provinsi Nusa Tenggara Barat mencakup wilayah seluas 20.153,20 km2.[9] Letak Provinsi Nusa Tenggara Barat secara astronomis pada 115°46'–119°5' Bujur Timur dan 8°10'–9°5' Lintang Selatan.[10]

Selong merupakan kota yang mempunyai ketinggian paling tinggi, yaitu 148 m dari permukaan laut, sementara Raba terendah dengan 13 m dari permukaan laut.[butuh rujukan] Pulau Lombok memiliki tujuh gunung.[11] Gunung Rinjani menjadi gunung tertinggi di Pulau Lombok dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut.[12] Sedangkan Gunung Tambora merupakan gunung tertinggi di Sumbawa dengan ketinggian 2.851 m.

Sungai-sungai di Nusa Tenggara Barat dikelompokkan ke dalam dua wilayah sungai, yaitu Wilayah Sungai (WS) yaitu WS Lombok dan WS Sumbawa.[13] WS Lombok terdiri atas 197 DAS dan WS Sumbawa 555 DAS.[14]

Batas wilayah

[sunting | sunting sumber]

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat berbatasan dengan wilayah berikut:[15]

UtaraLaut Jawa dan Laut Flores
TimurSelat Sape dan Provinsi Nusa Tenggara Timur
SelatanSamudra Hindia dan Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur
BaratSelat Lombok dan Provinsi Bali

Berdasarkan data statistik dari lembaga meteorologi, temperatur maksimum pada tahun 2001 berkisar antara 30,9° – 32,1 °C, dan temperatur minimum berkisar antara 20,6°- 24,5 °C. Temperatur tertinggi terjadi pada bulan September dan terendah ada bulan November. Sebagai daerah tropis, NTB mempunyai rata-rata kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara 48–95 %.

Keberadaan status provinsi, bagi NTB tidak datang dengan sendirinya. Perjuangan menuntut terbentuknya Provinsi NTB berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Provinsi NTB, sebelumnya sempat menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur dalam konsepsi Negara Republik Indonesia Serikat,dan menjadi bagian dari Provinsi Sunda kecil setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.

Seiring dinamika zaman dan setelah mengalami beberapa kali proses perubahan sistem ketatanegaraan pasca diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia, barulah terbentuk Provinsi NTB. NTB, secara resmi mendapatkan status sebagai provinsi sebagaimana adanya sekarang, sejak tahun 1958, berawal dari ditetapkannya Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 Tanggal 14 Agustus 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Bali, NTB dan NTT, dan yang dipercayakan menja di Gubernur pertamanya adalah AR. Moh. Ruslan Djakraningrat.

Walaupun secara yuridis formal Daerah Tingkat I NTB yang meliputi 6 Daerah Tingkat II dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1958, tetapi penyelenggaraan pemerintahan berjalan berdasarkan Undang- undang Negara Indonesia Timur Nomor 44 Tahun 1950, dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Keadaan yang tumpang tindih ini berlangsung hingga tanggal 17 Desember 1958, ketika Pemerintah Daerah Lombok dan Sumbawa dilikuidasi. Hari likuidasi inilah yang menandai resmi terbentuknya Provinsi NTB. Zaman terus berganti, konsolidasi kekuasaan dan pemerintahan pun terus terjadi.

Pada tahun 1968 dalam situasi yang masih belum menggembirakan sebagai akibat berbagai krisis nasional yang membias ke daerah, gubernur pertama AR. Moh. Ruslan Tjakraningrat digantikan oleh HR.Wasita Kusuma. Dengan mulai bergulirnya program pembangunan lima tahun tahap pertama (pelita I) langkah perbaikan ekonomi, sosial, politik mulai terjadi. Pada tahun 1978, H.R. Wasita Kusuma digantikan H. Gatot Soeherman sebagai Gubernur Provinsi NTB yang ketiga. Dalam masa kepemimpinannya, usaha-usaha pembangunan kian dimantapkan dan Provinsi NTB yang dikenal sebagai daerah minus, berubah menjadi daerah swasembada. Pada tahun 1988 Drs. H. Warsito, SH terpilih memimpin NTB menggantikan H. Gatot Soeherman. Drs.H.Warsito, SH mengendalikan tampuk pemerintahan di Provinsi NTB untuk masa dua periode, sebelum digantikan Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si pada tanggal 31 Agustus 1998.

Drs. H. Harun Al Rasyid M.Si berjuang membangun NTB dengan berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Program Gema Prima. Tahun 2003 hingga 1 september 2008 Drs. H. Lalu Serinatadan wakil Gubernur Drs. H.B. Thamrin Rayes memimpin NTB. Pada masa ini berbagai macam upaya dilakukan dalam membangun NTB dan mengejar ketertinggalan diberbagai bidang dan sektor. Di zaman ini,sejumlah program diluncurkan, seperti Gerbang E-Mas dengan Program Emas Bangun Desa. Selain itu, pada masa ini pembangunan Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah mulai terealisasi dan rampung pada pertengahan 2009.

Dalam usianya yang ke-52 Provinsi NTB kini dipimpin oleh Gubernur Dr. KH. M. Zainul Majdi dan Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir, MM. Pada tahun 2010 ini, kedua pasangan pemimpin menggenapkan dua tahun pemerintahannya di Provinsi NTB untuk mengemban amanah dan harapan masyarakat Nusa Tenggara Barat dalam mencapai kesejahteraan dan pembangunan daerah menuju NTB yang Beriman dan Berdaya Saing.

Masuknya Islam

[sunting | sunting sumber]
Image
Islamic Center Mataram

Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putra Sunan Ratu Giri datang mengislamkan kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.[butuh rujukan]

"Susuhnii Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama kali berlayar ke Lombok, di mana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada paham pagan.

Setelah kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, di mana ia memulai negosiasi (tanpa hasil) dengan Dewa Agung Klungkung."

Sementara di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang atas usul Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh dibandingkan posisi sebelumnya.

Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat sampai hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.

Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari ini. Ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara, Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen.

Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam lontar-lontar Sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim dan sebagainya.

Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakatnya. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma dan Warsa.

  • Danta artinya gading gajah, apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi.
  • Danti artinya ludah, apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi.
  • Kusuma artinya kembang, tidak mungkin kembang itu mekar dua kali.
  • Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan.

Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur). Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil) atau genem (rajin).[butuh rujukan]

Merujuk pada catatan-catatan bangsa asing yang singgah ke Lombok, seperti Steven Van Der Hagen dan Dirck Schouten menyebutkan bahwa Pulau Lombok sejak abad ke-16 sampai 17 berada dalam kekuasaan Kerajaan Gelgel, termasuk Selaparang. Pada tahun 1600an awal terjadi pemberontakan di Selaparang sebagai upaya merdeka dari kekuasaan Bali dengan bantuan Makasar, tetapi menemui kegagalan, Gusti Agung Maruti pada 22 Mei 1645 memporak-porandakan ibukota Selaparang dan memaksa para bangsawan di Lombok untuk menyerah dan mengakui kembali kekuasaan Gelgel. Karena hal ini maka ibukota dipindahkan ke pedalaman pulau dan mengalami kemajuan dibidang agraria. Pada tahun 1661 - 1686 terjadi kekacauan internal di Bali yang menyebabkan Lombok akhirnya merdeka

Akibat kekacauan internal itu banyak rakyat Bali yang kemudian pindah ke Lombok dan membuka lahan-lahan pertanian di Lombok Barat, Kerajaan Selaparang kemudian mengirim Dipatinglaga Wira Wangsa untuk memata-matai para imigran Bali tersebut, Pada pertengahan abad ke-17 kemudian terjadi konflik internal di Selaparang antara Arya Banjar Getas dan Raja Selaparang, hal tersebut diyakini karena Raja Selaparang telah menggauli istri Arya Banjar Getas, kekecewaan Arya Banjar Getas kemudian dilakukan dengan melancarkan pemberontakan didukung oleh banyak desa-desa di Lombok, Arya Banjar Getas kemudian meminta bantuan kepada Kerajaan Karangasem, Bali. Pada tahun 1692 aliansi tersebut mampu menaklukkan banyak desa-desa di wilayah Kerajaan Selaparang dan menyebabkan kerajaan itu jatuh pada 1725 sejak saat itu budaya dan adat Bali mulai berkembang di Lombok dan diserap oleh orang-orang Sasak.

Kerajaan Karangasem kemudian membuat pasobaya/perjanjian dengan Arya Banjar Getas di mana Karangasem akan berkuasa di Lombok bagian barat dan Arya Banjar Getas pada bagian timur sebagai vassal dari Karangasem. Pada tahun 1839, Kerajaan Mataram-Karangasem memenangkan perang saudara di Lombok kemudian mengambil alih seluruh wilayah pulau ini dan berkuasa sampai November, 1894.

Kerajaan Mataram Lombok merupakan salah satu kerajaan Hindu Bali terkaya dan termaju di Nusantara, dibandingkan kerajaan Bali lainnya, Kerajaan ini jauh dari konstan perang politik yang terjadi di Pulau Dewata membuatnya bisa lebih fokus pada perdagangan dan kemajuan ekonomi internal. Raja-raja Mataram dikenal sebagai raja yang toleran pada rakyat sasak yang muslim, tetapi ketat dalam menjalankan adat budaya Bali, merujuk pada surat datu sasak bertahun 1891, disebutkan bahwa Raja Mataram mengharuskan orang-orang sasak untuk beradat, pakaian, berbudaya ala Bali yang menyebabkan kekecewaan dan pemberontakan pada 1892. [butuh rujukan]

Masuknya Kolonialisme

[sunting | sunting sumber]
Image
Bukit Selong, Sembalun, Lombok Timur.

Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai.[butuh rujukan]

Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel mulai membangun pertahanan-peetahannya di Lombok. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan wilayah taklukannya atas Selaparang yang dianggap sebagai wilayah kekuasaan Gelgel.

Akan tetapi terjadi perubahan sikap sepeninggal Dalem Segening yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom. Terjadi polarisasi yang semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel meskipun gagal dalam melakukan upaya aliansi, sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok untuk mendukung pemberontakan melawan Bali. Sayangnya pemberontakan tersebut digagalkan oleh Gelgel pada Mei 1645. Bahkan pada tahun 1648, salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam gubernur mewakili Gelgel.

Akhirnya perang antara Gowa dengan Belanda tidak terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus menerima perjanjian Bungaya pada tahun 1667. Bungaya dipercaya sebagai sebuah desa yang terletak di Bali. Atas perjanjian tersebut wilayah kekuasaan Gowa mulai meredup, kekuasaan Bali atas Lombok dan Sumbawa mulai dipertegas.

Selaparang akhirnya merdeka dari kekuasaan Bali ketika konflik internal Bali pecah pada tahun 1661 - 1686, sumber lain menyebutkan bahwa Selaparang enggan mengakui kekuasaan pemberontak karena loyal terhadap Dinasti Dalem, tetapi kemerdekaan tersebut hanya sesaat, karena pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun 1622.

Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Sebab itu sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.

Di balik itu memang ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya karena sang raja sudah melakukan sebuah skandal kepada istrinya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang dahulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di Kecamatan Jonggat.[butuh rujukan]

Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan menyerang Kerajaan Pejanggik. Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.

Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.[butuh rujukan]

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]
Image Gubernur Nusa Tenggara Barat Image
No. Potret Gubernur Mulai menjabat Akhir menjabat Potret Wakil Gubernur Periode Ket.
9 Image Lalu Muhammad Iqbal 20 Februari 2025 Petahana Image Indah Dhamayanti XIII
(2024)
[16]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

[sunting | sunting sumber]

Selama masa reformasi, jumlah anggota DPRD NTB pada awalnya hanya 45 orang, kemudian bertambah menjadi 55 orang pada Pemilu 2004 dan bertambah lagi menjadi 65 orang pada Pemilu 2014. DPRD NTB paling sedikit ditempati oleh 10 partai politik dan paling banyak oleh 15 partai politik. Partai Golongan Karya merupakan pemenang bertahan selama masa reformasi sehingga tidak mengherankan jika posisi Ketua DPRD NTB selalu diisi oleh kadernya. Berikut ini adalah rekapitulasi komposisi anggota DPRD NTB berdasarkan asal partai politik selama masa reformasi.[17][18][19][20][21][22]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
1999-2004 2004-2009 2009-2014 2014-2019 2019-2024 2024-2029
PKB 2 Kenaikan 3 Penurunan 1 Kenaikan 5 Kenaikan 6 Steady 6
PDI-P 7 Penurunan 6 Penurunan 5 Steady 5 Penurunan 4 Steady 4
Golkar 21 Penurunan 15 Penurunan 10 Kenaikan 11 Penurunan 10 Steady 10
PKS 0 Kenaikan 6 Steady 6 Steady 6 Kenaikan 7 Kenaikan 8
PPP 6 Steady 6 Penurunan 4 Kenaikan 6 Kenaikan 7 Steady 7
PAN 2 Kenaikan 4 Steady 4 Kenaikan 5 Steady 5 Penurunan 4
Demokrat 1 Kenaikan 3 Kenaikan 8 Steady 8 Penurunan 7 Penurunan 6
PBB 2 Kenaikan 6 Penurunan 5 Penurunan 3 Penurunan 2 Steady 2
Gerindra (baru) 2 Kenaikan 8 Kenaikan 9 Kenaikan 10
Hanura (baru) 3 Kenaikan 5 Penurunan 1 Steady 1
NasDem (baru) 3 Kenaikan 5 Penurunan 4
Perindo (baru) 0 Kenaikan 3
PKPI 1 Penurunan 0 Steady 0 Steady 0 Steady 0
Berkarya (baru) 2
PPPI (baru) 1
PPRN (baru) 1
PKNU (baru) 1
PBR (baru) 5 Penurunan 2
PKPB (baru) 0 Kenaikan 2
Patriot (baru) 1 Penurunan 0
PPNU 1 Penurunan 0 Steady 0
Jumlah Anggota 45 Kenaikan 55 Steady 55 Kenaikan 65 Steady 65 Steady 65
Jumlah Partai 10 Steady 10 Kenaikan 15 Penurunan 11 Kenaikan 12 Steady 12
Catatan:

*Pada periode 1999-2004, 2 kursi ditempati oleh Fraksi ABRI.

Wilayah administratif

[sunting | sunting sumber]
No. Kabupaten/kota Ibu kota Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[23] Jumlah penduduk (2024)[24] Kecamatan Kelurahan/desa Lambang
alt
alt
Peta lokasi
1Kabupaten BimaWohaAdy Mahyudi 4.216,32 541.31918-/191
Image
Image
2Kabupaten DompuDompuBambang Firdaus 2.281,75 270.66489/72
Image
Image
3Kabupaten Lombok BaratGerungLalu Ahmad Zaini 923,06 748.580103/119
Image
Image
4Kabupaten Lombok TengahPrayaLalu Pathul Bahri 1.169,52 1.106.6191212/127
Image
Image
5Kabupaten Lombok TimurSelongHaerul Warisin 1.607,31 1.427.8562015/239
Image
Image
6Kabupaten Lombok UtaraTanjungNajmul Akhyar 811,19 268.1865-/43
Image
Image
7Kabupaten SumbawaSumbawaSyarafuddin Jarot 6.655,92 526.008248/157
Image
Image
8Kabupaten Sumbawa BaratTaliwangAmar Nurmansyah 1.743,58 153.57587/57
Image
Image
9Kota Bima-A. Rahman H. Abidin 207,97 163.824538/-
Image
Image
10Kota Mataram-Mohan Roliskana 60,42 459.683650/-
Image
Image

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa

[sunting | sunting sumber]
Image
Seorang penenun suku Sasak.

Mayoritas penduduk yang mendiami provinsi Nusa Tenggara Barat adalah suku asli setempat, yakni 93,33% termasuk suku Sasak 67,57% dan Bima, Sumbawa, Dompu, serta suku-suku lainnya 25,76%. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, berikut ini komposisi etnis atau suku bangsa di provinsi Nusa Tenggara Barat:[25][26]

No Suku Jumlah
(Sensus 2010)
%
1 Sasak 3.033.631 67,57%
2 Asal NTB (Bima, Sumbawa, Dompu, dan lainnya) 1.156.493 25,76%
3 Bali 119.407 2,66%
4 Jawa 78.916 1,76%
6 Bugis 19.965 0,45%
7 Asal NTT 11.975 0,27%
8 Tionghoa 7.288 0,16%
9 Lainnya 61.606 1,37%
Provinsi Nusa Tenggara Barat 4.489.281 100%
Image
Pejuang atau prajurit suku Sumbawa di pulau Sumbawa ca 1930

Terdapat sebelas bahasa yang dituturkan oleh penduduk Nusa Tenggara Barat.[27] Bahasa Sasak, bahasa Sumbawa, dan bahasa Mbojo (Bima) adalah bahasa asli yang dituturkan oleh penduduk kedua pulau utama (Lombok dan Sumbawa). Selain itu, karena NTB merupakan kawasan transit perdagangan dan juga pernah menjadi pusat politik, dituturkan pula bahasa Bali, bahasa Bugis, dan bahasa Bajo. Perkembangan ekonomi dan sejarah mengundang pendatang dari berbagai wilayah untuk menetap di Nusa Tenggara Barat sampai anak keturunannya dan membawa bahasa ibunya, seperti bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Tionghoa, bahasa Makassar, bahasa Melayu, dan bahasa Manggarai.

Bahasa Sasak

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sasak banyak digunakan oleh masyarakat yang mendiami Pulau Lombok. Bahasa Sasak memiliki tiga tingkatan yaitu lembut, sedang, dan kasar. Terdapat lima dialek dalam bahasa Sasak, diantaranya dialek Pejangi, Selaparang, dan Bayan.[28] Bahasa Sasak memiliki pengaruh dari bahasa Bali dan bahasa Jawa. Dari segi aspek aksara (sistem penulisan), bahasa Sasak memiliki persamaan dengan Bahasa Bali dan bahasa Jawa. Contohnya terdapat pada persamaan penggunaan huruf /ha/, /na/, /ca/, /ra/, /ka/, dan lain-lain. Namun, jika ditinjau dari segi pelafalan, bahasa Sasak sangat mirip dengan bahasa Bali. Sedangkan berdasarkan Ethnologue, bahasa Sasak termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia, dari cabang bahasa Melayu-Polinesia.[29]

Bahasa Sumbawa

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sumbawa, atau disebut juga bahasa Samawa, adalah bahasa yang digunakan di Sumbawa bagian barat. Macam-macam dialeknya adalah dialek Samawa, Taliwang, Baturotok/Batulante, Ropangsuri, Selesek, Lebah, Dado, Jeluar, Tanganam, Geranta, dan Jeruek.[29] Sebelum mencapai keragamaaan dialek seperti ini, awalnya bahasa Sumbawa terdiri dari dua bahasa, yaitu pra-dialek Taliwang-Jereweh-Tongo dan dialek Sumbawa Besar. Namun pada perkembangannya, pra-dialek Taliwang-Jereweh-Tongo, terpecah menjadi tiga dialek yang berdiri sendiri.[29] Berdasarkan penyebaran penggunaannya dialek Sumbawa dan Baturotok dan dialek lainnya digunakan di wilayah Pegunungan Ropang. Sedangkan dialek Taliwang, Tongo, dan Jaraweh digunakan oleh penduduk di sebelah selatan Lunyuk. Adapun dialek persatuan antaretnik Sumbawa adalah dialek Sumbawa Besar.[29]

Bahasa Bima

[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bima digunakan oleh penduduk yang mendiami wilayah Bima, Dompu, dan juga Pulau Sangeang Api. Bahasa Bima hanya memiliki dua tingkatan yaitu halus dan kasar.[30] Terdapat beberapa jenis dialek, yaitu dialek Bima, Donggo, Kore, Sanggar, dan Sangeang Api.[28]

Bahasa Bali

[sunting | sunting sumber]

Penggunaan bahasa Bali di Nusa Tenggara Barat, terutama di Lombok, tidak terlepas dari peran historis dan kedekatan geografis. Secara historis, Raja Bali XVII pernah menguasai Lombok bagian barat, sedangkan secara geografis Provinsi NTB, terutama Lombok, berdekatan dengan Bali.[28]

Investasi

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2023 peresmian galeri investasi Bursa Efek Indonesia dikarenakan daya minat masyarakat terkait bursa efek semakin meluas dari berbagai latar belakang sektor dan sekaligus penyerahan simbolis csr hut ke 45 pasar modal Indonesia.[31]

Transportasi

[sunting | sunting sumber]

Terdapat transportasi udara atau Bandar Udara yaitu:

  1. Bandar Udara Selaparang di Kota Mataram, pulau Lombok;
  2. Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Kabupaten Lombok Tengah,
  3. Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin di Kabupaten Bima
  4. Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III di Kabupaten Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat

Pariwisata

[sunting | sunting sumber]
Image
Gunung Rinjani saat meletus pada tahun 1994
Image
Danau Segara Anak

Berikut adalah beberapa tempat wisata yang terdapat di Provinsi NTB:

  1. Pantai Senggigi
  2. Pantai Pink
  3. Gili Trawangan
  4. Taman Narmada
  5. Gunung Rinjani
  6. Pura Batu Bolong
  7. Pantai Kuta Lombok
  8. Pantai Sire
  9. Pantai Sekotong
  10. Batu Layar
  11. Ampenan Kota Tua
  12. Gunung Tambora
  13. Pulau Satonda
  14. Pulau Kenawa
  15. Sirkuit Internasional Mandalika

Nusa Tenggara Barat memiliki prasarana olahraga yang cukup memadai di antaranya Stadion Gelora 17 Desember, Mataram yang merupakan markas dari klub sepak bola PS Mataram dan PS Sumbawa Barat yang pernah bermain di Divisi Utama Liga Indonesia musim 2012. Selain itu Gelora 17 Desember juga merupakan markas dari klub futsal ternama Vamos FC Mataram yang sudah tiga kali berturut-turut meraih gelar juara Liga Futsal Profesional Indonesia, musim 2017, 2018 dan 2019.

Daftar klub sepak bola di Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat juga memiliki sirkuit balap berstandar internasional yaitu Sirkuit Internasional Mandalika, yang terletak di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2024" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 15 Oktober 2024.
  2. "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2023". www.bps.go.id. hlm. 8. Diakses tanggal 7 Desember 2023.
  3. "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2020" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. (2020). Diakses tanggal 26 Januari 2021.
  4. "Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Angka 2021" (pdf). www.ntb.bps.go.id. hlm. 7, 37. Diakses tanggal 11 April 2021.
  5. "Indikator Strategis NTB - BPS". BPS. Diakses tanggal 2019-12-18.
  6. "Badak Sunda dan Harimau Sunda". "[...] Mr. Muhamad Yamin yang pada 1950-an ketika menjadi Menteri P.P. dan K. mengganti istilah Kepulauan Sunda Kecil menjadi Kepulauan Nusa Tenggara. Sebab, istilah Kepulauan Sunda Kecil diganti dengan Kepulauan Nusa Tenggara, maka istilah Kepulauan Sunda Besar juga tidak lagi digunakan dalam ilmu bumi dan perpetaan nasional Indonesia – meskipun dalam perpetaan Internasional istilah Greater Sunda Islands dan Lesser Sunda Islands masih tetap digunakan." - Ajip Rosidi: Penulis, budayawan. Pikiran Rakyat, 21 Agustus 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-08. Diakses tanggal Juli 7, 2015.
  7. "JAN B. AVE; 'INDONESIA', 'INSULINDE' AND 'NUSANTARA': DOTTING THE I'S AND CROSSING THE T p. 14". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2015-07-10.
  8. Sosilawati, dkk. (2017). Handayani, A., dan Nababan, M. L. (ed.). Sinkronisasi Program dan Pembiayaan Pembangunan Jangka Pendek 2018-2020: Keterpaduan Pengembangan Kawasan dengan Infrastruktur PUPR Pulau Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara (PDF). Pusat Pemrograman dan Evaluasi Keterpaduan Infrastruktur PUPR. hlm. 13. ISBN 978-602-61190-0-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Tim Penyusun Buku Nusa Tenggara Barat Dalam Data Tahun 2015 (2015). Nusa Tenggara Barat Dalam Data 2015 (PDF). Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat. hlm. 3. ISBN 978-602-97223-1-4. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. Septiawan, Wahyudi (2023). Dyatmika, I. P., dkk. (ed.). Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Angka 2023. BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat. hlm. 3. ISSN 0215-2215. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. Laporan Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI ke Provinsi Nusa Tenggara Barat Masa Persidangan II Tahun Sidang 2019-2020 1 s.d. 5 Maret 2020 (PDF). Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2020. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. Ending, S., dkk. (2017). Peta Dakwah Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat. Mataram: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB. hlm. 2. ISBN 978-602-6223-55-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. Berdasarkan Permen PUPR Nomor 04/PRT/M/2015 Tanggal 18 Maret 2015, tentang Kriteria Dan Penetapan Wilayah Sungai, untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat
  14. Daerah Aliran Sungai Pada Wilayah Sungai Lombok Dan Wilayah Sungai Sumbawa - Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I, Narmada Lombok Barat - NTB - 20 April 2014.
  15. Septiawan, Wahyudi (2021). Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Angka 2021. BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat. hlm. 3. ISSN 0215-2215. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. Halwi, Muhammad (20 Februari 2025). Yani, Ahmad (ed.). "Iqbal-Dinda Resmi Dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Periode 2025-2030". Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 30 Desember 2025.
  17. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama kursi
  18. "KPU tetapkan 65 caleg DPRD NTB terpilih". mataram.antaranews.com. 12-05-2014. Diakses tanggal 04-12-2019.
  19. "KPU Tetapkan Anggota DPRD NTB Terpilih". jariungu.com. 18-05-2009. Diakses tanggal 06-12-2019.
  20. "Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2006". ntb.bps.go.id. 20-06-2007. Diakses tanggal 06-12-2019.
  21. Akbar, Helmy. "KPU Resmi Tetapkan 65 Caleg DPRD NTB Terpilih Periode 2024-2029". detikbali. Diakses tanggal 2024-06-19.
  22. "Keputusan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 40 Tahun 2024 Tentang Penetapan Perolehan Kursi Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Pemilihan Umum Tahun 2024" (PDF). Komisi Pemilihan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. 14-06-2024. Diakses tanggal 01-02-2025.
  23. "Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.1.1-6117 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, dan Pulau" (PDF). Kementerian Dalam Negeri. Diakses tanggal 2025-01-21.
  24. "Agregat Jumlah Penduduk per Kabupaten/Kota Tahun 2024". Satu Data Pemerintahan Dalam Negeri. 2024-12-19. Diakses tanggal 2025-01-21.
  25. "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia". www.bps.go.id. hlm. 36–41. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal 2021-03-25. Diakses tanggal 17 Oktober 2021.
  26. "Persentasi Penduduk Menurut Kabupaten Kota dan Agama yang Dianut di Provinsi NTB". www.ntb.bps.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-18. Diakses tanggal 18 September 2021.
  27. Malingi, Alan (11 Februari 2021). "11 Bahasa di Nusa Tenggara Barat". sejarahbima.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-17. Diakses tanggal 17 Oktober 2022.
  28. 1 2 3 Hardini, Isriani (2008). Keragaman Bahasa Daerah di Indonesia. Jakarta: Buana Cipta Pustaka. hlm. 34. ISBN 978 602 855 121 2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  29. 1 2 3 4 P, Rossalina (2018). Suku dan Bahasa Provinsi Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. PT Saran Panca Karya Nusa. ISBN 978 979 678 452 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  30. Hidayah, Zulyani (2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 86. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  31. "Wagub NTB : Pentingnya Literasi dan Inklusi Pasar Modal Bagi Masyarakat". ntbprov.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-27.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]