Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Pandjaitan (lahir 28 September 1947) adalah purnawirawan tentara, pengusaha, diplomat dan politikus asal Sumatera Utara, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Kabinet Kerja pada Juli 2016 dan dipilih kembali pada masa Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin periode 2019–2024 sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2014 hingga 2 September 2015.[2]
Pada 12 Agustus 2015, ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno. Dalam perombakan Kabinet Kerja Jilid II pada 27 Juli 2016, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli.[3] Pada 15 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo mengambil langkah terkait polemik kepemilikan paspor Amerika Serikat (AS) oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, sehingga Presiden memberhentikan Archandra secara terhormat dari Menteri ESDM dan menunjuk Luhut yang juga menjadi Menko Maritim untuk menjadi pejabat sementara (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Sebelum masuk dalam Kabinet Kerja, Luhut pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tahun 2000–2001 saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI 1999–2001. Sebelum menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, ia menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.
Kehidupan pribadi
Luhut merupakan anak ke-1 dari 5 bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Ia menikah dengan Devi Simatupang dan memiliki 4 anak, yaitu Paulina, David, Paulus dan Kerri Pandjaitan.
Pendidikan
Pendidikan dasar dan menengah
Luhut memulai pendidikan dasar dan menengah pertamanya di SD dan SMP Yayasan Cendana, sebuah sekolah yang dimiliki oleh perusahaan minyak Caltex, tempatnya ayahnya bekerja. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMAN 1 Pekanbaru, kemudian pindah SMAK 1 Penabur Bandung. Ketika bersekolah SMA di Pekanbaru, Luhut pernah mewakili daerahnya ke Pekan Olahraga Nasional (PON) di Bandung cabang Renang. Sewaktu bersekolah SMA di Bandung, ia menjadi salah satu pendiri Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang menghimpun pelajar dan mahasiswa untuk menentang Orde Lama dan PKI.[4][5]
Pendidikan dan kursus militer
Pada tahun 1967, Luhut masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Darat dan 3 tahun kemudian meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 1970, sehingga mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa.[5][4]
Pada tahun 1971, ia mengikuti 3 kursus militer. Pertama, Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (Sussarcabif) dimana ia menjadi lulusan yang terbaik. Kedua, Kursus Komando, dengan raihan penghargaan Sangkur Perak Komando. Kemudian Kursus Lintas Udara dengan meraih penghargaan Trofi Payung Emas.Di tahun 1976 dan 1978, ia mengikuti kursus untuk perwira, yakni Kursus Lanjutan Perwira/SUSLAPA I (1976).Kursus Lanjutan Perwira/SUSLAPA II (1978).[4][5]
Karier militernya banyak dihabiskan di Kopassandha TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya—Komandan Grup 3 Kopassandha, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat. Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.[5][4]
Luhut juga menempuh pendidikan militer di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) dan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (SESKO ABRI).[5][4]
Pelatihan militer
Luhut juga mengikuti pelatihan militer di 3 negara berbeda , yakni Jerman Barat, Britania Raya, dan Jerman Barat.
Sebanyak 8 pelatihan militer ia ikuti di Amerika Serikat, diantaranya US Army Airborne, Pathfinder, and Ranger Course di Fort Bragg dan Fort Benning (1976); Free Fall Instructor Course, di Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1976); Mobile Trainning Team (MTT) Instructor Course Golden Knight, US Army Special Forces, di Fort Bragg (1978); HALO/HAHO Jumpmaster Instructor Course di US Army Jumpmaster School (1980); US Army John F. Kennedy Special Warfare Center and School (Kursus Pasukan Khusus Angkatan Darat AS), Fort Bragg (1978); Bomb Disposal Instructor Training, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1977); Jungle Warfare Instructor Training Course, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1979); dan Guerrilla & Counter-Guerrilla Warfare Instructor Training Course, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS (1978).[4][5]
Kemudian di Jerman Barat, ia mengikuti 2 pelatihan militer pada tahun 1981, diantaranya Shooting & Anti-Terror Instructor Training dan Counter-Terrorism and Special Operations Course, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9) German Federal Police. Di tahun yang sama (1981), ia ke Britania Raya mengikuti pelatihan Royal Army Special Air Service (SAS).[5]
Pendidikan tinggi lanjutan
Luhut menempuh pendidikan di George Washington University, Washington DC, Amerika Serikat. Ia lulus pada tahun 1988 dan memperoleh gelar Masters in Public Administration. Kemudian, ia juga menempuh pendidikan tingginya di Universitas Pertahanan Nasional (National Defense University) di Amerika Serikat dan lulus pada tahun 1989.[6][7] Terakhir ia juga menempuh pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS)[5]
Pada Tahun 2001 Luhut Panjaitan mendirikan Institut Teknologi Del di Desa Sitoluama, Laguboti, Kabupaten Toba.
Karier Militer
Luhut Pandjaitan memulai kariernya dengan pangkat Letnan Dua Infanteri sebagai Komandan Peleton I/A Group 1 Para Komando, Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) pada tahun 1971. Pada tahun 1972, ia ditunjuk sebagai Komandan Peleton Batalyon Siliwangi di Kalimantan Barat pada Operasi Pemberantasan dan Penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS)/Partai Komunis Kalimantan Utara (Paraku).[5]
Luhut kemudian naik pangkat Letnan Satu Infanteri pada tahun 1973, dan menjabat sebagai Komandan Kompi A Group 1 Para Komando, Kopassandha. Belum satu tahun menjabat, ia kemudian dipindahkan sebagai Komandan Kompi A Pasukan Kontingen Garuda (KONGA VI) Wilayah Port Said, Port Fuad, Port Suez, Mesir dari Desember 1973 hingga Oktober 1974. Ia juga merangkap sebagai Ajudan Pribadi dari Brigjen TNI Yogie Suardi Memet (Komandan Brigade Selatan, Wilayah Terusan Suez) Kontingen Garuda (KONGA VI).[5]

Usai operasinya di Mesir, ia kembali ke Indonesia. Ia menjadi Komandan Tim C Group 1 Para Komando Satuan Lintas Udara pada Operasi Seroja di Timor Portugis (kemudian Timor Timur), Komando Pasukan Sandhi Yudha pada tahun 1975. Pada saat itu ia berpangkat Kapten (TNI) Infanteri. Setahun kemudian pada 1976, ia masih di Timor Timur menjadi Komandan Kompi Pasukan Pemburu Kopasshanda pada Elemen Satgas Tempur Khusus, pada Operasi Seroja. Sewaktu menjadi Kompi Pasukan, ia meraih prestasi dan predikat sebagai Komandan Kompi Terbaik dalam Operasi Seroja.[8][5]
Ia kemudian menjadi Perwira Operasi pada Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat). Selanjutnya ia perwira Operasi Pada Satuan Tugas/Satgas Intel Badan Intelijen ABRI (BIA). Luhut naik pangkat menjadi Mayor Infanteri pada tahun 1980. Pada tahun 1981, ia mendirikan Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (Komando Pasukan Khusus) dan ia menjadi komandan pada satuan tersebut. [5]
Dua tahun kemudian pada tahun 1983, Luhut naik pangkat menjadi Letnan Kolonel menjadi Komandan Proyek Rajawali pada Badan Intelijen ABRI. Selanjutnya, Luhut dipercayakan menjadi Komandan Satuan Pengamanan Presiden RI/VVIP Pada KTT ASEAN Manila, Filipina pada tahun 1984. Setahun berlalu (1985), Luhut kembali ke Detasemen 81, dan menjadi komandan pertama Proyek Charlie/Proyek Intelijen Teknik, proyek yang menjadi crème de la crème TNI saat ini.[5]
Luhut kemudian mendirikan dan menjadi Komandan Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus) Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus pada Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus pada tahun 1986. Di tahun yang sama, ia kembali ke Timor Timur menjadi Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus (Detasemen-86) di Sektor Tengah Khusus (Osu, Frekueike, Laisorobai) Timor-Timur (1986). Selama bertugas sebagai Komantan Detasemen-86, ia kembali meraih prestasi dan predikat sebagai Komandan Satgas Tempur Terbaik di Timor-Timur.[8][5]
Pada tahun 1987, ia kembali ke satuan Kopassus menjadi Komandan Sekolah Pusat Pendidikan Para Lintas Udara Pusshandalinud pada Pusdikpassus (Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus). Selanjutnya, ia menjabat sebagai Asisten Operasi (Asops) Kopassus pada tahun 1989.[5]
Luhut naik pangkat menjadi Kolonel Infanteri dan menjabat sebagai Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus pada tahun 1990. Ia kemudian diangkat menjadi Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) dari tahun 1992 hingga 1993. Luhut dipindahkan ke Surabaya menjadi Danrem (Komandan Resor Militer) pada Korem 081/Dhirotsaha Jaya dari 1993 hingga 1995. Pada saat menjadi Danrem, ia meraih prestasi sebagai Danrem (Komandan Resor Militer) terbaik se-Indonesia pada tahun 1995.[5]
Ia kemudian dipromosikan ke pangkat Brigadir Jenderal, setelah menjadi Danrem terbaik 1995. Selanjutnya, ia kemudian ke Bandung, Jawa Barat menjadi Wakil Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri, di bawah komando Mayjen Rahmat HS Mokoginta. Luhut kemudian naik pangkat ke Mayor Jenderal, dan diangkat menjadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri pada tahun 1996 hingga 1997.[5]
Luhut kembali naik pangkat ke Letnan Jenderal dan memimpin menjadi Komandan pada Komando Pendidikan dan Latihan ABRI Angkatan Darat dari tahun 1997 ke 1998. Ia pensiun dan menjadi purnawirawan pada tahun 1999.[5]
Pada November 2000, Luhut Pandjaitan bersama Agum Gumelar memperoleh pangkat kehormatan Jenderal TNI (HOR) pada 1 November 2000.[9]
Karier Pemerintahan
Duta Besar Indonesia untuk Singapura (1999–2000)
Pada tahun 1999, Presiden B.J. Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Republik Indonesia Untuk Republik Singapura pada awal era Reformasi. Kepiawaian Luhut dalam diplomasi dianggap mampu mengatasi hubungan kedua negara yang sempat terganggu dan kurang selarasnya komunikasi antar pemimpin negara sepeninggal Presiden Soeharto. Dalam tiga bulan pertama masa jabatannya, ia mampu memulihkan hubungan kedua negara ke tingkatan semula.
Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid (2000–2001)
Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Luhut ditarik dari Singapura sebelum masa baktinya berakhir. Gus Dur mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia. Presiden pada era pemerintahan selanjutnya pun bermaksud untuk mempercayakannya kembali sebagai menteri, tetapi Luhut menolaknya karena ia menjaga etika terhadap Gus Dur.
Menteri dan pejabat setingkat menteri era Presiden Joko Widodo (2015–2024)

Pada 31 Desember 2014, Luhut dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan Indonesia yang pertama oleh Presiden Joko Widodo.[10] Pada 12 Agustus 2015, Luhut ditetapkan oleh Presiden menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

Ia kemudian dipindahkan posisinya menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada tanggal dari 2016 hingga 2019.[11][12]. Pada Kabinet Indonesia Maju di tahun 2019, ia kembali dipercayakan sebagai menteri, dengan nomenklatur dan tanggung jawab koordinasi yang bertambah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
Selama menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, ia dipercayakan Presiden Joko Widodo di banyak lembaga nonstruktural yang bertanggung jawab pada lintas sektor. Jabatan non-struktural yang dipegang Luhut Pandjaitan diantaranya: Ketua Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produk dalam Negeri (2018–2024)[13], Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (2020–2023), Ketua Dewan Pengarah Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional (2021–2024)[14], Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (2021–2024)[15]; Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung (2021–2023), Ketua Dewan Sumber Daya Air Nasional (2022–2024), dan Koordinator PPKM Wilayah Jawa-Bali (2021–2023)
Penasihat dan Ketua Dewan Ekonomi era Presiden Prabowo Subianto (2024–)

Sehabis era Presiden Joko Widodo, Luhut Pandjaitan kembali dipercaya oleh Presiden Prabowo Subianto memimpin sebuah lembaga setingkat kementerian sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional.[16] Selain itu, ia juga menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Digitalisasi dan Teknologi Pemerintahan[17]
Pada tahun 2025, ia dipercaya sebagai Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah, jabatan ex-officio Penasihat Khusus Bidang Digitalisasi dan Teknologi Pemerintahan.[18]
Pengembangan masyarakat
Pada tahun 2001, Luhut memiliki ide membangun yayasan dan sekolah untuk masyarakat yang membutuhkan. Lalu bersama istrinya, Devi, Luhut membuat sebuah yayasan misi sosial, Yayasan Del, yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya manusia Indonesia agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.
Yayasan Del bergerak di sektor pendidikan, teknologi, kesehatan, kemanusiaan dan membangun panti asuhan. Selain itu Del juga memberikan program beasiswa tanpa membedakan status maupun golongan. Program pertamanya adalah dengan mendirikan Politeknik Informatika Del yang kini telah menjadi Institut Teknologi Del, di tepi Danau Toba. Tepatnya di Sitoluama, Laguboti, Kab. Tobasa. Sekarang, IT Del telah membuka program studi baru, yaitu: S1 Teknik Manajemen Rekayasa, Teknik Bioproses, Sistem Informasi dan Teknik Informatika, serta D3 Teknik Informatika.
Institut Teknologi DEL, ditujukan untuk anak berbakat dan dari keluarga tidak mampu Indonesia. Sejak didirikan, Institut Teknologi DEL bekerjasama dengan ITB Bandung, NIT India dan Wollongong University Australia.
Luhut juga mendirikan Yayasan Luhur Bakti Pertiwi yang telah melahirkan 250 alumni generasi muda berjiwa pemimpin berintegritas tinggi dari 23 provinsi. Selain itu Luhut juga mendirikan Yayasan Lingkar Bina Prakarsa sebagai lembaga independen dan non-partisan untuk menjadi Pusat Studi Kebijakan dan Pendampingan Strategis.
Kewirausahaan
Pada tahun 2004, Luhut mulai merintis bisnis di bidang energi dan pertambangan dengan mendirikan PT Toba Sejahtra Group. Kini di bawah Toba Sejahtra yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, ada anak usaha yang bergerak di sektor minyak dan gas, perkebunan, dan kelistrikan.
Selain itu ada satu perusahaan konsesi yang dipegang Toba Sejahtra Grup, yaitu PT Kutai Energi. Sedangkan di sektor migas ada PT Energi Mineral Langgeng dan PT Fairfield Indonesia. Di sektor kelistrikan ada PT Pusaka Jaya Palu Power dan PT Kartanegara energi Perkasa. Lalu di sektor perkebunan ada dua perusahaan yaitu, PT Trisena Agro Sejahtera dan PT Adimitra Lestari. Kalu di sektor industri ada PT Smartias Indo Gemilang, PT Rakabu Sejahtera dan PT Kabil Citranusa.
PT Pusaka Jaya Palu Tower yang bergerak di sektor kelistrikan sejak tahun tahun 2007, berhasil membangun pembangkit listrik tenaga uap—dan ini merupakan pembangkit listrik tenaga uap swasta pertama di Indonesia.
Untuk coal and mining, sebagian besar hasil produksinya diekspor ke China, Korea, Taiwan, India, dan Jepang.
Penghargaan dan tanda kehormatan
Bintang Yudha Dharma Nararya.
Bintang Prestasi Kartika Eka Paksi III.
Satyalancana Kesetiaan 8 tahun
Satyalancana Kesetiaan 16 tahun
Satyalancana Kesetiaan 24 tahun
Satyalancana G.O.M. VIII/Dharma Phala.
Satyalancana Penegak.
Satyalancana Seroja.- Satyalancana Garuda VIII.
Satyalancana Dwidya Sistha.
Satyalancana Perserikatan Bangsa-Bangsa UNEF II
Bintang Mahaputera Adipradana (2020)[19]
Bintang Mahaputera Utama (2024)[20]- Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akabri Bagian Darat (1970).
- Komandan Resor Militer (Danrem) Terbaik se-Indonesia (1995).
- Ernst & Young Entrepreneur of the Year, untuk kontribusi pada Pengembangan Sosial (2011).
- Penghargaan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia sebagai Pembina Olah Raga terbaik nasional (2006).
Afiliasi
- Wakil Ketua DPP Partai Golongan Karya (2008–2014)
- Diusulkan Menjadi Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar (2016–2019)[21]
- Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar (2019-2024)
Aktvitas Sosial
- Ketua Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (2001–2010)
- Pendiri Yayasan DEL
- Pendiri Yayasan Luhur Bakti Pertiwi
- Pendiri Yayasan Lingkar Bina Prakarsa
- Pembina Relawan Bravo 5 Pendukung Jokowi-JK (2014)
Filmografi
Film
| Tahun | Judul | Peran | Produksi |
|---|---|---|---|
| 2019 | Sang Prawira | Kameo | Mabes Polri MRG Films |
Catatan
Referensi
- ↑ Nafisa, Lusi (17 Oktober 2020). "Istri Luhut Binsar Bukan Orang Sembarangan, Ini Sosok Devi Simatupang, Bapaknya Menteri Era Soekarno". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 17 Agustus 2021.
- ↑ Artikel:"Luhut Pandjaitan Dilantik Menjadi Kepala Staf Kepresidenan" di Kompas.com
- ↑ Ini Daftar Lengkap Reshuffle Kabinet Kerja Jilid II, diakses 27 Juli 2016
- 1 2 3 4 5 6 Nurdyansa (24 Desember 2025). "Biografi Luhut Binsar Panjaitan, Masa Kecil Yang Sulit Hingga Menjadi Menteri". Biografiku.com. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Humas Kemenko Polhukam RI (12 Juli 2015). "Profil Menkopolhukam: Luhut Binsar Pandjaitan". Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
- ↑ "Speakers profile: Luhut Binsar Pandjaitan". Global Landscape Forum (dalam bahasa Inggris). 17 Juli 2018. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
- ↑ "Blue Carbon Summit: As it happened". Global Landscape Forum (dalam bahasa Inggris). 17 Juli 2018. Diakses tanggal 7 Januari 2026.
- 1 2 "74 Tahun Luhut Binsar Pandjaitan, Komandan Detasemen 86 di Timor Timur". Tempo.co. 28 September 2021. Diakses tanggal 8 Januari 2026.
- ↑ "Alumni Bintang 4". Akademi Militer. Diakses tanggal 2024-02-27.
- ↑ Luhut Panjaitan Jadi Kepala Staf Kepresidenan, Laksdya Adi Supandi Jadi KSAL
- ↑ Media, Kompas Cyber. "Luhut Pandjaitan Resmi Jabat Menko Polhukam - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2016-11-02.
- ↑ "Luhut Serah Terima Jabatan Menko Polhukam ke Wiranto". news.okezone.com. Diakses tanggal 2016-11-02.
- ↑ "Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2018 tentang Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri". Badan Pembinaan dan Pengembangan Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara. 17 September 2018. Diakses tanggal 1 September 2025.
- ↑ "Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional". Badan Pembinaan dan Pengembangan Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara. 30 Juni 2021. Diakses tanggal 10 Agustus 2025.
- ↑ "Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 15 Tahun 2021 tentang Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia". Badan Pembinaan dan Pengembangan Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara. 8 September 2021. Diakses tanggal 13 Agustus 2025.
- ↑ "Presiden Prabowo Lantik Sejumlah Pejabat Setingkat Menteri di Istana Negara". Sekretariat Presiden Republik Indonesia. 21 Oktober 2024. Diakses tanggal 24 Oktober 2024.
- ↑ "Presiden Prabowo Resmi Lantik para Penasihat Khusus, Utusan Khusus, dan Staf Khusus Presiden". Sekretariat Presiden Republik Indonesia. 22 Oktober 2024.
- ↑ "Kemkomdigi Dukung Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah Hadirkan GovTech AI untuk Efisiensi Layanan Publik". Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. 26 Agustus 2025. Diakses tanggal 2 September 2025.
- ↑ Humas (2020-11-11). "Inilah 71 Nama Penerima Bintang Mahaputera dan Bintang Jasa". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 2023-10-06.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2024-08-14). "Jokowi Berikan Gelar Tanda Kehormatan untuk 64 Tokoh, Ada Prabowo, Airlangga hingga Surya Paloh". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-08-14.
- ↑ Golkar Tunjuk Luhut Wakil Ketua Dewan Kehormatan Arah.com tanggal 30 Mei 2016. Diakses tanggal 30 Mei 2016
Pranala luar
- www.luhutpandjaitan.id'
- (Indonesia) Profil di tokohindonesia.com
| Jabatan diplomatik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Herman Bernhard Leopold Mantiri |
Duta Besar Indonesia untuk Singapura 1999–2000 |
Diteruskan oleh: Johan S. Syahperi |
| Jabatan politik | ||
| Didahului oleh: Jusuf Kalla |
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia 2000–2001 |
Diteruskan oleh: Rini Soemarno |
| Didahului oleh: Kuntoro Mangkusubroto sebagai Kepala UKP4 |
Kepala Staf Kepresidenan Indonesia 2014–2015 |
Diteruskan oleh: Teten Masduki |
| Didahului oleh: Tedjo Edhy Purdijatno |
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia 2015–2016 |
Diteruskan oleh: Wiranto |
| Didahului oleh: Rizal Ramli |
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi 2016–2024 |
Diteruskan oleh: Tidak ada |
| Jabatan olahraga | ||
| Didahului oleh: Wiranto |
Ketua Umum PB FORKI 2001–2009 |
Diteruskan oleh: Hendardji Soepandji |
| Jabatan pemerintahan | ||
| Didahului oleh: Emil Salim |
Ketua Dewan Ekonomi Nasional 2024–sekarang |
Petahana |
- Orang hidup berusia 79
- Kelahiran 1947
- Tokoh militer Batak Toba
- Tokoh TNI
- Tokoh Kopassus
- Tokoh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
- Tokoh Batak
- Tokoh Batak Toba
- Marga Panjaitan
- Tokoh Sumatra Utara
- Tokoh dari Toba
- Tokoh Angkatan 66
- Tokoh Kristen Indonesia
- Politikus Indonesia
- Politikus Partai Golongan Karya
- Duta Besar Indonesia
- Duta Besar Indonesia untuk Singapura
- Menteri Indonesia
- Menteri Kabinet Indonesia Maju
- Menteri Koordinator Indonesia
- Menteri Perindustrian Indonesia
- Penerima Bintang Yudha Dharma
- Penerima Bintang Kartika Eka Paksi
- Tokoh militer Indonesia



